oleh Andy Rustam
Pagi 17 Juli 2009, lagi bom teror meledak di Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Berbagai komentar dan analisa telah kita dengar melalui media massa. Reaksi seluruh lapisan masyarakat pada umumnya “marah”. Dulu-dulu ketika ada bom teror meledak di wilayah Indonesia, di manapun itu, saya sebagai orang Indonesia juga marah-marah. Dalam pikiran saya, kemarahan itu saya tujukan kepada berbagai pihak.
Sasaran Marah Pertama
Pertama, marah saya tujukan tentu saja kepada si teroris sendiri. Buat apa sih melakukan itu semua? Apakah dikiranya dengan cara begitu apa yang diperjuangkannya akan tercapai? Lihat aja, teror Israel atas Palestina tidak pernah berhasil membuat cita-cita kemerdekaan rakyat Palestina surut. Mereka tetap berani melawan tank penjajah Israel walau cuma dengan sebuah batu. Lihat saja teror Al Qaeda terhadap Amerika dan negara-negara yang dianggap teman Amerika (misalnya: Arab Saudi), apakah membuat mereka menang terhadap Amerika dan Arab Saudi? Tidak juga. Sebaliknya lihat Yasser Arafat dengan PLO-nya, yang berganti haluan dari perjuangan cara teror (mereka membajak lima pesawat terbang di tahun 1970), banting setir menjadi berjuang dengan cara diplomasi. Hasilnya malah mulai terlihat dengan, terbentuknya negara otoritas Palestina sekarang ini dengan ibukota Ramallah. Jauh lebih efektif mencapai tujuan perjuangan dengan cara diplomasi daripada cara teror.
Sasaran Marah Kedua
Kedua, kemarahan saya tujukan buat, para satpam gedung, yang selalu dan sudah sering saya alami sendiri, suka asal-asalan kalau memeriksa orang/kendaraan yang keluar-masuk gedung. Jelas mereka tidak disiplin dan malas. Tidak dengan kesadaran antisipatif, hanya dianggap bagaikan rutinitas biasa. Baru setelah ada kejadian seperti ini, kelihatan mulai “sok ketat”. Cobalah nanti beberapa bulan lagi, pasti asal-asalan lagi. Khas melayu... tobat cabe! Kalau lagi pedes tobat nggak mau makan sambel lagi, tapi kalau sudah hilang pedesnya terus liat sambel langsung dimakan lagi. Kelakuan begini bukan cuma sama satpam gedung, tetapi juga kita lihat menjadi perilaku para polisi, tentara, pejabat, dan seluruh lapisan masyarakat. Makanya bencana selalu “berulang”. Lihat saja, setiap tahun datang musim kemarau pastilah terjadi kebakaran, dan pembakaran hutan. Setiap musim hujan pasti banjir dan tanah longsor. Setiap bulan pasti ada kecelakaan bis, kereta api, sepeda motor dsb., dan rata-rata di tempat yang sama. Lihat pula, bandara Hasanuddin (Makassar). Setiap tahun pasti ada dua atau tiga kali pesawat terbang tergelincir, dst. dst. Kejadian berulang, bencana pasti berulang. Bahkan saya masih cukup yakin, pemboman kali ini pasti bukanlah yang terakhir, selama sikap mental kita juga tak berubah.
Sasaran Marah Ketiga
Ketiga, marah saya tujukan buat pemerintah dan DPR, yang walau bom teror sudah berkali-kali terjadi, tidak juga kunjung terlihat usaha untuk mengeluarkan UU atau Peraturan yang dapat menjadi pemicu ataupun menjadi stimulan bagi seluruh lapisan masyarakat agar bangkit gairahnya berpartisipasi menghancurkan terorisme. Misalnya, dengan memberikan hadiah bagi anggota masyarakat yang telah memberikan laporan ke polisi tentang adanya “tetangga baru” di lingkungannya. Dan jikalau kemudian setelah polisi melakukan pemeriksaan, ternyata si tetangga baru benar seseorang yang terlibat dengan kelompok teroris, maka si anggota masyarakat yang melaporkan tersebut mendapat hadiah, misalnya, Rp 250 juta. Hal ini harus disebarluaskan dan dilaksanakan dengar benar. Mengapa tidak ada yang terpikir kesini? Padahal hanya dengan peran aktif masyarakatlah si teroris tidak akan mempunyai tempat bersembunyi. Kalau seperti sekarang ini, hanya mengandalkan polisi yang jumlah dan fasilitasnya terbatas, maka sulitlah bagi kita memenangkan perang melawan terorisme.
Sasaran Marah Empat
Keempat, marah saya tujukan buat para uztad dan khatib. Barangkali rata-rata setiap lima kali sholat jumat, hanya ada satu khatib yang khotbahnya “mencerah”-kan. Umumnya khotbah jumat yang tampil di masjid-masjid itu sering mencerminkan kesempitan wawasan, kurangnya ilmu pengetahuan umum, serta pengambilan contoh yang selalu klise dan sangat stereotip, dikutip dari buku-buku abad 19 dan awal abad 20. Sehingga seolah-olah yang terkesan adalah kekerdilan jiwa si khatib sendiri. Khotbah model begini cuma semakin menyuburkan ekslusivisme yang menjadi akar extrimisme. Jadi nggak heran kalau aliran-aliran ekstrim bermunculan. Padahal Islam itu rahmatan lil alamiin (rahmat/kasih bagi alam semesta). Nah bagaimana mau jadi rahmat bagi alam semesta, kalau caranya dengan teror yang saudaranya sendiri pun ikut mati atau hidup dalam ketidaktenangan. Bagaimana mau membangun kasih bagi semesta alam kalau setiap khotbah kerjanya maki-maki dan menjelek-jelekan orang lain, tanpa bercermin pada diri sendiri???
Sekarang Tidak Bisa Marah
Oleh karena itu, di awal tulisan saya katakan, bahwa dulu saya marah-marah. Sekarang waktu ada bom lagi di Jakarta, saya sudah tidak bisa marah. Marah saya sudah habis. Malah sekarang saya hanya bisa bengong, karena saya tak tahu harus mulai darimana. Mau marah-marah lagi, saya sudah ngga kuat.
Saya bukan bengong melamun tapi bengong berpikir. Gimana sih caranya agar Pemerintah dan DPR jangan lemah gemulai adem ayem seperti selama ini. Gimana caranya merubah mental orang kita supaya mempunyai mental antisipatif ke depan. Media apa yang paling tepat, yang paling sering diakses oleh orang-orang pedesaan atau pinggiran perkotaan? Karena biasanya si teroris ngumpetnya di desa atau di pinggiran kota. Dari sana mereka menyiapkan rencananya. Kalau kita tahu media apa yang paling sering diakses, tinggal melalui media itulah kita menambahi wawasan dan pengetahuan mereka, agar mereka tidak lagi mau dibodohi oleh pimpinan teroris, agar mereka tidak bisa lagi dijebak dengan kata-kata manis dengan maksud-maksud tertentu.
Apa??? Media yang paling sering diakses oleh orang di daerah pedesaan dan daerah pinggiran perkotaan adalah Televisi???
“Waaah.. kalau mengharapkan siaran televisi kita untuk mendidik masyarakat, supaya bisa menambahi wawasan mereka agar menjadi masyarakat yang berpikir dan bertindak positif dan agar mereka pro-aktif menentang hal-hal yang negatif... saya juga udah angkat tangan deh......"
Tapi kalau ternyata warga pedesaan dan pinggiran perkotaan masih banyak yang mengakses radio, maka seharusnya secara teknis radio-broadcasters memiliki kapabilitas menjalankan missi suci ini melalui siaran-siarannya. Karena karakter media radio mempunyai keunggulan penetrasi mental kepada audience melebihi media manapun. Pesan-pesan melalui radio apabila dibuat dan diatur sedemikan rupa, kemudian disiarkan oleh radio akan jauh lebih merasuk ke dalam sanubari audience. Ini sudah dibuktikan dalam sejarah. (arm)
Pagi 17 Juli 2009, lagi bom teror meledak di Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Berbagai komentar dan analisa telah kita dengar melalui media massa. Reaksi seluruh lapisan masyarakat pada umumnya “marah”. Dulu-dulu ketika ada bom teror meledak di wilayah Indonesia, di manapun itu, saya sebagai orang Indonesia juga marah-marah. Dalam pikiran saya, kemarahan itu saya tujukan kepada berbagai pihak.
Sasaran Marah Pertama
Pertama, marah saya tujukan tentu saja kepada si teroris sendiri. Buat apa sih melakukan itu semua? Apakah dikiranya dengan cara begitu apa yang diperjuangkannya akan tercapai? Lihat aja, teror Israel atas Palestina tidak pernah berhasil membuat cita-cita kemerdekaan rakyat Palestina surut. Mereka tetap berani melawan tank penjajah Israel walau cuma dengan sebuah batu. Lihat saja teror Al Qaeda terhadap Amerika dan negara-negara yang dianggap teman Amerika (misalnya: Arab Saudi), apakah membuat mereka menang terhadap Amerika dan Arab Saudi? Tidak juga. Sebaliknya lihat Yasser Arafat dengan PLO-nya, yang berganti haluan dari perjuangan cara teror (mereka membajak lima pesawat terbang di tahun 1970), banting setir menjadi berjuang dengan cara diplomasi. Hasilnya malah mulai terlihat dengan, terbentuknya negara otoritas Palestina sekarang ini dengan ibukota Ramallah. Jauh lebih efektif mencapai tujuan perjuangan dengan cara diplomasi daripada cara teror.
Sasaran Marah Kedua
Kedua, kemarahan saya tujukan buat, para satpam gedung, yang selalu dan sudah sering saya alami sendiri, suka asal-asalan kalau memeriksa orang/kendaraan yang keluar-masuk gedung. Jelas mereka tidak disiplin dan malas. Tidak dengan kesadaran antisipatif, hanya dianggap bagaikan rutinitas biasa. Baru setelah ada kejadian seperti ini, kelihatan mulai “sok ketat”. Cobalah nanti beberapa bulan lagi, pasti asal-asalan lagi. Khas melayu... tobat cabe! Kalau lagi pedes tobat nggak mau makan sambel lagi, tapi kalau sudah hilang pedesnya terus liat sambel langsung dimakan lagi. Kelakuan begini bukan cuma sama satpam gedung, tetapi juga kita lihat menjadi perilaku para polisi, tentara, pejabat, dan seluruh lapisan masyarakat. Makanya bencana selalu “berulang”. Lihat saja, setiap tahun datang musim kemarau pastilah terjadi kebakaran, dan pembakaran hutan. Setiap musim hujan pasti banjir dan tanah longsor. Setiap bulan pasti ada kecelakaan bis, kereta api, sepeda motor dsb., dan rata-rata di tempat yang sama. Lihat pula, bandara Hasanuddin (Makassar). Setiap tahun pasti ada dua atau tiga kali pesawat terbang tergelincir, dst. dst. Kejadian berulang, bencana pasti berulang. Bahkan saya masih cukup yakin, pemboman kali ini pasti bukanlah yang terakhir, selama sikap mental kita juga tak berubah.
Sasaran Marah Ketiga
Ketiga, marah saya tujukan buat pemerintah dan DPR, yang walau bom teror sudah berkali-kali terjadi, tidak juga kunjung terlihat usaha untuk mengeluarkan UU atau Peraturan yang dapat menjadi pemicu ataupun menjadi stimulan bagi seluruh lapisan masyarakat agar bangkit gairahnya berpartisipasi menghancurkan terorisme. Misalnya, dengan memberikan hadiah bagi anggota masyarakat yang telah memberikan laporan ke polisi tentang adanya “tetangga baru” di lingkungannya. Dan jikalau kemudian setelah polisi melakukan pemeriksaan, ternyata si tetangga baru benar seseorang yang terlibat dengan kelompok teroris, maka si anggota masyarakat yang melaporkan tersebut mendapat hadiah, misalnya, Rp 250 juta. Hal ini harus disebarluaskan dan dilaksanakan dengar benar. Mengapa tidak ada yang terpikir kesini? Padahal hanya dengan peran aktif masyarakatlah si teroris tidak akan mempunyai tempat bersembunyi. Kalau seperti sekarang ini, hanya mengandalkan polisi yang jumlah dan fasilitasnya terbatas, maka sulitlah bagi kita memenangkan perang melawan terorisme.
Sasaran Marah Empat
Keempat, marah saya tujukan buat para uztad dan khatib. Barangkali rata-rata setiap lima kali sholat jumat, hanya ada satu khatib yang khotbahnya “mencerah”-kan. Umumnya khotbah jumat yang tampil di masjid-masjid itu sering mencerminkan kesempitan wawasan, kurangnya ilmu pengetahuan umum, serta pengambilan contoh yang selalu klise dan sangat stereotip, dikutip dari buku-buku abad 19 dan awal abad 20. Sehingga seolah-olah yang terkesan adalah kekerdilan jiwa si khatib sendiri. Khotbah model begini cuma semakin menyuburkan ekslusivisme yang menjadi akar extrimisme. Jadi nggak heran kalau aliran-aliran ekstrim bermunculan. Padahal Islam itu rahmatan lil alamiin (rahmat/kasih bagi alam semesta). Nah bagaimana mau jadi rahmat bagi alam semesta, kalau caranya dengan teror yang saudaranya sendiri pun ikut mati atau hidup dalam ketidaktenangan. Bagaimana mau membangun kasih bagi semesta alam kalau setiap khotbah kerjanya maki-maki dan menjelek-jelekan orang lain, tanpa bercermin pada diri sendiri???
Sekarang Tidak Bisa Marah
Oleh karena itu, di awal tulisan saya katakan, bahwa dulu saya marah-marah. Sekarang waktu ada bom lagi di Jakarta, saya sudah tidak bisa marah. Marah saya sudah habis. Malah sekarang saya hanya bisa bengong, karena saya tak tahu harus mulai darimana. Mau marah-marah lagi, saya sudah ngga kuat.
Saya bukan bengong melamun tapi bengong berpikir. Gimana sih caranya agar Pemerintah dan DPR jangan lemah gemulai adem ayem seperti selama ini. Gimana caranya merubah mental orang kita supaya mempunyai mental antisipatif ke depan. Media apa yang paling tepat, yang paling sering diakses oleh orang-orang pedesaan atau pinggiran perkotaan? Karena biasanya si teroris ngumpetnya di desa atau di pinggiran kota. Dari sana mereka menyiapkan rencananya. Kalau kita tahu media apa yang paling sering diakses, tinggal melalui media itulah kita menambahi wawasan dan pengetahuan mereka, agar mereka tidak lagi mau dibodohi oleh pimpinan teroris, agar mereka tidak bisa lagi dijebak dengan kata-kata manis dengan maksud-maksud tertentu.
Apa??? Media yang paling sering diakses oleh orang di daerah pedesaan dan daerah pinggiran perkotaan adalah Televisi???
“Waaah.. kalau mengharapkan siaran televisi kita untuk mendidik masyarakat, supaya bisa menambahi wawasan mereka agar menjadi masyarakat yang berpikir dan bertindak positif dan agar mereka pro-aktif menentang hal-hal yang negatif... saya juga udah angkat tangan deh......"
Tapi kalau ternyata warga pedesaan dan pinggiran perkotaan masih banyak yang mengakses radio, maka seharusnya secara teknis radio-broadcasters memiliki kapabilitas menjalankan missi suci ini melalui siaran-siarannya. Karena karakter media radio mempunyai keunggulan penetrasi mental kepada audience melebihi media manapun. Pesan-pesan melalui radio apabila dibuat dan diatur sedemikan rupa, kemudian disiarkan oleh radio akan jauh lebih merasuk ke dalam sanubari audience. Ini sudah dibuktikan dalam sejarah. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar