oleh Andy Rustam
Minal aidin wal faidzin, Selamat Idul Fitri 1430 H bagi seluruh muslimin dan muslimah pengunjung blog broadcastsukses.com. Setiap malam selama hampir sebulan, saya selalu mengikuti acara hiburan pada waktu sahur yang banyak disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tetapi justru acara yang secara loyal saya ikuti adalah Tafsir Al-Misbah oleh Bpk. Quraish Shihab yang disiarkan oleh Metro TV. Menurut pengelompokan jenis acara yang lumrah berlaku, acara Tafsir Al-Misbah adalah jelas termasuk acara agama. Sementara itu stasiun televisi lainnya, pada jam yang sama, menyiarkan acara lawak-lawakan/banyolan disertai kuis berhadiah. Menurut pengelompokannya acara yang demikian termasuk kelompok acara hiburan.
Menurut saya, ada yang tidak pas dalam menamakan pengelompokan jenis acara. Sebab kalau benar acara hiburan lawakan/banyolan diwaktu sahur itu mampu “menghibur” saya, maka sudah pasti saya memilih acara tersebut untuk saya tonton. Tetapi kenyataannya justru saya malah merasa “terhibur” ketika menonton acara Tafsir Al Misbah yang acara agama, dan bukan kelompok acara hiburan.
Media Penyiaran Pendidikan, Informasi & Hiburan
Kata-kata Pendidikan, Informasi & Hiburan ini seperti sebuah mantra bagi broadcasting. Perundang-undangan dan peraturan bagi broadcasting selalu menyebutkan ketiga kata mantra ini. Kalau Anda mau mengajukan permohonan rekomendasi dari Komisi Penyiaran Indonesia sebagai bahagian dari proses untuk memperoleh Ijin Penyelenggaraan Penyiaran, maka pasti anda diharuskan mengisi formulir tentang rencana acara siaran Anda. Yang harus Anda isi adalah kelompok jenis-jenis acara: berapa % acara agama; berapa % acara informasi; berapa % acara pendidikan; berapa % acara olahraga; berapa % acara hiburan dsb.
Di dekade 90-an, RCTI pun pernah memakai tema: Saluran Hiburan & Informasi. Jadi nama pengelompokan jenis acara secara begini memang sudah dari sono-nya. Ketika saya baru mendirikan dan memimpin Anteve, tahun 1993, dalam sebuah konperensi pers wartawan bertanya sbb., “Kalau RCTI adalah saluran Hiburan & Informasi, bagaimana dengan rencana Anteve?” Saya menjawab, “Anteve hanyalah saluran Hiburan saja. Siaran Informasi-nya menghibur. Siaran Pendidikan-nya menghibur. Siaran Agama-nya menghibur.” dsb. dsb.
Media Penyiaran Seharusnyalah Menghibur
Sejak awal karir saya di bidang broadcasting pada tahun 1976, prinsip yang saya pegang bahwa kalau ingin siaran Anda ditonton (TV) atau didengar (radio) maka rumusnya, siaran Anda harus selalu mampu menghibur. Materi apapun yang Anda siarkan selalu harus mampu menghibur. Sebab kalau tidak, maka siaran Anda tidak akan berhasil merebut perhatian/minat audience. Kata “informasi” dalam nama kelompok jenis acara-informasi adalah tepat, karena “isi” acaranya adalah informasi. Begitu pula kata “pendidikan” dalam nama kelompok jenis acara-pendidikan adalah tepat, karena “isi” acaranya adalah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan. Tetapi kata “hiburan” dalam nama kelompok jenis acara-hiburan adalah tidak tepat, karena “isi” acaranya bisa saja olah-raga, ilmu pengetahuan, drama dsb. dimana belum tentu menghibur (dalam arti membuat kita gembira). Sebuah film/drama seperti misalnya Romeo & Juliet, yang pada akhir cerita sepasang kekasih ini sama-sama mati, justru berhasil membuat penontonnya ikut sedih. Tetapi tetap saja film Romeo & Juliet masuk katagori jenis acara hiburan. Film horor yang membuat penontonnya ketakutan juga masuk kategori acara hiburan.
Hiburan
Kelihatannya kita perlu tahu dulu, apakah “hiburan” itu? Kalau hiburan adalah sesuatu yang dapat membuat kita gembira, lalu mengapa film sedih yang ditayangkan televisi masuk dalam kelompok jenis acara hiburan?
Acara Tafsir Al Misbah, yang dibawakan oleh Bpk. Quraish Shihab, yang memberikan pencerahan dan menambah pengetahuan bagi saya, dimana ini sangat membuat hati saya bahagia. Tetapi acara ini bukan termasuk jenis acara hiburan. Di sinilah masalahnya. Sesuatu yang dianggap sebagai hiburan bagi kelompok masyarakat tertentu, bisa jadi dianggap sebagai sesuatu yang menjengkelkan bagi kelompok lain. Sebaliknya sesuatu yang dianggap sebagai pelajaran rumit bagi seseorang, justru dianggap sebagai hiburan bagi seorang lainnya. Jadi apa sih “hiburan” itu?
Dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, setiap orang pastilah mengalami suatu tekanan yang dapat menimbulkan ketegangan. Kalau ini berlangsung terus, maka lama kelamaan hal ini akan dapat mengganggu keseimbangan jiwanya bahkan menimbulkan gangguan fisik. Hiburan merupakan suatu kebutuhan psikologis seseorang untuk mengkoreksi atau mengembalikan keseimbangan jiwanya. Sebuah hiburan, apapun bentuknya, baik itu sedih, lucu, tegang, maupun menakutkan, bisa menjadi obat penawar ketegangan jiwa seseorang. Oleh karena itu, bisa tidaknya sebuah acara dikelompokkan sebagai acara hiburan, bukanlah dilihat dari “isi”nya melainkan harus dilihat dari berapa besar acara itu berperan dalam mengembalikan keseimbangan jiwa seseorang.
Itu sebabnya, buat saya, menonton acara agama oleh Bpk. Quraish Shihab lebih merupakan hiburan, karena mampu mengembalikan keseimbangan jiwa saya ketimbang apabila saya menonton acara lawakan/banyolan ala Komeng. Buat orang lain sih barangkali lawakan si Komeng yang dikatakan sebagai hiburan daripada acara kuliah agama-nya Bpk. Quraish Shihab. (arm)
Minal aidin wal faidzin, Selamat Idul Fitri 1430 H bagi seluruh muslimin dan muslimah pengunjung blog broadcastsukses.com. Setiap malam selama hampir sebulan, saya selalu mengikuti acara hiburan pada waktu sahur yang banyak disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi. Tetapi justru acara yang secara loyal saya ikuti adalah Tafsir Al-Misbah oleh Bpk. Quraish Shihab yang disiarkan oleh Metro TV. Menurut pengelompokan jenis acara yang lumrah berlaku, acara Tafsir Al-Misbah adalah jelas termasuk acara agama. Sementara itu stasiun televisi lainnya, pada jam yang sama, menyiarkan acara lawak-lawakan/banyolan disertai kuis berhadiah. Menurut pengelompokannya acara yang demikian termasuk kelompok acara hiburan.
Menurut saya, ada yang tidak pas dalam menamakan pengelompokan jenis acara. Sebab kalau benar acara hiburan lawakan/banyolan diwaktu sahur itu mampu “menghibur” saya, maka sudah pasti saya memilih acara tersebut untuk saya tonton. Tetapi kenyataannya justru saya malah merasa “terhibur” ketika menonton acara Tafsir Al Misbah yang acara agama, dan bukan kelompok acara hiburan.
Media Penyiaran Pendidikan, Informasi & Hiburan
Kata-kata Pendidikan, Informasi & Hiburan ini seperti sebuah mantra bagi broadcasting. Perundang-undangan dan peraturan bagi broadcasting selalu menyebutkan ketiga kata mantra ini. Kalau Anda mau mengajukan permohonan rekomendasi dari Komisi Penyiaran Indonesia sebagai bahagian dari proses untuk memperoleh Ijin Penyelenggaraan Penyiaran, maka pasti anda diharuskan mengisi formulir tentang rencana acara siaran Anda. Yang harus Anda isi adalah kelompok jenis-jenis acara: berapa % acara agama; berapa % acara informasi; berapa % acara pendidikan; berapa % acara olahraga; berapa % acara hiburan dsb.
Di dekade 90-an, RCTI pun pernah memakai tema: Saluran Hiburan & Informasi. Jadi nama pengelompokan jenis acara secara begini memang sudah dari sono-nya. Ketika saya baru mendirikan dan memimpin Anteve, tahun 1993, dalam sebuah konperensi pers wartawan bertanya sbb., “Kalau RCTI adalah saluran Hiburan & Informasi, bagaimana dengan rencana Anteve?” Saya menjawab, “Anteve hanyalah saluran Hiburan saja. Siaran Informasi-nya menghibur. Siaran Pendidikan-nya menghibur. Siaran Agama-nya menghibur.” dsb. dsb.
Media Penyiaran Seharusnyalah Menghibur
Sejak awal karir saya di bidang broadcasting pada tahun 1976, prinsip yang saya pegang bahwa kalau ingin siaran Anda ditonton (TV) atau didengar (radio) maka rumusnya, siaran Anda harus selalu mampu menghibur. Materi apapun yang Anda siarkan selalu harus mampu menghibur. Sebab kalau tidak, maka siaran Anda tidak akan berhasil merebut perhatian/minat audience. Kata “informasi” dalam nama kelompok jenis acara-informasi adalah tepat, karena “isi” acaranya adalah informasi. Begitu pula kata “pendidikan” dalam nama kelompok jenis acara-pendidikan adalah tepat, karena “isi” acaranya adalah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan. Tetapi kata “hiburan” dalam nama kelompok jenis acara-hiburan adalah tidak tepat, karena “isi” acaranya bisa saja olah-raga, ilmu pengetahuan, drama dsb. dimana belum tentu menghibur (dalam arti membuat kita gembira). Sebuah film/drama seperti misalnya Romeo & Juliet, yang pada akhir cerita sepasang kekasih ini sama-sama mati, justru berhasil membuat penontonnya ikut sedih. Tetapi tetap saja film Romeo & Juliet masuk katagori jenis acara hiburan. Film horor yang membuat penontonnya ketakutan juga masuk kategori acara hiburan.
Hiburan
Kelihatannya kita perlu tahu dulu, apakah “hiburan” itu? Kalau hiburan adalah sesuatu yang dapat membuat kita gembira, lalu mengapa film sedih yang ditayangkan televisi masuk dalam kelompok jenis acara hiburan?
Acara Tafsir Al Misbah, yang dibawakan oleh Bpk. Quraish Shihab, yang memberikan pencerahan dan menambah pengetahuan bagi saya, dimana ini sangat membuat hati saya bahagia. Tetapi acara ini bukan termasuk jenis acara hiburan. Di sinilah masalahnya. Sesuatu yang dianggap sebagai hiburan bagi kelompok masyarakat tertentu, bisa jadi dianggap sebagai sesuatu yang menjengkelkan bagi kelompok lain. Sebaliknya sesuatu yang dianggap sebagai pelajaran rumit bagi seseorang, justru dianggap sebagai hiburan bagi seorang lainnya. Jadi apa sih “hiburan” itu?
Dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari, setiap orang pastilah mengalami suatu tekanan yang dapat menimbulkan ketegangan. Kalau ini berlangsung terus, maka lama kelamaan hal ini akan dapat mengganggu keseimbangan jiwanya bahkan menimbulkan gangguan fisik. Hiburan merupakan suatu kebutuhan psikologis seseorang untuk mengkoreksi atau mengembalikan keseimbangan jiwanya. Sebuah hiburan, apapun bentuknya, baik itu sedih, lucu, tegang, maupun menakutkan, bisa menjadi obat penawar ketegangan jiwa seseorang. Oleh karena itu, bisa tidaknya sebuah acara dikelompokkan sebagai acara hiburan, bukanlah dilihat dari “isi”nya melainkan harus dilihat dari berapa besar acara itu berperan dalam mengembalikan keseimbangan jiwa seseorang.
Itu sebabnya, buat saya, menonton acara agama oleh Bpk. Quraish Shihab lebih merupakan hiburan, karena mampu mengembalikan keseimbangan jiwa saya ketimbang apabila saya menonton acara lawakan/banyolan ala Komeng. Buat orang lain sih barangkali lawakan si Komeng yang dikatakan sebagai hiburan daripada acara kuliah agama-nya Bpk. Quraish Shihab. (arm)
1 komentar:
Setuju sekali Oom Andy. Saya pun merasakan hal yang sama di bulan puasa kemarin. Rasanya "neg" melihat acara TV khususnya di jam Sahur. Semuanya acara lawakan, yang bagi saya justru tidak menghibur sama sekali. Capek nontonnya. Saya justru merasa terhibur ketika menonton acaranya Quraish Shihab. Benar-benar terhibur.
Boleh dibilang, selama bulan Ramadhan kemarin, tontonan wajib di saat sahur enggak ada yang lain selain Quraish Shihab.
Sedangkan sorenya, sambil nunggu waktu berbuka, saya lebih suka menonton acaranya Shanaz Haque dan Ust. Abu Sangkan di Metro TV.
Ternyata memang acara hiburan di TV atau Radio tidak harus selalu berupa program musik, lawak, humor atau sport, tetapi juga bisa acara yang bersifat memotivasi dan menginspirasi penonton atau pendengar.
Posting Komentar