22 April 2011

Latih Cara Berkomunikasi

oleh Andy Rustam

Saya pernah bertanya kepada seorang guru musik (gitar) sbb., “Dalam waktu berapa lama mas Meianto bisa mengajari saya cara bermain gitar, sampai saya jadi mampu bermain gitar dengan lumayan laaah...“

Guru gitar tersebut, mas Meianto, menjawab, “dua jam“. Saya terheran-heran, “Mas, saya ini tidak bisa main gitar sama sekali...“ Ia menjawab lagi, “Iya dari nol, cukup dua jam“.

Kemudian ia menambahkan, “Saya mengajari Anda cukup dalam dua jam sudah selesai semua pengetahuan tentang cara bermain gitar, tapi bahwasanya apakah Anda menjadi bisa atau mampu memainkan gitar, itu sepenuhnya tergantung kemauan Anda melatih diri, sesuai petunjuk yang saya berikan“.

Menurut mas Meianto, yang tersulit dalam belajar main gitar adalah melenturkan jari-jari serta mengenali nada yang ditekan oleh jari tersebut. Hanya untuk bisa dan lumayan dalam hal yang ini saja, sudah membutuhkan waktu berminggu-minggu, itupun kalau latihannya setiap hari minimal 30 menit.

Aktifitas Komunikasi

Saya kira prinsip ini bukan hanya berlaku bagi kita yang mau belajar main gitar, tetapi bagi semua pelajaran apapun, termasuk pelajaran ketrampilan berkomunikasi. Misalnya, berbicara di depan umum. Semua ketrampilan haruslah diasah setiap hari.

Berbicara, baik itu berhadapan langsung dengan khalayak, atau melalui microphone di sebuah studio radio, atau pun melakukan presentasi di depan sekelompok kecil orang, atau bahkan berbicara hanya berdua dengan seseorang, semuanya memiliki prinsip-prinsip yang sama.

Prinsip yang sangat mendasar itu adalah komunikasi. Karena Anda sedang melakukan aktifitas komunikasi. Komunikasi sering dianggap hal mudah, dianggap sama saja seperti ngomong biasa. Kesalahan terbanyak yang dilakukan dalam berkomunikasi, termasuk oleh para penyiar atau pembawa acara: “Si Komunikator (penyiar atau pembawa acara) bukannya mengkomunikasikan pesan melainkan sekedar menyampaikan pesan saja, atau cuma ngeluarin uneg-uneg aja“.

Contoh I:
Dua orang Penyiar Radio (Dino & Asni) dalam membawakan acaranya bercakap-cakap sbb.:

A: “Din, setiap pagi mulai dari depan rumahku sampai simpangan RS Fatmawati, selalu macet parah, motor-motor... waah... udah pada saling serobot. Jalur arah berlawanan dipake juga. Justru jadi tambah macet.
D: “Iya tuh deket rumah aku juga begitu tuh, memang motor-motor tuh sangat egois. Padahal ada polisi loh disitu. Dia diam aja tuh.“
A: “Oo iya gitu ya, Din. Parah juga ya... Aku kalo lagi nyetir mobil suka sebel aja. Rasanya pingin marah tapi gak tau sama siapa ?“
D: “ He.he.he Sabar Asni. Daripada marah-marah kita dengerin lagu aja yu’..”

Nah, dari sini jelas sekali pendengar mendapat informasi bahwa di-tempat-tempat tertentu terjadi kemacetan lalu-lintas yang menjadi parah dikarenakan ulah pengendara sepeda motor. Tetapi cuma itu.. That’s it! Uneg-uneg doang! Masalahnya... terus apa? So what?

Komunikasi bukanlah hanya sekedar sebuah penyampaian pesan, tetapi juga memiliki tujuan. Sebuah komunikasi tanpa tujuan maka dia bukanlah sebuah proses komunikasi. Penyampaian pesan atau pun percakapan-percakapan yang tidak berkomunikasi inilah yang paling sering terdengar di televisi ataupun di radio sekarang ini. Disadari atau tidak, sebenarnya ini yang menjadi salah satu sebab orang “malas atau cepat bosan” mendengar acara-acara di radio atau menonton acara-acara di televisi. Karena omongannya “kosong”.

Kebiasaan yang “salah” dari kedua penyiar dalam contoh I diatas, tidak terkesan sebagai salah bukan? Cuma nanti jangan heran, setelah beberapa lama dijalankan, baru diketahui kok pendengar / pemirsa-nya tidak berkembang, ya? Lalu si stasiun mengganti penyiarnya atau bahkan mengganti acaranya, tetapi hal yang sama terjadi lagi. Karena penyebab utamanya kurang dipahami.

Padahal penyebab utamanya cuma satu, bahwa materi yang disiarkan tidak mampu berkomunikasi dengan publiknya.

Penyiar Harus Mampu Berkomunikasi

Biasanya di kebanyakan stasiun, selain berpenampilan menarik, salah satu hal yang mendukung untuk jadi penyiar adalah kalau orang itu bisa “nyerocos ngomongnya”. Padahal nyerocos, justru bisa merupakan salah satu kendala juga dalam berkomunikasi. Orang yang nyerocos, saking cepatnya, sering salah dalam meng-komunikasi-kan pesan, karena mulutnya bergerak lebih cepat dari otaknya.

Untuk merubah orang yang sudah bertahun-tahun memiliki cara bicara atau cara siaran seperti itu, akan susah sekali. Ibarat si guru gitar mas Meianto bilang, mungkin dibutuhkan waktu berminggu-minggu, sekedar untuk melemaskan jari-jari tangannya saja.

Artinya kalau kita ingin mahir berkomunikasi, hanya untuk melatih hal yang paling mendasar, yaitu membiasakan bagaimana otak kita berpikir fokus terhadap tujuan ketika melakukan aktivitas komunikasi, dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Persoalannya apakah kita merasa butuh atau tidak terhadap keterampilan berkomunikasi kita? Kalau merasa sangat butuh, pastilah kita akan rajin berlatih.

Mari kita kembali ke contoh kita si Dino dan Asni. Kali ini contoh yang benar. Misal: sebelum berbicara, otaknya si Dino & Asni sudah sama-sama di-stel bahwa tujuan percakapan ini nanti adalah agar rasa kesal pendengar terhadap pengendara sepeda-motor yang suka seenaknya, mendapatkan salurannya. Sebagai berikut:

Contoh II:

A: “Din, setiap pagi mulai dari depan rumahku sampai simpangan RS Fatmawati, selalu macet. Motor-motor.. waah.. udah pada saling serobot. Jalur arah berlawanan dipake juga. Justru jadi tambah macet. Padahal kalau motor tertib, sebenarnya macetnya ngga bakal separah itu“.
D: “Yoi... di depan rumah aku juga gitu. Motor-motor merajalela banget. Gini deh Asni, aku akan coba telpon Kapolres sekarang. Kita akan tanya, kenapa polisi-polisi seperti membiarkan saja pelanggaran aturan lalu-lintas oleh para pengendara sepeda motor. Apakah karena banyaknya jumlah mereka sampai-sampai polisi takut untuk menertibkan? Nah sambil nunggu sambungan, kita dengerin dulu satu lagu dari NIJI.

Dengan memperbandingkan Contoh I dan Contoh II, saya yakin sekarang Anda sudah paham dan mampu membedakan bahwa percakapan yang satu berisi hanya penyampaian pesan, sedangkan pada contoh kedua, percakapan Dino & Asni bukan hanya menyampaikan, tetapi juga mengkomunikasikan pesan kepada pendengar. Dalam Contoh I ada pesan, tapi tak ada tujuan alasan pesan itu disampaikan. Sedangkan dalam Contoh II pesan yang sama bukan hanya disampaikan, tapi juga dipahami tujuannya oleh pendengar apa sebab pesan itu disampaikan oleh penyiar kepada mereka. Jelas bagi pendengar/pemirsa lebih betah mendengarkan siaran percakapan dalam contoh II, bukan? (arm)

Tidak ada komentar: