14 November 2007

Radio Siaran Untuk Pengiklan atau Untuk Pendengar

oleh Andy Rustam

Seorang pengusaha, Bapak W seorang kontraktor yang sukses dari Sumatra Selatan datang kepada saya untuk berdiskusi awal, katanya dia ingin memiliki radio siaran. Alasannya karena setiap kali ke Jakarta ia selalu mendengarkan siaran dari Radio Delta yang menyiarkan lagu-lagu lama yang ia sukai dengan penyiar-penyiarnya yang, menurut dia, cara menyampaikan/mengisi acaranya sangat tepat bagi dirinya. Lalu saya tanya, "Apakah Bapak ingin radio Bapak itu nantinya meraih laba sebagai suatu bisnis ataukah karena Bapak menyukai Radio Delta maka Bapak memperkirakan bahwa kalau di kota Bapak ada radio seperti Delta maka pastilah pendengarnya akan cukup banyak karena radio dengan siaran seperti itu belum ada disana?". Rupanya pertanyaan saya itu, cukup membuatnya berpikir.

Alasan Memiliki Stasiun Radio

Para pengelola dan pelaksana siaran sebuah stasiun radio seringkali dibuat bingung karena tidak adanya arahan yang jelas dari pemilik, apa yang diinginkannya. Ada berbagai alasan seseorang ingin memiliki radio, antara lain:
  1. Sebagai investasi saja, karena perizinan dan frekuensi terbatas, maka law of scarcity dalam bisnis mengatakan nilai sebuah stasiun akan terus meningkat.

  2. Sebagai hobby, karena ia sendiri senang bersiaran, memasang, dan mendengarkan lagu-lagu kesukaannya.

  3. Sebagai supporting business entity (unit usaha pendukung/tambahan), karena ia telah memiliki usaha lain (bisa juga radio) yang telah sukses.

  4. Sebagai sarana karena maksud-maksud lain (politis, sosial, dakwah, dsb.).

  5. Sebagai benar-benar unit usaha profit centre yang mandiri.
Sayangnya dari kelima point tersebut di atas, ada yang bisa dikombinasikan tetapi banyak juga yang apabila dikombinasikan justru akan menyulitkan. Kombinasi yang buruk, misalnya, butir 2 dengan butir 5, karena seringkali selera musik diri sendiri sangat berbeda dengan selera musik masyarakat umumnya, sehingga ketika ia hobby memasang jenis musik yang disukainya justru semakin masyarakat tidak menyukai siaran radio tersebut. Contoh kombinasi yang memungkinkan digabungkan adalah, butir 1 dengan butir 5. Karena law of scarcity mengatakan nilai radio tersebut sebagai suatu asset akan terus meningkat walaupun seandainya radio itu tak cukup pendengar, apalagi apabila radio tersebut dapat dikelola baik dan menghasilkan laba (profit).

Oleh karena itulah para pemilik radio harus sadar betul, bahwa ada banyak dari "keinginan"-nya itu secara natural (alami) memang sulit/tak bisa dicapai, siapapun juga pengelolanya. Tetapi coba kita tela'ah lagi, berapa banyak sebenarnya pemilik radio yang mau berterus-terang kepada pengelola, atau sebaliknya mau menerima pendapat dari pengelola? Di sisi lain pengelola sendiri pun tak cukup memiliki kecakapan dalam memberikan penjelasan kepada si pemilik, dan bahkan pada beberapa kasus si pengelola yang merasa sudah sangat pengalaman sering merasa benar sendiri. Jadi tak ada titik temu antara pemilik dan pengelola.

Siaran Untuk Pengiklan atau Untuk Pendengar?

Anda bisa tanyakan kepada pendengar radio, dan terbukti sebahagian besar akan berkata bahwa mereka lebih suka mendengar radio yang "tak banyak" iklannya. Disini artinya, kalau si pemilik yang bermaksud "pure business" akan senang karena uang masuk dari banyak iklan, pada saat yang sama pendengar semakin "kurang suka" dengan stasiun tersebut karena mereka merasa sering terganggu dengan banyaknya siaran iklan. Dilematis bukan?

Sebaliknya, misal, bagi radio yang pemiliknya adalah organisasi "Green Peace", dimana pembiayaannya sepenuhnya ditanggung oleh organisasi lingkungan hidup tersebut, maka tentu saja radio itu dapat konsentrasi bersiaran demi pertumbuhan jumlah pendengarnya, sehingga tujuan/maksud/misi organisasi akan semakin mendapat simpati/dukungan dari masyarakat seluas mungkin.

Sengaja kedua contoh di atas, diambil dari situasi yang ekstrim agar memudahkan pengertian. Sebab, walau bagaimanapun juga selalu ada cara agar titik equilibrium (titik temu/keseimbangan) dapat dicapai dimana siaran iklan yang memuaskan pengiklan tidak sampai terlalu mengganggu dan masih bisa acceptable oleh pendengar. Misalnya, dengan tidak menyiarkan iklan secara di-renceng (di-sate) berkepanjangan atau dengan menyiarkan iklan yang disampaikan oleh penyiar dengan gaya bercerita mendongeng /story-telling.

Jawaban Bapak W

Kembali ke awal tulisan ini, akhirnya si Bapak W berhasil mengemukakan maunya secara jelas, bahwa ia ingin membuat radio yang bisa profit secepatnya, dan caranya tidak perlu dengan membuat radio ala Delta di daerahnya.

Jawaban saya, "Nah, memang begitulah seharusnya, kongkrit dan jelas apa yang diinginkan oleh si pemilik." Karena untuk dapat mengelola sebuah stasiun radio dengan baik, prasyarat-nya adalah bahwa jajaran pengelola harus mengetahui betul arahan maunya si pemilik, jauh sebelum anda membuat sebuah strategic plan (perencanaan strategis). Karena kalau tidak, apapun yang akan dilakukan pengelola pasti akan salah atau dipersalahkan terus. (arm)

Tidak ada komentar: