oleh Andy Rustam
Saya teringat di tahun-tahun pertengahan tahun 1970-an – awal tahun 1980-an, ketika itu belum jamannya CD, melainkan masih cassette-tape (kaset). Ketika itu belum terbit UU Hak Cipta. Jadi perusahaan rekaman tinggal membeli satu (atau beberapa) album peringan hitam (vinyl) di luar-negeri kemudian menggandakannya ke dalam pita kaset, terus langsung diperjualbelikan secara legal. Jadi di jaman itu, misalnya, Rolling Stones mengeluarkan album baru di th. 1978, berjudul “Some Girls”, maka kita bisa membeli rekaman album itu dalam bentuk kasetnya di sini dengan harga yang sangat murah. Hampir semua perusahaan bisa saja mengeluarkan rekaman album yang sama. Ketika itu ada beberapa perusahaan rekaman yang menerbitkan kaset-kaset a.l.: Perina Records; King Records; Aquarius dsb., semuanya mengedarkan album (bajakan) “Some Girls” dari Rolling Stones.
Perusahaan rekaman ini, juga mengedarkan kompilasi atau lagu-lagu campuran dari berbagai singles, dijadikan satu judul album kaset rekaman ciptaan sendiri, misalnya “Hot Trax”. Jadi tidak heran di toko toko kaset, beredar lagu-lagu yang sama, dari perusahaan rekaman yang berbeda-beda.
Ada yang Lebih Disukai
Walaupun di pasaran banyak perusahaan rekaman yang menerbitkan rekaman lagu-lagu yang sama, tetapi anehnya, selalu ada saja perusahaan rekaman yang kasetnya lebih laku. Saya sendiri misalnya, selalu memilih kaset rekaman yang diterbitkan oleh “Aquarius”. Padahal lagu-lagunya sama saja dengan hasil terbitan perusahaan rekaman lain. Mengapa demikian?
Buat saya, mutu rekaman kaset yang dterbitkan oleh Aquarius lebih mengena dengan selera saya. Setting equalizer-nya ngepas, sehingga suara frekuensi high-range (treble) tidak pecah (sember), suara frekuensi tengah (middle) tidak menyakitkan telinga dan suara frekuensi rendah (bass) juga tidak mendengung. Selain itu, cara menyusun urutan dari lagu yang satu ke lagu lain berikutnya, sangat pas, sesuai dengan perasaan, sehingga tidak membosankan.
Jadi, buat saya, Aquarius adalah perusahaan rekaman favorit saya. Biarpun misalnya King’s records, juga menerbitkan album kompilasi dengan lagu-lagu yang sama, tetapi susunan lagunya “nggak enak”. Jadi bukan lagunya yang tidak enak!
Belakangan setelah saya kenal dengan pemiliknya, baru saya ketahui di jaman itu, bahwa ternyata di perusahaan rekaman Aquarius hanya satu orang itu yang melakukannya (menyetel equalizer dan memilih dan menyusun lagu), dan itu menjadi standar mereka. Orang ini “feeling dan kuping”-nya kuat banget.
1 + 1 + 1 Belum Tentu 3
Saya sendiri memang suka membuat rekaman kompilasi lagu-lagu untuk dinikmatin sendiri. Katakanlah saya suka dengan lagu A; lalu saya juga suka dengan lagu B; juga suka dengan lagu C. Ketika saya dengarkan lagu itu dengan urutan A – B – C, memang enak untuk dinikmatin. Tetapi ketika saya rubah urutannya menjadi C – A – B, kok kurang enak? Sedangkan ketika urutannya saya rubah lagi menjadi B – A – C, ternyata ini yang paling enak. Susunan dengan kombinasi inilah yang paling pas buat saya.
Teman-teman yang pernah mendengar, pada minta dibikinin satu copy untuk koleksi mereka. Padahal kalau dilihat dari lagunya sih, sebenarnya mereka sendiri sudah memiliki kasetnya (kalau sekarang CD atau rekaman di iPod mereka). Tetapi yang mereka sukai, katanya, susunan lagunya yang saya buat, enak diikuti.
Warna
Sebenarnya apabila telinga kita mendengar sebuah lagu, sensasinya pada “rasa (sense / feeling)”, mirip seperti kalau mata kita melihat pemandangan. Seandainya kita mendengarkan sebuah lagu klasik ciptaan Johann Sebastian Bach yang berjudul “Air (udara)”, perasaan kita akan sama seperti kalau kita memandangi langit yang “biru bersih” di pagi hari.
Lagu/musik bagi telinga adalah ibarat warna bagi mata. Kombinasi dari warna-warna yang tersusun, akan berdampak pada suasana rasa orang yang melihatnya. Coba perhatikan susunan warna-warna berikut ini.
Apabila kita menyusun warna dengan urutan warna kuning-langsat lebih dahulu, baru kemudian disebelahnya kita letakkan warna merah, perasaan yang muncul adalah “panas semakin meningkat” (gb.1).

Sebaliknya apabila apabila kita letakkan terbalik susunannya, warna merah lebih dahulu kemudian baru warna kuning langsat, maka perasaan yang muncul adalah “panasnya sedang berkurang” (gb.2).

Juga seandainya anda meletakkan warna coklat dengan warna abu-abu tua bersebelahan, maka kombinasinya mengesankan “warna mati”, mata kita tidak terlalu dapat menikmatinya. Akibatnya perasaan kita menjadi kurang sreg (gb.3)

Jadi, kita tidak bisa sembarangan saja meletakkan / menyusun warna, sebab warna mempunyai pengaruh kepada perasaan bahkan “mood (suasana hati)”.
Lagu – Lagu = Warna – Warna
Demikian juga dengan susunan lagu-lagu. Susunan dari lagu pertama hingga lagu terakhir dalam rekaman kompilasi kaset buatan Aquarius pada 35 tahun yang lalu, ibarat rangkaian warna-warna yang “kena” yang menyenangkan mata saya, dan berakibat suasana hati sayapun menjadi enak. Maka tak bosan-bosannya saya mendengarkan rekaman lagu-lagu di kaset tersebut.
Kalau Anda bekerja di sebuah stasiun radio, lalu Anda harus siaran dengan memasang rangkaian lagu-lagu, janganlah mengudarakan rangkaian lagu-lagu tersebut asal-asalan saja. Ingat, mirip dengan susunan warna, susunan lagu dapat mempengaruhi “mood” pendengar, yang berarti berpengaruh pada minat pendengar untuk tetap mendengar alias “stay-tune” di stasiun radio kita.
Belum tentu 2 buah lagu yang bagus, ketika diudarakan berurutan, akan menghasilkan mood yang mengena di pendengar. Bahkan bisa-bisa itu justru menghasilkan warna mati, alias mematikan “mood” pendengar.- (arm)
Saya teringat di tahun-tahun pertengahan tahun 1970-an – awal tahun 1980-an, ketika itu belum jamannya CD, melainkan masih cassette-tape (kaset). Ketika itu belum terbit UU Hak Cipta. Jadi perusahaan rekaman tinggal membeli satu (atau beberapa) album peringan hitam (vinyl) di luar-negeri kemudian menggandakannya ke dalam pita kaset, terus langsung diperjualbelikan secara legal. Jadi di jaman itu, misalnya, Rolling Stones mengeluarkan album baru di th. 1978, berjudul “Some Girls”, maka kita bisa membeli rekaman album itu dalam bentuk kasetnya di sini dengan harga yang sangat murah. Hampir semua perusahaan bisa saja mengeluarkan rekaman album yang sama. Ketika itu ada beberapa perusahaan rekaman yang menerbitkan kaset-kaset a.l.: Perina Records; King Records; Aquarius dsb., semuanya mengedarkan album (bajakan) “Some Girls” dari Rolling Stones.
Perusahaan rekaman ini, juga mengedarkan kompilasi atau lagu-lagu campuran dari berbagai singles, dijadikan satu judul album kaset rekaman ciptaan sendiri, misalnya “Hot Trax”. Jadi tidak heran di toko toko kaset, beredar lagu-lagu yang sama, dari perusahaan rekaman yang berbeda-beda.
Ada yang Lebih Disukai
Walaupun di pasaran banyak perusahaan rekaman yang menerbitkan rekaman lagu-lagu yang sama, tetapi anehnya, selalu ada saja perusahaan rekaman yang kasetnya lebih laku. Saya sendiri misalnya, selalu memilih kaset rekaman yang diterbitkan oleh “Aquarius”. Padahal lagu-lagunya sama saja dengan hasil terbitan perusahaan rekaman lain. Mengapa demikian?
Buat saya, mutu rekaman kaset yang dterbitkan oleh Aquarius lebih mengena dengan selera saya. Setting equalizer-nya ngepas, sehingga suara frekuensi high-range (treble) tidak pecah (sember), suara frekuensi tengah (middle) tidak menyakitkan telinga dan suara frekuensi rendah (bass) juga tidak mendengung. Selain itu, cara menyusun urutan dari lagu yang satu ke lagu lain berikutnya, sangat pas, sesuai dengan perasaan, sehingga tidak membosankan.
Jadi, buat saya, Aquarius adalah perusahaan rekaman favorit saya. Biarpun misalnya King’s records, juga menerbitkan album kompilasi dengan lagu-lagu yang sama, tetapi susunan lagunya “nggak enak”. Jadi bukan lagunya yang tidak enak!
Belakangan setelah saya kenal dengan pemiliknya, baru saya ketahui di jaman itu, bahwa ternyata di perusahaan rekaman Aquarius hanya satu orang itu yang melakukannya (menyetel equalizer dan memilih dan menyusun lagu), dan itu menjadi standar mereka. Orang ini “feeling dan kuping”-nya kuat banget.
1 + 1 + 1 Belum Tentu 3
Saya sendiri memang suka membuat rekaman kompilasi lagu-lagu untuk dinikmatin sendiri. Katakanlah saya suka dengan lagu A; lalu saya juga suka dengan lagu B; juga suka dengan lagu C. Ketika saya dengarkan lagu itu dengan urutan A – B – C, memang enak untuk dinikmatin. Tetapi ketika saya rubah urutannya menjadi C – A – B, kok kurang enak? Sedangkan ketika urutannya saya rubah lagi menjadi B – A – C, ternyata ini yang paling enak. Susunan dengan kombinasi inilah yang paling pas buat saya.
Teman-teman yang pernah mendengar, pada minta dibikinin satu copy untuk koleksi mereka. Padahal kalau dilihat dari lagunya sih, sebenarnya mereka sendiri sudah memiliki kasetnya (kalau sekarang CD atau rekaman di iPod mereka). Tetapi yang mereka sukai, katanya, susunan lagunya yang saya buat, enak diikuti.
Warna
Sebenarnya apabila telinga kita mendengar sebuah lagu, sensasinya pada “rasa (sense / feeling)”, mirip seperti kalau mata kita melihat pemandangan. Seandainya kita mendengarkan sebuah lagu klasik ciptaan Johann Sebastian Bach yang berjudul “Air (udara)”, perasaan kita akan sama seperti kalau kita memandangi langit yang “biru bersih” di pagi hari.
Lagu/musik bagi telinga adalah ibarat warna bagi mata. Kombinasi dari warna-warna yang tersusun, akan berdampak pada suasana rasa orang yang melihatnya. Coba perhatikan susunan warna-warna berikut ini.
Apabila kita menyusun warna dengan urutan warna kuning-langsat lebih dahulu, baru kemudian disebelahnya kita letakkan warna merah, perasaan yang muncul adalah “panas semakin meningkat” (gb.1).

Sebaliknya apabila apabila kita letakkan terbalik susunannya, warna merah lebih dahulu kemudian baru warna kuning langsat, maka perasaan yang muncul adalah “panasnya sedang berkurang” (gb.2).

Juga seandainya anda meletakkan warna coklat dengan warna abu-abu tua bersebelahan, maka kombinasinya mengesankan “warna mati”, mata kita tidak terlalu dapat menikmatinya. Akibatnya perasaan kita menjadi kurang sreg (gb.3)

Jadi, kita tidak bisa sembarangan saja meletakkan / menyusun warna, sebab warna mempunyai pengaruh kepada perasaan bahkan “mood (suasana hati)”.
Lagu – Lagu = Warna – Warna
Demikian juga dengan susunan lagu-lagu. Susunan dari lagu pertama hingga lagu terakhir dalam rekaman kompilasi kaset buatan Aquarius pada 35 tahun yang lalu, ibarat rangkaian warna-warna yang “kena” yang menyenangkan mata saya, dan berakibat suasana hati sayapun menjadi enak. Maka tak bosan-bosannya saya mendengarkan rekaman lagu-lagu di kaset tersebut.
Kalau Anda bekerja di sebuah stasiun radio, lalu Anda harus siaran dengan memasang rangkaian lagu-lagu, janganlah mengudarakan rangkaian lagu-lagu tersebut asal-asalan saja. Ingat, mirip dengan susunan warna, susunan lagu dapat mempengaruhi “mood” pendengar, yang berarti berpengaruh pada minat pendengar untuk tetap mendengar alias “stay-tune” di stasiun radio kita.
Belum tentu 2 buah lagu yang bagus, ketika diudarakan berurutan, akan menghasilkan mood yang mengena di pendengar. Bahkan bisa-bisa itu justru menghasilkan warna mati, alias mematikan “mood” pendengar.- (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar