16 Februari 2014

World Radio Day

oleh Andy Rustam

Hari Radio Se-Dunia (World Radio Day) yang jatuh pada setiap tanggal 13 Februari, adalah keputusan dari salah satu badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dalam sidang dewan eksekutif pada tanggal 11 November 2011. Jadi pada tanggal 13 Februari 2014, para insan radio merayakan Hari Radio Se-dunia yang ke 3. Terus terang, baru pada tahun ketiga kehadiran World Radio Day, saya, yang orang radio dan televisi, baru menyadarinya. Lalu seketika saya berpikir dan memicu pertanyaan, ”Kenapa sampai badan dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menetapkan World Radio Day?“

Sebuah Pengakuan

Untuk mencari jawaban pertanyaan itu saya buka situs web dari UNESCO, ternyata intinya adalah sebuah pengakuan dunia akan kekuatan radio sebagai media massa, dan World Radio Day bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya radio, karena radio tetap relevan meskipun cara meng-aksesnya sedang mengalami transformasi dalam era teknologi digital. Kutipannya sbb.
Since the first broadcast over 100 years ago, radio has proven to be a powerful information source for mobilizing social change and a central point for community life. It is the mass media that reaches the widest audience in the world. In an era of new technologies, it remains the world’s most accessible platform, a powerful communication tool and a low cost medium.
With the advent of new technologies and media convergence, radio is being transformed and is moving onto new delivery platforms, such as broadband internet, mobiles and tablets. In the digital era, radio continues to be relevant, as people digitally tune in via computers, satellite radio and mobile devices. 
World Radio Day aims to raise awareness about the importance of radio, to encourage decision makers to provide access to information through radio and improve networking and international cooperation among broadcasters.
Menurut saya, kita sebagai orang radio di Indonesia dapat menjadikan apa yang tertera diatas sebagai semacam acuan dalam bekerja, dalam membawa siaran radio kita memasuki era teknologi baru.

Transformasi Platform dalam Meng-akses Radio

Kalau berbicara soal peran penting radio di era radio yang diakses secara konvensional seperti selama ini, sudah tidak ada yang bisa membantah. Bahkan dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, media radio telah membuktikan perannya secara nyata dalam menggerakkan dan mengguggah rakyat menghadapi berbagai tantangan dalam perjuangan dan pembangunan negeri. Tetapi bagaimana di masa depan, ketika era peralatan digital, internet dan smart-phone sudah menjadi alat komunikasi, sumber informasi dan hiburan bagi semua orang?

Sebagai orang radio, saya sendiri belum bisa memastikan bagaimana bentuk siaran radio di masa depan. Saya sendiri dan banyak orang radio lainnya menganggap bahwa dengan hanya meng-online-kan siaran kita yang biasanya kita pancarkan melalui frekuensi gelombang elektromagnet di udara, maka otomatis radio kita sudah menjadi radio internet yang bisa di akses dari seluruh penjuru dunia. Hal ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Karena kalau sekedar bisa di akses tetapi sedikit sekali atau tidak ada orang yang mengakses, maka apa gunanya, bukan?

Dari sisi teknis, kendala yang terbesar adalah, apabila semakin banyak orang yang ingin mengakses pada waktu yang bersamaan, itu berarti stasiun radio harus menyediakan server yang berkapasitas sangat besar. Belum lagi internet connectionnya yang harus baik. Karena kalau tidak, maka materi siaran akan terdengar terputus-putus. Ini yang sering kita alami di Indonesia.

Selain itu ada sisi karakter media. Sebagai radio siaran konvensional selama ini, media radio berkarakter ”push”. Artinya, radio bersiaran cukup dengan memasang lagu dan menyampaikan informasi, maka pendengar tinggal menerima jadi saja apa-apa yang disajikan.

Misal: Seorang Pengemudi mobil sedang mendengarkan siaran radio. Ia sedang berada di jalan raya ABC menuju wilayah R, membutuhkan informasi apakah akses menuju wilayah R dari jalan ABC saat ini sedang mengalami kemacetan lalulintas? Tetapi ketika ia mendengarkan omongan si penyiar, ternyata penyiar radio sedang menginformasikan situasi lalu-lintas yang berada di jalan XYZ menuju wilayah T. Ia menunggu lagi beberapa menit, namun informasi tersebut tidak kunjung ia dapatkan. Malah yang terdengar sebuah lagu... Maka si pendengar (pengemudi mobil) tidak bisa lain kecuali mendengarkan informasi yang sebetulnya bukan yang ia butuhkan, serta lagu yang ia dengar pun telah dipilihkan oleh si penyiar (terlepas apakah ia suka atau tidak).

Sedangkan karakter media internet, bersifat ”pull”. Sebelum kita mulai  mem-browse internet, biasanya di dalam pikiran, kita sudah mempunyai sesuatu yang kita ”ingin cari” atau ”ingin tahu / dengar / lihat / baca”. Lalu search engine seperti ”Google” yang akan mencarikannya dalam beberapa detik saja. Dalam halnya kita ingin tahu tentang situasi akses jalan, di internet cukup banyak tersedia situs yang bisa menunjukkan situasi akses jalan secara ”instant” dalam bentuk real-time. Begitu pula kalau seseorang ingin mendengar lagu tertentu atau jenis lagu tertentu. Jadi ia tidak perlu menunggu dalam ketidak-pastian seperti kalau ia mendengarkan siaran radio selama ini.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, perubahan platform dari radio konvensional ke radio internet memiliki konsekuensi pada bagaimana caranya kita membuat program siaran dan menyusun materi siarannya agar radio internet ini dapat berfungsi optimal. Tentu saja dengan mengkombinasikan secara kreatif karakter media radio konvensional dengan karakter media internet. Sehingga, misalnya, boleh jadi Program siaran Radio ARM yang disiarkan secara konvensional melalui gelombang elektromagnetic di udara, akan berbeda dengan program siaran Radio ARM yang disiarkan melalui website Radio ARM internet live streaming. Mengapa tidak? Bukankah karakter media-nya juga berbeda?

Mempersiapkan Radio Masa Depan

Sebelumnya, mari kita baca dulu kutipan pesan dari Director General UNESCO, Irina Bokova, pada perayaan pertama Hari Radio Se-Dunia (World Radio Day), 13 Februari 2012:
“In a world changing quickly, we must make the most of radio’s ability to connect people and societies, to share knowledge and information and to strengthen understanding. This World Radio Day is a moment to recognize the marvel of radio and to harness its power for the benefit of all,” said UNESCO Director General, Irina Bokova in her message on the occasion of the first World Radio Day.
“Di dunia yang begitu cepat berubah, kita harus dapat mengoptimalkan kemampuan radio untuk menyambung tali ikatan diantara sesama rakyat dan masyarakat, untuk berbagi pengetahuan dan informasi, dan untuk memperkuat saling pengertian.
Hari Radio Se-Dunia adalah saat yang tepat untuk mengakui keajaiban radio dan memanfaatkan kekuatannya bagi keuntungan bersama” kata Director General UNESCO pada perayaan pertama Hari Radio Se-Dunia.
Kesimpulan yang bisa kita tarik dari pesan ini secara tersirat adalah bahwa, kombinasi antara pemanfaatan kekuatan karakter radio yang disesuaikan dengan perubahan teknologi, itulah jalan untuk dapat mengoptimalkan kemampuan radio di masa depan, agar masih tetap dapat berperan bagi rakyat dan masyarakat. (arm)

Tidak ada komentar: