18 September 2010

Bicara Wajar

oleh Andy Rustam

Dalam suatu seminar, seorang penyiar muda bertanya kepada saya, siapakah penyiar di Indonesia yang bisa dia jadikan panutan, karena dia ingin sekali menjadi penyiar yang bagus. Wah, terhenyak juga saya. Kalau ditanya siapa penyiar yang bisa dijadikan panutan, terus terang saya tidak bisa jawab. Karena saya seorang pengajar, maka kalau mendengar penyiar bicara, selalu adaaa... aja salahnya. Saya selalu melihat dari sisi kekurangannya melulu... sorryy...

Lalu saya jawab, bahwa kalau mau menjadi penyiar yang baik, mendingan pelajarilah ilmu teori dan juga prakteknya. Lalu implementasikan itu dengan sebaik-baiknya. Belajar jadi penyiar dengan cara meniru gaya penyiar Indonesia yang sudah populer, bukanlah cara yang baik. Karena “populer” dan “baik” adalah dua hal yang tidak selalu sejalan.

Populer vs. Baik

Sebenarnya seperti apa sih penyiar yang baik itu? Dikarenakan bahwa sesungguhnya pekerjaan penyiar ialah “ngomong”, maka gampangnya siiih, penyiar yang baik itu adalah penyiar yang mampu berkomunikasi dengan publiknya. Penyiar yang baik adalah seorang komunikator yang hebat. Artinya ia menguasai ketrampilan komunikasi (communication skill & technique) dan mampu menggunakannya secara optimal ketika siaran.

Sedangkan untuk jadi penyiar yang populer di Indonesia, menurut pengamatan saya sekarang ini, asalkan bisa ngomong, sedikit jahil dan suka ngeledekin orang, berpotongan menarik dan up-to-date, berani ngocol (berani malu) dan agak genit-genit manja (untuk cewek)/agak kebanci-bancian (untuk cowok), cukup sudah prasyarat calon populer.

Oleh karena persyaratannya berbeda maka nasihat saya, jangan pernah meniru penyiar-penyiar populer tapi tidak memiliki communication skill & technique yang benar.

Pasti jadi pertanyaan, “Lalu apa gunanya penyiar dengan communication skill & technique-nya benar, tetapi yang populer malah tanpa harus perlu memiliki itu?”.

Jawab: Penyiar dengan communication skill & technique yang benar, dalam bekerja menjalankan profesinya, akan bisa langgeng. Sedangkan penyiar populer jadi-jadian, ibarat seorang seleb yang populernya hanya dalam periode jangka pendek. Selama masyarakat masih belum bosen dengan gaya genit dan kebanci-bancian, ia tentu masih bisa hidup. Tetapi ketika masyarakat sudah bosen, sedang dia tak memiliki kebisaan lain, maka sebentar saja ia menjadi tidak populer lagi. Banyak nasib artis yang seperti itu. Tetapi artis yang mempunyai ilmu dan teknik, bisa langgeng bertahan. Contohnya tuh seperti lagu Keong Racun, mendadak populer tapi yakinlah sebentar lagi juga orang lupa. Buktinya lagu-lagu mbah Surip aja yang dulunya sangat-sangat populer, sekarang sudah terlupakan. Bandingkan dengan GIGI, misalnya, atau KLA, ‘kan mereka bisa bertahan karena memang mereka mempunyai basis ilmu musik yang benar.

Bicara Wajar?

Salah satu yang selalu skil yang diajarkan bagi seorang penyiar adalah ketrampilan bicara. Sering seorang penyiar mendapat arahan dari para senior/pelatihnya untuk berbicara dengan “wajar”. Si Penyiar kemudian menangkapnya sebagai: “cara berbicara sehari-hari sebagaimana dirinya dengan teman-teman di tempat kerja atau di kampusnya”.

Apabila Anda mendengar sekelompok orang yang sama sekali tidak Anda kenal sedang berbicara, maka tidak’kah Anda merasa ada yang “aneh atau lucu”? Misalnya saja Anda orang Jakarta pergi ke Menado. Lalu di sana, di restoran, Anda mendengarkan orang-orang di sana berbicara satu sama lain, pastilah Anda merasa “lucu”. Memang begitulah kejadiannya.

Kalau Anda berada di lingkungan yang anda kenal baik, maka kalau Anda mendengar mereka berbicara, Anda tidak akan merasakan suatu keanehan. Semua biasa dan wajar saja. Tetapi seandainya yang ngobrol tadi lingkungan yang tidak Anda kenal, maka oleh Anda akan terdengar aneh / lucu / unik / tidak biasa / jelek.

Nah kalau ini dianalogikan dengan penyiar radio atau penyiar TV, maka artinya kalau gaya bicara Anda memang sangat dikenali oleh lingkungan penonton TV di suatu daerah tertentu, maka sebagai penyiar, Anda akan dianggap wajar. Tetapi kalau bagi sekelompok pendengar di daerah lain, bisa-bisa cara bicara Anda dinilai sebagai tidak wajar atau bahkan aneh.

Oleh sebab itulah, istilah bicara “wajar” adalah kurang tepat. Yang benar adalah, sebagai seorang penyiar Anda harus “terdengar wajar “.

Terdengar Wajar

Jadi sebenarnya seorang penyiar itu kalau berbicara di depan TV/Radio tidak boleh sama saja cara bicaranya seperti kalau dia sedang bicara/ngobrol dengan teman-temannya di rumah atau di kantor. Bagi penyiar, begitu ia sudah berada di depan microphone maka ia menjadi bukan diri apa adanya lagi, melainkan ia menjadi seorang profesional dengan kepribadian dirinya.

Ketrampilan tehnik dalam berbicara, kemampuan otak dalam memahami dan mengolah, ditambah lagi keahlian/seni dalam mengkomunikasikan, ini semua hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang penyiar profesional. Artinya kalau Anda tidak memiliki ini maka mungkin Anda belum pantas disebut sebagai penyiar yang baik. Sebab tidak semua orang asal bisa nyrocos, gampang teriak, berani malu dan penampilannya keren lalu bisa disebut penyiar.

Agar seorang penyiar terdengar wajar dalam berbicara, caranya dengan menggunakan pilihan nada-nada bicara yang dilebih-lebihkan, dalam bahasa Indonesia tentu saja. Heran ‘kan? Mungkin buat si penyiar sendiri, dia akan merasa aneh, karena caranya berbicara dengan menggunakan nada-nada tersebut, seolah-olah terdengar berlebihan (over). Memang demikian. Tetapi pendengar atau pemirsa akan mendengarnya seperti wajar namun ketambahan memiliki “daya tarik” dalam nadanya.

Mengapa nada yang dilebihkan itu justru membuatnya menarik?

Ingatlah, bahwa seseorang, ketika mendengarkan sebuah siaran informasi atau berita atau apapun, pada saat yang sama dalam bawah sadarnya selalu berkeinginan dihibur. Hiburan bukan artinya si penyiar harus kocak, atau bertingkah genit dsb. Hiburan bisa diwujudkan dalam pilihan nada yang dilebih-lebihkan. Jadi dari sisi pendengar, jauh dibawah sadar, penyiar yang diharapkannya ketika ia “tune in” pada saluran Anda, adalah penyiar yang berbicara seperti temannya namun dengan nada yang dilebihkan (yang agak over).

Nah begitulah “wajar”-nya seorang penyiar yang baik ketika berbicara.

Kalau mau ambil sebagai contoh barangkali coba perhatikan penyiarnya American Idol, Ryan Secrest. Lihat bagaimana wajarnya nada suaranya dalam bercakap-cakap atau mewawancarai seseorang, tetapi tetap bukan nada orang biasa. Nada-nada bicara pilihannya terdengar enak. Terdengar wajar tetapi entertaining. (arm)

3 komentar:

Zoel DM mengatakan...

Om Andy, saya baru menyadari bahwa berbicara yang benar saat siaran adalah berbicara yg "terdengar wajar", bukan berbicara seperti kita ngomong sehari-hari.

Sebenarnya ini sering saya alami. Tidak sedikit teman-teman saya yg bilang, saat sedang siaran dibandingkan pas lagi ngobrol biasa, suara saya terdengar "beda". Lebih enak pas siaran dan seperti bukan suara saya, begitu kata mereka. Mereka mengira suara saya sdh "diolah" pakai alat tambahan waktu siaran sehingga terdengar "beda". Mereka membandingkan dg penyiar A yang suaranya tidak berbeda saat siaran maupun ngobrol biasa.

Saya tidak tahu apakah ini yang dimaksud dalam tulisan Om Andy. Tetapi saya akui, ketika siaran gaya dan cara saya berbicara memang berubah. Sudah secara otomatis dan tidak dibuat-buat apalagi memaksakan diri. Dalam bahasa saya ke murid-murid saya : bicaranya dibuat jadi lebih "gaya".

Saya pernah membandingkan suara saya di rekaman ketika siaran dan ketika berbicara biasa dalam suatu obrolan. Waah, terus terang saya agak malu mendengar suara saya sendiri ketika ngobrol biasa. Tetapi ketika mendengar suara rekaman siaran saya, kok gak malu, ya ? (hehehe...GR banget)

Apakah ini gejala narsis siaran ? Wkwkwkwk....

Thanks Om tulisannya. Selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin. Sukses selalu buat Om Andy sekeluarga. Selamat menikmati menjadi Opa dan Oma, hehehe...

Zulkifli DM mengatakan...

Saya jadi ingat, beberapa teman pernah bilang saat saya siaran dibanding saat berbicara biasa terdengar beda. Mereka mengira suara saya sengaja dibikin lebih bagus (baca : dibikin lebih bagus, bukan menjadi lebih bagus...hehhehe..)dg ditambahi "alat khusus" sehingga terdengar lain dibanding ketika berbicara biasa.

Mereka membandingkannya dg penyiar yang lain, sebut saja si A, yang menurut mereka suaranya tidak ada bedanya saat siaran maupun berbicara sehari-hari. (mungkin maksudnya sama enaknya pas siaran sama pas nggak siaran, ya...hehehe.)
Padahal ketika sedang siaran saya tidak pernah mengubah suara saya apalagi merubah stelan bass-treble di mixer. Yg saya lakukan hanyalah membuat cara bicara saya menjadi "lebih gaya". Begitu memang saya mengistilahkan kalau ditanya siswa2 saya di tempat kursus.

Terus terang, ketika membandingkan suara saya sendiri yg direkam saat berbicara wajar dalam sebuah percakapan dan ketika berbicara di depan mic saat siaran, memang terasa perbedaannya. Perasan suara saya pas lagi ngobrol jelek banget dibanding pas siaran. Ada medoknya dan khas arema. Tapi herannya ketika sudah di meja siaran dan berbicara di depan mic itu semua bisa berubah...(mudah2an ini bukan narsis dan terlalu GR, ya). Itu kayaknya sudah secara otomatis saya lakukan.

Apakah sama yang dimaksud di tulisan Oom Andy dg bicara yg "terdengar wajar" dengan bicara yang "lebih gaya", dlm istilah saya ?

Oh iya, mohon maaf lahir dan batin, salam buat tante Jerry. Selamat menikmati menjadi Opa dan Oma yg tetap awet muda.

Anonim mengatakan...

wah setuju sekali saya. kebanyakan penyiar sekarang yang "begitu" itu. yang cewek centil. yang cowok kebanci-bancian.. Banci kale ya ?? aku terkesan sebuah radio yang jauh dari kotaku. skarang malah cuman bisa di denger pake streaming internet. gara2 kalah "gelombang dengan FM2 yang ada di kotaku. boleh sebut nggak ?? STAR FM di pandaan pasuruan. bener2 asik gaya siarannya. Dewasa tetapi tetap menghibur.

"manusia penyuka nada pintar"