18 Agustus 2010

Wawancara Gaya Motong

oleh Andy Rustam

Dalam acara-acara berita di televisi, beberapa orang tamu sering diundang ke studio sebagai narasumber untuk diwawancarai. Maksudnya tentu agar penonton televisi di rumah mendapat informasi dari “tangan pertama” mengenai duduk permasalahannya.

Tetapi apa yang terjadi pada salah satu siaran berita di televisi swasta? Justru ketika si narasumber sedang menjelaskan, dan tentunya penonton sedang memperhatikan dengan seksama dan mencoba mencerna apa yang dikatakan, ..eh tiba-tiba sudah dipotong oleh si pewawancara. Inilah hal yang paling menyebalkan! Lebih menyebalkan lagi, dipotongnya ini dengan pertanyaan lain yang tidak ada hubungannya atau dengan pertanyaan yang jawabannya sudah dijelaskan oleh si narasumber sebelumnya. Komplain penonton tentang cara mewawancarai seperti begini, sering terlontar kepada saya ketika saya sedang memberikan pelatihan atau ceramah broadcasting. Mereka bertanya, apakah memang begitu cara yang benar, sehingga cara bertanya model motong ini kerap kali terjadi dalam acara wawancara (berita).

Lalu saya balik bertanya, “Apakah kalian sebagai penonton menyukai gaya penyiar yang memotong penjelasan narasumber padahal penjelasan belum selesai?“. Mereka spontan di kelas itu berteriak, “Tidaaaak!“. Tentu saja saya tersenyum dan menjawab, “kalau begitu kalian sudah tahu dong jawabannya”.

Kenapa Begitu?

Saya sendiri bingung, sesungguhnya darimana mereka memperoleh pelajaran bahwa mewawancarai dengan lalu memotong-memotong penjelasan narasumber itu cara yang baik/benar. Sebab dari sisi pandang ilmu-ilmu komunikasi massa, tidak ada satu pun yang bisa membenarkan cara tersebut. Di sinilah bahayanya meniru-niru tetapi tidak mengetahui prinsipnya, sehingga yang ditiru hanya kulit luarnya saja. Lucunya, mereka itu justru merasa hebat dan bangga kalau bisa melakukan hal itu. Sementara sebenarnya para penonton sendiri sudah sangat sebel!

Memang betul, di salah satu televisi Amerika, jaman dulu ada acara seperti itu yang sangat populer, namanya “Cross Fire”. Dari judulnya saja “Cross Fire” atau “saling silang melontar api”, sudah bisa dibaca bahwa di Amerika, acara wawancara dengan gaya seperti ini memang sengaja didesain sebegitu rupa sebagai suatu acara khusus dengan sasaran penonton (target audience) yang khusus pula.

Artinya, gaya wawancara seperti begitu bukanlah gaya wawancara pada umumnya untuk siaran berita, melainkan hanya dalam sebuah acara saja. Seperti gaya wawancara Tukul dalam acara “bukan 4 mata”, hanyalah sebuah acara dan bukan merupakan gaya wawancara yang berlaku pada talk-show pada umumnya (seperti pada acara Larry King atau Oprah Winfrey).

Yang namanya “acara khusus”, akan memiliki audience yang khusus pula. Seperti acaranya Tukul yang populer itu, pasti mempunyai jenis penonton yang berbeda dengan acara talk-show juga, “Kick Andy”. Artinya penonton yang menyukai gaya “Kick Andy” pasti kurang menyukai gaya si Tukul dan sebaliknya.

Nah, bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila gaya wawancara si Tukul kemudian dijadikan standar cara wawancara untuk siaran pemberitaan di televisi kita, maka akan aneh ‘bukan?
Oleh karena itu, patut dipertanyakan mengapa gaya wawancara sebuah acara khusus di TV Amerika “Cross Fire”, kemudian seolah-olah dijadikan gaya baku mewawancarai narasumber dalam acara pemberitaan di televisi kita?!?

Menurut saya penyebabnya adalah sekedar mau meniru, karena menurut orang pemberitaan televisi kita, gaya begitulah yang akan disukai orang. Benarkah?

Penonton TV Pada Umumnya

Saya tidak akan berbicara tentang penonton TV Indonesia, luar negeri, segmen ABC, usia, dsb dsb. Tetapi yang saya bicarakan disini adalah tentang manusia. Manusialah si penonton televisi.
Menurut Prof.Dennis McQuail (Mass Communication Theory, 1987), salah satu penyebab mengapa manusia ingin menonton berita di TV, utamanya karena didorong oleh “keinginan mendapatkan manfaat dari informasi tersebut”.

Jadi menurut “ilmu”-nya, kalau sebuah siaran berita di televisi tidak berhasil memberikan nilai-tambah/manfaat kepada penontonnya, maka mereka tidak akan mau mengikuti acara siaran berita tersebut.

Berdasarkan ilmu tersebut diatas, sekarang kita bisa menilai. Bagaimana mungkin seseorang dapat memperoleh nilai-tambah/manfaat dari sebuah penjelasan, apabila penjelasan tersebut tidak bisa tuntas disampaikan oleh si narasumber, hanya dikarenakan oleh si pewawancara yang terus menerus memotong penjelasan yang sedang disampaikan?!?

Maka tidak heranlah, kalau penonton televisi kita pada sebel melihat pewawancara yang terus doyan motongin pembicaraannya narasumber.

Si Narasumber

Si narasumber tentunya juga tidak “happy”. Bayangkan saja, ia sudah diminta kesediaannya oleh stasiun TV untuk menjadi narasumber. Artinya stasiun TV-lah yang membutuhkannya. Lalu tentu saja narasumber juga berkeinginan untuk menyampaikan penjelasan/informasi yang ia rasakan baik bagi dirinya dan juga baik bagi penonton televisi. Tetapi ketika ia “on air” malah si pewawancara berulah “sok jago” seolah-olah lebih tahu dari si narasumber. Padahal dari segi pendidikan dan pengalaman si narasumber jauh di atas dari si pewawancara. Hanya saja memang ia bukanlah seorang penyiar TV, dia hanyalah seorang tamu yang diundang oleh stasiun TV.

Jadi selayaknyalah si pewawancara menaruh respek kepada si narasumber. Pewawancara yang terlihat oleh penonton sebagai menghormati narasumber, pastilah akan dapat mengambil hati/simpati penonton televisi. Karena pewawancara adalah “representasi dari penonton televisi”.

Si Penyiar / Si Pewawancara

Pewawancara atau juga penyiar TV secara psikologis biasanya mempunyai kepribadian yang unsur extrovert-nya besar. Maka banyak pewawancara (penyiar yang mewawancarai narasumber) terkesan terlalu “ingin tampil”, seolah-olah mau bilang, “Ini neeh guee..”

Mereka ingin tampil (sok) keren, karena khawatir dipandang oleh penonton televisi sebagai berpenampilan buruk. Mereka merasa dirinya (sok) beken, karena kurang PD, sebab sebenarnya bekennya masih kelas nanggung. Mereka ingin tampil (sok) pintar, karena khawatir dianggap bodoh oleh penonton TV. Makanya gaya atau cara bertanya dalam mewawancarai orang, seringkali keluar dari tata krama & etika yang berlaku di masyarakat.

Maka kitalah para penonton jadi merasa risih melihat cara mereka bertanya yang terkesan arogan. Padahal kalau saja penyiar itu santun dan menghargai si narasumber, sehingga narasumber dengan gembira mengeluarkan semua penjelasannya dengan tuntas dan jelas, maka sebenarnya inilah yang akan membuat penonton menilai dia sebagai pewawancara yang hebat. Bukan penyiar yang bergaya “menginterogasi” yang akan mendapat simpati, karena media televisi bukanlah ruang interogasi.

Media televisi ada dalam ruang keluarga di setiap rumah tangga. Setiap rumah tangga pasti tidak akan suka ruang pribadi rumahnya dijadikan bersuasana seperti ruang interogasi oleh penyiar/reporter televisi. (arm)

Tidak ada komentar: