02 September 2010

Ingin Eksis

oleh Andy Rustam

Sewaktu duduk di bangku SMA, saya cukup aktif dalam kegiatan yang terkait dengan seni, khususnya musik, karena memang saya suka dan bisa bermain musik. Ada pula teman-teman yang sangat aktif dalam kegiatan sport. Mereka aktif dalam kegiatan bola basket dan sepak bola, karena memang mereka menyukainya. Makanya saya dan kebanyakan mereka-mereka yang aktif ini, ikut dalam kepengurusan OSIS. Dengan sendirinya popularitas dan eksistensi saya dan teman-teman yang duduk dalam kepengurusan, di kalangan murid-murid SMA di sekolah. Menurut istilah anak sekarang: Eksis!

Tetapi, selain itu banyak juga teman-teman yang tidak punya aktivitas di sekolah, sehingga jadi nggak “eksis” di kalangan sekolah. Padahal dorongan jiwa manusia, selalu ada yang namanya ingin eksis, apalagi dikalangan remaja. Mereka selalu punya dorongan untuk populer, dikenal dan menonjol. Kalaupun dengan cara-cara positif dan wajar mereka tidak memperoleh jalan, maka untuk “eksis” mereka kemudian mencari kompensasinya dengan “berantem (sekarang tawuran)”; “bikin ribut”; “mengganggu atau ngeledekin orang”; “ngebut naik motor ugal-ugalan” dsb. dsb.

Ingin Eksis

Pada dasarnya, menurut ilmu psikologi (Scott Wetzler Ph.D, 2009), mereka (dalam hal ini, murid-murid) yang tidak bisa eksis dalam arah yang positif (misal: jadi juara kelas; pemenang olah raga; hebat dalam seni) mencari kompensasinya dalam arah yang negatif (misal: tawuran; berbantahan; berantem; berkelakuan kontoversiel dsb.)

Fenomena yang sama terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini. Kalau kita lihat, mengapa orang yang bersepeda motor itu gemar ngebut melanggar aturan dan mau menang-menangan sendiri? Coba perhatikan baik-baik. Biasanya yang bertindak seenaknya dan tak tau sopan santun serta melanggar aturan, kebanyakan itu dari kalangan yang “kurang eksis” dalam masyarakat. Dengan cara naik motor menang-menangan itu mereka merasa jiwanya terpuaskan dalam hal eksistensi. Mereka merasa eksis dengan membuat kendaraan lain “mengalah” untuk mereka. Mereka merasa eksis karena orang lain memperhatikan “keberanian” mereka nyelap-nyelip, walau tahu dimani-maki.

Menurut Scott, kelakuan negatif/kontroversiel dilakukan oleh orang-orang itu dalam rangka mencari keseimbangan kebutuhan jiwanya. Sebaliknya kalau kita lihat, orang-orang yang mengendarai motornya sesuai aturan, memahami etika berlalu-lintas, dan tidak mengambil hak-hak orang lain, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang jiwanya tak membutuhkan lagi “eksistensi”. Misalnya, mereka berprofesi sebagai guru. Ada juga yang berprofesi sebagai, jururawat atau tukang pos dsb. Pengakuan masyarakat akan profesinya itu, sudah cukup membuat ia merasa eksis, sehingga tidak membutuhkan lagi perilaku negatif sebagai kompensasi memenuhi hasrat eksistensinya.

Eksis Dalam Dunia Siaran

Perilaku kontroversiel, senang bikin ribut atau senang membuat masalah ini bisa kita temui sehari-hari dalam lingkungan kita. Seperti: di tempat kerja, di lingkungan pertemanan, dalam lingkungan saudara/keluarga, di dalam segala bidang, termasuk dalam bidang penyiaran. Sekarang Anda sudah tau penyebabnya, bukan? Yes.. nyari eksistensi.

Kalau kita lihat sekarang dalam kasus issue perbatasan dengan Malaysia, barangkali hampir seluruh lapisan masyarakat setuju bahwa pemerintah Indonesia harus melakukan tindakan atau sikap tegas kepada Malaysia. Masalahnya sekarang, walau seluruh rakyat marah kepada Malaysia, tetapi hanya ada segolongan kecil masyarakat yang berdemo dengan melakukan hal-hal yang negatif/kontroversiel, merusak, bikin ribut. Padahal banyak cara yang lebih elegant. Tanpa harus mendesak-desak pemerintah, tanpa harus tergantung orang lain. Lakukan saja kita sendiri masing-masing, tanpa perlu gembar-gembor. Misalnya, dengan bertekad tidak akan membawa keluarga berwisata ke M’sia. Atau bertekad tidak akan beli mobil buatan M’sia, atau tidak akan beli bensin di pompa bensin milik M’sia, atau menaruh deposito/punya kartu kredit dari bank yang sahamnya di miliki M’sia, atau tidak pakai jasa telpon provider yang sahamnya milik M’sia, dsb. dsb.

Daripada membakar bendera M’sia, melempari kedutaan M’sia. Marah-marah karena merasa dirinya benar. Padahal bagaimana kejadiannya pun cuma dengar-dengar aja. Siapa tahu malah di pengadilan internasional Indonesia malah dipersalahkan. Maluuu.. deh.

Kalau kita telaah lebih lanjut, orang-orang yang melakukan tindakan kontroversiel yang melanggar etika itu pastilah orang-orang yang sedang ingin “eksis”. Lucunya lagi para pengelola acara berita di televisi sepertinya senang dengan hal seperti ini juga, dan mereka terus memilih menyiarkan hal-hal yang memanaskan suasana, bikin ribut juga.

Nah, kalau kita perbandingkan dengan kisah murid-murid sekolah di awal tulisan ini, yaitu murid-murid yang senengnya bikin ribut dan menciptakan masalah, mereka-mereka ini pastilah dari kalangan yang jiwanya membutuhkan eksistensi. Jadi artinya, kalau dilihat dari sisi kajian Psikologi, para pengelola pemberitaan di televisi, (bisa saja itu reporter-nya, penyiarnya, wartawannya) yang rata-rata senang dengan menciptakan keributan dan memanas-manasi suasana, itu dikarenakan perasaan mereka sendiri bahwa hanya dengan cara demikianlah mereka bisa merasa “eksis”.

Mereka tidak sadar, bahwa sikap seperti pendemo-pendemo yang bikin ribut justru malah “meng-kerdil-kan bangsa”. Ibaratnya seperti orang yang kuat/macho seperti Rambo, marah-marah memaki-maki berteriak kepada anak balita yang menginjak sepatunya. Lalu Rambo datang dan memukul anak kecil itu.

Coba, bagaimana pandangan kita kepada Rambo setelah melihat kejadian ini? Pastilah kita langsung memandang rendah si Rambo karena telah bertindak tidak patut. Si Rambo yang macho, jadi kerdil dalam pandangan kita, bukan?

Sayangnya memang kebanyakan masyarakat kita, juga di bidang penyiaran, termasuk para penyiar, wartawan, reporter baik di televisi maupun di radio, juga belum memiliki kematangan jiwa dalam profesinya. Jiwanya kebanyakan masih kerdil. Mereka masih butuh ingin “eksis”. Lalu karena sulit memperolehnya dengan jalan yang positif maka mengkompensasinya dengan jalan negatif.

Sindroma ingin eksis pula yang melanda artis-artis pendatang baru kita, bahkan termasuk para bintang. Kalau sulit menempuh jalan yang positif dengan berprestasi, maka mereka mengkompensasi kebutuhan jiwanya itu dengan jalan negatif dengan berperilaku kontroversiel/skandal/affair ...dsb.

Terpaksa mengurut dada. Yaaah..memang baru sampai di tingkat inilah bangsa kita... (arm)

Tidak ada komentar: