oleh Andy Rustam
Seorang rekan sempat memperlihatkan tayangan video dari YouTube yang menampilkan Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Bpk. Basuki Cahaya Purnama (Ahok) terlihat agak kesal dengan pertanyaan-pertanyaan dari seorang pewawancara sebuah stasiun televis berita dalam suatu acara wawancara. Kelihatannya si pewawancara seperti sengaja mengulang-ulang pertanyaan yang sama, padahal terkait hal itu sudah dijawab dan dijelaskan oleh Pak Wagub pada pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Saya sendiri menilai memang terkesan si pewawancara berusaha untuk “memojokkan” Pak Wagub.
Selanjutnya pak Wagub segera mengakhiri wawancara dengan kalimat bernada ketus yang berbunyi kira-kira sbb, “Saya sudah menyediakan waktu di tengah kesibukan tetapi pertanyaannya seperti itu. Saya ini orang kerja, tidak perlu pencitraan. Tidak tampil di televisi pun saya tidak ada masalah“. Memang yang sekarang sedang nge-trend, sepertinya para pewawancara merasa “berhasil” apabila bisa memojokkan orang yang diwawancarainya.
Karakter Acara Wawancara
Saya pernah menulis artikel di blog broadcastsukses.com (18 Agustus 2010) yang intinya bahwa, mewawancarai bukanlah menginterogasi, atau ingin mendapatkan pembenaran atas yang telah diasumsikan oleh si pewawancara sebelum wawancara berlangsung. Kalaupun ada kita temui acara-acara wawancara di televisi asing yang mirip (misal: Crossfire – CNN), itu hanyalah salah satu “karakter acara” dan bukannya bahwa kalau mewawancarai narasumber harus selalu memojokkan seperti begitu. Sebagaimana seharusnya sebuah acara, acara wawancara pun harus memiliki karakter. Misalnya di Metro TV, ada acara wawancara “Kick Andy” yang memiliki karakter acara yang berbeda dengan acara wawancara “Mata Najwa”.
Dalam merancang sebuah acara wawancara, penetapan karakter menjadi sangat penting. Karena pemirsa TV atau pendengar radio pun memiliki karakter yang berbeda-beda, begitu pula kebutuhannya akan informasi berbeda-beda pula. Kadangkala kebutuhan informasinya bisa saja sama, tetapi tidak semua orang menyukai gaya bertanya (style) Najwa Shihab dalam membawakan acara dan melontarkan pertanyaan-pertanyaannya.
Seorang Program Manajer tentu harus berpikir tentang “keseluruhan acara stasiunnya” dan harus mampu memuaskan target-audience-nya yang beragam pula. Itu sebabnya ia harus berpikir keras tentang ketersediaan aneka jenis acara untuk disiarkan setiap harinya, dengan karakter khas untuk masing-masing acara.
Tujuan Wawancara
Saya mengikuti berita-berita dari televisi tentang banjir bandang yang melanda kota Manado 15 Januari 2014 yang lalu. Sampai hari ini berita-berita tersebut masih terus berlangsung, bahkan banyak sekali wawancara telah dilakukan. Tetapi, entah barangkali saya kurang memperhatikan, tetapi sampai dua hari sesudahnya, dari siaran televisi, saya belum tahu persis apa sesungguhnya yang menjadi penyebab banjir bandang tersebut.
Saya menanyakan ke rekan-rekan kerja di kantor, “Sebenarnya apa sih penyebab terjadinya banjir bandang di Manado?” Ternyata jawabannya berbeda-beda. Ada yang bilang, karena hujan terus menerus yang turun di pegunungan, dimana hutan-hutannya sudah gundul, maka air meluncur dengan deras tak beraturan melanda wilayah-wilayan yang lebih rendah, termasuk kota Manado. Ada yang bilang bahwa, sungai-sungai disekitar Manado meluap (seperti kali Ciliwung di Jakarta). Ada yang bilang, karena tanggul di danau Tondano jebol disebabkan tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis karena hujan lebat.
Dari jawaban-jawaban yang diberikan, saya berkesimpulan, bahwa ada yang salah dalam komunikasi antara siaran pemberitaan stasiun televisi (komunikator) kepada pemirsanya (komunikan). Terbukti bahwa tim pemberitaan stasiun televisi tidak bisa memprediksi apa sebenarnya yang ingin diketahui oleh pemirsanya, sehingga informasi yang disiarkan, sekedar memberikan informasi saja tapi tidak tahu persis apakah memang informasi inikah yang ingin diketahui oleh pemirsa. Pemirsa ingin tahu apa penyebabnya, tetapi wawancara yang dilakukan dan reportase selalu terfokus pada korban, kerusakan-kerusakan dan kejadian-kejadian yang memilukan dan serta penanganan korban di lapangan.
Dalam berkomunikasi melalui media massa seperti TV / Radio, termasuk acara wawancara, haruslah selalu mempunyai tujuan. Dari berbagai tujuan acara wawancara, inilah yang terpenting:
1. Sejak awal sebuah acara wawancara dirancang dengan tujuan tercapainya pemahaman yang baik dan jelas pada pemirsa, tentang issue yang menjadi topik wawancara tersebut.
Artinya, sebagai contoh, dalam kasus banjir bandang di Manado, pemirsa bukan hanya menjadi tahu telah terjadi banjir bandang atau berapa banyak korbannya, melainkan terutama pemirsa ingin mengetahui apa sebabnya itu terjadi. Karena bukankah peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi di Manado?!? Bukankah tidak seorang pun di antara pemirsa yang ingin peristiwa ini terjadi lagi atau terjadi di wilayah mereka?!?
2. Tujuan sebuah wawancara yang juga penting adalah, terungkapnya fakta-fakta yang benar dan akurat, yang selama ini tidak diketahui atau belum diketahui secara luas oleh masyarakat (pemirsa).
Sebagaimana diketahui, dengan banyaknya akses terhadap informasi, dan tersebarnya informasi-informasi melalui berbagai media, termasuk informasi yang diperoleh melalui media-media sosial, masyarakat sangat membutuhkan informasi yang bisa “dipegang” atau “dipercaya”.
Perlu diingat, bahwa masyarakat kita tidak semuanya cukup kritis dan mampu berpikir ketika menerima informasi, sehingga mudah sekali “tertipu” dengan informasi-informasi yang diterima, yang biasanya dikaitkan sumber informasinya dengan nama orang atau nama stasiun televisi tertentu agar seolah-olah bisa dipercaya. Jadi masyarakat sebenarnya sangat mendambakan informasi yang bisa “dipegang”.
Media massa tradisional seperti televisi dan radio yang sudah memiliki reputasi dan kredibilitas yang tinggi, tentunya dapat mengisi kebutuhan ini melalui acara wawancara dengan menampilkan narasumber dan tokoh-tokoh yang bisa dipercayai juga oleh masyarakat, yang menyampaikan data dan fakta yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Dari sisi keilmuan, selain dari dua tujuan tersebut di atas masih ada lagi tujuan-tujuan lainnya, namun dua inilah yang terpenting. Sayangnya, inipun masih sering dilupakan oleh para pembuat acara dan pewawancara di stasiun televisi swasta kita, karena mungkin lebih fokus pada bagaimana membuat acara wawancara yang bisa “ramai dan seru alias sensasionil”, antara lain caranya dengan memojokkan tamu / narasumber (padahal si narasumber sudah menyediakan waktu) ataupun mencari-cari statement yang kontroversiel, sehingga akhirnya yang terjadi justru mereka melupakan hal yang paling utama, yaitu: “apa sesungguhnya yang ingin diketahui dan menjadi kebutuhan masyarakat“. Itulah sebabnya acara-acara televisi kita memang mungkin sangat menghibur, dimana kita bisa tertawa terbahak-bahak atau kadang sampai membuat kita terperangah, namun sebenarnya sebagai pemirsa, kita tidak memperoleh apa-apa sama sekali.
Hanya sebuah hiburan kosong belaka. (arm)
Seorang rekan sempat memperlihatkan tayangan video dari YouTube yang menampilkan Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Bpk. Basuki Cahaya Purnama (Ahok) terlihat agak kesal dengan pertanyaan-pertanyaan dari seorang pewawancara sebuah stasiun televis berita dalam suatu acara wawancara. Kelihatannya si pewawancara seperti sengaja mengulang-ulang pertanyaan yang sama, padahal terkait hal itu sudah dijawab dan dijelaskan oleh Pak Wagub pada pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Saya sendiri menilai memang terkesan si pewawancara berusaha untuk “memojokkan” Pak Wagub.
Selanjutnya pak Wagub segera mengakhiri wawancara dengan kalimat bernada ketus yang berbunyi kira-kira sbb, “Saya sudah menyediakan waktu di tengah kesibukan tetapi pertanyaannya seperti itu. Saya ini orang kerja, tidak perlu pencitraan. Tidak tampil di televisi pun saya tidak ada masalah“. Memang yang sekarang sedang nge-trend, sepertinya para pewawancara merasa “berhasil” apabila bisa memojokkan orang yang diwawancarainya.
Karakter Acara Wawancara
Saya pernah menulis artikel di blog broadcastsukses.com (18 Agustus 2010) yang intinya bahwa, mewawancarai bukanlah menginterogasi, atau ingin mendapatkan pembenaran atas yang telah diasumsikan oleh si pewawancara sebelum wawancara berlangsung. Kalaupun ada kita temui acara-acara wawancara di televisi asing yang mirip (misal: Crossfire – CNN), itu hanyalah salah satu “karakter acara” dan bukannya bahwa kalau mewawancarai narasumber harus selalu memojokkan seperti begitu. Sebagaimana seharusnya sebuah acara, acara wawancara pun harus memiliki karakter. Misalnya di Metro TV, ada acara wawancara “Kick Andy” yang memiliki karakter acara yang berbeda dengan acara wawancara “Mata Najwa”.
Dalam merancang sebuah acara wawancara, penetapan karakter menjadi sangat penting. Karena pemirsa TV atau pendengar radio pun memiliki karakter yang berbeda-beda, begitu pula kebutuhannya akan informasi berbeda-beda pula. Kadangkala kebutuhan informasinya bisa saja sama, tetapi tidak semua orang menyukai gaya bertanya (style) Najwa Shihab dalam membawakan acara dan melontarkan pertanyaan-pertanyaannya.
Seorang Program Manajer tentu harus berpikir tentang “keseluruhan acara stasiunnya” dan harus mampu memuaskan target-audience-nya yang beragam pula. Itu sebabnya ia harus berpikir keras tentang ketersediaan aneka jenis acara untuk disiarkan setiap harinya, dengan karakter khas untuk masing-masing acara.
Tujuan Wawancara
Saya mengikuti berita-berita dari televisi tentang banjir bandang yang melanda kota Manado 15 Januari 2014 yang lalu. Sampai hari ini berita-berita tersebut masih terus berlangsung, bahkan banyak sekali wawancara telah dilakukan. Tetapi, entah barangkali saya kurang memperhatikan, tetapi sampai dua hari sesudahnya, dari siaran televisi, saya belum tahu persis apa sesungguhnya yang menjadi penyebab banjir bandang tersebut.
Saya menanyakan ke rekan-rekan kerja di kantor, “Sebenarnya apa sih penyebab terjadinya banjir bandang di Manado?” Ternyata jawabannya berbeda-beda. Ada yang bilang, karena hujan terus menerus yang turun di pegunungan, dimana hutan-hutannya sudah gundul, maka air meluncur dengan deras tak beraturan melanda wilayah-wilayan yang lebih rendah, termasuk kota Manado. Ada yang bilang bahwa, sungai-sungai disekitar Manado meluap (seperti kali Ciliwung di Jakarta). Ada yang bilang, karena tanggul di danau Tondano jebol disebabkan tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis karena hujan lebat.
Dari jawaban-jawaban yang diberikan, saya berkesimpulan, bahwa ada yang salah dalam komunikasi antara siaran pemberitaan stasiun televisi (komunikator) kepada pemirsanya (komunikan). Terbukti bahwa tim pemberitaan stasiun televisi tidak bisa memprediksi apa sebenarnya yang ingin diketahui oleh pemirsanya, sehingga informasi yang disiarkan, sekedar memberikan informasi saja tapi tidak tahu persis apakah memang informasi inikah yang ingin diketahui oleh pemirsa. Pemirsa ingin tahu apa penyebabnya, tetapi wawancara yang dilakukan dan reportase selalu terfokus pada korban, kerusakan-kerusakan dan kejadian-kejadian yang memilukan dan serta penanganan korban di lapangan.
Dalam berkomunikasi melalui media massa seperti TV / Radio, termasuk acara wawancara, haruslah selalu mempunyai tujuan. Dari berbagai tujuan acara wawancara, inilah yang terpenting:
1. Sejak awal sebuah acara wawancara dirancang dengan tujuan tercapainya pemahaman yang baik dan jelas pada pemirsa, tentang issue yang menjadi topik wawancara tersebut.
Artinya, sebagai contoh, dalam kasus banjir bandang di Manado, pemirsa bukan hanya menjadi tahu telah terjadi banjir bandang atau berapa banyak korbannya, melainkan terutama pemirsa ingin mengetahui apa sebabnya itu terjadi. Karena bukankah peristiwa seperti ini baru pertama kali terjadi di Manado?!? Bukankah tidak seorang pun di antara pemirsa yang ingin peristiwa ini terjadi lagi atau terjadi di wilayah mereka?!?
2. Tujuan sebuah wawancara yang juga penting adalah, terungkapnya fakta-fakta yang benar dan akurat, yang selama ini tidak diketahui atau belum diketahui secara luas oleh masyarakat (pemirsa).
Sebagaimana diketahui, dengan banyaknya akses terhadap informasi, dan tersebarnya informasi-informasi melalui berbagai media, termasuk informasi yang diperoleh melalui media-media sosial, masyarakat sangat membutuhkan informasi yang bisa “dipegang” atau “dipercaya”.
Perlu diingat, bahwa masyarakat kita tidak semuanya cukup kritis dan mampu berpikir ketika menerima informasi, sehingga mudah sekali “tertipu” dengan informasi-informasi yang diterima, yang biasanya dikaitkan sumber informasinya dengan nama orang atau nama stasiun televisi tertentu agar seolah-olah bisa dipercaya. Jadi masyarakat sebenarnya sangat mendambakan informasi yang bisa “dipegang”.
Media massa tradisional seperti televisi dan radio yang sudah memiliki reputasi dan kredibilitas yang tinggi, tentunya dapat mengisi kebutuhan ini melalui acara wawancara dengan menampilkan narasumber dan tokoh-tokoh yang bisa dipercayai juga oleh masyarakat, yang menyampaikan data dan fakta yang dapat dipertanggung-jawabkan.
Dari sisi keilmuan, selain dari dua tujuan tersebut di atas masih ada lagi tujuan-tujuan lainnya, namun dua inilah yang terpenting. Sayangnya, inipun masih sering dilupakan oleh para pembuat acara dan pewawancara di stasiun televisi swasta kita, karena mungkin lebih fokus pada bagaimana membuat acara wawancara yang bisa “ramai dan seru alias sensasionil”, antara lain caranya dengan memojokkan tamu / narasumber (padahal si narasumber sudah menyediakan waktu) ataupun mencari-cari statement yang kontroversiel, sehingga akhirnya yang terjadi justru mereka melupakan hal yang paling utama, yaitu: “apa sesungguhnya yang ingin diketahui dan menjadi kebutuhan masyarakat“. Itulah sebabnya acara-acara televisi kita memang mungkin sangat menghibur, dimana kita bisa tertawa terbahak-bahak atau kadang sampai membuat kita terperangah, namun sebenarnya sebagai pemirsa, kita tidak memperoleh apa-apa sama sekali.
Hanya sebuah hiburan kosong belaka. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar