oleh Andy Rustam
Perkembangan handphone (mobilephone) dengan teknologi sms di Indonesia membawa perubahan besar dalam acara-acara siaran hidup (siaran langsung) baik di televisi maupun radio. Sehingga boleh dibilang jarang-jarang sekarang sebuah siaran langsung tidak disertai keterlibatan handphone dan sms-nya. Kemajuan teknologi ini menyebabkan kemudahan dalam penyiapan sebuah siaran laporan on-the-spot, juga merupakan kemudahan bagi penyiar yang siaran agar pada saat yang sama bisa mendapat feedback dari pendengar/pemirsa. Lebih tepatnya lagi, dengan handphone siapapun bisa mengudara mengisi siaran pada saat ini juga, sekalipun tanpa persiapan. Tetapi ibarat dua sisi dari satu koin, sebuah keunggulan pada saat yang bersamaan dapat menjadi kelemahan. Lihat beberapa contoh kelemahan dalam menginterpretasikan respon yang diterima melalui sms/handphone, sebagai berikut:
Perkembangan handphone (mobilephone) dengan teknologi sms di Indonesia membawa perubahan besar dalam acara-acara siaran hidup (siaran langsung) baik di televisi maupun radio. Sehingga boleh dibilang jarang-jarang sekarang sebuah siaran langsung tidak disertai keterlibatan handphone dan sms-nya. Kemajuan teknologi ini menyebabkan kemudahan dalam penyiapan sebuah siaran laporan on-the-spot, juga merupakan kemudahan bagi penyiar yang siaran agar pada saat yang sama bisa mendapat feedback dari pendengar/pemirsa. Lebih tepatnya lagi, dengan handphone siapapun bisa mengudara mengisi siaran pada saat ini juga, sekalipun tanpa persiapan. Tetapi ibarat dua sisi dari satu koin, sebuah keunggulan pada saat yang bersamaan dapat menjadi kelemahan. Lihat beberapa contoh kelemahan dalam menginterpretasikan respon yang diterima melalui sms/handphone, sebagai berikut:
- SMS jadi Indikator
Dalam sebuah acara di radio tertentu, penyiar mengundang pendengar untuk berpartisipasi melalui sms. Ternyata, sampai di akhir acara hanya ada 2 sms yang masuk, maka dalam hal seperti ini sering diartikan bahwa acara tersebut "tidak menarik". - Laporan Reporter TV Hanya Dengan Handphone
Sering kita melihat dalam siaran berita di televisi, pembaca berita meminta laporan on-the-spot dari reporter-nya, tetapi yang muncul hanyalah foto si reporter sementara yang terdengar hanya suara si reporter melaporkan peristiwa melalui handphone. Kalau anda tanyakan kepada pengelola berita, mengapa sebuah laporan dari reporter televisi dapat langsung disiarkan padahal gambar (video)-nya tidak ada (belum siap).
Hal ini bisa terjadi karena si pemimpin redaksi acara siaran berita di stasiun televisi tersebut berpendapat, bahwa yang terpenting kita harus menjadi stasiun pertama yang menyiarkan berita tersebut, walaupun tidak/belum memiliki gambar. - Jawaban Quiz Melalui SMS/Handphone
Acara quiz dengan melontarkan pertanyaan lalu meminta orang memberi jawaban melalui telepon atau dengan sms. Jawabannya salah atau benar tidak menjadi masalah, karena yang penting bukan itu, melainkan "pulsa biaya tinggi" yang sudah digunakan untuk mengirim jawaban itulah yang menjadi sumber pemasukan bagi stasiun. Makanya tidak heran ada stasiun yang menyiarkan pertanyaan bodoh dalam acara quiz, yaitu pertanyaan yang tak perlu berpikir dalam menjawab, atau bahkan terkadang jawaban pilihannya konyol-konyol. Misal, "matahari terbit di timur atau di barat?" - Materi Siaran Tergantung SMS
Penyiar radio mengudara tanpa persiapan, karena nanti ia akan melontarkan kata-kata, "Bagi anda yang ingin berbagi pengalaman atau melontarkan uneg-uneg-nya silahkan mengirimkan sms ke nomer .......". Lalu setelah ada sms yang masuk, maka barulah kemudian penyiar tersebut berbicara, bercanda, memberi komentar, atau menanggapi apapun yang dilontarkan oleh pendengar. Begitulah cara sang penyiar bersiaran dari hari ke hari.
- Jumlah sms yang masuk tidak dapat secara umum menjadi indikator apakah acara tersebut memiliki banyak pendengar atau tidak. Karena, apabila acara tersebut adalah acara remaja, sudah pasti jumlah sms yang masuk akan lebih banyak daripada kalau acara tersebut ditujukan bagi orang dewasa. Sebab remaja jauh lebih aktif dalam ber-sms daripada orang dewasa. Oleh sebab itu, terburu-buru mengambil kesimpulan berdasarkan jumlah sms yang masuk akan dapat berakibat fatal dalam strategi pemrograman siaran (programming). Audience, jenis acara, dan isi acara berpengaruh pada undangan untuk mengirimkan sms.
- Siaran berita (news) memang harus mengutamakan kecepatan/ke-baru-an. Sehingga menjadi stasiun pertama yang menyiarkan sebuah berita bukanlah hal yang salah. Tetapi bukanlah hanya sekedar itu, penting untuk diperhatikan juga "melalui media apa"? Artinya, kalau berita tersebut disiarkan melalui media televisi maka tentulah setiap materi harus mampu mengoptimalkan karakter medianya, yaitu sisi moving-visual selain audio. Jadi kalau toch ingin menyiarkan "duluan", akan lebih tepat bagi stasiun TV itu untuk menyiarkan saja "berita awal" itu tanpa memakai reporter (yang hanya suara+foto), melainkan cukup si newscaster membacakan "berita awal yang sifatnya masih sementara" sambil mengatakan bahwa reporter-nya sudah ada di lapangan dan dalam beberapa menit ke depan nanti pemirsa sudah akan menerima laporan (audio-visual) yang lebih lengkap.
Sebab dengan menampilkan hanya reporter ber-HP saja, akan menampilkan kesan bahwa stasiun TV tersebut tak mampu berada lengkap on-the-spot (seperti CNN dengan laporan audio-visual on-the-spot-nya), selain itu pesan berita melalui suara newscaster akan jauh lebih jernih dan mudah ditangkap/dicerna oleh audience daripada suara reporter ber-HP (dengan foto si reporter). - Daya tarik sebuah acara quiz (bagi pendengar/pemirsa yang bukan peserta) justru terletak pada tingkat kesulitan tertentu dimana tidak semua orang bisa menjawab, tetapi "saya" (salah satu pendengar/pemirsa non-peserta) merasa bisa menjawabnya.
Jadi ada unsur kebanggaan diri yang tersembunyi disini. Tetapi kalau pertanyaan sebuah quiz dibuat terlalu mudah jawabannya (atau konyol) dengan harapan agar sms yang masuk banyak jumlahnya, maka sebenarnya itu justru membuat acara quiz tersebut menjadi tak menarik bagi sebahagian besar pendengar/pemirsa yang mendengar/menonton siaran tapi bukan partisipan quiz. Kalaupun benar jumlah sms yang masuk bertambah, itu bukan berarti acara quiz tersebut adalah acara yang menarik bagi banyak orang, karena bisa saja justru barangkali pendengarnya hanya sebatas mereka yang mengirim sms itu saja. Ingat, berapa orang pun yang mengirimkan sms masih lebih banyak lagi mereka yang mendengarkan acara quiz (yang mungkin bisa pula menjawabnya) namun tidak mengirimkan sms sama sekali. Utamakan siaran quiz anda justru bagi mereka, jangan utamakan hanya yang meng-sms saja. - Sebuah acara yang akan disiarkan/tayang sudah seharusnyalah sejak awal memiliki konsep dan tujuan yang dirancang sedemikian rupa sehingga kendali pelaksanaan dan isi seluruh materi acara itu berada di tangan si penyiar, dan bukan para pendengar yang ber-sms-lah yang mengendalikan acara. Penyiar yang menggantungkan materi kepada sms yang masuk, akan terjebak sendiri bahwa acara yang dibawakannya itu nanti akan terbawa arus tanpa arah dan tidak fokus (ataukah memang sejak awal pikirannya hanya mau bermalas-malasan dalam siaran, yah... bagaimana nanti saja). Sebuah acara yang tidak jelas mau dibawa ke mana para pendengarnya atau para pemirsanya, pasti akan menjadi suatu acara siaran yang paling membosankan. Percayalah. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar