02 Juli 2012

Content-kah yang Utama?


oleh Andy Rustam

Pimpinan sebuah stasiun televisi mengundang saya untuk makan malam, karena katanya mau ngobrol-ngobrol tentang “content (isi)” acara-acara televisi yang sekarang sedang berjalan. Dalam obrolan tadi terungkap, mereka sangat menyadari bahwa acara-acara televisi yang ada sekarang ini seringkali kurang berbobot walaupun penonton yang menyaksikan acara-acara tersebut tetap banyak. Saya terus terang gembira mendengar “kesadaran” ini muncul dari pihak pimpinan stasiun televisi. Karena selama ini bukankah sudah banyak sekali unsur masyarakat yang mengeluhkan “kualitas” dari acara-acara televisi yang dianggap tidak mencerdaskan?

Acara Pada Jam Mati

Kalau kita perhatikan stasiun-stasiun televisi semua berkonsentrasi untuk bersaing habis-habisan pada waktu-waktu Prime Time (19.00 – 22.00 WIB) dan konsentrasi kedua pada waktu menjelang Prime Time (17.00 – 19.00 WIB). Di waktu-waktu inilah tarif iklan dipasang yang paling mahal. Sedangkan di waktu-waktu lainnya, dimana sepi penonton dan tarif iklannya pun murah (jam mati), stasiun televisi berusaha menjaring penonton yang masih tersedia dengan acara-acara berbiaya rendah atau mengusahakan bagaimana caranya tetap ada “uang masuk” bagi perusahaan televisi.

Disebabkan kecilnya minat pemasang iklan untuk beriklan di luar jam prime-time (karena menurut mereka, beriklan itu harus di tempat yang banyak penontonnya), maka pada jam-jam mati ini, stasiun televisi pun bermanuver dengan menjual jam-jam matinya secara blocking time. Pada jam-jam ini sering kita lihat acara “talk show” yang disponsori seperti acara promosi dari sebuah real-estate, yang memperlihatkan lokasi serta fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh sebuah komplex perumahan mewah. Dengan cara begini televisi masih bisa memperoleh pendapatan, dari jam-jam matinya. Ada juga beberapa stasiun televisi yang menyiarkan acara-acara humor jenaka setiap hari, stripping! Acara model begini memang relatif cukup rendah biaya produksinya, tapi hasilnya cukup disukai oleh masyarakat golongan sosio-economic kelas C dan D (kelompok masyarakat yang terbesar dalam pengelompokan menurut sosio economic level), sehingga rating-nya pun tetap ada walau di jam mati.

Menurut mereka, memang cuma begini resepnya agar masih bisa dapat “uang” dari jam mati, yaitu bikin acara yang konyol atau mengundang tawa, karena biayanya murah, tapi penonton cukup lumayan pada siang hari sehingga bisa “dijual” kepada pemasang iklan.

Tetapi tentu saja baik acara talk-show yang disponsori ataupun siaran acara lawak berbiaya murah yang mampu mengundang penonton (segmen tertentu), tidak akan membawa nilai tambah bagi masyarakat.

Acara Yang Baik dan Mencerdaskan 

Pengelola stasiun televisi ini dalam obrolannya dengan saya berkata bahwa bukannya mereka tidak mau membuat dan menyiarkan acara televisi yang bermutu, tapi kenyataannya acara seperti itu minim sekali penontonnya. Ini terbukti dengan acara-acara mendidik mengenal tanah air, atau program kegiatan anak-anak sekolah yang sedang mengisi liburan, yang saat ini masih ditayangkan pada siang hari, ternyata rating-nya 0. Artinya penontonnya sedikit sekali. Penonton tidak terjaring, uang dari iklan pun tidak masuk.

Sebaliknya ketika stasiun televisi menayangkan acara-acara sinetron yang kisahnya seputar keluarga yang pecah, selingkuh, marah-marah dan maki-maki, atau reality show yang mengada-ada, dibuat agar menguras airmata, pada jam-jam prime-time, malah rating-nya tinggi dan iklannya jadi banyak . Bukannya tidak pernah mereka memasang film bermutu buatan sutradara beken seperti Steven Spilberg pada jam prime-time, tetapi hasilnya kalah jauh dengan acara-acara yang “kurang bermutu” itu tadi.

Mereka sudah memiliki resep baku, bahwa kalau televisi ingin mendatangkan uang yang banyak ya begitu caranya. Tidak akan ada gunanya menayangkan yang baik dan bermutu, malah akan membawa kerugian bagi perusahaan.

Adakah Cara Lain?

Setelah mendengarkan pendapat mereka maka saya berkesimpulan bahwa medan yang dihadapi stasiun TV memang tidak mudah. Tetapi bukannya tidak bisa diatasi. Masalahnya apakah mereka memiliki kemauan untuk mengatasinya? Karena tentulah untuk mengatasi ini perlu pengorbanan yang tidak sedikit, bahkan mungkin akan menambah biaya dan berkurangnya laba untuk 1 – 2 tahun ke depan. Lalu apa motivasi mereka cukup kuat untuk mengatasinya? Buat apa mereka harus melakukan perubahan? Karena toch selama ini dengan cara yang tengah berlangsung seperti sekarang ini, laba perusahaan terus meningkat, bukan? Bukankah untuk berhasil perusahaan televisi cukup hanya mengikuti apa yang diinginkan pemirsanya? Terbukti dengan tingginya rating ketika disiarkan acara-acara yang seperti sering kita lihat sekarang ini, yang menurut saya, tidak bermutu alias tidak membuat masyarakat tambah cerdas.

Kalau benar stasiun televisi ingin merubah dirinya, sebenarnya mereka hanya membutuhkan 2 hal saja, yaitu:

(1) Kemampuan produksi untuk membuat acara yang bermutu (yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat), tapi sekaligus tetap menarik sebagai tontonan sehingga akan cukup disukai oleh masyarakat (rating-nya lumayan). Content / isi yang bermutu memang penting, tapi yang lebih penting lagi bagaimana cara mengolah hal yang bermutu itu agar menjadi tontonan yang menarik.

(2) Kemampuan untuk menjual acara tersebut kepada calon Pengiklan, walaupun rating-nya tidak terlalu tinggi-tinggi amat. Rating bukan jaminan keberhasilan suatu kampanye promosi.

Kalau saja kedua kemampuan ini bisa dikuasai dan dilaksanakan secara konsiten, maka dampak positifnya adalah:

1. Selera masyarakat akan terbentuk dan akan terbiasa untuk menyaksikan siaran-siaran yang bermutu, yang ada nilai tambah bagi kehidupan dan penghidupan mereka. Artinya, pada saatnya nanti, kalau ada acara yang tidak bermutu, pastilah otomatis masyarakat tidak lagi mau menontonnya. Dengan demikian, maka acara-acara yang bagus dan mencerdaskanlah yang akan memiliki rating.

2. Pada gilirannya nanti para calon pemasang iklan dan advertising agency juga akan menjadi semakin pintar, sehingga tidak lagi hanya menjadikan tingginya rating sebagai syarat utama agar stasiun televisi tersebut (atau acara tersebut) bisa dipasangi iklan.

Namun ini semua terpulang lagi ke pertanyaan, buat apa susah-susah melakukan ini, malah ada risiko kemungkinan belum tentu berhasil? Padahal cara mudah yang seperti sekarang ini pun sudah berjalan cukup baik dan membawa keuntungan buat perusahaan, khan? ...sigh. (arm)

1 komentar:

Hemat Dwi Nuryanto mengatakan...

Tulisan yg menarik & inspiratif