22 April 2012

Perlukah Kriteria & Standar?


oleh Andy Rustam

Barangkali banyak di antara kita yang tidak tahu bahwa Indonesia, negeri tropis yang tidak punya musim salju, memiliki juara-juara junior tingkat Asia untuk olah raga meluncur diatas es dengan koreografi ballet yang memukau (Figure Ice Skating). Alberto Widjaja dalam usia 18 tahun berhasil memenangkan Medali Emas untuk Best Performance Award dalam Asian Regional Juniors Figure Skating Championship di Thailand, Bangkok pada Oktober tahun 2009. Kejuaraan ini diikuti oleh 10 negara termasuk China dan USA. Nama-nama lain seperti: Kezia Clarissa Lukito; Alvira Kelda Sunjaya juga berhasil memenangkan medali dalam ajang Internasional. Mereka semua kini sedang dipersiapkan untuk menghadapi event Kejuaraan Asia di Beijing.

Dalam satu wawancara di televisi, Pelatih mereka Robert Esguerra berkata, bahwa anak-anak muda ini dilatih dan melatih dirinya sesuai kriteria dan standar internasional yang berlaku. Sungguh saya tertarik dengan kalimat sang pelatih ini.

Motivasi untuk Menjadi yang Terbaik

Sampai sekarang saya masih belum memperoleh jawaban yang pas, apa yang menyebabkan seseorang ingin menjadi yang terbaik. Sehingga dengan itu mereka mau belajar dan berusaha terus untuk menjadi yang terbaik.

Kalau alasannya ketenaran dan kekayaan, mengapa harus bersusah payah memasuki bidang olah-raga yang tak lazim seperti ice skating? Mengapa tidak bidang sepak bola atau badminton? Atau kenapa tidak menempuh jalan seperti Ayu Ting-Ting atau Briptu Norman atau Sinta & Jojo dengan Keong Racun-nya? Kenapa Agnes Monica atau Anggun dan Sherina mau bersusah payah belajar teknik vokal dan musik secara serius bahkan sampai ke luar negeri? Sementara seorang presenter cowok bermodalkan gaya banci atau seorang gadis centil bersuara cempreng dan berpakaian seronok sudah bisa beken / tenar, sehingga orang merasa tidak perlu belajar untuk bisa tampil di media massa seperti televisi & radio? Terus terang saya tidak tahu.

Menurut saya, kunci kemajuan kita terletak pada berapa besar kemauan masing-masing individu dalam bidangnya masing-masing untuk menjadi yang terbaik dalam berkarya. Terbaik dalam berkarya belum tentu berarti akan menjadikan dirinya kaya atau terkenal.

Statement ini pastilah mengundang komentar: ”ooo..buat apa capek-capek kalau ngga bisa jadi kaya dan ngga bisa terkenal?” Tadi khan sudah saya bilang, kalau tujuannya mau kaya dan terkenal, tempuhlah jalan-jalan mudah yang sudah disebutkan di atas. Tapi kalau mau menjadi yang terbaik, jalannya sulit dan hasilnya belum tentu membuat diri kaya dan terkenal.

Kalau akhirnya nanti kita berhasil menghasilkan karya terbaik, kita bisa berbangga kepada diri kita sendiri: ”Ternyata aku bisa melakukan sesuatu yang tidak mudah, yang membutuhkan waktu, pikiran, usaha, dan ketekunan, sehingga tidak semua orang bisa melakukannya”.

Kalau kita berhasil menjadi yang terbaik, artinya kita telah memberikan inspirasi kepada orang lain untuk juga menghasilkan karya terbaik. Ini akan menjadi semacam bola salju yang bergulir makin lama makin besar, yang pada gilirannya akan membuat seluruh masyarakat Indonesia gandrung untuk menghasilkan yang terbaik. Kalau kita perhatikan sejarah orang-orang besar di dunia dalam masing-masing bidangnya, selalu memiliki motivasi awal untuk menghasilkan karya yang terbaik dan bukan untuk menjadi kaya dan terkenal. Karena kaya dan terkenal itu hanyalah salah satu akibat saja. Kalaupun ia tidak menjadi kaya dan terkenal di masa hidupnya, mereka sudah cukup dengan memperoleh kepuasan batin atas pencapaian itu.

Keinginan Harus Konsisten dengan Upaya

Hampir semua orang kalau kita tanya, maukah menjadi yang terbaik dalam bidangnya? Pasti semua menjawab: ”mauuu”.. Tetapi ketika diharuskan melakukan latihan-latihan maka paling banyak hanya 5% yang tetap melaksanakan dan konsisten melakukannya.

Pebasket terbaik NBA, Kobe Bryant, berlatih melempar bola sebanyak 100.000 shots dalam waktu 3 bulan, sepanjang tahun. Bukan asal lempar, tetapi bersama pelatih, ia mempelajari setiap lemparan yang dilakukannya. Ia juga mengatur makanannya, bukan hanya apa yang dimakan tetapi bagaimana cara makanan itu dimasak. Setiap pagi ia bangun jam 4.30 dan berlari sejauh 10 km dengan kecepatan lari yang berbeda-beda.

Kobe Bryant, bukan hanya ingin menjadi yang terbaik tetapi juga konsisten dalam upayanya untuk menjadi yang terbaik.

Yang dimaksud dengan ”terbaik” disini bukanlah hanya dalam pandangan segelintir orang, melainkan diakui oleh hampir semua orang, baik nasional maupun internasional

Kriteria dan Standar Internasional

Di awal tulisan ini saya katakan bahwa saya tertarik dengan kalimat pelatih Tim Ice Skater Indonesia Robert Esguerra, bahwa anak-anak muda ini dilatih dan melatih dirinya sesuai kriteria dan standar Internasional yang berlaku.

Mengapa saya tertarik ? Karena kalimat: ”..dilatih dan melatih diri sesuai kriteria dan standar Internasional..” inilah yang belum pernah saya dengar dalam dunia penyiaran kita ketika mempersiapkan tenaga-tenaga untuk bekerja di media penyiaran. Padahal negara kita memiliki puluhan stasiun televisi siaran dan ribuan stasiun radio siaran!!! Tetapi para pemilik stasiun seperti tidak peduli dengan kualitas isi siaran mereka. Ukuran mereka, asal audience-nya banyak, atau asal bisa untung.

Jadi tidak heranlah kenapa dari sejak awal era televisi swasta sampai sekarang, kita selalu mudah mengimpor sinetron Mexico (telenovela), sinetron Taiwan, sinetron Jepang dan sekarang sinetron Korea, tetapi sebaliknya sulit sekali bagi kita untuk bisa mengekspor sinetron Indonesia ke Mexico, Taiwan, Jepang dan Korea. Terkesan seolah-olah sinetron Indonesia belum bisa diterima menurut Kriteria dan Standar Internasional.

Presenter berita CNN kalau saja mau bekerja di televisi Indonesia, sudah pasti langsung diterima memenuhi syarat (Contoh: Dalton Tanonaka ex penyiar CNN yang menjadi news Anchor di Metro-TV english service). Tetapi cobalah sebaliknya, penyiar televisi Indonesia melamar di CNN, untuk bisa diterima pastilah susahnya setengah mati. Soalnya standarnya belum internasional sih.

Namun dari sisi sebaliknya, secara nasional, masyarakat kita sendiri tidak masalah dengan cara siaran yang ada sekarang ini. Konyol-konyolan, teriak-teriak, debat berebut ngomong, adegan vulgar dsb., buktinya rating-nya tinggi, kok? Jadi buat apa repot buang-buang biaya hanya sekedar untuk memenuhi kriteria dan standar internasional?

Inilah ironisnya.. Dengan demikian maka media penyiaran yang seharusnya bisa menjadi pendorong masyarakat dan bangsa Indonesia untuk maju dan mampu bersaing di dunia internasional, justru malah ikut menyeret bangsa ini menjadi bangsa yang mau menang sendiri, berselera rendah dan tak mampu berpikir panjang.

Kalau para pemilik dan para pekerja media penyiaran kita masih saja bermental seperti itu, maka saya khawatir, di masa depan, bangsa Indonesia sudah tidak akan memiliki apa-apa lagi. Mungkin cuma tinggal bendera merah-putih berkibar tanpa makna dan bahannya pun dibuat dari kain katun Jepang. (arm)

Tidak ada komentar: