16 Maret 2008

Radio Bingung (II)

oleh Andy Rustam

Melanjutkan tulisan minggu lalu berjudul Radio Bingung (I) yang merupakan intisari permasalahan yang diajukan oleh beberapa pimpinan eksekutif stasiun radio siaran, dalam pertemuannya dengan saya (Andy Rustam).

3. RADIO IBU-IBU dengan PENDENGAR PRIA

Stasiun Radio BB ini memiliki nama khas wanita karena memang maksudnya menujukan siarannya hanya kepada ibu-ibu. Mungkin idenya seperti majalah Kartini atau majalah Femina. Lalu Ibu KN, direktris radio ini menyampaikan masalah yang dihadapi oleh Radio BB, yaitu ternyata komposisi pendengar pria dan pendengar wanita-nya sama besar 50:50. Sementara angka absolut jumlah pendengar wanitanya justru kalah banyak dengan stasiun radio yang justru tidak menamakan diri sebagai radio untuk ibu-ibu. "Kok bisa begini", kata Ibu KN.

Jawaban ARM:

Perlu diingat dulu sebelumnya bahwa radio bukanlah majalah. Kalau majalah Femina atau Kartini dijajakan di meja dengan majalah lainnya Gatra, Tempo, dsb., lalu bila ada ibu dan bapak lewat untuk lihat-lihat, pastilah si ibu akan melihat-lihat Femina atau Kartini dan si bapak akan melihat-lihat Gatra atau Tempo. Baru kalau si ibu suka, ia akan beli majalah itu, Femina atau Kartini, begitu juga dengan bapak akan membeli Gatra atau Tempo yang akan dibawa pulang untuk dibaca di rumah dan bukan sebaliknya. Berbeda dengan radio.

Misal, seseorang sedang di dalam mobil, ia menyalakan radio dan mulai men-scan. Ketika sedang men-scan saluran, lalu ia berhenti pada satu stasiun yang kebetulan sedang memasang lagu kesukaannya. Pastilah ketika itu ia tak terlalu peduli bahkan tak tahu apakah stasiun radio ini stasiun radio siaran untuk wanita atau untuk pria. Yang jelas, ia berhenti dan tune-in itu disebabkan karena lagu (bisa juga karena ada berita yang penting!).

Begitulah salah satu karakter radio. Jadi, kalau Ibu KN berpikir bahwa dengan menggunakan nama wanita sebagai nama stasiun atau menggunakan sebutan wanita dalam sapaan siaran, lalu otomatis dengan demikian pendengar radionya bakalan wanita semua... maka itu sudah pasti tak akan terjadi.

Gelombang siaran radio bisa dan boleh untuk siapa saja, dengar radio tak perlu bayar. Kekeliruan seperti yang dilakukan Ibu KN dengan Radio BB adalah hal umum. Misalnya ada radio menamakan diri Radio Eksekutif, eh ternyata persentase pendengar yang memiliki jabatan eksekutif sangat kecil, kalah banyak dari stasiun radio yang namanya bukan eksekutif, melainkan Jazz Station.

3o tahun yang lalu di Jakarta ada penyiar radio, seorang pria namanya H, sangat populer, yang pendengarnya hampir 100% wanita dan ibu-ibu saja. Saking populernya, sampai-sampai hidupnya kawin-cerai terus beberapa kali... pokoknya kalah deh celeb sinetron. Lucunya, siarannya si H itu tidak seperti radio ibu-ibu yang banyak dilakukan sekarang, yang membicarakan resep makanan, ngomongin anak, ngomongin kehamilan. Si H cuma bicara-bicara "gombal", cinta, dan hal-hal romantis lainnya. Sering ia menyapa dengan gaya seolah-olah si pendengarnya itu merasa bahwa si H ini sedang berbicara merayu dirinya. Tentu saja gaya begini hanya kena menyentuh "hati" wanita, dan bukan pria. Itu sebabnya pendengar si H, hanya wanita saja dan jumlahnya sangaaat banyak.

Pelajaran apa yang bisa kita tarik dari sini? Bahwa kalau ingin meraih kelompok pendengar tertentu, bukanlah melalui cara rasional melainkan justru melalui pendekatan emosional. Dan memang itulah karakter radio... telinga anda lebih ter-connect dengan "hati" daripada dengan "otak".

4. PENDENGAR ATAU PENYIAR

Pendengar beberapa komplain karena setiap meminta lagu selalu tidak pernah dikabulkan oleh penyiar. Komplain ini sampai di meja si bos radio. Lalu ia panggil si penyiar dan meminta penjelasan kenapa lag permintaan pendengar itu tak perbah dikabulkan. Si penyiar menjawab bahwa lagu yang diminta itu adalah lagu yang sudah sering diputar, baik di stasiun ini dan juga stasiun radio lain. Karena memang lagu itu sedang top-top-nya. Makanya, lagu permintaan tersebut tidak diputar karena sudah sangat bosan deh. Si bos lalu bingung, "Bagaimana nih kalau begini?".

Jawaban ARM:

Kalau policy-nya bahwa pendengar boleh meminta lagu apa saja pada jam berapa saja, maka mau tak mau penyiar harus mengabulkan permintaan tersebut tanpa alasan. Makanya sebaiknya dibuat aturan saja, bahwa permintaan lagu hanya pada acara khusus untuk itu, atau pada jam tertentu saja (tanpa harus ada acara khusus). Selain itu sebaiknya juga perlu dibuat "pagar" agar pendengar tak terlalu mengada-ada dengan meminta lagu yang diluar dari music format stasiun tersebut.

Perlu menjadi perhatian kita juga para penyiar yang bekerja di radio, bahwa penyiar tentu akan lebih cepat menjadi bosan akan satu lagu, apalagi lagu tersebut masuk dalam lagu wajib putar (rotasi) 5x sehari. Penyiar yang setiap hari harus siaran tentulah akan jenuh pada lagu-lagu yang masuk daftar rotasi. Namun tidak demikian dengan pihak pendengar. Maka sadarilah, ketika penyiar sudah bosan akan satu lagu, barangkali pada saat itulah pendengar, baru atau sedang senang-senangnya dengan lagu tersebut. (arm)

Tidak ada komentar: