oleh Andy Rustam
Dekade 70-an di Indonesia, boleh jadi merupakan zaman keemasan-nya TVRI. Tentu saja karena TVRI merupakan satu-satunya media televisi. Pada zaman itu, kalau sudah menjadi penyiar televisi, jarang ada orang yang tidak mengenalnya. Salah satu penyiar TVRI yang paling populer adalah Anita Rahman. Wajahnya cantik, apalagi kalau sudah tampil dengan kebaya, suaranya juga bagus dan gaya bicaranya menyenangkan. Ini menyebabkan ia terlihat berbeda dari penyiar-penyiar lainnya.
Tetapi beberapa tahun kemudian, lama-kelamaan, hampir semua penyiar wanita di TVRI, tampil dengan gaya bicara meniru Anita Rahman. Saya pikir kok jadi begini ya? Ternyata baru saya ketahui belakangan bahwa ketika itu semua penyiar wanita, oleh pimpinan TVRI, diberikan rekaman video siaran Anita Rahman, dan diwajibkan untuk meniru semirip mungkin gaya siaran / gaya bicara Anita Rahman. Akibatnya, bagi pemirsa, penyiar-penyiar lain yang diwajibkan berusaha meniru, tidak pernah bisa terdengar sebagus Anita Rahman asli. Malah terasa ada ketidak-wajaran karena tidak sesuai dengan kepribadian si penyiar itu sendiri.
Peniruan Wajib
Sampai sekarang cara “wajib tiru” masih terjadi di stasiun televisi swasta dan di radio-radio swasta. Masih ingat bagaimana gaya bicara Desi Anwar (RCTI – 90-an) ditiru banyak penyiar wanita lainnya. Ternyata memang “tutor”-nya yang melatih seperti itu. Juga di radio, dimana mantan penyiar Prambors (radio kawula muda) menjadi pimpinan di sebuah stasiun radio yang pendengarnya bukan anak muda, tetap saja si pimpinan ex Prambors itu mewajibkan semua penyiar-penyiarnya meniru gaya siaran dia sewaktu jadi penyiar di radio Prambors. Ini kesalahan lumrah yang sering terjadi. Jadi, karena telinga Anda sejak remaja sampai dewasa sudah terbiasa dengan gaya siaran radio tertentu (misalnya: Prambors), maka Anda menganggap bahwa siaran yang bagus dan benar adalah seperti yang sudah menjadi kebiasaan telinga Anda tadi.
Karena setiap week-end kita menonton presenter kuis sepakbola di TV swasta dengan gayanya yang (disuruh) kecentilan seperti petasan injek (ha.ha.ha) dan gaya bicaranya yang nyerocos sehingga tak jelas ditangkap telinga, maka ketika ada yang melamar jadi presenter kuis sepakbola, para tutor / crew di stasiun TV tersebut mewajibkan gaya siaran dan gaya bicara seperti itu pula. “begitu yang bagus, begitu dong harus sexy”, katanya. Yaaa... kebetulan juga sih ada presenter dengan gaya begitu, jadi saya bisa pergi ke wc dulu atau sempat bikin kopi utk menonton lanjutan pertandingan.
Maka tidak heranlah, gaya siaran yang hampir sama dan terkesan dibikin-bikin itulah yang mewabah hampir di semua radio dan televisi kita.
Sukakah Publik?
Ketika TVRI hanya satu-satunya stasiun televisi, telinga publik sudah terbiasa dengan gaya siaran penyiar TVRI ala Anita Rahman. Lalu dikarenakan publik tidak memiliki pilihan lain, setiap hari dijejali yang seperti itu, terbentuklah selera yang seperti itu pula. Jadi selera publik itu sebenarnya bentukan “stasiun tv/radio itu sendiri”. Bukan karena mereka suka dengan sendirinya, melainkan karena kebiasaan. Jadi, kalau ada seorang boss mantan penyiar radio tertentu, mewajibkan penyiarnya siaran dengan gaya siaran ala radionya dulu, dengan alasan publik (atau dia sendiri) menyukainya, sebenarnya itu pendapat yang keliru. Itu karena telinganya sudah dibiasakan begitu. Padahal secara alamiah, otak manusia selalu lebih peka mendeteksi seseuatu yang berbeda. Dan kalau yang berbeda itu bagus, maka dia akan menempel di otak dan menjadi “idola” baru.
Bukankah justru karena Anita Rahman berbeda, karena Olan Sitompul berbeda (penyiar berita RRI th 60/70-an), karena penyiar olah-raga TVRI ’70-an Bung Sambas berbeda, karena Desi Anwar berbeda, karena Kang Ebet Kadarusman berbeda, maka ia menonjol di mata publik pada jamannya? Apa yang membedakan? Mereka mempunyai ”jiwa” ketika bersiaran, karena teknik siaran ditambah kepribadiannya telah menyatu dengan penampilannya.
Maka jelas, pendapat bahwa publik menyukai penyiar yang sama semua, yang mirip semua gaya siarannya, adalah keliru. Peniruan (copy cat) gaya siaran dan gaya bicara, yang mengacu pada seseorang adalah suatu kesalahan.
Publik menyukai seorang penyiar, karena penyiar itu memang baik, cerdas, sopan, enak di telinga, enak di lihat, dan terutama mempunyai karakter yang ”berbeda” dari yang lain!
Kepribadian
Ada yang berpendapat bahwa penyiar di suatu stasiun harus sama semua, supaya ada cirinya. Pendapat ini ada benar dan ada salahnya. Artinya, kalau arti dari kesamaan itu ada pada ”teknik dan teknis (technicalities)”, maka pendapat itu benar. Tetapi kalau kesamaan itu diartikan agar tak ada bedanya antara satu penyiar dengan penyiar lain, maka hal ini yang salah. Mengapa?
Pertama, karena kepribadian setiap orang (penyiar) itu berbeda-beda, sehingga tidak akan optimal apabila ia ”dipaksa” menjadi orang lain. Akibatnya akan terjadi ketidak-wajaran.
Kedua, tentu saja publik tidak akan tahu apa sebabnya, tetapi mereka bisa merasakan. Sehingga yang mereka cuma tahu bahwa penyiar ini ”tidak enak atau ada sesuatu yang ngga pas”. Artinya, kalau seluruh penyiar hanya merupakan peniruan dari satu orang penyiar orisinil yang dianggap bagus, maka yang betul-betul akan enak bagi publik hanyalah penyiar yang orisinil. Padahal jadual siaran penyiar orisinil mungkin hanya 2 jam per hari. Sisa 22 jam berikutnya akan diisi oleh penyiar-penyiar yang terdengar tidak wajar di telinga publik (walaupun sudah berusaha maksimal meniru penyiar orisinil), bukan?
Oleh karena itu, dalam melatih penyiar atau kalau ingin belajar menjadi penyiar, yang harus dikuatkan adalah ”technique and technicalaties”. Sehingga apabila teknik & teknis ini sudah dikuasai dengan baik, si penyiar bisa mengembangkan ”style”-nya sendiri sesuai kepribadiannya. Namun eksekusinya harus dilaksanakan dengan teknik & teknis yang benar. Hanya dengan begini ia akan menjadi penyiar yang baik dan tampil wajar tapi unik.
Saya selalu memakai analogi seperti orang belajar menyetir mobil. Semua orang yang belajar menyetir mobil, selalu diajarkan teknik yang sama, yaitu: injek kopling, masuk persneling satu, lalu lepas kopling setengah dulu, injek gas perlahan, lalu pelan-pelan lepaskan kopling secara keseluruhan sambil gas ditambah.
Tetapi ketika kita semua sudah bisa menyetir mobil, maka ada yang berkembang gaya menyetirnya seperti supir bis-malam antar kota, ada yang seperti supir taksi dan ada pula yang seperti gaya supir kedutaan. Nah ini dia yang saya maksudkan. Kita semua belajar teknik dan teknis cara menyupir yang sama, tetapi kepribadian kita-lah yang membentuk gaya menyupir ugal-ugalan, atau gaya menyupir santai atau gaya menyupir rapih dan teratur. Tinggal nanti penumpang yang akan menilai, style menyupir yang-manakah yang paling disukainya. (arm)
Dekade 70-an di Indonesia, boleh jadi merupakan zaman keemasan-nya TVRI. Tentu saja karena TVRI merupakan satu-satunya media televisi. Pada zaman itu, kalau sudah menjadi penyiar televisi, jarang ada orang yang tidak mengenalnya. Salah satu penyiar TVRI yang paling populer adalah Anita Rahman. Wajahnya cantik, apalagi kalau sudah tampil dengan kebaya, suaranya juga bagus dan gaya bicaranya menyenangkan. Ini menyebabkan ia terlihat berbeda dari penyiar-penyiar lainnya.
Tetapi beberapa tahun kemudian, lama-kelamaan, hampir semua penyiar wanita di TVRI, tampil dengan gaya bicara meniru Anita Rahman. Saya pikir kok jadi begini ya? Ternyata baru saya ketahui belakangan bahwa ketika itu semua penyiar wanita, oleh pimpinan TVRI, diberikan rekaman video siaran Anita Rahman, dan diwajibkan untuk meniru semirip mungkin gaya siaran / gaya bicara Anita Rahman. Akibatnya, bagi pemirsa, penyiar-penyiar lain yang diwajibkan berusaha meniru, tidak pernah bisa terdengar sebagus Anita Rahman asli. Malah terasa ada ketidak-wajaran karena tidak sesuai dengan kepribadian si penyiar itu sendiri.
Peniruan Wajib
Sampai sekarang cara “wajib tiru” masih terjadi di stasiun televisi swasta dan di radio-radio swasta. Masih ingat bagaimana gaya bicara Desi Anwar (RCTI – 90-an) ditiru banyak penyiar wanita lainnya. Ternyata memang “tutor”-nya yang melatih seperti itu. Juga di radio, dimana mantan penyiar Prambors (radio kawula muda) menjadi pimpinan di sebuah stasiun radio yang pendengarnya bukan anak muda, tetap saja si pimpinan ex Prambors itu mewajibkan semua penyiar-penyiarnya meniru gaya siaran dia sewaktu jadi penyiar di radio Prambors. Ini kesalahan lumrah yang sering terjadi. Jadi, karena telinga Anda sejak remaja sampai dewasa sudah terbiasa dengan gaya siaran radio tertentu (misalnya: Prambors), maka Anda menganggap bahwa siaran yang bagus dan benar adalah seperti yang sudah menjadi kebiasaan telinga Anda tadi.
Karena setiap week-end kita menonton presenter kuis sepakbola di TV swasta dengan gayanya yang (disuruh) kecentilan seperti petasan injek (ha.ha.ha) dan gaya bicaranya yang nyerocos sehingga tak jelas ditangkap telinga, maka ketika ada yang melamar jadi presenter kuis sepakbola, para tutor / crew di stasiun TV tersebut mewajibkan gaya siaran dan gaya bicara seperti itu pula. “begitu yang bagus, begitu dong harus sexy”, katanya. Yaaa... kebetulan juga sih ada presenter dengan gaya begitu, jadi saya bisa pergi ke wc dulu atau sempat bikin kopi utk menonton lanjutan pertandingan.
Maka tidak heranlah, gaya siaran yang hampir sama dan terkesan dibikin-bikin itulah yang mewabah hampir di semua radio dan televisi kita.
Sukakah Publik?
Ketika TVRI hanya satu-satunya stasiun televisi, telinga publik sudah terbiasa dengan gaya siaran penyiar TVRI ala Anita Rahman. Lalu dikarenakan publik tidak memiliki pilihan lain, setiap hari dijejali yang seperti itu, terbentuklah selera yang seperti itu pula. Jadi selera publik itu sebenarnya bentukan “stasiun tv/radio itu sendiri”. Bukan karena mereka suka dengan sendirinya, melainkan karena kebiasaan. Jadi, kalau ada seorang boss mantan penyiar radio tertentu, mewajibkan penyiarnya siaran dengan gaya siaran ala radionya dulu, dengan alasan publik (atau dia sendiri) menyukainya, sebenarnya itu pendapat yang keliru. Itu karena telinganya sudah dibiasakan begitu. Padahal secara alamiah, otak manusia selalu lebih peka mendeteksi seseuatu yang berbeda. Dan kalau yang berbeda itu bagus, maka dia akan menempel di otak dan menjadi “idola” baru.
Bukankah justru karena Anita Rahman berbeda, karena Olan Sitompul berbeda (penyiar berita RRI th 60/70-an), karena penyiar olah-raga TVRI ’70-an Bung Sambas berbeda, karena Desi Anwar berbeda, karena Kang Ebet Kadarusman berbeda, maka ia menonjol di mata publik pada jamannya? Apa yang membedakan? Mereka mempunyai ”jiwa” ketika bersiaran, karena teknik siaran ditambah kepribadiannya telah menyatu dengan penampilannya.
Maka jelas, pendapat bahwa publik menyukai penyiar yang sama semua, yang mirip semua gaya siarannya, adalah keliru. Peniruan (copy cat) gaya siaran dan gaya bicara, yang mengacu pada seseorang adalah suatu kesalahan.
Publik menyukai seorang penyiar, karena penyiar itu memang baik, cerdas, sopan, enak di telinga, enak di lihat, dan terutama mempunyai karakter yang ”berbeda” dari yang lain!
Kepribadian
Ada yang berpendapat bahwa penyiar di suatu stasiun harus sama semua, supaya ada cirinya. Pendapat ini ada benar dan ada salahnya. Artinya, kalau arti dari kesamaan itu ada pada ”teknik dan teknis (technicalities)”, maka pendapat itu benar. Tetapi kalau kesamaan itu diartikan agar tak ada bedanya antara satu penyiar dengan penyiar lain, maka hal ini yang salah. Mengapa?
Pertama, karena kepribadian setiap orang (penyiar) itu berbeda-beda, sehingga tidak akan optimal apabila ia ”dipaksa” menjadi orang lain. Akibatnya akan terjadi ketidak-wajaran.
Kedua, tentu saja publik tidak akan tahu apa sebabnya, tetapi mereka bisa merasakan. Sehingga yang mereka cuma tahu bahwa penyiar ini ”tidak enak atau ada sesuatu yang ngga pas”. Artinya, kalau seluruh penyiar hanya merupakan peniruan dari satu orang penyiar orisinil yang dianggap bagus, maka yang betul-betul akan enak bagi publik hanyalah penyiar yang orisinil. Padahal jadual siaran penyiar orisinil mungkin hanya 2 jam per hari. Sisa 22 jam berikutnya akan diisi oleh penyiar-penyiar yang terdengar tidak wajar di telinga publik (walaupun sudah berusaha maksimal meniru penyiar orisinil), bukan?
Oleh karena itu, dalam melatih penyiar atau kalau ingin belajar menjadi penyiar, yang harus dikuatkan adalah ”technique and technicalaties”. Sehingga apabila teknik & teknis ini sudah dikuasai dengan baik, si penyiar bisa mengembangkan ”style”-nya sendiri sesuai kepribadiannya. Namun eksekusinya harus dilaksanakan dengan teknik & teknis yang benar. Hanya dengan begini ia akan menjadi penyiar yang baik dan tampil wajar tapi unik.
Saya selalu memakai analogi seperti orang belajar menyetir mobil. Semua orang yang belajar menyetir mobil, selalu diajarkan teknik yang sama, yaitu: injek kopling, masuk persneling satu, lalu lepas kopling setengah dulu, injek gas perlahan, lalu pelan-pelan lepaskan kopling secara keseluruhan sambil gas ditambah.
Tetapi ketika kita semua sudah bisa menyetir mobil, maka ada yang berkembang gaya menyetirnya seperti supir bis-malam antar kota, ada yang seperti supir taksi dan ada pula yang seperti gaya supir kedutaan. Nah ini dia yang saya maksudkan. Kita semua belajar teknik dan teknis cara menyupir yang sama, tetapi kepribadian kita-lah yang membentuk gaya menyupir ugal-ugalan, atau gaya menyupir santai atau gaya menyupir rapih dan teratur. Tinggal nanti penumpang yang akan menilai, style menyupir yang-manakah yang paling disukainya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar