oleh Andy Rustam
Banyak sudah ditulis di media cetak komentar-komentar tentang bagaimana TV melakukan liputan ketika mantan presiden RI, Soeharto, meninggal dunia. Ada yang menganggap liputan itu sudah melanggar hak-hak pribadi (privacy), ada yang menganggap liputan itu tidak balance, ada lagi yang bilang liputan itu mau melebih-lebihkan jasa mantan orang kuat yang telah memimpin negara ini selama 30 tahun dan lain sebagainya. Singkatnya, ada yang "salah" dalam cara stasiun televisi melakukan siaran liputan dalam rangka wafatnya Pak Harto. Bagaimana dari sisi pandang ilmu news-broadcasting?
Bias Antara Siaran Berita dan Siaran Gosip
Seorang pemimpin bagian pemberitaan stasiun televisi yang diminta pendapatnya oleh harian "Kompas" (29 Januari 2008) mengatakan bahwa berdasarkan audience tracking terlihat perpindahan penonton dari stasiun TV-nya yang baru saja menyelesaikan siaran breaking-news terkait meninggalnya Pak Harto, ke stasiun TV lain, untuk mencari siaran pemberitaan yang juga menyiarkan berita tentang meninggalnya Pak Harto. Dari sini terlihat bahwa para news-broadcaster pun sudah terkena wabah "rating-phobia", sampai-sampai aspek siaran berita dilihat dari sisi rating. Para wartawan pemberitaan profesional di seluruh dunia pun akan dibuat terbengong-bengong kalau tahu bahwa isi sebuah siaran pemberitaan harus mendahulukan rating. Ini sangat bertentangan dengan prinsip news itu sendiri. Para wartawan kawakan Indonesia seperti Rosihan Anwar, dalam suatu perbincangan dengan saya tahun lalu pernah mengeluhkan mutu dari generasi muda wartawan kita. Jadi sekarang kita ketahui, betapa menyedihkannya hal yang melanda dunia jurnalistik Indonesia, bahkan juga di televisi. Itulah sebabnya kualitas berita-berita hasil liputan reporter-reporter yang disiarkan di televisi penyajiannya lebih mirip sebuah Gossip Show daripada karya jurnalistik liputan berita.
Bagaimana Cara Seorang Reporter dan Newscaster Ditugaskan?
Sejak terdengar kabar sakitnya Pak Harto, memang seluruh stasiun televisi (dan media lainnya) sudah menyebarkan para reporter-nya, karena semua sudah mengantisipasi/memperkirakan bahwa waktu ajal Pak Harto sudah dekat. Namun ketika tim dokter mengatakan kesehatannya membaik, maka berangsur-angsur reporter-reporter ditarik kembali, tetapi... dan tiba-tiba pada hari Minggu 27 Januari 2008 Pak Harto meninggal dunia. Pimpinan pemberitaan stasiun televisi memerintahkan para crew liputan segera menyebar ke titik-titik utama secepat-cepatnya dengan peralatan lengkap. Briefing yang mereka terima dari atasan sebelum berangkat, "Berangkat saja sekarang, nanti di sana kamu lihat dan laporkan saja apa yang terjadi". Banyak stasiun TV pun buru-buru membuka siaran Talk Show diselingi sisipan laporan-laporan (insert) dari para reporter-nya. Briefing yang diterima oleh Newscaster, "Nanti kamu bicarakan segala hal apa saja tentang Pak Harto, lihat saja bagaimana nanti tergantung tamu pembicara yang diundang ".
Jelas sekali dengan arahan yang mengambang seperti itu, maka tak heran penonton dibuat geleng-geleng kepala melihat bagaimana reporter-reporter muda (kelahiran tahun 80-an) melaporkan jumlah kursi, parkir kendaraan, cuaca, dan wawancara dengan pemilik warung dalam siarannya. Hebatnya lagi wajah para reporter itu menunjukkan kebanggaan diri ikut dalam tim liputan wafatnya Pak Harto. Sementara di studio lain lagi. Si newscaster pun terlihat seperti bingung karena mendapat pesan dari Bos stasiun televisi bahwa dilarang menyiarkan yang negatif tentang Pak Harto, sementara para tamu (narasumber) yang diwawancarai, secara objektif mengungkapkan sisi baik dan buruk kepemimpinan Pak Harto. Maka penonton TV pun terpaksa tertawa sendiri, ketika berkali-kali newscaster berusaha membelokkan apa yang telah dikatakan para tamu yang telah diundangnya sendiri.
Bangga yang Bagaimanakah Seharusnya?
Bagi orang-orang yang belajar prinsip-prinsip pemberitaan tentu sudah tahu rumus pemberitaan, yaitu: A+B+C = C, alias Accurate + Balance + Clarity = Credibility. Kredibilitas itulah yang merupakan nilai suatu siaran pemberitaan dan bukannya rating. Suatu siaran pemberitaan yang credible dengan isi yang akurat dan seimbang dengan sudut pandang (angle) dan presentasi yang jelas, sudah barang tentu akan mampu menarik penonton. Kredibilitas yang telah terbangun inilah penyebab utama kenapa seseorang menonton siaran berita. Tetapi para reporter stasiun TV itu lebih mengutamakan "dulu-duluan", artinya, saya yang mendapat berita lebih dulu, saya yang menyiarkan lebih dulu, dan saya bangga karena lebih dulu dari yang lain. Padahal kebanggaan seperti ini adalah kebanggaan bodoh. Karena menyiarkan lebih dulu menjadi sia-sia kalau penontonnya tune-in justru di stasiun TV lain karena TV tersebut telah membangun kredibilitasnya sejak bertahun-tahun.
Maka seharusnyalah para newsbroadcaster mengganti rasa bangganya itu pada rasa bangga yang sebenarnya, yaitu kebanggaan pada profesionalisme kewartawanannya. Artinya kalau ia berhasil menjalankan prinsip-prinsip siaran pemberitaan profesional standar Internasional secara benar, di situlah ia boleh berbangga. Bangun kredibilitas stasiunmu dan barulah boleh berbangga hati.
Para pimpinan pemberitaan tidak boleh hanya memerintahkan para reporter untuk berangkat tanpa adanya arahan yang jelas. Misalnya ketika mengirimkan reporter ke Astana Giribangun yang sedang menjalani persiapan-persiapan penyambutan jenazah, reporter diarahkan sebagai berikut, "Hai reporter, kita ingin agar penonton kita ini bisa merasakan suasana khidmat dan ada rasa kagum akan keberadaan tempat pemakaman Astana Giribangun. Maka carilah dan pilihlah berita/informasi, perlihatkanlah suasana dan wawancarailah narasumber-narasumber yang tepat guna tercapainya tujuan itu".
Seandainya saja semua itu dilakukan maka kita semua akan bisa menonton liputan dan siaran pemberitaan yang setara dengan nama besar TV dunia seperti BBC, Al Jazeera, ABC, dsb. Kapan ya? Mimpi 'ngkali! (arm)
Banyak sudah ditulis di media cetak komentar-komentar tentang bagaimana TV melakukan liputan ketika mantan presiden RI, Soeharto, meninggal dunia. Ada yang menganggap liputan itu sudah melanggar hak-hak pribadi (privacy), ada yang menganggap liputan itu tidak balance, ada lagi yang bilang liputan itu mau melebih-lebihkan jasa mantan orang kuat yang telah memimpin negara ini selama 30 tahun dan lain sebagainya. Singkatnya, ada yang "salah" dalam cara stasiun televisi melakukan siaran liputan dalam rangka wafatnya Pak Harto. Bagaimana dari sisi pandang ilmu news-broadcasting?
Bias Antara Siaran Berita dan Siaran Gosip
Seorang pemimpin bagian pemberitaan stasiun televisi yang diminta pendapatnya oleh harian "Kompas" (29 Januari 2008) mengatakan bahwa berdasarkan audience tracking terlihat perpindahan penonton dari stasiun TV-nya yang baru saja menyelesaikan siaran breaking-news terkait meninggalnya Pak Harto, ke stasiun TV lain, untuk mencari siaran pemberitaan yang juga menyiarkan berita tentang meninggalnya Pak Harto. Dari sini terlihat bahwa para news-broadcaster pun sudah terkena wabah "rating-phobia", sampai-sampai aspek siaran berita dilihat dari sisi rating. Para wartawan pemberitaan profesional di seluruh dunia pun akan dibuat terbengong-bengong kalau tahu bahwa isi sebuah siaran pemberitaan harus mendahulukan rating. Ini sangat bertentangan dengan prinsip news itu sendiri. Para wartawan kawakan Indonesia seperti Rosihan Anwar, dalam suatu perbincangan dengan saya tahun lalu pernah mengeluhkan mutu dari generasi muda wartawan kita. Jadi sekarang kita ketahui, betapa menyedihkannya hal yang melanda dunia jurnalistik Indonesia, bahkan juga di televisi. Itulah sebabnya kualitas berita-berita hasil liputan reporter-reporter yang disiarkan di televisi penyajiannya lebih mirip sebuah Gossip Show daripada karya jurnalistik liputan berita.
Bagaimana Cara Seorang Reporter dan Newscaster Ditugaskan?
Sejak terdengar kabar sakitnya Pak Harto, memang seluruh stasiun televisi (dan media lainnya) sudah menyebarkan para reporter-nya, karena semua sudah mengantisipasi/memperkirakan bahwa waktu ajal Pak Harto sudah dekat. Namun ketika tim dokter mengatakan kesehatannya membaik, maka berangsur-angsur reporter-reporter ditarik kembali, tetapi... dan tiba-tiba pada hari Minggu 27 Januari 2008 Pak Harto meninggal dunia. Pimpinan pemberitaan stasiun televisi memerintahkan para crew liputan segera menyebar ke titik-titik utama secepat-cepatnya dengan peralatan lengkap. Briefing yang mereka terima dari atasan sebelum berangkat, "Berangkat saja sekarang, nanti di sana kamu lihat dan laporkan saja apa yang terjadi". Banyak stasiun TV pun buru-buru membuka siaran Talk Show diselingi sisipan laporan-laporan (insert) dari para reporter-nya. Briefing yang diterima oleh Newscaster, "Nanti kamu bicarakan segala hal apa saja tentang Pak Harto, lihat saja bagaimana nanti tergantung tamu pembicara yang diundang ".
Jelas sekali dengan arahan yang mengambang seperti itu, maka tak heran penonton dibuat geleng-geleng kepala melihat bagaimana reporter-reporter muda (kelahiran tahun 80-an) melaporkan jumlah kursi, parkir kendaraan, cuaca, dan wawancara dengan pemilik warung dalam siarannya. Hebatnya lagi wajah para reporter itu menunjukkan kebanggaan diri ikut dalam tim liputan wafatnya Pak Harto. Sementara di studio lain lagi. Si newscaster pun terlihat seperti bingung karena mendapat pesan dari Bos stasiun televisi bahwa dilarang menyiarkan yang negatif tentang Pak Harto, sementara para tamu (narasumber) yang diwawancarai, secara objektif mengungkapkan sisi baik dan buruk kepemimpinan Pak Harto. Maka penonton TV pun terpaksa tertawa sendiri, ketika berkali-kali newscaster berusaha membelokkan apa yang telah dikatakan para tamu yang telah diundangnya sendiri.
Bangga yang Bagaimanakah Seharusnya?
Bagi orang-orang yang belajar prinsip-prinsip pemberitaan tentu sudah tahu rumus pemberitaan, yaitu: A+B+C = C, alias Accurate + Balance + Clarity = Credibility. Kredibilitas itulah yang merupakan nilai suatu siaran pemberitaan dan bukannya rating. Suatu siaran pemberitaan yang credible dengan isi yang akurat dan seimbang dengan sudut pandang (angle) dan presentasi yang jelas, sudah barang tentu akan mampu menarik penonton. Kredibilitas yang telah terbangun inilah penyebab utama kenapa seseorang menonton siaran berita. Tetapi para reporter stasiun TV itu lebih mengutamakan "dulu-duluan", artinya, saya yang mendapat berita lebih dulu, saya yang menyiarkan lebih dulu, dan saya bangga karena lebih dulu dari yang lain. Padahal kebanggaan seperti ini adalah kebanggaan bodoh. Karena menyiarkan lebih dulu menjadi sia-sia kalau penontonnya tune-in justru di stasiun TV lain karena TV tersebut telah membangun kredibilitasnya sejak bertahun-tahun.
Maka seharusnyalah para newsbroadcaster mengganti rasa bangganya itu pada rasa bangga yang sebenarnya, yaitu kebanggaan pada profesionalisme kewartawanannya. Artinya kalau ia berhasil menjalankan prinsip-prinsip siaran pemberitaan profesional standar Internasional secara benar, di situlah ia boleh berbangga. Bangun kredibilitas stasiunmu dan barulah boleh berbangga hati.
Para pimpinan pemberitaan tidak boleh hanya memerintahkan para reporter untuk berangkat tanpa adanya arahan yang jelas. Misalnya ketika mengirimkan reporter ke Astana Giribangun yang sedang menjalani persiapan-persiapan penyambutan jenazah, reporter diarahkan sebagai berikut, "Hai reporter, kita ingin agar penonton kita ini bisa merasakan suasana khidmat dan ada rasa kagum akan keberadaan tempat pemakaman Astana Giribangun. Maka carilah dan pilihlah berita/informasi, perlihatkanlah suasana dan wawancarailah narasumber-narasumber yang tepat guna tercapainya tujuan itu".
Seandainya saja semua itu dilakukan maka kita semua akan bisa menonton liputan dan siaran pemberitaan yang setara dengan nama besar TV dunia seperti BBC, Al Jazeera, ABC, dsb. Kapan ya? Mimpi 'ngkali! (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar