03 Maret 2014

Masyarakat Masih Buta-Media

oleh Andy Rustam

Kebebasan Pers, Kebebasan Berpendapat semakin meluas dan semakin dipermudah dan dimungkinkan sejalan dengan perkembangan Media dibantu pula dengan kemajuan Teknologi Informasi. Sekarang ini semua orang bisa bicara apa saja, kapan saja, di mana saja kepada siapa saja.

Sayangnya, tingkat kematangan jiwa dan kemampuan nalar berpikir sebahagian besar masyarakat kita dalam “menggunakan” media masih belum mencukupi. Baik pada sisi pihak komunikator-nya yang kurang mempertimbangkan dampak buruk yang bisa muncul sebagai akibat cara berkomunikasinya yang kurang tepat (disengaja maupun tidak), dan apalagi pada sisi pihak komunikan-nya, yang notabene masyarakat yang lebih banyak jumlahnya. Mereka itu dikarenakan tingkat intelektualitas dan pendidikannya yang belum memadai, dengan mudah selalu menjadi sasaran empuk dan menyerap apa saja yang dilontarkan media tanpa berpikir panjang. Sebahagian besar masyarakat kita memang masih “Buta-Media“.

Eforia Informasi

Kalau saya ditanya apa dosa yang paling besar dari rezim orde-baru, maka jawabnya adalah bahwa selama 30 tahun mereka telah melarang masyarakat  untuk berdiskusi, berpendapat dan mengembangkan nalar berpikirnya. Generasi sekarang lahir dan tumbuh jadi dewasa dalam suatu masa dimana segala sesuatu kebenaran hanyalah apa yang ditetapkan dan ditentukan dari pemerintah saja. Pemerintah orde-baru menggunakan media massa untuk terus menyampaikan “kebenaran” versi mereka, dan masyarakat wajib mempercayai dan mengikutinya.

Mempertanyakan, menganalisa, mengajukan opini dan mendiskusikan apa-apa yang menjadi ketetapan pemerintah orde-baru, dapat dicap sebagai suatu kegiatan subversif. Jadi tidak heran kalau sekarang, di zaman kebebasan ini, hampir semua orang seperti tidak bisa menggunakan pikiran dan nalar yang benar dalam berdiskusi, berkata-kata mengeluarkan pendapat dan bersikap. Itu dikarenakan otak mereka tidak terlatih untuk berpikir dan menganalisa, apalagi berpikir kritis. Sementara keinginan untuk mengeluarkan pendapat sangat besar.

Di sisi lain, masyarakat sendiri masih menganggap bahwa apapun yang diberikan oleh media sebagai suatu kebenaran yang bisa dipercayai (karena sudah terbiasa hidup seperti itu selama 30 tahun). Masyarakat dewasa ini sedang mengalami eforia keterbukaan informasi, pada saat yang sama mereka tidak terlatih untuk berpikir. Sehingga berbagai informasi diserap mentah-mentah saja atau disebar-luaskan tanpa dipikir lagi, baik itu oleh dan dari media massa konvensional maupun media internet ataupun media sosial.

Berita dan informasi yang masih “gosip” yang tidak jelas dan dapat diragukan akurasinya pun dengan mudah langsung dipercaya sebagai suatu kebenaran.

Sementara media sendiri, selaku komunikator, merasa dirinya “hebat” apabila bisa menjadi yang pertama menyiarkan berita / informasi, walau tanpa konfirmasi akan kebenarannya terlebih dahulu sekalipun. Sebagai komunikator, merekapun tidak terlatih untuk berpikir dulu akan dampaknya sebelum mengkomunikasikan pesan / informasi. Lagi-lagi sebuah contoh fenomena eforia informasi yang sedang melanda. Lebih parahnya lagi dikarenakan para pemilik media saat ini sarat dengan berbagai kepentingan diri atau kelompoknya saja, maka semakin menjadi-jadi mereka memanfaatkan kebutaan-media masyarakat.

Membangun Masyarakat Yang Melek Media

Rasanya yang paling dibutuhkan saat ini adalah bagaimana caranya agar masyarakat dapat dibebaskan dari penyakit buta-media. Masyarakat, terutama masyarakat luas penerima pesan yang menjadi sasaran media (yang paling sering menjadi “korban”), harus memiliki pengetahuan dan pemahaman  tentang media.

Pemahaman itu antara lain tentang pengetahuan dan kesadaran bahwa:
  1. Media sering mengkonstruksikan pesannya sedemikian rupa untuk “membujuk” pemirsa / pendengar / pembaca agar terbentuk persepsi sesuai keinginannya. Contoh yang paling jelas adalah pada pesan-pesan iklan / promosi. Sepenuhnya pesan tersebut dikonstruksikan agar memiliki kemampuan / daya persuasif. Ini kemudian disebarluaskan melalui media-media massa konvensional dan juga media terbarukan seperti: Internet, BBM, SMS, blog dsb.

    Kalau saja masyarakat sadar pesan ini hanyalah sebuah “bujukan” saja, tentu masyarakat tidak akan mudah langsung termakan pesan yang dilontarkan. Apalagi sekarang ini lagi musim kampanye Pemilu, banyak sekali iklan tokoh pemimpin dan parpol yang berusaha membujuk untuk memperoleh perolehan suara.
  2. Media dalam menyampaikan berita seringkali hanya dari sudut pandang tertentu (specific news angle). Artinya, hampir dipastikan bahwa media tidak pernah memberikan gambaran menyeluruh / lengkap. Ini berakibat timbulnya gambaran yang salah tentang satu situasi.

    Contoh yang paling baru misalnya tentang situasi di Bangkok, yang saat ini sedang ramai di media dengan tayangan demonstrasi anti PM Yingluck Shinawatra yang terlihat rusuh. Akibat berita ini, industri pariwisata Thailand terganggu, karena para wisatawan takut datang ke Bangkok. Namun, kebetulan anak saya mendapat tugas dari kantornya untuk ke Bangkok beberapa hari yang lalu. Sebagai ayah, saya sangat khawatir. Namun ternyata satu minggu dia tinggal di Bangkok, dia telpon saya dan mengatakan bahwa Bangkok aman-aman saja, tidak seperti yang dikesankan media. Jadi ternyata, memang media, baik sengaja ataupun tidak sengaja, telah memberikan gambaran yang salah, bukan?
  3. Media memiliki kemampuan untuk melebih-lebihkan (exaggerate), sehingga pembaca / pendengar / pemirsa akan berimajinasi layaknya hidup dalam fantasi (fantasi yang baik maupun yang buruk). Bagi orang yang buta media, fantasi ini dianggapnya sebagai suatu realita, terutama bagi anak-anak dan remaja atau orang-orang yang kurang tingkat intelektualitasnya.

    Contohnya banyak kita temui dalam tayangan-tayangan sinetron ataupun film. Adegan anak muda yang mengebut sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil dan naik ke trotoar, ugal-ugalan dengan mengacuhkan semua rambu-rambu lalu-lintas untuk menghindari kejaran polisi. Di akhir adegan, anak muda tersebut tersenyum bangga ketika berhasil lolos.

    Ketika adegan ini ditonton di bioskop, sensasi ketegangan menimbulkan kenikmatan tersendiri. Padahal jelas adegan ini hanyalah bikinan saja dan bukan benar-benar terjadi, bahkan kadang menggunakan animasi grafis komputer agar memberi efek fantastis. Namun anak-anak (orang-orang yang buta media) menganggap adegan ini sebagai suatu realita, sehingga timbul keinginan untuk mencoba untuk mengulang sensasi yang sama yang diperolehnya ketika di bioskop.

    Maka tidak heran pada realita di jalan raya sering kita temui adegan yang hampir sama tapi bahayanya nyata, dan tak lupa mereka pun tertawa bangga (persis seperti di film / tv).
Ketiga hal tersebut di atas hanyalah sedikit saja dari banyak kemampuan media yang dapat mempengaruhi sikap, perilaku dan kebiasaan masyarakat. Rasanya harus ada gerakan pendidikan media bagi masyarakat guna memberantas penyakit buta-media yang masih melanda sebahagian besar masyarakat kita. Karena kalau tidak, maka masyarakat akan terus menjadi korban. (arm)

Tidak ada komentar: