22 Januari 2008

MC Panggung

oleh Andy Rustam

Banyak penyiar radio/TV yang mencari tambahan income (side-job) sebagai Master of Ceremony (MC). Ada yang menjadi MC untuk perkawinan, ada yang untuk acara peluncuran suatu produk (kegiatan promosi), ada yang menjadi MC untuk suatu pertunjukkan band, perlombaan dan lain sebagainya. Ringkas cerita, para penyiar radio itu pokoknya bekerja juga menjadi pengantar acara di suatu panggung. Dari pengalaman saya mengajar ratusan penyiar sejak tahun 1992, ternyata tidak semua penyiar otomatis bisa berhasil menjadi MC yang bagus, bahkan walau ia seorang penyiar radio/TV yang baik. Kebetulan saya sekarang selama 2 bulan ini sedang mendidik sekitar 10 orang calon penyiar untuk sebuah stasiun radio berjaringan nasional. Para calon penyiar itu menanyakan pertanyaan yang sama seperti para seniornya dulu, "Apakah sama berbicara sebagai MC Panggung dan sebagai penyiar radio/TV ?"

Kesamaan MC Panggung dan Penyiar Radio/TV

Tentu saja kesamaannya cukup banyak, salah satunya bahwa sama-sama dibutuhkan dasar teknik berbicara yang benar. Paling utama dari teknik berbicara yang benar adalah teknik mengeluarkan suara dengan dorongan diaphragm (sekat antara rongga dada dan rongga perut). Kita sering melihat bagaimana MC yang kita temui di panggung Taman Hiburan ataupun Mall berteriak-teriak melalui microphone, maksudnya tentu saja agar dapat "menggairahkan suasana". Tetapi yang terjadi, "keluar suara yang tajam memekakkan telinga" dari si MC yang justru membuat publik tak nyaman, terganggu, dan belum lagi pengucapan kata-kata (artikulasi) yang tak jelas tambah melengkapi ketaknyamanan telinga. Akibatnya publik yang tadinya sudah berkumpul dan mengarahkan perhatian ke panggung pelan-pelan menjauh. Belum lagi si MC sendiri pun akan mengalami sakit leher dan suaranya pun bisa menghilang nanti setelah acara selesai. Hal ini terjadi karena si MC tidak menguasai teknik berbicara yang benar sehingga frekuensi suara yang dikeluarkan oleh mulutnya tidak utuh dan hal itulah penyebab keluarnya suara tajam yang membuat telinga menjadi tak nyaman. Padahal kalau dia tahu tekniknya, untuk "menggairahkan suasana" bukan dengan berteriak melainkan dengan mengatur nada-nada suara. Lalu agar setiap nada suara kita bisa keluar dengan utuh, dibutuhkan teknik mengeluarkan suara dengan dorongan diaphragm. Jadi dalam soal ini antara penyiar radio dan MC panggung ada kesamaan skill yang dibutuhkan.

Contoh satu lagi kesamaannya terletak pada kemampuan mengintrodusir dan mempresentasikan materi dalam menyajikan rangkaian mata acara yang telah disusun. Jadi bukanlah penyiar radio itu hanya "tukang membacakan", begitu pula MC. Mereka harus secara kreatif pandai mencari relevansi materi yang akan disajikan, lalu menghubungkannya dengan keinginan dan kebutuhan publik dan tentu saja maksud dari si penyelenggara acara.

Perbedaan MC Panggung dan Penyiar Radio/TV

Jelas yang paling amat membedakan adalah bahwa MC Panggung memiliki publik yang berhadapan langsung dalam suatu ruangan dengannya, sedangkan publik penyiar radio/TV tak terlihat oleh mereka. Artinya dengan demikian, respon dan reaksi publik dapat terlihat langsung oleh MC. Ini menguntungkan buat MC, karena ia akan dapat segera "melakukan sesuatu" apabila ada reaksi atau respon yang negatif akibat ucapan dan sikapnya atau akibat kejadian apapun di panggung. Itu sebabnya MC harus cukup peka akan situasi dan tanggap dalam menangani yang terkadang harus dilakukan karena kejadian yang mendadak. Tugas MC yang terutama adalah membuat perhatian dan menjaga perhatian publik terhadap jalannya acara panggung (bukan untuk menarik perhatian publik kepada MC). Sayang sekali banyak MC yang tak menyadari fungsi dan tugas utamanya ini. Beberapa kali sering kita temui dalam acara Panggung bahwa bukan materi acara panggungnya yang tidak bagus, melainkan karena MC-nya yang over dan tak sensitif terhadap perasaan publik (baik diperlihatkan atau tidak), maka publik yang merasa gerah dengan ulah MC pelan-pelan meninggalkan panggung tontonan.

Kepekaan membaca situasi publik pada waktu ia berbicara di pementasan adalah prasyarat yang harus dimiliki MC. Penyiar radio/TV boleh di bilang tak pernah mengalaminya, karena mereka berada di studio dan publiknya ada di rumah atau di luar sana. Sedangkan MC dan publiknya berada di lokasi yang sama.

Contoh perbedaan yang kedua adalah, MC tidak memiliki keluangan waktu berbicara sebesar keluangan waktu yang dimiliki penyiar radio/TV. Apalagi biasanya run-down acara sudah ditentukan oleh yang punya hajat. Maka fungsi dan tugas MC sebagaimana disebutkan di atas harus bisa dilakukannya dalam waktu yang demikian sempit. Di lain sisi, walaupun penyiar juga memiliki run-down yang telah ditentukan tetapi fleksibilitas waktu berbicaranya cukup tinggi. Itu sebabnya penyiar masih mungkin melakukan "story telling", sedangkan MC harus melakukan ini secara singkat, padat dan jelas.

Kesimpulan

Menjadi MC dan juga penyiar radio/TV bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh siapa saja dengan hanya bermodalkan "asal bisa cuap dan berani malu", seperti anggapan kebanyakan orang. Bahkan sebaliknya, justru dibutuhkan skill, ilmu, dan kedewasaan sikap yang kebanyakan orang tak memilikinya. Kembali ke pertanyaan pada awal tulisan ini, "Mengapa ada penyiar radio/TV yang tak sukses menjadi MC, padahal ia sangat berkeinginan dan ia telah memiliki ilmu dan skill sebagai penyiar?" Itu disebabkan karena penyiar radio/TV tak terbiasa secara fisik berada di satu ruangan dengan publiknya. Hambatan psikologis (seperti groggy, malu) sering menjadi penyebab ketidakmampuan untuk mengeluarkan keahliannya. Selain itu penyiar radio/TV yang belum terbiasa menjadi MC sering tak peka dan kurang tanggap dengan situasi publik, sehingga dalam event tersebut terasa bagai ada jarak antara MC dengan publik/hadirin. (arm)

Tidak ada komentar: