16 Desember 2016

Memahami Perasaan dan Memahami Pikiran

oleh Andy Rustam

Bagi yang pernah mengikuti training-training atau seminar-seminar saya, pasti sudah tahu benar bahwa tentang kebiasaan saya, yaitu; apapun materi yang akan diberikan, apakah itu tentang: Marketing, Selling Technique, Public Speaking, Announcing, Programming & Production, News Reporting, Writing for the Screen Play, dan lain sebagainya, pastilah pembukaannya selalu dengan diagram komunikasi. Kenapa? Karena memang sebetulnya, kunci keberhasilan pada bidang-bidang tadi ada pada seberapa tepat dan seberapa benarkah kita meng-implementasi-kan teori-teori ilmu komunikasi tersebut. Rasanya sih, jika profesi Anda tidak berkaitan dengan komunikasi pun, Anda tetap membutuhkan ilmu ini untuk berhasil. Seorang dokter yang mampu berkomunikasi dengan baik, pastilah akan lebih berhasil daripada dokter yang tidak. Seorang ahli IT yang top pun, kalau dia tidak mampu mengkomunikasikan apa yang dikerjakannya dengan baik, pastilah jarang orang yang akan menggunakan kepandaiannya itu. Seorang anak yang berhasil dalam pendidikannya, umumnya karena ia memiliki orang tua yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada diri si anak..

Apa yang Terpenting?

Kalau kita ingin menjadi seorang komunikator yang baik, maka yang paling penting yang harus kita miliki adalah kemampuan diri untuk memahami perasaan orang lain / komunikan / pendengar. Kita harus selalu sadar sejak awal bahwa kata-kata atau tulisan yang sudah kita lontarkan dan sampai kepada komunikan, tidak akan bisa kita tarik kembali. Paling-paling kita hanya bisa mengirimkan perbaikannya saja. Tetapi tetap saja dampaknya sudah terjadi. Masalahnya, banyak sekali orang yang tidak menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mampu berkomunikasi, tetapi merasa bisa berkomunikasi dan malah jadinya banyak ngomong tapi salah. Berkomunikasi bukanlah sekedar ngomong spontan (mengeluarkan kalimat) apa adanya. Berkomunikasi bukanlah sekedar mengungkapkan apa yang kita rasakan atau apa yang kita pikirkan. Karena apa yang Anda lontarkan itu, baik Anda lakukan dengan sengaja atau tidak sengaja, akan bisa berdampak pada orang lain, bukan? Jadi berkomunikasi yang baik sebenarnya, adalah soal bagaimana kita mengontrol apa-apa yang akan kita lontarkan, agar dampak modifikasi / perubahan yang terjadi sesuai dengan maksud kita. Dan untuk itu, maka kita pun harus banyak mendengar. Artinya, seorang komunikator yang baik pastilah juga harus memiliki kemampuan untuk menjadi komunikan yang baik. Seorang pembicara yang baik juga seharusnyalah memiliki kemampuan menjadi pendengar yang baik. Dengan menjadi pendengar yang baik akan mudah menangkap apa perasaan yang berada dibalik kata-katanya.

Pernahkan Anda mengalami ini? Anda memperoleh kuliah dari seorang Professor Doktor, tetapi ketika kita mengajukan pertanyaan... eh kitanya dijadikan bahan tertawaan. Akibatnya setelah itu kita sudah malas mendengarkan kuliahnya. Mungkin maksud si Professor bukan untuk melecehkan, namun dia kurang sensitif, tidak memahami perasaan orang lain. Mungkin maksud si Professor agar kita lebih memperhatikan dan mendengarkan kuliahnya, namun dampaknya justru sebaliknya.

Belakangan ini sejalan dengan meningkatnya suhu politik menjelang Pilkada, kita lihat di media sosial banyak sekali kalimat-kalimat yang saling menghujat saling menjelekkan. Barangkali maksud mereka adalah agar pendukung pesaing mereka, beralih menjadi pendukung calon mereka. Tetapi saya yakin 100%, dengan cara berkomunikasi yang menyinggung perasaan tersebut, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Persis sama seperti sang professor yang memberi kuliah dalam contoh tersebut diatas.

Yang Terpenting Kedua

Selain memahami perasaan orang lain, seorang komunikator yang baik juga memiliki kemampuan untuk memahami pikiran orang lain / pendengar / komunikan. Artinya harus mampu menduga harapan apa yang ada di dalam pikiran si komunikan. Maksudnya, rangkaian kalimat yang Anda keluarkan tersusun dengan alur yang mengalir sesuai apa yang diharapkan dan masih berupa pertanyaan yang berada dalam pikiran si komunikan (pendengar).

Contoh: Misalnya kita membuka kalimat pertama sbb.

“Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya berangkat sekolah naik sepeda”

Dengan pembukaan kalimat pertama seperti ini, kita sudah dapat menduga bahwa yang ada dalam pikiran pendengar / komunikan tentulah pertanyaan ini: (1) Dulunya itu tahun berapa? (2) Berapa jauh jarak dari rumah ke sekolah?

Lalu, karena kita sudah dapat menduga pertanyaan apa yang ada dalam pikiran si pendengar / komunikan, maka agar pesan komunikasi kita alurnya terasa mengalir, pada kalimat berikutnya pilihlah kalimat yang berisi informasi yang menjawab pertanyaan yang berada dalam pikiran si pendengar. Misalnya sebagai berikut:

“Waktu itu tahun 1960, lalu lintas belum terlalu padat, mobil dan sepeda motorpun masih sedikit, udara juga masih terasa segar karena belum banyak polusi.”

Kalimat selanjutnya menjawab pertanyaan yang masih tersisa di pikiran pendengar / komunikan, yaitu pertanyaan no 2.

“Sehingga menempuh jarak sekitar 6 km dengan sepeda, sama sekali tidak melelahkan”.

Nah sekarang kita bisa rasakan bahwa alur pesan komunikasi ini sangat mengalir, sebagai berikut:

“Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya berangkat sekolah naik sepeda. Waktu itu tahun 1960, lalu lintas belum terlalu padat, mobil dan sepeda motor pun masih sedikit, udara juga masih terasa segar karena belum banyak polusi. Sehingga untuk menempuh jarak sekitar 6 km dengan sepeda, sama sekali tidak melelahkan”.

Dengan cara berkomunikasi secara mengalir, maka pesan pun akan lebih mudah dicerna oleh komunikan. Bukankah sering sekali kita mendengar orang yang berdakwah atau berceramah atau memberi kuliah atau berpidato, panjang lebar tetapi kita sendiri tidak mengerti maksudnya mau kemana sih nih? Salah satu penyebabnya adalah karena alur kalimat-kalimatnya tidak runtun, tidak mengalir dengan baik alias melompat-lompat.

Banyak yang tidak menyadari bahwa memahami perasaan orang lain dan memahami pikiran orang lain adalah 2 prasyarat yang paling penting kalau ingin menjadi komunikator baik. (arm)

Tidak ada komentar: