oleh Andy Rustam
Mengikuti siaran televisi liputan “live” jalannya prosesi pernikahan pangeran Kerajaan Inggris William dengan Kate melalui CNN, saya sangat kagum dengan cara peliputannya. Baik dari sisi peletakkan kamera dan cara kerja orang-orang pada meja switching board, lighting, sudut pengambilan, sound dan terutama bagaimana cara reporter memberikan uraiannya. Mereka tidak hanya ngomong dikarenakan harus ngomong (daripada sepi, seperti yang sering dilakukan oleh para reporter televisi kita sehingga sering mengulang-ulang omongannya), melainkan mereka seperti mampu membaca apa yang ada di dalam pikiran penonton TV. Uraian dari para reporter tersebut sungguh mampu menggiring minat kita, karena seolah-olah mereka sudah mengetahui apa yang ingin kita ketahui. Cara mereka berbicara pun tenang, tidak tergesa-gesa, dalam nada-nada bicara seperti mereka sedang mendongengkan sebuah cerita kepada pemirsa.
Mendongeng
Mungkin anak-anak jaman sekarang tidak pernah mengalami apa yang dulu selalu dilakukan ibu saya kepada saya ketika masih kecil. Walaupun saya belum bisa membaca, ibu telah membelikan buku dengan gambar yang besar dan sedikit tulisan cerita di bawahnya. Judulnya saya masih ingat a.l: “Rumah si Bonang”; “Si Beber bermain musik” dan beberapa lagi saya sudah lupa. Hampir setiap malam sebelum tidur, ibu selalu mendongengkan cerita-cerita dari buku-buku tersebut dalam kata-katanya sendiri, dan bukan dengan membacakan tulisannya. Setiap susunan kalimat, cara bicara yang tenang dan nada yang diucapkannya, seolah-olah seperti ibu saya tahu betul apa yang ingin saya dengar dari mulutnya. Kadang-kadang ia tirukan bunyi burung hantu, ataupun suara angin.
Hampir semua tingkat pendidikan sekolah dasar di jaman dahulu ketika kelas 1 atau kelas 2, ada kewajiban untuk setiap murid pada hari Senin, maju di depan kelas bercerita sedikit tentang apa yang dilakukannya pada hari Minggu. Mendengar cerita dan bercerita, mendengar dongeng dan mendongeng, sudah tertanam sejak kecil.
Menurut saya, hal inilah yang menyebabkan orang-orang Indonesia pada generasi jadul pandai mengungkapkan pikirannya dalam kata-kata secara lebih pas dan teratur. Cara berpikirnya pun jadi sangat terstruktur, sehingga apa yang diucapkannya tersusun secara sistematis dan mudah diikuti.
Mata Pelajaran “mendongeng” seperti yang pernah ada di Indonesia di tingkat sekolah dasar pada era tahun 1950’an – 1960’an, sampai saat ini masih tetap diadakan di sekolah-sekolah kindergarten maupun elementary school di Eropa dan Amerika Serikat.
Mungkin itu salah satu sebabnya orang biasa saja di Amerika terdengar pinter ngomongnya. Kalau kita lihat reporter CNN meng-interview orang-orang biasa di pinggir jalan (voxpop), si orang biasa ini pun terkesan cukup pandai berbicara dengan baik dalam mengungkapkan opini-nya. Mereka bercerita seperti mendongeng. Bukankah semua orang senang didongengin?
Tetapi coba bandingkan dengan seorang hadirin yang di-wawancarai reporter televisi kita ketika baru saja selesai menonton sebuah konser musik di Jakarta. Cara memberikan jawabannya seperti susah sekali untuk berbicara dengan baik menjelaskan apa yang ia rasakan dan alami.
Contoh:
Reporter TV: “Apa kesan Anda setelah menonton konser ini ?“
Penonton Konser: “Yaa... menurut saya... ya gimanaaa yaaa... ya pokoknya bikin kita gimanaaa gitu loh“.
Apakah juga Anda perhatikan, bagaimana kamerawan-kamerawan CNN mengambil gambar? Kita seolah-olah diajak melihat Photography Exhibition. Sudut pengambilan yang bagus, tata cahaya yang lembut, pengambilan moment-moment penting. Saya sampai berpikir, di mana saja sih kamera-kamera itu diletakkan? Dalam soal gambar, lagi-lagi gambar yang disajikan seperti mereka sudah tahu apa yang ada dalam pikiran penonton. Seolah-olah mereka tahu bahwa penonton pasti ingin melihat ini atau itu. Misal, ketika pemasangan cincin perkawinan, kamera langsung men-zoom dan fokus pada jari tangannya Kate yang sedang dipasangi cincin.
Bandingkan dengan pengambilan gambar oleh kamerawan kita ketika, misalnya, sedang dalam siaran acara memasak. Sewaktu si juru masak sedang menjelaskan cara mengolah masakannya, si kamerawan bukannya fokus zoom kepada tangan si juru masak yang sedang mengolah bahan makanan, tetapi malah fokus ke wajah pembawa acara dan wajah si jurumasak. Kamerawan, juga termasuk sutradara acara di televisi kita, kelihatannya belum bisa / tidak bisa memahami jalan pikiran pemirsa. Mereka tak bisa menduga, sebenarnya apa sih yang ingin dilihat oleh pemirsa?
Menebak Pikiran Pemirsa / Pendengar
Sepanjang pengalaman saya dalam memberikan training / pelatihan, pelajaran tersulit yang paling membutuhkan banyak latihan berulang-ulang, adalah bahagian “menebak” pikiran pemirsa / pendengar.
Padahal sebenarnya hal itu tidaklah terlalu sulit. Sebab apa yang ingin dilihat dan didengar oleh mereka, datangnya juga dari informasi yang kita berikan sebelumnya. Dengan perkataan lain, apa yang ingin didengar atau dilihat oleh mereka, sebenarnya datang dikarenakan adanya informasi macam apa yang sudah mereka terima sebelumnya.
Maksudnya begini,
Kalau yang sudah kita berikan sebelumnya kepada penonton TV adalah informasi dalam tayangan gambar, misal berupa gambar api yang sedang membakar sebuah gedung bertingkat selama 5 detik, maka sudah pasti informasi gambar ini akan mengundang rasa ingin tahu pemirsa. Jadi kita langsung sudah bisa menebak sekarang bahwa keinginan pemirsa adalah mendapatkan informasi selanjutnya, yaitu: Ini kebakaran apa? Terjadinya di mana? Penyebabnya apa? dst. dst. Oleh karena itu, gambar berikutnya yang harus ditayangkan berurutan adalah gambar yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Informasi sebelumnya itu bisa juga bukan dalam bentuk gambar, tetapi narasi dari si reporter.Tentu saja maka narasi tersebut harus diikuti dengan gambar / footage yang sesuai dengan “tebakan” kita tentang apa yang diinginkan pemirsa.
Demonstrasi cara menyajikan tayangan reportase seperti inilah yang telah ditayangkan oleh CNN dalam siaran Live Royal Wedding Prince William & Kate.
Ketika kamera memperlihatkan pakaian mempelai wanita yang menjuntai, maka gambar berikutnya langsung close-up pada wajah si Kate, sehingga jelas terlihat tata rambut dan tata rias wajahnya, lalu disambung lagi dengan gambar yang memperlihatkan siapa si pemegang ujung terakhir dari juntaian pakaian mempelai wanita. Ternyata seorang wanita cantik pula. Pada saat yang bersamaan si reporter menjelaskan siapa wanita tersebut (adik dari Kate Middleton, Pippa Charlotte). Segala yang ingin diketahui / dilihat langsung tersaji.
Semua gambar-gambar dan juga narasi yang disajikan, rangkai-merangkai sangat enak untuk diikuti... Rasanya persis seperti ketika saya dulu didongengin oleh ibu sebelum tidur. (arm)
Mengikuti siaran televisi liputan “live” jalannya prosesi pernikahan pangeran Kerajaan Inggris William dengan Kate melalui CNN, saya sangat kagum dengan cara peliputannya. Baik dari sisi peletakkan kamera dan cara kerja orang-orang pada meja switching board, lighting, sudut pengambilan, sound dan terutama bagaimana cara reporter memberikan uraiannya. Mereka tidak hanya ngomong dikarenakan harus ngomong (daripada sepi, seperti yang sering dilakukan oleh para reporter televisi kita sehingga sering mengulang-ulang omongannya), melainkan mereka seperti mampu membaca apa yang ada di dalam pikiran penonton TV. Uraian dari para reporter tersebut sungguh mampu menggiring minat kita, karena seolah-olah mereka sudah mengetahui apa yang ingin kita ketahui. Cara mereka berbicara pun tenang, tidak tergesa-gesa, dalam nada-nada bicara seperti mereka sedang mendongengkan sebuah cerita kepada pemirsa.
Mendongeng
Mungkin anak-anak jaman sekarang tidak pernah mengalami apa yang dulu selalu dilakukan ibu saya kepada saya ketika masih kecil. Walaupun saya belum bisa membaca, ibu telah membelikan buku dengan gambar yang besar dan sedikit tulisan cerita di bawahnya. Judulnya saya masih ingat a.l: “Rumah si Bonang”; “Si Beber bermain musik” dan beberapa lagi saya sudah lupa. Hampir setiap malam sebelum tidur, ibu selalu mendongengkan cerita-cerita dari buku-buku tersebut dalam kata-katanya sendiri, dan bukan dengan membacakan tulisannya. Setiap susunan kalimat, cara bicara yang tenang dan nada yang diucapkannya, seolah-olah seperti ibu saya tahu betul apa yang ingin saya dengar dari mulutnya. Kadang-kadang ia tirukan bunyi burung hantu, ataupun suara angin.
Hampir semua tingkat pendidikan sekolah dasar di jaman dahulu ketika kelas 1 atau kelas 2, ada kewajiban untuk setiap murid pada hari Senin, maju di depan kelas bercerita sedikit tentang apa yang dilakukannya pada hari Minggu. Mendengar cerita dan bercerita, mendengar dongeng dan mendongeng, sudah tertanam sejak kecil.
Menurut saya, hal inilah yang menyebabkan orang-orang Indonesia pada generasi jadul pandai mengungkapkan pikirannya dalam kata-kata secara lebih pas dan teratur. Cara berpikirnya pun jadi sangat terstruktur, sehingga apa yang diucapkannya tersusun secara sistematis dan mudah diikuti.
Mata Pelajaran “mendongeng” seperti yang pernah ada di Indonesia di tingkat sekolah dasar pada era tahun 1950’an – 1960’an, sampai saat ini masih tetap diadakan di sekolah-sekolah kindergarten maupun elementary school di Eropa dan Amerika Serikat.
Mungkin itu salah satu sebabnya orang biasa saja di Amerika terdengar pinter ngomongnya. Kalau kita lihat reporter CNN meng-interview orang-orang biasa di pinggir jalan (voxpop), si orang biasa ini pun terkesan cukup pandai berbicara dengan baik dalam mengungkapkan opini-nya. Mereka bercerita seperti mendongeng. Bukankah semua orang senang didongengin?
Tetapi coba bandingkan dengan seorang hadirin yang di-wawancarai reporter televisi kita ketika baru saja selesai menonton sebuah konser musik di Jakarta. Cara memberikan jawabannya seperti susah sekali untuk berbicara dengan baik menjelaskan apa yang ia rasakan dan alami.
Contoh:
Reporter TV: “Apa kesan Anda setelah menonton konser ini ?“
Penonton Konser: “Yaa... menurut saya... ya gimanaaa yaaa... ya pokoknya bikin kita gimanaaa gitu loh“.
Apakah juga Anda perhatikan, bagaimana kamerawan-kamerawan CNN mengambil gambar? Kita seolah-olah diajak melihat Photography Exhibition. Sudut pengambilan yang bagus, tata cahaya yang lembut, pengambilan moment-moment penting. Saya sampai berpikir, di mana saja sih kamera-kamera itu diletakkan? Dalam soal gambar, lagi-lagi gambar yang disajikan seperti mereka sudah tahu apa yang ada dalam pikiran penonton. Seolah-olah mereka tahu bahwa penonton pasti ingin melihat ini atau itu. Misal, ketika pemasangan cincin perkawinan, kamera langsung men-zoom dan fokus pada jari tangannya Kate yang sedang dipasangi cincin.
Bandingkan dengan pengambilan gambar oleh kamerawan kita ketika, misalnya, sedang dalam siaran acara memasak. Sewaktu si juru masak sedang menjelaskan cara mengolah masakannya, si kamerawan bukannya fokus zoom kepada tangan si juru masak yang sedang mengolah bahan makanan, tetapi malah fokus ke wajah pembawa acara dan wajah si jurumasak. Kamerawan, juga termasuk sutradara acara di televisi kita, kelihatannya belum bisa / tidak bisa memahami jalan pikiran pemirsa. Mereka tak bisa menduga, sebenarnya apa sih yang ingin dilihat oleh pemirsa?
Menebak Pikiran Pemirsa / Pendengar
Sepanjang pengalaman saya dalam memberikan training / pelatihan, pelajaran tersulit yang paling membutuhkan banyak latihan berulang-ulang, adalah bahagian “menebak” pikiran pemirsa / pendengar.
Padahal sebenarnya hal itu tidaklah terlalu sulit. Sebab apa yang ingin dilihat dan didengar oleh mereka, datangnya juga dari informasi yang kita berikan sebelumnya. Dengan perkataan lain, apa yang ingin didengar atau dilihat oleh mereka, sebenarnya datang dikarenakan adanya informasi macam apa yang sudah mereka terima sebelumnya.
Maksudnya begini,
Kalau yang sudah kita berikan sebelumnya kepada penonton TV adalah informasi dalam tayangan gambar, misal berupa gambar api yang sedang membakar sebuah gedung bertingkat selama 5 detik, maka sudah pasti informasi gambar ini akan mengundang rasa ingin tahu pemirsa. Jadi kita langsung sudah bisa menebak sekarang bahwa keinginan pemirsa adalah mendapatkan informasi selanjutnya, yaitu: Ini kebakaran apa? Terjadinya di mana? Penyebabnya apa? dst. dst. Oleh karena itu, gambar berikutnya yang harus ditayangkan berurutan adalah gambar yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Informasi sebelumnya itu bisa juga bukan dalam bentuk gambar, tetapi narasi dari si reporter.Tentu saja maka narasi tersebut harus diikuti dengan gambar / footage yang sesuai dengan “tebakan” kita tentang apa yang diinginkan pemirsa.
Demonstrasi cara menyajikan tayangan reportase seperti inilah yang telah ditayangkan oleh CNN dalam siaran Live Royal Wedding Prince William & Kate.
Ketika kamera memperlihatkan pakaian mempelai wanita yang menjuntai, maka gambar berikutnya langsung close-up pada wajah si Kate, sehingga jelas terlihat tata rambut dan tata rias wajahnya, lalu disambung lagi dengan gambar yang memperlihatkan siapa si pemegang ujung terakhir dari juntaian pakaian mempelai wanita. Ternyata seorang wanita cantik pula. Pada saat yang bersamaan si reporter menjelaskan siapa wanita tersebut (adik dari Kate Middleton, Pippa Charlotte). Segala yang ingin diketahui / dilihat langsung tersaji.
Semua gambar-gambar dan juga narasi yang disajikan, rangkai-merangkai sangat enak untuk diikuti... Rasanya persis seperti ketika saya dulu didongengin oleh ibu sebelum tidur. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar