23 Mei 2016

Waspadai Kebosanan Khalayak

oleh Andy Rustam

Boleh jadi kita menjadi penggemar salah satu atau beberapa acara televisi. Kita selalu menontonnya ketika acara tersebut disiarkan. Acara itu memang sangat populer dan digemari oleh masyarakat. Tetapi setelah beberapa tahun acara tersebut disiarkan setiap minggu secara terus-menerus, perlahan-lahan penggemarnya pun mulai susut. Bahkan penggemar fanatiknya pun mulai meninggalkannya. Acara America Idol yang disiarkan oleh jaringan Fox, ketika di jaman keemasannya bisa meraih 36 juta penonton TV, tapi belakangan ini hanya tinggal 10 juta penonton saja yang masih menonton acara TV American Idol di Amerika Serikat. Itu sebabnya acara tersebut dihentikan kelanjutannya. Di Indonesia juga acara yang disiarkan oleh Trans7, “Bukan Empat Mata – Tukul Arwana"-pun akhirnya berhenti setelah 11 tahun mengunjungi pemirsa. Walau gosipnya karena Tukul minta tambah honor, tetapi kenyataan memang jumlah pemirsa acara tersebut sudah jauh merosot.

Mengapa Merosot?

Sebenarnya bukan hanya sebuah acara televisi yang akan mengalami seperti itu, melainkan bisa dikatakan terjadi di semua produk. Yang paling “in” misalnya batu akik. Beberapa bulan yang lalu permintaan pasar akan batu akik sangat tinggi. Tetapi sekarang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih menginginkannya. Peristiwa seperti ini sangat alamiah. Seorang professor Ekonomi & Marketing yaitu Raymond Vernon pada tahun 1966 memberi nama fenomena ini sebagai “Product Life Cycle”, bahwa apabila sebuah produk memasuki pasar, maka minat pembeli terhadap produk tersebut tidaklah bergerak dalam grafik meningkat yang linear, melainkan akan melalui 4 tahapan, yaitu:

(1) Introduction: produk baru memasuki pasar, pembeli belum terlalu banyak.
(2) Growth: produk sudah mantap berada di pasar, pembeli meningkat terus.
(3) Maturity: produk cukup lama berada di pasar, pembeli tidak lagi bertumbuh.
(4) Decline: produk sudah lama sekali di pasar, pembeli mulai menurun.

Mengapa terjadi pola stagnan dan kemudian menurun? Jawabannya terutama terletak pada muncul-nya pesaing dan adanya alternatif baru, sedangkan di saat yang sama khalayak pembeli sudah mulai bosan dan berubah dalam selera / kebutuhan.

Lucunya, soal kebosanan-khalayak ini sendiri, adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan pasti terjadi. Biasanya jalan keluarnya adalah harus selalu inovatif. Jangan pernah berhenti memperbaharui produk. Tetapi itu pun belum jadi jaminan bahwa penurunan pembeli pasti bisa dihindari.

Terbukti bahwa walau “Empat Mata” melakukan terus inovasi dalam penyajian, sampai merubah nama acara menjadi “Bukan Empat Mata”, tetap saja tahap Decline masih terus terjadi, jumlah penonton terus berkurang. Begitu pula acara American Idol, mereka terus bekerja keras untuk melakukan pembaharuan-pembaharuan, tetap saja jumlah penonton terus merosot ke titik terendah. Akibatnya mereka terpaksa menghentikan kelanjutan siaran acara-acara tersebut.

Mengapa Pemirsa / Penonton / Pendengar Bosan?

“Kebosanan” adalah salah satu bentuk emosi yang masih sedikit penelitiannya. Tapi secara garis besar para Psycholog sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Mr. Van Tiburg PhD dari University of Limerick, Ireland (th 2013) bahwa ketika seseorang mulai merasa kehilangan “sensasi rasa atau makna” dari apa yang dia lihat / dengar / rasakan / kerjakan terhadap sesuatu hal, maka pada saat itulah kebosanan mulai timbul.

Jadi apabila dikaitkan dengan teori Product Life Cycle, apabila sebuah produk yang tadinya laris sekali tetapi belakangan ini mulai kehilangan pembeli, dapat berarti bahwa produk tersebut sudah mulai kehilangan “makna”-nya di mata pembeli. Begitu pula apabila sebuah acara televisi yang tadinya amat digemari (dalam contoh kita seperti: American Idol di Fox dan Empat Mata di Trans7), tetapi lalu mulai ditinggalkan oleh penontonnya, itu dapat diartikan bahwa karena acara-acara tersebut sudah kehilangan “rasa / makna”-nya di mata penonton (atau bahasa ngepop sudah kehilangan greget-nya).

Apa Penyebab Sebuah Acara bisa Kehilangan Greget-nya?

Wah... kalau tentang ini banyak sekali alasannya. Sepanjang yang saya ingat, sebuah acara tontonan akan kehilangan gregetnya alias bisa menyebabkan munculnya kebosanan, apabila:

(1) Situasi atau jalannya acara atau plot-plotnya sudah dapat diperkirakan oleh penonton. Kalau sering menyaksikan sinetron, sering sekali keadaan seperti ini terjadi. Penonton sudah bisa menebak... pasti abis ini mereka ribut-ribut, pasti orang yang ini jahat kelakukannya, pasti setelah ini nanti dia nangis..dsb..dsb.

(2) Karena situasinya sudah begitu bisa ditebak, maka dengan sendirinya sudah tidak adalagi “attractive point (poin yang menarik)” untuk penonton mengikuti acara / sinetron tersebut. Makanya kalau kita perhatikan, belakangan ini Film Indonesia sering mengambil lokasi shooting di Luar Negeri. Mungkin saja alasannya adalah, apabila mengandalkan jalan cerita dan skenario sebenarnya sudah tidak ada poin yang menarik (karena ceritanya sudah sangat bisa ditebak). Oleh karena itu produser film mencoba membangun attractive point baru yaitu, pemandangan dan suasana Luar Negeri yang dapat membuat penonton tidak bosan.

(3) Terlalu sering “stimuli / pemicu emosi” dimunculkan. Saya beberapa kali menonton film Hollywood yang isinya dari menit ke menit selalu saja ada bom, ledakan, tembak menembak dsb. Tembak menembak atau ledakan memang seru dan merupakan pemicu excitement tersendiri. Namun kalau dilakukan terlalu sering hampir sepanjang film, maka yang akan muncul bukanlah excitement/ keseruan lagi melainkan “fatigue” (kelelahan mental) yang justru akan menjadi awal dari kebosanan. Hal yang sama dengan stimuli lucu (yang mengundang tawa), apabila dilakukan terus menerus tanpa henti dari awal hingga akhir, maka yang akan muncul adalah kebosanan.

(4) Beberapa produser acara atau penulis skenario film sering mengulur-ulur kata kunci dari cerita atau kunci penting acara, dengan maksud agar penonton penasaran dan mau terus mengikuti acara sampai selesai. Nanti diakhir acara barulah “kunci” itu diberikan sehingga penonton mendapat jawaban dari persoalan / plot yang telah dibangun pada menit-menit awal. Harapannya tentulah penonton akan puas, bukan? Tetapi kenyataannya tidak demikian. Karena kalau produser / sutradara / penulis cerita terus menerus menutup rapat kata kunci tanpa ada “clue / hint / tanda-tanda” sama sekali, maka penonton akan merasa kehilangan arah dan tidak tahu cerita ini akan berakhir kapan dan dimana. Nah, kalau hal ini sampai terjadi dan terlalu lama dibiarkan, maka pada saat itulah kebosanan akan mulai muncul. Artinya penonton bisa saja malah bangkit dan meninggalkan kursi penonton sebelum acara / film tersebut selesai.

Dalam tulisan di atas yang saya ambil sebagai contoh memang kedua-duanya adalah acara hiburan, tetapi apa yang saya uraikan berlaku juga bagi acara-acara informasi seperti talk-show (arm)

Tidak ada komentar: