21 Desember 2010

Berbicara di Depan Umum

oleh Andy Rustam

Seorang pebisnis kawakan, teman saya, mempunyai seorang anak laki-laki berusia 28 tahun, bergelar Master, lulusan sebuah perguruan tinggi di Amerika. Sebut saja namanya Agus. Ayahnya menjadikan ia sebagai Direktur Utama di salah satu perusahaan miliknya. Atas koneksi ayahnya, maka ia diperkenalkan dengan seorang pejabat Kepala Daerah, dan ia diberi kesempatan untuk mempresentasikan tentang perusahaannya itu di hadapan sang Kepala Daerah berserta seluruh jajaran pemda. Pak Kepala Daerah membuka rapat dihadapan jajarannya, dan mempersilahkan si Dirut Agus untuk memberikan sambutan dan paparannya. Sang Dirut berdiri dan berjalan ke podium, kelihatan sekali dari “body language”-nya bahwa ia agak ragu dan kurang percaya diri (agak groggy). Ketika sudah sampai di depan podium, ia berdiri di hadapan mikrofon. Suasana hening agak lama. Tiba-tiba keluarlah kata-kata pertama dari mulutnya, “Sorry nih.. gue blank!“

Sang Ayah

Langsung ruangan itu berisik, penuh suara tawa tertahan, orang-orang bergumam berbisik dan mencemoohkan. Sang Kepala Daerah dengan wajah merah padam berdiri dan langsung meninggalkan ruangan.

Untuk diketahui, sang ayah, si pebisnis kawakan memang tidak hadir dalam acara itu, karena ia ingin si anak-lah yang di-orbitkannya. Peristiwa ini dirahasiakan oleh anak buah sang Dirut, si Agus. Mereka diancam agar tidak boleh menceritakan peristiwa ini kepada sang Ayah. Tapi mana bisa bertahan. Beberapa waktu kemudian sang Ayah menelpon Sang Kepala Daerah dan mendengar peristiwa memalukan tersebut. Ia pun malunya setengah mati.

Bulan yang lalu sang Ayah datang kepada saya meminta saya untuk mengajari anaknya: bagaimana cara berbicara di depan umum. Karena sang Ayah teman lama saya, maka saya katakan terus terang kepadanya bahwa, kunci pertama untuk berbicara di depan umum adalah rasa percaya diri (self confidence). Padahal anak ini (si Agus), masih sangat muda, tapi sudah dijadikan Direktur Utama perusahaan yang lumayan besar. Direktur Utama bukanlah jabatan main-main, melainkan sebuah jabatan yang harus dipegang oleh orang yang matang -jiwa dan pengalamannya. Tentu saja ketika diberikan jabatan tersebut, dalam diri si Agus ada perasaan bahwa ia sendiri sebenarnya belum memiliki kapasitas. Dalam hatinya ia tahu bahwa ia memegang jabatan tertinggi / posisi penting tersebut karena sang Ayah. Maka sebenarnya si Agus mengalami “tekanan mental” yang sangat besar, walau sebenarnya secara “ilmu” ia cukup baik dan paham tentang bisnis ini. Namun karena pengalamannya masih kurang, maka ia merasa tidak percaya diri. Si Agus sendiri mengatakan kepada saya, “Oom, sebenarnya saya juga tidak merasa nyaman menjabat sebagai Dirut perusahaan itu, karena saya sebenarnya ingin belajar dulu dari bawah. Tetapi saya tidak berani menolak keinginan ayah.“

Self Confidence vs Ketakutan

Jelas sekali ada hubungan antara rasa percaya diri dengan bicara di depan publik. Seorang yang sudah biasa bicara di depan publik sekalipun, ketika harus berbicara di depan sejumlah “pejabat” pasti akan groggy juga. Membangun rasa percaya diri, tentu tidak mudah. Salah satu penyebab mengapa seseorang merasa kurang percaya diri adalah, karena ada beberapa ketakutan/kekhawatiran dalam dirinya. Mencari tahu apa saja ketakutan-ketakutan itu dan mencari jalan keluar untuk mengatasinya, adalah salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri.

Ketakutan pertama adalah, ia sendiri tidak merasa yakin bahwa ia mampu dan menguasai apa yang hendak dibicarakannya. Ini sumber ketakutan yang utama.

Jadi, semakin seseorang merasa yakin bahwa ia menguasai materi, atau hal yang hendak dibicarakannya, maka ketakutan itu akan berkurang. Untuk bisa mengatasi ini, kuncinya adalah mempersiapkan diri atas penguasaan materi yang hendak dibicarakan atau dipidatokan. Penguasaan materi artinya, menguasai dan memahami materi pidato itu sendiri plus hal-hal lain yang ada hubungannya dengan materi yang ingin disampaikan (walau barangkali materi terkait itu mungkin tidak akan disampaikan dalam pidato kali ini).

Ketakutan kedua adalah, karena ia memikirkan, kira-kira apa ya nanti pandangan orang (hadirin) terhadap dirinya atau terhadap pidatonya. Ketakutan seperti ini sesungguhnya masih terkait dengan ketakutan pertama. Bedanya ketakutan kali ini lebih disebabkan pada sisi cara-penyampaian. Untuk mengatasi masalah cara, tidak ada jalan lain, melainkan dengan berlatih dan berlatih. Kalau Anda sudah memiliki materi atau topik pidatonya, berlatihlah di depan teman/saudara atau keluarga Anda. Ulangi dan ulangi. Ketika sudah terbiasa berbicara di depan lingkungan dekat dengan bahasa yang benar dan pantas/patut (bukan bahasa obrolan sehari-hari), maka keyakinan pun akan timbul bahwa kita pun bisa berpidato dengan baik di depan umum. Kalau keyakinan sudah timbul maka tidak akan ada lagi melintas pikiran negatif yang meragukan diri sendiri.

Ketakutan ketiga adalah, kekhawatiran bagaimana kalau nanti saya lupa akan apa yang ingin saya sampaikan? Bagaimana kalau tiba-tiba saya blank, mendadak segalanya hilang dari pikiran? Untuk mengatasi masalah ini, cara yang paling mudah adalah membuat panduan, yaitu catatan kerangka butir-butir apa saja yang akan disampaikan, atau hal-hal penting apa yang tidak boleh salah menyampaikannya (misal: nama pejabat penting). Ini semua Anda buatkan catatannya dalam kertas kecil berupa “pointers”. Sehingga urutan aliran uraian pidato Anda, bisa selalu Anda lihat pada kertas catatan kecil tersebut. Dengan demikian Anda bisa terselamatkan kalau sampai tiba-tiba Anda lupa atau blank.

Ketakutan ke-empat adalah “demam panggung”. Hal seperti ini merupakan kejadian biasa yang dialami semua orang ketika tiba waktunya harus menyampaikan pidato. Tidak peduli apakah dia seorang orator ulung sekalipun, pastilah ia akan tetap mengalami demam panggung. Perbedaannya cuma pada intensitas. Jadi wajar kalau ada rasa senewen. Namun sebagai orator ulung, ia selalu mampu mengatasai perasaan ini dengan baik. Caranya?

Rasa “demam panggung” sebenarnya hanyalah masalah psikologis, maka mengatasinya haruslah secara psikologis juga. Tentu saja langkah sebelumnya yaitu, mengatasi ketakutan pertama, ketakutan kedua dan ketakutan ketiga, apabila dilakukan, akan juga menguatkan mental mengatasi demam panggung. Namun, perlu ada tambahan satu lagi, yaitu: “Mind-set”. Anda harus berpikir bahwa Anda bukan akan berpidato, melainkan hanya akan “sharing” alias seperti bercakap-cakap dengan seorang teman. Artinya, nanti, gaya Anda berpidatopun bukan seperti orang berpidato melainkan seperti seorang yang ingin menyampaikan suatu pesan kepada seorang teman.

Jadi sejak awal Anda sudah berpikir bahwa: “saya cuma mau sharing saja”. Ini rahasia yang paling utama!!!

Kembali ke kisah pada awal tulisan ini. Si Dirut karbitan, Agus, sebenarnya bukanlah ia tidak bisa bercerita tentang perusahaannya (mempresentasikan), tetapi ia menjadi “blank” karena dalam mind-set-nya ia sudah berpikir dan merasa bahwa, ia harus “berpidato dihadapan Bupati dan jajarannya”.

Saya yakin, kalau saja mind-set-nya bahwa ia cuma mau sharing tentang perusahaannya, pastilah ia tidak akan se-groggy itu dan apalagi sampai blank. Ngga percaya? coba aaja... (arm)

Tidak ada komentar: