26 Oktober 2013

Faktor Pembeda (Diferensiasi)

oleh Andy Rustam

Barangkali bagi kita yang berkecimpung di dunia marketing, istilah diferensiasi menjadi rumus sakti bagi suksesnya penjualan suatu produk. Sesuatu yang berbeda, suatu produk, yang tidak dimiliki oleh produk lain sejenis, biasanya akan merupakan keunggulan-jual dari produk tersebut. Ketika sebuah produk akan diciptakan / diproduksi, maka faktor pembeda sebagai keunggulan dari produk telah dipikirkan sebelumnya, dan disesuaikan dengan perilaku sasaran pasar (calon pembeli / konsumen). Misal, sebuah merk smartphone yang dirancang untuk remaja wanita, casing-nya biasa diberikan warna-warna yang “cute” (merah muda, ungu, orange). Jadi warna dan disain smartphone tersebut itu yang menjadi faktor pembeda, karena dari sisi feature-nya tidak berbeda dengan merk lain.  Memang seharusnyalah pembeda itu ada keterkaitan dengan (dalam contoh ini) remaja wanita, yaitu pilihan warna / disainnya.

Diferensiasi pada Siaran Radio & TV

Pada sebuah siaran Radio atau TV juga sama saja, perlu ada faktor pembeda (diferensiasi), mengingat sudah begitu banyaknya siaran radio dan TV yang mengudara di satu wilayah. Tanpa adanya diferensiasi maka siaran radio / TV tersebut tidak akan ada bedanya dengan para pesaing. Apalagi kalau “isi / content” siarannya sama saja. Kalau ada yang lagi “in”, misal kasus Ketua Mahkamah Agung RI – Akil Muchtar, maka semua siaran berita di semua stasiun akan sama saja isi-nya, bukan?

Oleh karena itu faktor pembeda dalam siaran radio atau TV menjadi penting. Apakah yang seharusnya menjadi faktor pembeda dari sebuah siaran?

Faktor pembeda yang terpenting (karena materi siaran relatif sama saja), adalah pada “pengolahan dan penyajiannya”. Artinya, cara mengolah materi-materi yang ada agar menjadi sajian yang enak untuk dinikmati pendengar radio ataupun pemirsa TV, itulah faktor pembeda yang paling penting.

Analoginya ibarat “nasi goreng”. Nasi goreng bisa diperoleh hampir di semua warung makan, bahkan di rumah pun kita bisa memasaknya sendiri. Tetapi mengapa “nasi goreng PR” yang dijual gerobak yang biasa mangkal setiap malam di jalan Asia Afrika – Bandung (di depan gedung harian Pikiran Rakyat), selalu laris. Jawabannya tentu, karena cara dia memasak, meracik bumbu-bumbu, dan pilihan beras / nasi sangat pas, sehingga menghasilkan sajian nasi goreng yang pas pula dengan selera. 

Bagaimana cara mengolahnya sampai bisa begitu, tentu ini merupakan rahasia si penjual nasi goreng, walaupun sebenarnya istri saya pun dapat saja membeli materi masakan dan bumbu-bumbu yang sama di pasar swalayan. 

Dalam siaran sepanjang 24 jam, bentuk diferensiasi dalam broadcasting dikenal dengan istilah “format”. Format adalah bagian dari strategi untuk merebut pasar. Ada stasiun radio yang mengkhususkan diri hanya mengudarakan lagu-lagu dangdut saja (radio dengan format dangdut), ada pula yang mengkhususkan diri memasang lagu-lagu nostalgia saja (radio dengan format nostalgia). Tentunya ini dikarenakan mereka ingin mencapai kelompok pendengar (segmen khalayak) yang berbeda. Begitu pula ada stasiun televisi yang mengkhususkan diri hanya menyiarkan berita dan informasi saja, dan ada pula stasiun televisi yang hanya menyiarkan musik saja. Ini juga merupakan jenis format yang menjadi faktor pembeda bagi stasiun TV tersebut, dimana tentunya sasaran kelompok pemirsanya yang akan terbentuk nantinya juga akan berbeda.

Format-format ini dibentuk dari rangkaian acara yang diudarakan, sedangkan acara-acara yang diudarakan dibentuk dari rangkaian materi yang ada. Jadi, ujung-ujung-nya, bagaimana cara setiap produser acara mengolah dan meracik materi-materi siaran menjadi sebuah acara siaran yang menarik, tanpa keluar dari format siaran, itulah yang paling terpenting.

Peniruan Format

Dalam era persaingan sekarang ini, sebuah stasiun dengan format tertentu yang dianggap sukses, dengan cepat akan ditiru oleh stasiun lain. Hal ini merupakan hal yang lumrah dalam bisnis. Bukankah smartphone iPhone juga pernah menuntut smartphone Samsung, dengan dalih “meniru” iPhone?

Jadi sebenarnya tidak usah gusar apabila ada yang meniru-niru format sukses stasiun kita. Para produser siaran harus menyadari bahwa kunci-rahasianya bukan pada format itu sendiri, melainkan pada bagaimana kita merangkai acara dan meracik materi-materi siaran yang membentuk format itu sendiri. 

Ibarat “nasi-goreng PR” sebagai pemisalan tadi, bahwa yang menjadi kunci-rahasianya adalah bagaimana cara si tukang masak meracik dan mengolah bahan-bahan yang dimasaknya, dan bukan produk jadi nasi goreng itu sendiri.

Kita bisa lihat sebagai contoh melihat siaran dua stasiun televisi dengan format yang sama-sama berita & informasi, yaitu: Metro TV dan TV-One. Menurut saya pribadi, kelihatan jelas sekali bahwa TV-One yang datang lebih belakangan dari Metro TV meracik dan mengolah bahan materi-materi acara (termasuk penampilan presenter-nya) menjadi sebuah format siaran yang lebih bernuansa “sensasional” dan dibawakan secara lebih ngepop, sehingga khalayak pemirsa yang terbentuk pun adalah khalayak yang banyak dari kalangan general / umum. Sedangkan Metro TV meracik dan mengolah bahan-bahan materi-materi acara menjadi format siaran yang nuansanya “lebih berat dan serius” (termasuk penampilan presenter-nya), sehingga kelompok pemirsa yang terbentuk akan lebih banyak dari kalangan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Memang strata sosial masyarakat kita dari kelompok intelektual jumlahnya lebih sedikit, sehingga saya perkirakan secara total “rating” TV-One secara umum akan lebih tinggi dibandingkan dengan “rating” Metro TV. Namun kalau dilihat khusus pada kelompok kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi saja, saya perkirakan “rating” Metro TV akan lebih tinggi. 

Sekali lagi, bagaimana cara mengolah / menyajikan materi acara-lah yang membedakan, walaupun format siaran stasiun-nya sama.

Meracik / Mengolah Materi Dengan Ilmu

Kebanyakan dari kita yang sudah berkecimpung di dunia broadcasting, menjadi ahli atau menganggap dirinya ahli (karena sudah berhasil populer), disebabkan karena mereka sudah lama sekali mengerjakan pekerjaannya. Artinya mereka melakukannya sesuai kebiasaannya bertahun-tahun. Sayangnya kebiasaan ini belum tentu benar, tetapi sudah dianggap benar karena sudah lazim dan bahkan hasilnya pun pernah terbukti bagus dalam menjaring pendengar / pemirsa. Akibatnya mereka menutup diri dan tidak merasa perlu belajar dan memperbaiki diri. Padahal sebagaimana juga memasak ada skill dan ilmunya, maka memasak materi-materi siaran untuk menjadi sajian acara yang enak, juga ada skill dan ilmu yang harus dikuasai.

Saya tidak mungkin menjelaskannya satu-persatu di sini, tetapi untuk mudahnya cukup pegang 4 hal terpenting, sbb:
(1) Semua sajian siaran harus memiliki tujuan akhir (2) Semua sajian harus mampu berkomunikasi dengan pemirsa / pendengarnya (3) Semua sajian siaran harus mampu mempertahankan minat pemirsa / pendengar-nya sejak awal sampai akhir (4) Semua sajian siaran harus mampu membangun kebiasaan (habit) buat pemirsa / pendengar agar mau kembali lagi menikmati siaran tersebut pada kesempatan lain. (arm)

Catatan: Tulisan ini saya buat atas permintaan seorang teman saya, seorang broadcaster, Mumu.

1 komentar:

Hemat Dwi Nuryanto mengatakan...

Terimakasih pak Andy rm, tulisannya mencerahkan ... membantu kami yg bukan dari dunia penyiaran menjadi lebih memahami industri tersebut ....