oleh Andy Rustam
Kali ini dalam peristiwa bencana gempa bumi Sumatera Barat. Lagi-lagi, cara-cara pemberitaan dan reportase TV swasta jadi bulan-bulanan kritik. Tercermin dari komentar-komentar yang sampai kepada saya melalui email dan facebook. Bahkan seorang murid saya yang masih dalam status belajar sampai bertanya, ”Pak, kenapa justru yang kemasan dan cara siarannya tidak sesuai, baik itu dengan ilmu, teknik, dan etika broadcasting universal yang berlaku di seluruh dunia, malah masuk kriteria layak-siar oleh stasiun-stasiun TV itu?“
Saya katakan bahwa masalahnya terletak pada apa yang ada di dalam benak si pimpinan/pemilik stasiun TV ketika mendirikan stasiun TV tersebut. Seorang taipan Hongkong Li-Ka-Shing, pendiri dan pemilik Star-TV ketika mendirikan perusahaan tersebut di tahun 1990 mengatakan bahwa, ia ingin menyiarkan hanya siaran terbaik bagi seluruh masyarakat Asia. Makanya ia menamakan perusahaannya sebagai Star (bintang). Ketika ditanya oleh wartawan, “Bagaimana kalau untuk mendukung misinya itu harta kekayaannya terkuras?”, ia menjawab, “Saya siap merugi berapapun besarnya untuk lima tahun ke depan”. Nah, dikarenakan tekadnya untuk memberikan siaran terbaik dengan segala konsekuensinya, maka ia merekrut para profesional dengan ilmu dan pengalaman terbaik bagi perusahaannya. Ia dengarkan apa yang dikatakan oleh para profesionalnya. Tak heran sekarang, hampir 20 tahun kemudian, Star-TV menjadi salah satu stasiun televisi paling sukses di Asia. Usia perusahaan televisi di Indonesia sebenarnya tak terlalu berbeda, tetapi kualitas siarannya sangat jauuuh dibandingkan Star-TV.
Menurut saya, itu dikarenakan isi kepala, pemahaman bisnis, dan tekad seperti Li-Ka-Shing (juga bisa dipelajari bagaimana isi kepala Ted Turner Jr. ketika mendirikan CNN), yang tidak dimiliki oleh para pemilik stasiun televisi di Indonesia. Mental mereka kebanyakan hanyalah mental ala pedagang kelontong. Keluar uang sekarang, tapi harus kembali besok dengan keuntungan berlipat.
Tidak Paham Broadcasting? Belum Tentu.
Kalau Anda buka posting saya di blog ini tertanggal 21 April 2009, di situ saya kemukakan, bahwa pada sekitar pertengahan tahun ini akan ada sebuah TV swasta yang akan mengganti logo perusahaannya untuk ke lima kalinya (!!) sejak berdiri. Sekarang perkiraan itu menjadi kenyataan. Anda bisa lihat sendiri, sejak Idul Fitri 2009 yang lalu, ANTV mengganti logonya dimana logo bergambar Bintang dari STAR-TV Hong Kong sudah tidak ada lagi. Artinya, bahkan investor raksasa pun tak sanggup untuk bertahan. Kenapa? Siapapun tahu bahwa kalau investor sudah tak percaya kepada perusahaan atau kepada para pengelola suatu perusahaan, maka sudah pasti ia akan menarik diri.
Tapi bukankah Star-TV adalah sebuah perusahaan broadcasting yang paling sukses di Asia? Tidaklah mungkin mereka tak mengerti bagaimana mengelola broadcasting business ‘kan? Nah, justru pertanyaan ini akan membawa kita pada suatu kemungkinan yang lebih logis bahwa artinya, mungkin sekali selama ini Star-TV hanya dibutuhkan untuk “uang-nya” saja. Sementara keputusan-keputusan operasional perusahaan televisi tersebut tetap berada di tangan partner mereka, yaitu dari pihak bisnis keluarga Bakrie. Sekali lagi ini hanyalah sebuah pemikiran kemungkinan saja, yang bisa juga salah. Tetapi kalau asumsi ini benar, maka hal ini akan konsisten dengan ketidakberhasilan performance ANTV yang sudah berdiri sejak tahun 1993.
Sampai di sini, kalau kita orang yang sudah biasa serta paham dengan berbagai pola, gaya, dan perilaku bisnis, khususnya dalam soal transaksi-transaksi saham serta perdagangan surat-surat berharga, maka kita sudah pasti kenal betul siapa dan bagaimana perilaku bisnis para konglomerat. Oleh karena itu bisa kita simpulkan bahwa arti “tidak paham broadcasting” itu bukan berarti tidak paham alias tidak mengerti, tetapi mungkin mereka justru sangat mengerti dan ahli tentang bagaimana mendatangkan uang melalui saham-saham yang dimilikinya di broadcasting. Cara seperti ini sudah lazim sekali bagi para konglomerat pemilik stasiun TV di Indonesia.
Situasi Paling Sulit bagi Professional Broadcaster
Jadi bukanlah seperti jalan pikiran orang normalnya di broadcasting, yaitu memperoleh profit dari hasil penjualan iklan setelah dipotong biaya program dan ongkos operasional serta pajak. Artinya, walaupun bisa saja dari sisi operasional perusahaan tidak ada profit-nya atau bahkan merugi, tetapi tetap saja pemilik saham bisa menciptakan keuntungan melalui transaksi saham-saham perusahaan yang dimilikinya. Perusahaan itu hanyalah dijadikan “kendaraan” resmi yang dikedepankan kepada masyarakat dan karyawannya. Sementara si pemilik sendiri sebenarnya hanya peduli bagaimana caranya agar dengan “kendaraan” tersebut ia bisa ber-manuver untuk memperoleh keuntungan secepatnya langsung bagi dirinya (dan bukan bagi perusahaan).
Kalau ia harus menunggu kita, serta mengikuti cara-cara kita para profesional bekerja sesuai tahapan-tahapan dan siklus bisnis sebagaimana semestinya yang harus dilalui oleh suatu perusahaan broadcasting, itu hanya akan menghabiskan waktu (begitu katanya). Sebagaimana layaknya “pedagang”, ia ingin uang cepat kembali.
Oleh karena itulah mereka sudah pasti tidak akan bersungguh-sungguh mau menjalankan broadcasting business dengan benar, karena tahapan siklusnya jauh lebih panjang (dibandingkan ekspektasi proses transaksi para pedagang kelontong). Sebaliknya yang terjadi, malah para profesional tanpa sadar akan digiring olehnya untuk “bermain”, agar ia pribadi dapat cepat memperoleh keuntungan.
Penjelasan untuk ini akan sangat panjang dan cukup rumit bagi orang awam. Tetapi sebagai sekedar untuk contoh, misalnya dengan cara menjual dan membeli kembali saham-saham yang dimilikinya itu dengan margin keuntungan. Dibiarkannya para profesionalnya bekerja, dan ketika perusahaan menunjukkan trend membaik, harga sahamnya naik, ia pun akan menjual sahamnya dengan harga tinggi (net present value). Walaupun ia telah menjual sahamnya, tetapi “hak pengelolaan perusahaan” tetap berada ditangannya, dan itu dicantumkan dalam klausula kontrak transaksi saham. Setelah itu selang beberapa waktu, ia selaku pengelola akan melakukan sesuatu, mengacak-acak, perusahaan TV-nya itu, yang berakibat kinerja perusahaan menurun, dan harga sahamnya pun jatuh. Di sinilah, saham yang tadi dijualnya dengan harga tinggi, ia beli kembali kali ini tentu saja dengan harga yang amat rendah (karena kinerja perusahaan menurun). Maka, kantong si pemilik pun bertambah tebal dan perusahaan pun tetap kembali menjadi miliknya. Hebat ‘kan? Perusahaan tetap rugi, tapi ia/si pemilik sudah bertambah kaya.
Makanya kita jangan terlalu naif berpendapat, bahwa pemilik perusahaan itu hanya bisa meraih keuntungan melalui laba (yang diperoleh dari selisih pendapatan dikurangi biaya).
Nah, kalau memang begini yang terjadi, maka sulitlah kita para profesional di bidang broadcasting dapat bekerja dengan benar untuk membawa kemajuan dalam siaran-siaran yang dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak, bangsa dan negara.
Dengan perkataan lain, kebodohan, dan kenorakan dalam menyiarkan berita, dalam membuat reportase, dalam wawancara, dalam mengantarkan acara, dalam pembuatan acara, dsb. dsb. dsb.. akan tetap berlangsung. Selamat menyaksikan! (arm)
Kali ini dalam peristiwa bencana gempa bumi Sumatera Barat. Lagi-lagi, cara-cara pemberitaan dan reportase TV swasta jadi bulan-bulanan kritik. Tercermin dari komentar-komentar yang sampai kepada saya melalui email dan facebook. Bahkan seorang murid saya yang masih dalam status belajar sampai bertanya, ”Pak, kenapa justru yang kemasan dan cara siarannya tidak sesuai, baik itu dengan ilmu, teknik, dan etika broadcasting universal yang berlaku di seluruh dunia, malah masuk kriteria layak-siar oleh stasiun-stasiun TV itu?“
Saya katakan bahwa masalahnya terletak pada apa yang ada di dalam benak si pimpinan/pemilik stasiun TV ketika mendirikan stasiun TV tersebut. Seorang taipan Hongkong Li-Ka-Shing, pendiri dan pemilik Star-TV ketika mendirikan perusahaan tersebut di tahun 1990 mengatakan bahwa, ia ingin menyiarkan hanya siaran terbaik bagi seluruh masyarakat Asia. Makanya ia menamakan perusahaannya sebagai Star (bintang). Ketika ditanya oleh wartawan, “Bagaimana kalau untuk mendukung misinya itu harta kekayaannya terkuras?”, ia menjawab, “Saya siap merugi berapapun besarnya untuk lima tahun ke depan”. Nah, dikarenakan tekadnya untuk memberikan siaran terbaik dengan segala konsekuensinya, maka ia merekrut para profesional dengan ilmu dan pengalaman terbaik bagi perusahaannya. Ia dengarkan apa yang dikatakan oleh para profesionalnya. Tak heran sekarang, hampir 20 tahun kemudian, Star-TV menjadi salah satu stasiun televisi paling sukses di Asia. Usia perusahaan televisi di Indonesia sebenarnya tak terlalu berbeda, tetapi kualitas siarannya sangat jauuuh dibandingkan Star-TV.
Menurut saya, itu dikarenakan isi kepala, pemahaman bisnis, dan tekad seperti Li-Ka-Shing (juga bisa dipelajari bagaimana isi kepala Ted Turner Jr. ketika mendirikan CNN), yang tidak dimiliki oleh para pemilik stasiun televisi di Indonesia. Mental mereka kebanyakan hanyalah mental ala pedagang kelontong. Keluar uang sekarang, tapi harus kembali besok dengan keuntungan berlipat.
Tidak Paham Broadcasting? Belum Tentu.
Kalau Anda buka posting saya di blog ini tertanggal 21 April 2009, di situ saya kemukakan, bahwa pada sekitar pertengahan tahun ini akan ada sebuah TV swasta yang akan mengganti logo perusahaannya untuk ke lima kalinya (!!) sejak berdiri. Sekarang perkiraan itu menjadi kenyataan. Anda bisa lihat sendiri, sejak Idul Fitri 2009 yang lalu, ANTV mengganti logonya dimana logo bergambar Bintang dari STAR-TV Hong Kong sudah tidak ada lagi. Artinya, bahkan investor raksasa pun tak sanggup untuk bertahan. Kenapa? Siapapun tahu bahwa kalau investor sudah tak percaya kepada perusahaan atau kepada para pengelola suatu perusahaan, maka sudah pasti ia akan menarik diri.
Tapi bukankah Star-TV adalah sebuah perusahaan broadcasting yang paling sukses di Asia? Tidaklah mungkin mereka tak mengerti bagaimana mengelola broadcasting business ‘kan? Nah, justru pertanyaan ini akan membawa kita pada suatu kemungkinan yang lebih logis bahwa artinya, mungkin sekali selama ini Star-TV hanya dibutuhkan untuk “uang-nya” saja. Sementara keputusan-keputusan operasional perusahaan televisi tersebut tetap berada di tangan partner mereka, yaitu dari pihak bisnis keluarga Bakrie. Sekali lagi ini hanyalah sebuah pemikiran kemungkinan saja, yang bisa juga salah. Tetapi kalau asumsi ini benar, maka hal ini akan konsisten dengan ketidakberhasilan performance ANTV yang sudah berdiri sejak tahun 1993.
Sampai di sini, kalau kita orang yang sudah biasa serta paham dengan berbagai pola, gaya, dan perilaku bisnis, khususnya dalam soal transaksi-transaksi saham serta perdagangan surat-surat berharga, maka kita sudah pasti kenal betul siapa dan bagaimana perilaku bisnis para konglomerat. Oleh karena itu bisa kita simpulkan bahwa arti “tidak paham broadcasting” itu bukan berarti tidak paham alias tidak mengerti, tetapi mungkin mereka justru sangat mengerti dan ahli tentang bagaimana mendatangkan uang melalui saham-saham yang dimilikinya di broadcasting. Cara seperti ini sudah lazim sekali bagi para konglomerat pemilik stasiun TV di Indonesia.
Situasi Paling Sulit bagi Professional Broadcaster
Jadi bukanlah seperti jalan pikiran orang normalnya di broadcasting, yaitu memperoleh profit dari hasil penjualan iklan setelah dipotong biaya program dan ongkos operasional serta pajak. Artinya, walaupun bisa saja dari sisi operasional perusahaan tidak ada profit-nya atau bahkan merugi, tetapi tetap saja pemilik saham bisa menciptakan keuntungan melalui transaksi saham-saham perusahaan yang dimilikinya. Perusahaan itu hanyalah dijadikan “kendaraan” resmi yang dikedepankan kepada masyarakat dan karyawannya. Sementara si pemilik sendiri sebenarnya hanya peduli bagaimana caranya agar dengan “kendaraan” tersebut ia bisa ber-manuver untuk memperoleh keuntungan secepatnya langsung bagi dirinya (dan bukan bagi perusahaan).
Kalau ia harus menunggu kita, serta mengikuti cara-cara kita para profesional bekerja sesuai tahapan-tahapan dan siklus bisnis sebagaimana semestinya yang harus dilalui oleh suatu perusahaan broadcasting, itu hanya akan menghabiskan waktu (begitu katanya). Sebagaimana layaknya “pedagang”, ia ingin uang cepat kembali.
Oleh karena itulah mereka sudah pasti tidak akan bersungguh-sungguh mau menjalankan broadcasting business dengan benar, karena tahapan siklusnya jauh lebih panjang (dibandingkan ekspektasi proses transaksi para pedagang kelontong). Sebaliknya yang terjadi, malah para profesional tanpa sadar akan digiring olehnya untuk “bermain”, agar ia pribadi dapat cepat memperoleh keuntungan.
Penjelasan untuk ini akan sangat panjang dan cukup rumit bagi orang awam. Tetapi sebagai sekedar untuk contoh, misalnya dengan cara menjual dan membeli kembali saham-saham yang dimilikinya itu dengan margin keuntungan. Dibiarkannya para profesionalnya bekerja, dan ketika perusahaan menunjukkan trend membaik, harga sahamnya naik, ia pun akan menjual sahamnya dengan harga tinggi (net present value). Walaupun ia telah menjual sahamnya, tetapi “hak pengelolaan perusahaan” tetap berada ditangannya, dan itu dicantumkan dalam klausula kontrak transaksi saham. Setelah itu selang beberapa waktu, ia selaku pengelola akan melakukan sesuatu, mengacak-acak, perusahaan TV-nya itu, yang berakibat kinerja perusahaan menurun, dan harga sahamnya pun jatuh. Di sinilah, saham yang tadi dijualnya dengan harga tinggi, ia beli kembali kali ini tentu saja dengan harga yang amat rendah (karena kinerja perusahaan menurun). Maka, kantong si pemilik pun bertambah tebal dan perusahaan pun tetap kembali menjadi miliknya. Hebat ‘kan? Perusahaan tetap rugi, tapi ia/si pemilik sudah bertambah kaya.
Makanya kita jangan terlalu naif berpendapat, bahwa pemilik perusahaan itu hanya bisa meraih keuntungan melalui laba (yang diperoleh dari selisih pendapatan dikurangi biaya).
Nah, kalau memang begini yang terjadi, maka sulitlah kita para profesional di bidang broadcasting dapat bekerja dengan benar untuk membawa kemajuan dalam siaran-siaran yang dapat bermanfaat bagi masyarakat banyak, bangsa dan negara.
Dengan perkataan lain, kebodohan, dan kenorakan dalam menyiarkan berita, dalam membuat reportase, dalam wawancara, dalam mengantarkan acara, dalam pembuatan acara, dsb. dsb. dsb.. akan tetap berlangsung. Selamat menyaksikan! (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar