Oleh Andy Rustam
TV Lokal Bingung
Di era reformasi banyak sekali lahir stasiun-stasiun televisi baru, terutama televisi khusus siaran lokal, termasuk Jak-TV, O Channel, Bali-TV. Tetapi sebahagian besar mereka saat ini berada pada kondisi sulit, bahkan tak pernah bisa mengecap laba operasional semenjak dilahirkan. Kecuali barangkali Bali-TV yang apabila kita perhatikan acara-acara yang disiarkannya adalah acara yang dibuat dengan teknik produksi yang sederhana berbiaya rendah, walaupun begitu, isi acara Bali TV justru sangat Bali, artinya erat keterkaitannya dengan budaya lokal Bali, dan karenanya di tonton dan disukai oleh masyarakat Bali sendiri. Itu yang membuat Bali TV sukses. Sebaliknya penyebab TV-TV (lokal) yang gagal, adalah dikarenakan ketidakmampuan mereka menjadikan acara-acara yang disiarkannya disukai oleh masyarakat lokal didaerahnya.
Hal ini bukannya tak diketahui oleh para pemilik dan pengelola seperti Jak-TV ataupun O-Channel, tetapi yang menjadi persoalan bagaimana mungkin melakukan siaran seperti Bali-TV yang masyarakatnya memang sudah begitu homogen, namun akan diaplikasikan di Jakarta yang masyarakatnya sangat heterogen? Di sinilah letak kebingungan mereka... Jadi tak usah heran apabila akhirnya nanti TV Lokal yang menghadapi kebingungannya seperti itu dalam waktu yang tak terlalu lama pasti akan berpindah tangan kepada pihak ketiga. Ini tebak-tebakan yang masuk akal.
TV Nasional Bingung
Ketika kelompok media Kompas-Gramedia Group yang begitu kuat akhirnya melepas TV 7 kepada kelompok Bank Mega - Para Group sehingga menjadi Trans 7, orang-orang baru tersadar bahwa mengelola televisi ternyata tak semudah memiliki izin dan membeli peralatan TV. Semakin terbukti lagi dengan peristiwa terpaksanya kelompok usaha yang dimiliki orang terkaya di Indonesia, Bakrie, melepas kekuasaan kepemilikannya atas Antv. Disusul lagi televisi sesukses Indosiar pun kebingungan karena penghasilan iklannya tak lagi mampu menutupi biaya-biaya, sementara kalau ia menaikan tarif iklan maka para advertising agency dan pengiklan (advertisers) pun akan mengalihkan order-nya ke stasiun TV lain.
Bukankah ini berarti, kalau yang raksasa saja sulit, maka akan sulit hidup untuk stasiun TV yang baru dilahirkan, termasuk juga TV-TV lokal yang sudah banyak bermunculan dewasa ini?
Stasiun TV di Amerika
Kalau kita di Indonesia merasa industri televisinya sudah mulai terasa "sumpek", padahal jumlahnya baru 56 stasiun televisi di seluruh Indonesia bagi 240 juta penduduk, lalu bagaimana caranya kok stasiun TV di Amerika bisa hidup semua? Jumlah stasiun/siaran TV di Amerika menurut data tahun 2005 dari Virginia University adalah sebagai berikut: 1500 stasiun TV, 10.000 siaran/saluran TV bagi 295 juta penduduk Amerika Serikat. Bukankah itu suatu angka yang tak pernah terbayangkan oleh kita di Indonesia apabila ada sebanyak itu stasiun TV, bagaimana mereka semua bisa bertahan hidup?
Supaya Tak Bingung
Jawabannya sebetulnya tak terlalu sulit, namun terdengar "tak biasa" bagi para pengelola/pemilik stasiun TV di Indonesia, yaitu "be a real TV station", jadilah televisi yang sesungguhnya. Mengapa jawaban sederhana ini menjadi sulit dipahami oleh para pemilik/pengelola stasiun televisi ?
Seperti kita ketahui, mendirikan dan menjalankan stasiun TV membutuhkan modal yang besar. Oleh karena itulah biasanya seorang pemilik TV adalah seorang pengusaha yang sukses pada bidang lain. Tentunya modal itu diperoleh sebahagian besar dari pinjaman Bank. Caranya agar memperoleh pinjaman tentu dengan mengajukan business plan yang cukup menjanjikan. Masalahnya, business plan itu dibuat dengan asumsi-asumsi dan logika-logika bisnis yang tak sesuai dengan "nature of the business" televisi. Akibatnya ketika rencana/plan itu dijalankan, hasilnya tak sesuai dengan apa yang digambarkan dalam business plan. Kesalahan ini sudah sangat umum terjadi, sehingga akhirnya cash flow negatif, modal termakan, hutang tak terbayar dan akhirnya dijual.
Salah satu yang paling utama yang harus disadari yaitu, prinsip bisnis televisi siaran adalah bahwa bisnis ini bukanlah bisnis trading yang "quick-yielding" dan "flexible", melainkan justru sebaliknya bisnis ini adalah bisnis jangka panjang dan memerlukan "konsistensi". Oleh karena itu seluruh asumsi yang diambil diatas kertas haruslah "benar sejak awal", dan harus mampu menjawab segala kejadian yang mungkin terjadi. Misal, ketika menetapkan strategi format, produksi dan penyajian acara tidak cukup dengan mengasumsikan bahwa karena program jenis A berhasil di televisi lain maka kalau kita mengambil program A, pastilah akan berhasil juga. Padahal yang harus diketahui bukanlah "apa program yang disukai oleh penonton televisi", melainkan "mengapa penonton menyukai sebuah program? ".
Sekali lagi perencanaan yang matang dan asumsi didasarkan pengetahuan yang benar akan bisnis televisi, itulah yang akan membuat stasiun TV sukses. Stasiun TV yang sukses adalah stasiun TV yang dijalankan sesuai dengan nature of business-nya. Makanya tadi saya katakan supaya tak bingung, "Be a real TV station". (arm)
TV Lokal Bingung
Di era reformasi banyak sekali lahir stasiun-stasiun televisi baru, terutama televisi khusus siaran lokal, termasuk Jak-TV, O Channel, Bali-TV. Tetapi sebahagian besar mereka saat ini berada pada kondisi sulit, bahkan tak pernah bisa mengecap laba operasional semenjak dilahirkan. Kecuali barangkali Bali-TV yang apabila kita perhatikan acara-acara yang disiarkannya adalah acara yang dibuat dengan teknik produksi yang sederhana berbiaya rendah, walaupun begitu, isi acara Bali TV justru sangat Bali, artinya erat keterkaitannya dengan budaya lokal Bali, dan karenanya di tonton dan disukai oleh masyarakat Bali sendiri. Itu yang membuat Bali TV sukses. Sebaliknya penyebab TV-TV (lokal) yang gagal, adalah dikarenakan ketidakmampuan mereka menjadikan acara-acara yang disiarkannya disukai oleh masyarakat lokal didaerahnya.
Hal ini bukannya tak diketahui oleh para pemilik dan pengelola seperti Jak-TV ataupun O-Channel, tetapi yang menjadi persoalan bagaimana mungkin melakukan siaran seperti Bali-TV yang masyarakatnya memang sudah begitu homogen, namun akan diaplikasikan di Jakarta yang masyarakatnya sangat heterogen? Di sinilah letak kebingungan mereka... Jadi tak usah heran apabila akhirnya nanti TV Lokal yang menghadapi kebingungannya seperti itu dalam waktu yang tak terlalu lama pasti akan berpindah tangan kepada pihak ketiga. Ini tebak-tebakan yang masuk akal.
TV Nasional Bingung
Ketika kelompok media Kompas-Gramedia Group yang begitu kuat akhirnya melepas TV 7 kepada kelompok Bank Mega - Para Group sehingga menjadi Trans 7, orang-orang baru tersadar bahwa mengelola televisi ternyata tak semudah memiliki izin dan membeli peralatan TV. Semakin terbukti lagi dengan peristiwa terpaksanya kelompok usaha yang dimiliki orang terkaya di Indonesia, Bakrie, melepas kekuasaan kepemilikannya atas Antv. Disusul lagi televisi sesukses Indosiar pun kebingungan karena penghasilan iklannya tak lagi mampu menutupi biaya-biaya, sementara kalau ia menaikan tarif iklan maka para advertising agency dan pengiklan (advertisers) pun akan mengalihkan order-nya ke stasiun TV lain.
Bukankah ini berarti, kalau yang raksasa saja sulit, maka akan sulit hidup untuk stasiun TV yang baru dilahirkan, termasuk juga TV-TV lokal yang sudah banyak bermunculan dewasa ini?
Stasiun TV di Amerika
Kalau kita di Indonesia merasa industri televisinya sudah mulai terasa "sumpek", padahal jumlahnya baru 56 stasiun televisi di seluruh Indonesia bagi 240 juta penduduk, lalu bagaimana caranya kok stasiun TV di Amerika bisa hidup semua? Jumlah stasiun/siaran TV di Amerika menurut data tahun 2005 dari Virginia University adalah sebagai berikut: 1500 stasiun TV, 10.000 siaran/saluran TV bagi 295 juta penduduk Amerika Serikat. Bukankah itu suatu angka yang tak pernah terbayangkan oleh kita di Indonesia apabila ada sebanyak itu stasiun TV, bagaimana mereka semua bisa bertahan hidup?
Supaya Tak Bingung
Jawabannya sebetulnya tak terlalu sulit, namun terdengar "tak biasa" bagi para pengelola/pemilik stasiun TV di Indonesia, yaitu "be a real TV station", jadilah televisi yang sesungguhnya. Mengapa jawaban sederhana ini menjadi sulit dipahami oleh para pemilik/pengelola stasiun televisi ?
Seperti kita ketahui, mendirikan dan menjalankan stasiun TV membutuhkan modal yang besar. Oleh karena itulah biasanya seorang pemilik TV adalah seorang pengusaha yang sukses pada bidang lain. Tentunya modal itu diperoleh sebahagian besar dari pinjaman Bank. Caranya agar memperoleh pinjaman tentu dengan mengajukan business plan yang cukup menjanjikan. Masalahnya, business plan itu dibuat dengan asumsi-asumsi dan logika-logika bisnis yang tak sesuai dengan "nature of the business" televisi. Akibatnya ketika rencana/plan itu dijalankan, hasilnya tak sesuai dengan apa yang digambarkan dalam business plan. Kesalahan ini sudah sangat umum terjadi, sehingga akhirnya cash flow negatif, modal termakan, hutang tak terbayar dan akhirnya dijual.
Salah satu yang paling utama yang harus disadari yaitu, prinsip bisnis televisi siaran adalah bahwa bisnis ini bukanlah bisnis trading yang "quick-yielding" dan "flexible", melainkan justru sebaliknya bisnis ini adalah bisnis jangka panjang dan memerlukan "konsistensi". Oleh karena itu seluruh asumsi yang diambil diatas kertas haruslah "benar sejak awal", dan harus mampu menjawab segala kejadian yang mungkin terjadi. Misal, ketika menetapkan strategi format, produksi dan penyajian acara tidak cukup dengan mengasumsikan bahwa karena program jenis A berhasil di televisi lain maka kalau kita mengambil program A, pastilah akan berhasil juga. Padahal yang harus diketahui bukanlah "apa program yang disukai oleh penonton televisi", melainkan "mengapa penonton menyukai sebuah program? ".
Sekali lagi perencanaan yang matang dan asumsi didasarkan pengetahuan yang benar akan bisnis televisi, itulah yang akan membuat stasiun TV sukses. Stasiun TV yang sukses adalah stasiun TV yang dijalankan sesuai dengan nature of business-nya. Makanya tadi saya katakan supaya tak bingung, "Be a real TV station". (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar