27 April 2020

Obrolan Tentang Media

oleh Andy Rustam

Beberapa waktu yang lalu saya diajak oleh menantu saya untuk bertemu dengan seorang pengusaha muda yang sudah sukses di bidangnya. Katanya si pengusaha ini (mas Anto) lagi punya pikiran untuk terjun ke bidang media, dan karena itu ingin ngobrol-ngobrol supaya dapat pencerahan. Akhirnya bertemulah kita pada suatu sore.

Pertanyaan pertama yang dia lontarkan, sangat menarik, karena dari sinilah kemudian lahir pertanyaan-pertanyaan berikut dan terkadang diselingi perdebatan-perdebatan kecil. Pertanyaannya adalah, “Menurut Pak Andy, kalau saya mau terjun ke media, media apakah yang harus saya ambil? Media digital / internet atau media konvensional?” Mendengar pertanyaan tersebut saya malah balik bertanya, “Alasannya Mas Anto terjun ke bidang media, itu apa? Karena kalau alasannya, mau cepat mencari untung, saran saya lebih baik buka toko saja, dimana Anda tinggal beli barang kemudian dijual kembali kepada konsumen / pembeli dengan ada untung. Sedangkan kalau di media tidak langsung seperti itu, karena sebelum Anda bisa mulai mendapatkan pembeli dan mencetak untung, yang perlu dibentuk adalah apakah content media Anda itu cukup menarik sampai dapat menghasilkan banyak audience (pendengar/pemirsa/viewers/followers)?" Kalau 'ya', barulah ini bisa dijual kepada pembeli. Jadi, sungguh suatu kesalahan besar kalau mengharapkan bisa cepat menangguk untung, melalui bisnis media, sebab proses bisnisnya harus melalui 3 tahap secara benar:

Tahap 1 adalah bagaimana caranya membuat konten yang bisa menghasilkan audience; Tahap 2, bagaimana audience itu yang sudah diperoleh itu akan tetap stay pada saluran / channel kita; Tahap 3, bagaimana audience yang sudah terkumpul itu dapat bermanfaat dan dapat dijual kepada pembeli (misal: Pengiklan)...dan ini berlaku bagi media apapun (konvensional atau digital). Bandingkanlah dengan bisnis buka toko beli barang dan jual barang yang jauh lebih sederhana.

Penjelasan saya ini membuat, mas Anto terdiam beberapa saat. Lalu dia bercerita alasannya ingin terjun ke media, bahwa ia ingin memberikan “sesuatu yang berguna” kepada masyarakat luas. Saya langsung memotong, “Oo non-profit“. Lalu dia menjawab, “Tapi kalau kemudian bisa untung yaa apa salahnya?” Saya bilang, ini ngga boleh punya niat bercabang, harus fokus saja menyampaikan pesan yang baik bagi audience sehingga makin banyak audience yang menyukai. Profit adalah akibat bukan tujuan. Saran saya bikin aja institusi media non-profit seperti BBC (Inggris) yang memiliki media Radio sendiri atau TV sendiri atau Portal Berita sendiri ada juga Radio Internet sendiri dan Podcast. BBC memang bukan sebuah institusi media dengan tujuan komersiel. Investasi dan Biaya Operasionalnya banyak diperoleh dari donasi (sumbangan2 masyarakat/swasta).

Tapiii... walaupun BBC adalah institusi media non komersiel, cara mereka memilih dan menyajikan konten-nya sangat luar biasa, sehingga disukai oleh audience (bukan hanya di Inggris tetapi di seluruh dunia). Bandingkan dengan misalnya pemilihan dan penyajian konten-nya TVRI. Khan jauh banget beda kualitas antara BBC & TVRI, walau sama-sama non-profit?! Jadi tidak berarti kalau media tersebut non-komersiel, cara memilih dan penyajian content-nya tidak memikirkan bagaimana audience (akan tertarikkah atau tidak?). Silahkan kalau mas Anto mau browsing internet, masuk deh ke website-nya BBC-Radio (dimana di situ ada siaran streaming BBC-Radio) lalu lanjutkan dengan masuk ke website-nya RRI. Nah... mas Anto bandingkan sendirilah, mana yang lebih menarik bagi audience.

Jadi jelaslah, walaupun media tersebut adalah media yang non-profit tetap saja 3 tahapan proses bisnis-nya tetap sama: (1) Konten BBC yang mempu membuat audience tertarik; (2) Audience terbangun dan tetap loyal dengan siaran BBC; (3) Konten dan Audience yang terkumpul dapat dijadikan justifikasi kepada para donatur BBC untuk terus mengalirkan donasinya.

Jadi, media itu yg penting terbentuknya audience, kalau sudah itu barulah, istilah sekarang, bisa di monetized.

Bagaimana mas Anto, tertarikkah? Kebanyakan kesalahan yang terjadi adalah bahwa kalau non-profit berarti investasi seadanya, terus biaya operasi ditekan se-kecil2nya asal bisa siaran (contoh: lihatlah radio2 pemda). Padahal gara-gara berpikir seperti itu akibatnya audience gak datang atau malah pada lari… lalu apa gunanya punya media kalau pesan-pesannya tidak menarik, tidak membuat audience ingin mendengar atau tidak sampai ke audience, bukan?

Saya senang sama mas Anto ini, walaupun dia seorang anak muda yang sudah sukses tapi tidak sedikitpun terkesan sombong dan sok tau. Mohon maaf, kebanyakan anak muda yang terbilang sukses sekarang ini, umumnya sok tau dan suka lebay. Beda sekali dengan mas Anto yang rendah hati dan menempatkan diri sebagai ingin belajar. Setelah meneguk kopinya, mas Anto bilang, “Pertanyaan terakhir nih... gak berasa udah 2 jam yaa… Gini, kalau saran pak Andy gimana? Apakah bisa saya memulainya dengan media digital dulu, terkait dengan biaya sih?”

Naah ini betul banget. Tadi khan mas Anto bilang ingin memberikan sesuatu, mungkin advice, mungkin tips, mungkin pembelajaran, bagi masyarakat? Menurut saya, kalau memang sasaran audience yang dituju sudah cocok, dan apalagi ini khan baru semacam “coba2” ya? Pilihan yang paling tepat memang membangun media dengan platform digital, karena: “Investasi-nya kecil, biaya operasionalnya juga kecil, artinya resiko-nya juga kecil”.

Banyak para pengusaha karena sekedar gengsi kepingin punya televisi, dan dapatlah ijin tv lokal... Padahal menyelenggarakan siaran tv lokal dari investasinya saja ya mahal, terus kalau mau bagus program2nya yaa harus mengeluarkan biaya program yang tidak terlalu berbeda dengan televisi nasional. Sementara audience-nya hanya terbatas lokal. Akibatnya susah dijual ke advertiser utk beriklan. Akhirnya merugi terus.

Radio Broadcasting investasinya lumayan, biaya operasionalnya tidak sebesar tv tetapi cukup besar juga. Radio juga membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa membangun audience. Artinya, dibutuhkan biaya modal kerja yang panjang sebelum bisa mulai menghasilkan pemasukkan. Jadi kalau sebagai media utk bisnis, radio termasuk katagori menengah.

Yang paling kecil biayanya baik investasi maupun operasional, memang media digital. Jadi saran saya buat mas Anto, silahkan pilih, bisa bikin satu channel di youtube, atau mau bikin Portal khusus, atau bisa juga bikin blog, atau bikin podcast dan banyak lagi. Apapun itu, buatlah konten yang bagus-bagus yang bisa menarik audience, dimana didalamnya berisi pesan-pesan yang ingin mas Anto sampaikan. Tentunya media apapun yang dipilih, mas Anto atau timnya nanti haruslah memiliki pengetahuan dan skill tertentu untuk membuat sebuah konten jadi menarik. Kalau youtube tentunya dibutuhkan skill pergerakan kamera, tata cahaya dan audio yang bersih. Kalau itu Podcast, tentu dibutuhkan skill menulis script dan teknik berbicara agar pemaparannya enak diikuti.

Dari semua itu kata kunci yang paling penting adalah “konsistensi” atau kebersinambungan. Jadi tidak bisa tuh, kalau lagi semangat dalam seminggu tiap hari ada postingan baru, tapi setelah itu berbulan-bulan tidak ada upload yang baru. Atau misalnya hari ini durasi konten anda 30 menit eh minggu depan upload konten berdurasi cuma 5 menit. Yang juga gak boleh misal sejak awal konten anda berisi pelajaran-pelajaran eh besoknya Anda upload konten lucu2an yang konyol tidak ada isinya. Bukan artinya gak boleh bervariasi, tetapi kalau toch mau dibuat sesekali berbeda haruslah diberitahukan sebelumnya, alasan kenapa beda.

Kelihatannya mas Anto cukup puas dengan obrolan sesorean kemarin itu. Karena besoknya mantu saya cerita bahwa si mas Anto nelpon bilang bahwa dia masih kepingin ngobrol lagi, waktunya terserah..kalau bisa sebelum puasa, katanya. Alhamdulillah. (arm)

Tidak ada komentar: