oleh Andy Rustam
Ketika saya meninggalkan dunia broadcasting untuk bekerja di perusahaan asuransi umum, maka yang pertama saya lakukan adalah mempelajari betul “nature of the business” dari bidang usaha asuransi umum. Karena prinsip yang lazim dalam bisnis perdagangan pada umumnya atau pada bidang broadcasting yang sangat saya kuasai, bisa-bisa tak berlaku pada bidang asuransi umum. Bukankah memang begitu seharusnya? Apalagi kalau bidang itu merupakan bidang yang baru saja kita tekuni.
Tetapi tidak banyak para pemilik atau pimpinan perusahaan melakukan hal ini. Karena mereka yang sudah pada tingkat pimpinan suka terlalu percaya diri secara berlebihan. Para pimpinan dan pemilik perusahaan selalu merasa yakin bahwa mereka pasti benar. Mereka datang dan terjun ke bisnis tersebut karena kepemilikan modalnya yang besar.
Para pemodal ini umumnya orang-orang berlatar belakang Finance, atau para Pedagang / trader atau seorang pengusaha yang sudah punya pengalaman dan kesuksesan di bidang yang lain. Nah, mereka ini sering menyamaratakan saja cara, pola pikir dan konsep dalam menjalankan business barunya menurut pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki selama ini. Padahal “nature of business” bidang baru ini (misalnya, bidang broadcasting) sangat berbeda. Karakter produknya juga berbeda. Namun tetep saja mereka sulit sekali punya kemauan untuk mempelajari bidang yang selama ini belum pernah mereka tekuni. Tentu saja, karena mereka “boss” bukan?
Tidak Bisa Pukul Rata Sama Saja
Contoh, walaupun sama-sama media, tetapi tidak bisa menjalankan broadcasting seperti cara menjalankan bisnis koran. Pengalaman seperti ini serta akibatnya, bisa ditanyakan kepada TV7 yang dulu di miliki Harian Kompas / Gramedia, kemudian gagal dan lalu dijual ke Trans TV sehingga berganti nama menjadi Trans 7 sekarang ini.
Contoh lain lagi, sama-sama televisi, tetapi tidak bisa begitu saja menjalankan bisnis TV Free to air (seperti RCTI ; SCTV ; Global TV) disamakan seperti menjalankan TV Berlangganan. Pengalaman seperti ini serta akibatnya bisa ditanyakan kepada MTV Indonesia (yang aslinya di Amerika Serikat adalah MTV disiarkan sebagai TV Berlangganan) kemudian di Indonesia mereka mengontrak Global TV (free to air tv) dimana untuk selama 24 jam mereka menyiarkan acara-acara MTV. Setelah hampir 5 tahun mencoba, akhirnya gagal juga dan MTV Indonesia sekarang ini sudah bubar.
Ada radio yang mengganti pola siarannya disebabkan alasan, karena anak-anak muda sekarang senang mendengarkan musik dari “ipod”, maka kalau mau membuat radio untuk anak muda itu sukses, maka mainkanlah rangkaian musik-musik dimana mereka sendirilah (anak-anak muda itu) yang menyusun rangkaian lagu yang akan disiarkan, persis seperti mereka mendengarkan “ipod”. Benarkah cara ini? Tentu saja salah, karena radio memiliki karakter yang berbeda dengan karakter “ipod”.
Apa itu “Nature of the Business”?
Agak sulit saya menerjemahkan “Nature of the Business”. Maksudnya begini, secara alami datangnya suatu Pendapatan (Revenue) dari suatu perusahaan selalulah dari hasil menjual sesuatu, bukan? Nah, pada umumnya sesuatu itu adalah produk berupa benda nyata / kongkrit. Tetapi banyak juga bisnis yang produknya itu tidak ada bentuknya, bukan benda nyata, tetapi dia itu memang benda yang intangable / abstrak. (Berbeda dengan “jasa / service”, yang memang bukan produk / barang).
Contohnya: misalnya Anda membayar untuk menonton film di bioskop dengan membayar karcis. Artinya Anda membeli sebuah tontonan dalam kenyamanan. Tentu saja cara mendatangkan “Pendapatan (Revenue)” dengan menjual benda intangible (benda abstrak seperti tontonan dalam kenyamanan) berbeda sekali dengan cara mendatangkan Pendapatan (Revenue) dari menjual produk beneran (tangible). Dari sisi sifat kebendaannya saja pun sudah berbeda.
Jadi, “nature of business“ adalah kekhasan dalam mendatangkan revenue ataupun profit yang hanya dimiliki oleh suatu jenis / bidang bisnis tertentu.
Harus disadari bahwa, setiap bidang bisnis mempunyai “alam bisnis yang berbeda”, yang disebabkan oleh “karakter produk” dan juga “karakter konsumen” dalam menggunakan produk itu sendiri juga berbeda.
Apa itu Karakter?
Karakter adalah sifat / perilaku yang khas. Misalnya: Radio adalah media broadcasting yang mempunyai karakter yang tidak bisa disamakan dengan karakter media lain. Misalnya, Televisi.
Dulu pernah ada anggapan di Amerika Serikat pada tahun 60-an, ketika Stasiun TV baru lahir dan mulai mewabah, bahwa Stasiun Radio akan bangkrut gulung-tikar dengan kehadiran televisi. Ketika itu orang-orang mendasarkan pikirannya bahwa Televisi punya suara dan gambar, sedangkan radio hanya punya suara saja. Sebagai alat komunikasi massa, televisi menjadi media yang jauh lebih baik di atas radio. Logis ‘kan?
Tetapi kenyataannya di Amerika Serikat, tetap saja radio broadcasting hidup dan berkembang terus hingga saat ini. Mengapa demikian?
Rupanya pandangan logis tersebut melupakan apa yang kita sebut sebagai “keunikan khas / karakter” media radio yang tidak dimiliki oleh media televisi.
Misal: orang-orang tetap mampu mendengarkan siaran radio, walaupun sedang melakukan aktivitas lain.
Contoh: ketika sedang mengemudikan mobil, masih bisa mendengarkan radio.
Sebaliknya tidak mungkin kita mampu mengemudikan mobil dengan baik, kalau pada saat yang bersamaan kita menonton Televisi, bukan?
Jadi karakter adalah sifat khas dari sebuah medium (ataupun sebuah produk) yang secara spesifik hanya dimiliki oleh medium (atau produk tersebut) itu sendiri, dalam hubungannya dengan si konsumen / pengguna.
Berkembang melalui Kreatifitas
Seluruh perkembangan bidang usaha ditentukan pula oleh kreatifitas manusia-manusianya. Manusia harus terus berpikir innovative. Selalu merencanakan pembaharuan-pembaharuan. Karena kalau tidak, maka usahanyapun akan gulung tikar pada beberapa tahun kemudian. Hanya saja, yang perlu diwaspadai adalah bahwa kreatif-pun memiliki koridor yang membatasinya. Dalam halnya broadcasting, batasan itu adalah “nature of the business” dan “characteristic” dari media penyiaran. Misal, untuk penonton televisi, ketika Sepak Bola Piala Dunia kemarin RCTI menggelar acara “MeNonton Bareng”, bukan ? Lalu seorang program manager merasa bahwa di radio hal seperti ini belum pernah ada. Maka dengan “kreatif”-nya ia membuat acara yang sama di cafe-cafe, yaitu acara: “MenDengar Bareng”. Ia yakin bahwa gagasannya ini pasti berhasil, karena sangat unik dan belum pernah ada sebelumnya.
Nah sekarang, sejak awalpun kita semua sudah bisa bilang bahwa, acara seperti ini melalui siaran radio, sudah pasti gagal. Mengapa? Karena karakter media radio sangat berbeda dengan karakter media televisi. (arm)
Ketika saya meninggalkan dunia broadcasting untuk bekerja di perusahaan asuransi umum, maka yang pertama saya lakukan adalah mempelajari betul “nature of the business” dari bidang usaha asuransi umum. Karena prinsip yang lazim dalam bisnis perdagangan pada umumnya atau pada bidang broadcasting yang sangat saya kuasai, bisa-bisa tak berlaku pada bidang asuransi umum. Bukankah memang begitu seharusnya? Apalagi kalau bidang itu merupakan bidang yang baru saja kita tekuni.
Tetapi tidak banyak para pemilik atau pimpinan perusahaan melakukan hal ini. Karena mereka yang sudah pada tingkat pimpinan suka terlalu percaya diri secara berlebihan. Para pimpinan dan pemilik perusahaan selalu merasa yakin bahwa mereka pasti benar. Mereka datang dan terjun ke bisnis tersebut karena kepemilikan modalnya yang besar.
Para pemodal ini umumnya orang-orang berlatar belakang Finance, atau para Pedagang / trader atau seorang pengusaha yang sudah punya pengalaman dan kesuksesan di bidang yang lain. Nah, mereka ini sering menyamaratakan saja cara, pola pikir dan konsep dalam menjalankan business barunya menurut pengalaman dan pengetahuan yang telah mereka miliki selama ini. Padahal “nature of business” bidang baru ini (misalnya, bidang broadcasting) sangat berbeda. Karakter produknya juga berbeda. Namun tetep saja mereka sulit sekali punya kemauan untuk mempelajari bidang yang selama ini belum pernah mereka tekuni. Tentu saja, karena mereka “boss” bukan?
Tidak Bisa Pukul Rata Sama Saja
Contoh, walaupun sama-sama media, tetapi tidak bisa menjalankan broadcasting seperti cara menjalankan bisnis koran. Pengalaman seperti ini serta akibatnya, bisa ditanyakan kepada TV7 yang dulu di miliki Harian Kompas / Gramedia, kemudian gagal dan lalu dijual ke Trans TV sehingga berganti nama menjadi Trans 7 sekarang ini.
Contoh lain lagi, sama-sama televisi, tetapi tidak bisa begitu saja menjalankan bisnis TV Free to air (seperti RCTI ; SCTV ; Global TV) disamakan seperti menjalankan TV Berlangganan. Pengalaman seperti ini serta akibatnya bisa ditanyakan kepada MTV Indonesia (yang aslinya di Amerika Serikat adalah MTV disiarkan sebagai TV Berlangganan) kemudian di Indonesia mereka mengontrak Global TV (free to air tv) dimana untuk selama 24 jam mereka menyiarkan acara-acara MTV. Setelah hampir 5 tahun mencoba, akhirnya gagal juga dan MTV Indonesia sekarang ini sudah bubar.
Ada radio yang mengganti pola siarannya disebabkan alasan, karena anak-anak muda sekarang senang mendengarkan musik dari “ipod”, maka kalau mau membuat radio untuk anak muda itu sukses, maka mainkanlah rangkaian musik-musik dimana mereka sendirilah (anak-anak muda itu) yang menyusun rangkaian lagu yang akan disiarkan, persis seperti mereka mendengarkan “ipod”. Benarkah cara ini? Tentu saja salah, karena radio memiliki karakter yang berbeda dengan karakter “ipod”.
Apa itu “Nature of the Business”?
Agak sulit saya menerjemahkan “Nature of the Business”. Maksudnya begini, secara alami datangnya suatu Pendapatan (Revenue) dari suatu perusahaan selalulah dari hasil menjual sesuatu, bukan? Nah, pada umumnya sesuatu itu adalah produk berupa benda nyata / kongkrit. Tetapi banyak juga bisnis yang produknya itu tidak ada bentuknya, bukan benda nyata, tetapi dia itu memang benda yang intangable / abstrak. (Berbeda dengan “jasa / service”, yang memang bukan produk / barang).
Contohnya: misalnya Anda membayar untuk menonton film di bioskop dengan membayar karcis. Artinya Anda membeli sebuah tontonan dalam kenyamanan. Tentu saja cara mendatangkan “Pendapatan (Revenue)” dengan menjual benda intangible (benda abstrak seperti tontonan dalam kenyamanan) berbeda sekali dengan cara mendatangkan Pendapatan (Revenue) dari menjual produk beneran (tangible). Dari sisi sifat kebendaannya saja pun sudah berbeda.
Jadi, “nature of business“ adalah kekhasan dalam mendatangkan revenue ataupun profit yang hanya dimiliki oleh suatu jenis / bidang bisnis tertentu.
Harus disadari bahwa, setiap bidang bisnis mempunyai “alam bisnis yang berbeda”, yang disebabkan oleh “karakter produk” dan juga “karakter konsumen” dalam menggunakan produk itu sendiri juga berbeda.
Apa itu Karakter?
Karakter adalah sifat / perilaku yang khas. Misalnya: Radio adalah media broadcasting yang mempunyai karakter yang tidak bisa disamakan dengan karakter media lain. Misalnya, Televisi.
Dulu pernah ada anggapan di Amerika Serikat pada tahun 60-an, ketika Stasiun TV baru lahir dan mulai mewabah, bahwa Stasiun Radio akan bangkrut gulung-tikar dengan kehadiran televisi. Ketika itu orang-orang mendasarkan pikirannya bahwa Televisi punya suara dan gambar, sedangkan radio hanya punya suara saja. Sebagai alat komunikasi massa, televisi menjadi media yang jauh lebih baik di atas radio. Logis ‘kan?
Tetapi kenyataannya di Amerika Serikat, tetap saja radio broadcasting hidup dan berkembang terus hingga saat ini. Mengapa demikian?
Rupanya pandangan logis tersebut melupakan apa yang kita sebut sebagai “keunikan khas / karakter” media radio yang tidak dimiliki oleh media televisi.
Misal: orang-orang tetap mampu mendengarkan siaran radio, walaupun sedang melakukan aktivitas lain.
Contoh: ketika sedang mengemudikan mobil, masih bisa mendengarkan radio.
Sebaliknya tidak mungkin kita mampu mengemudikan mobil dengan baik, kalau pada saat yang bersamaan kita menonton Televisi, bukan?
Jadi karakter adalah sifat khas dari sebuah medium (ataupun sebuah produk) yang secara spesifik hanya dimiliki oleh medium (atau produk tersebut) itu sendiri, dalam hubungannya dengan si konsumen / pengguna.
Berkembang melalui Kreatifitas
Seluruh perkembangan bidang usaha ditentukan pula oleh kreatifitas manusia-manusianya. Manusia harus terus berpikir innovative. Selalu merencanakan pembaharuan-pembaharuan. Karena kalau tidak, maka usahanyapun akan gulung tikar pada beberapa tahun kemudian. Hanya saja, yang perlu diwaspadai adalah bahwa kreatif-pun memiliki koridor yang membatasinya. Dalam halnya broadcasting, batasan itu adalah “nature of the business” dan “characteristic” dari media penyiaran. Misal, untuk penonton televisi, ketika Sepak Bola Piala Dunia kemarin RCTI menggelar acara “MeNonton Bareng”, bukan ? Lalu seorang program manager merasa bahwa di radio hal seperti ini belum pernah ada. Maka dengan “kreatif”-nya ia membuat acara yang sama di cafe-cafe, yaitu acara: “MenDengar Bareng”. Ia yakin bahwa gagasannya ini pasti berhasil, karena sangat unik dan belum pernah ada sebelumnya.
Nah sekarang, sejak awalpun kita semua sudah bisa bilang bahwa, acara seperti ini melalui siaran radio, sudah pasti gagal. Mengapa? Karena karakter media radio sangat berbeda dengan karakter media televisi. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar