08 Januari 2011

Boss is Always Right

oleh Andy Rustam

Dalam dunia usaha, pemeo yang saya jadikan judul tulisan ini, bukanlah bahan becandaan. Ini hal yang sangat serius, faktor terbesar yang berpengaruh pada performa perusahaan, dan lumrah terjadi. Umumnya, seorang Boss itu adalah orang yang memiliki modal. Lalu dengan modalnya itu, ia meng-hire (mempekerjakan) para profesional atau orang-orang yang ahli di bidangnya untuk bekerja di perusahaannya. Artinya, dengan mempekerjakan para profesional sebenarnya tersirat pengakuan, bahwa si Boss membutuhkan keahlian mereka. Tetapi lucunya, seringkali malah si Boss justru tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh si profesional anak buahnya itu. Malah si Boss bilang, “Dia khan makan gaji dari saya. Jadi dia yang harus dengar omongan saya dong”.

Di bawah ini sederetan kasus yang sering dialami. Paling tidak, hal ini sering terjadi pada saya selaku anak-buah. Bener-bener ngeselin:

Ngeselin I

Waktu kita diminta membuat plan (rencana kerja tahunan) dan target-target-nya, maka si Boss akan bilang, “Waduuh kekecilan tuh target-nya. Kapan baliknya tuh duit modal saya kalau seperti itu”. Lalu dia minta kita besarin target. Padahal kita sendiri udah nggak yakin sama angka yang ”dipaksain” si Boss. Masalahnya, di dalam kepalanya si Boss, kita itu dianggapnya sengaja mengecil-ngecilkan target supaya kerjanya gampang. Sesungguhnya, kita membuat target itu berdasarkan asumsi-asumsi yang kita yakini, karena kita lebih mengetahui situasi di lapangan, bukan? Tapiii... si Boss nggak percaya sama kita, pegawainya sendiri! Padahal kalau dia sudah nggak percaya sama kita, buat apa dong dia mempekerjakan kita jadi karyawannya? Kenapa ngga diberhentikan saja? Jawabannya ada di...

Ngeselin II

Si Boss ngga mau memberhentikan kita, karena pertama dia keberatan untuk membayar pesangon kita. Kalau bisa, dia ingin kita yang mengundurkan diri, supaya ngga bayar pesangon. Atau dia tidak mau memberhentikan kita karena belum ada orang pengganti. Mencari pegawai, apalagi yang cocok dan baik kerjanya tidak mudah juga. Jadi di sinilah nasib kita jadi terkatung-katung. Karena kita tidak lagi akan bisa meningkat karirnya ataupun gajinya, di sisi lain kita juga tidak diberhentikan. Ibaratnya, pengangguran yang tidak kentara. Sering kita dijadikan sasaran tembak, dicari-cari kesalahan supaya kita ngga betah, dengan harapan kita akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan.

Ngeselin III

Ketika rencana kerja sudah jadi dan sudah di-approved oleh si Boss, maka mulailah kita bekerja sesuai rencana tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Baru kita melakukan tahap-tahap awal implementasi rencana kerja, tiba-tiba si Boss datang dengan ”idee-idee cemerlang”. Dia menyuruh kita merubah rencana kerja kita dan memasukkan idee-idee cemerlangnya. Padahal kita sebagai orang lapangan, yang belajar, yang sekolah khusus untuk itu, dan punya sederetan pengalaman, mengetahui bahwa idee cemerlang si Boss itu adalah idee yang mungkin bagus untuk bidang usaha lain (atau media lain) tetapi tidak tepat untuk bidang usaha ini. Kita sampaikan ini kepada si Boss, tetapi si Boss malah marah dan bilang kita tidak kreatif. Maka terpaksa kita masukkan juga idee si Boss.

Ngeselin IV

Ada juga Boss yang kedatangan kreatifitas setelah melihat kompetitor (pesaingnya) berhasil melakukan sesuatu. Dia tiba-tiba menyuruh kita (di luar rencana, di pertengahan tahun) untuk membuat acara yang sama, tapi dirubah-rubah sedikit. Supaya kreatifitas si Boss tidak dibilang kreatifitas nyuri. Misalnya, dia melihat bahwa pesaingnya sukses setelah membuat acara Lomba Nyanyi, maka tiba-tiba dia menyuruh kita untuk membuat acara Lomba Nyanyi dengan Gaya. Kita sebagai anak buahnya sampe maluuu... deh, karena jelas-jelas nyuri, tapi si Boss malah bangga.

Kalau kita yang mengusulkan idee, maka jangan harap si Boss akan menyetujui. Sudah sering terjadi, apapun idee yang datang dari kita, maka si Boss akan bilang bahwa idee kita itu kurang bagus. Lalu kalau kita tanya, ”Boss, jadi idee yang bagaimana dong Boss, yang bagus itu?”. Maka si Boss akan bilang, ”Wah, kamu bagaimana sih? Itu khan tugas kamu untuk memikirkan idee, bukan tugas saya dong!”

Ngeselin V

Ketika nanti di akhir tahun ternyata perusahaan tidak mencapai target, maka dia akan menyalahkan kita dengan mengatakan kita tidak berusaha cukup keras. Padahal penyebab utamanya, adalah kita tak punya cukup waktu untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan, karena si Boss selalu berubah-ubah atau bahkan mengacak-mengacak rencana kerja yang sudah di-approved-nya (disetujuinya) sendiri. Selain itu, idee-idee cemerlang si Boss adalah idee yang sejak awal sudah kita sampaikan bahwa, idee tersebut kurang tepat untuk bisnis kita. Maka terjadi argumen.

Si Boss tetap akan menyalahkan kita dengan alasan lain, ”Ok kalau penjualan atau pendapatan tidak tercapai targetnya, tetapi kenapa tidak dilakukan penghematan ongkos?” Kita jawab, bahwa penghematan ongkos sudah kita lakukan juga, tetapi penyebab kenaikan biaya ini bukan karena aktifitas yang tidak perlu, melainkan karena Harga BBM, Tarif Listrik dan Harga Dollar yang meningkat. Kalau kita lihat, pos biaya pegawai sebenarnya hanya meningkat sedikit. Itupun dikarenakan ada penambahan satu orang pegawai baru, dan kenaikan uang transport untuk menyesuaikan dengan tarif angkutan yang sekarang berlaku. Dari biaya pos aktifitas, terlihat bahwa kenaikan besar justru karena kita ”harus" melaksanakan idee-idee cemerlang si Boss.

Ada yang perlu dicatat, di saat-saat seperti ini, biasanya ada saja anak–buah bersifat penjilat, yang mengambil kesempatan untuk ikut-ikut menyalahkan kita dan membela si Boss. Tepatnya car-muk (cari muka). Tujuannya tidak lain supaya si penjilat bisa naik pangkat/gaji.

Ngeselin VI

Bagaimana kalau di akhir tahun ternyata semua ”on target atau bahkan over target?” akan bergembirakah si Boss? Ternyata tidak!!! Dia bahkan akan menyalahkan kita lagi dengan bertanya, ”Kok ini pencapaiannya bisa melebihi target?” Lalu dengan bangga kita menjawab, ”Iya Boss, saya dan anak buah sudah pada kerja keras Boss... siang malam... makanya bisa melebihi target, Boss. Jadi Boss, tahun ini kita dikasih bonus dong, double ya, Boss?”.

Si Boss akan menjawab dengan wajah heran, ”Ah gimana kamu? minta bonus. Ini bukan oleh karena kamu yang kerjanya bagus, sehingga bisa melebih target. Ini karena memang teman saya, yang saya mintain tolong di pertengahan tahun, ternyata di tiga bulan terakhir memberikan order besar. Makanya bisa melebihi target.” Dengan jawaban seperti itu, kita masih ngotot, ”Yaa nggak gitu... Boss. Walaupun ordernya datang dari teman Boss, tetapi tetap saja yang kerja melaksanakannya khan kita-kita, Boss...”. Si Boss menjawab lagi, ”Yaaa kalau itu siiih, memang sudah menjadi tugas kamu. Kamu khan sudah digaji untuk itu setiap bulan. Selain itu, kamu juga tuh yang salaah... ketika membikin target-nya di awal tahun terlalu kecil siiih..!”.

Matek aku... (arm)

Tidak ada komentar: