oleh Andy Rustam
Sewaktu baru saja terjadi musibah kecelakaan pesawat terbang penumpang Sukhoi-SJ100 di daerah Gunung Salak, Bogor (Jawa Barat), seorang pegawai di kantor tempat menantu saya bekerja berkata, “Pasti nanti reporter televisi akan mendatangi rumah keluarga para korban dan akan meng-interview dengan pertanyaan begini: 'Bagaimana perasaan Ibu mendengar berita bahwa anak ibu meninggal dalam kecelakaan pesawat Sukhoi?'“. Eeeehh... ternyata dugaan si pegawai kantor tersebut tepat sekali. Pada siaran berita malam hari ternyata memang si reporter mewawancarai salah satu keluarga korban kecelakaan dan bertanya seperti itu. Bahkan yang lebih parah lagi, pertanyaan seperti ini dilontarkan kepada salah seorang wakil keluarga korban, “Apa yang selanjutnya akan Anda lakukan?“
Langsung deh, banyak reaksi yang muncul di twitter, yang mengatakan bahwa si reporter tak berperasaan, pertanyaannya “stupid” dan sebagainya.
Kelemahan Umum
Minggu lalu juga baru terjadi ribut-ribut di media, dimana dikatakan Ketua DPR-RI, Marzuki Ali, dianggap telah merendahkan nama Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada. Karena katanya, ia bilang bahwa universitas-universitas itu jugalah yang telah menghasilkan koruptor, mengingat para koruptor banyak yang lulusan dari universitas tersebut.
Menurut saya, ini merupakan kelemahan umum dari orang-orang kita. Mereka berpikir bahwa berbicara (apalagi di media massa) itu mudah. Padahal, berbicara itu susah. Ngomong itu gampang. Memang benar bahwa kita semua sejak berusia tiga tahun sudah bisa ngomong, tetapi berbicara, dalam arti berkomunikasi dengan baik, tidaklah mudah. Kebanyakan dari kita selaku Komunikator, tidak mampu mengekspresikan perasaan dan tidak mampu mentransformasikan pikiran ke dalam bentuk suara dan kata-kata. Akibatnya, tentu saja si Komunikan bisa salah memahami apa yang dimaksudkan oleh si Komunikator. Ketika kesalahan itu terjadi, serta merta mereka kemudian menuduh si Komunikan, dalam hal ini para wartawan telah “memelintir” ucapan mereka.
Menurut teorinya, apabila terjadi kesalahan dalam komunikasi, maka bahagian terbesar beban pertanggung-jawaban kesalahan tersebut, atau hampir 60% ada pada si Komunikator. Maka sungguh tidak bijaksana apabila melemparkan kesalahan pada si Komunikan, apabila terjadi mis-komunikasi.
Makanya, kalau mau bicara, baik berupa statement maupun berupa pertanyaan, seyogyanya harus dipikirkan terlebih dahulu sebelumnya: Dipikirkan pemilihan kata-kata dalam kalimat; Dipikirkan pula susunan dan rangkaian dari kalimat-kalimat; Dipikirkan pula tekanan-tekanan kata; Dipikirkan pula jeda-jedanya. Dipikirkan pula kapan saat yang tepat untuk menyampaikan kalimat ini dsb. dsb. Karena ini semua sangatlah berpengaruh untuk membuka jalan masuk ke dalam alam pikir si Komunikan, dan ini juga yang akan menjadi unsur yang saling memperkuat untuk membentuk pengertian yang dimaksud oleh si Komunikator.
Hal yang paling terpenting dan seharusnya menjadi fokus awal dari si Komunikator sebelum ia bicara atau bertanya adalah, bahwa si Komunikator sendiri sudah harus memiliki kejelasan dulu. Ia harus bertanya dulu kepada dirinya sendiri, a.l. “Apa maksud saya berbicara ini? Apa tujuan saya membuat statement ini? Dampak apa yang ingin saya timbulkan ketika saya nanti selesai berbicara atau setelah saya selesai bertanya?“ dsb. dsb.
Spontan yang Berdaya Tarik
Dari pengamatan saya, setelah menonton siaran wawancara atau siaran berita di televisi atau mendengarkan bagaimana para penyiar radio bersiaran, hal-hal yang saya sebutkan di atas sangatlah kurang atau bahkan sama sekali tidak dilakukan. Mereka tidak berpikir terlebih dahulu sebelum bertanya / berbicara. Kalau mereka mau ngomong... ya ngomong aja. Kalau mau komen ya komen aja... Kalau mau bertanya ya bertanya aja. Mereka tidak pernah berpikir sebelumnya sebelum berbicara.
Kalau kita tanyakan pada mereka, jawabannya adalah, “Ya spontan aja dong. Biar wawancaranya hidup, gak usah diatur-atur“ (Sebenarnya ini hanya alasan atas kemalasan atau ketidaktahuan mereka untuk berpikir terlebih dahulu sebelum bicara).
Pendapat yang mengatakan bahwa “spontanitas” akan dapat menjadi sebuah daya tarik, tidaklah salah. Tapi spontanitas yang dilakukan oleh orang yang memang memiliki dasar keahlian yang kuat, akan sangat berbeda daya tariknya dengan spontanitas yang dilakukan oleh orang yang tak mempunyai dasar-dasar yang kuat. Misalnya, Eric Clapton seorang musisi dan gitaris blues ternama melakukan improvisasi gitar secara spontan dipentas show-nya, tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi khalayak penonton. Tetapi kalau saya, yang tidak bisa bermain gitar, melakukan improvisasi gitar secara spontan di atas pentas, maka yang akan terjadi batu dan sandal jepit melayang ke kepala saya, diiringi paduan suara, “Huuuu... turuuuun... turuuun!!!“
Makanya ngga heran waktu saya menonton siaran liputan kecelakaan Sukhoi J100, lalu menyaksikan bagaimana para reporter dan penyiar bertanya ketika mewawancarai orang2 dengan improvisasi spontan, rasanya kepingin banget nimpukin sandal jepit. Untungnya pikiran saya masih waras, nanti pesawat televisi saya sendiri yang rusak... he.he.he.
Tujuan Bicara
Kalau saja saya punya kesempatan bertemu dengan Marzuki Ali, ingin sekali saya mengetahui, “Sebenarnya Bapak tadinya mau bilang apa sih? Supaya apa sih bapak ngomong begitu?“ Bener-bener saya kepingin tahu.
Barangkali bisa saja maksudnya pak Marzuki itu, ingin melontarkan gagasan bahwa, salah satu faktor untuk dapat menurunkan tingkat korupsi di Indonesia adalah dengan memasukkan mata kuliah tertentu dalam pendidikan akademis untuk strata S1. Kalau memang ini maksudnya, maka bukankah kalimat beliau bisa dibuat sbb. “Saya melontarkan gagasan pada civitas academica untuk memasukkan mata kuliah Anti Korupsi, sebagai salah satu cara untuk menekan angka korupsi di Indonesia. Ini bisa dipelopori oleh universitas terkemuka seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada“. Dengan pemilihan kata dan susunan kalimat seperti ini, saya yakin tidak mungkin terjadi salah penafsiran atau “kalimatnya dipelintir” oleh wartawan.
Begitu pula, kalau saja si reporter televisi mau berpikir sebelumnya dan tahu apa tujuan dia melontarkan pertanyaan kepada keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi tersebut. Misalnya ingin mendorong simpati penonton televisi, mungkin dia bisa bertanya, sbb. “Kami tahu ibu sangat bersedih atas kejadian ini. Apa ada yang ingin ibu ungkapkan / sampaikan? Bagaimana caranya kami bisa membantu meringankan kesedihan ibu?”. Dengan melontarkan pertanyaan menggunakan pemilihan kata dan susunan kalimat seperti ini, saya yakin tidak bakal ada penonton televisi yang memaki-maki, “Huh reporter gebleg. Masa’ pertanyaannya begitu? Dasar gak punya perasaan!“
Jadi, ini menurut saya lho, kalau ngomong itu mulut berbunyi, tanpa didahului otak yang mikir. Tapi kalau berbicara, mulut berbunyi karena sudah diatur oleh otak yang telah berpikir sebelumnya... he.he.he... (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar