oleh Andy Rustam
Salah satu kebingungan yang dihadapi oleh rekan-rekan para radio broadcasters, terutama kita yang berada di Indonesia, adalah apa yang sebaiknya dilakukan sekarang ini dalam menyongsong era internet yang pemanfaatannya sebagai sarana komunikasi akan semakin merata di seluruh dunia. Dalam perkembangan penjualan alat penerima siaran radio (radio receiver AM / FM), kini sudah semakin jarang kita melihat ada orang yang menawarkan atau membelinya. Yang semakin meningkat penjualannya adalah perangkat digital termasuk penjualan smartphone, dimana di dalamnya terdapat aplikasi untuk mendengarkan siaran radio via internet. Jadi kenyataannya, semakin lama akan semakin sedikit orang yang memiliki akses untuk mendengarkan siaran radio terrestrial (melalui udara).
Lalu apakah itu berarti semua siaran radio terrestrial sekarang ini, harus disalurkan melalui internet sebagai siaran “live streaming”?
Pergeseran Cara
Sebenarnya selama ini, di antara tahun 80 – 90 an, apa sih yang mendorong orang ingin mendengar siaran radio (terrestrial)? Nah masalahnya, segala alasan / motivasi / penyebab seseorang pada dekade-dekade yang lalu ingin mendengarkan siaran radio, untuk era sekarang ini semakin lama semakin dapat digantikan oleh internet. Orang dengan mudah bisa mencari dan mendapatkan musik yang disukai, suara yang ingin didengar atau informasi yang dibutuhkan, dimana saja dan kapan saja via internet.
Kalau dulu orang memasang radionya tune-in di satu frekuensi mengharap-harap lagu-lagu yang disukainya akan diudarakan oleh si penyiar, anak-anak muda jaman sekarang cukup googling melalui smartphone-nya, klik... lagu tersebut langsung muncul tanpa perlu menanti dalam ketidakpastian.
Dari contoh ini, bisa kita lihat jelas sekali adanya perbedaan, bahwa kegiatan ingin mendengar lagu via siaran radio terrestrial adalah kegiatan pasif, sedangkan dengan tersedianya akses via internet, menjadi kegiatan aktif bagi orang tersebut untuk memenuhi keinginannya. Istilah yang sering terdengar bahwa, media-media konvensional bersifat “push (materi disorongkan kepada publik)”, sedangkan internet bersifat “pull (publik mencari materi yang diperlukannya)“. Namun tetap harus diakui bahwa, sebuah siaran radio baik terrestrial maupun melalui live streaming di internet, masih memiliki fungsi yang yang tak tergantikan yaitu, fungsi menemani seseorang dalam melakukan aktivitas tanpa terganggu kegiatannya.
Perbedaan Nyata
Siaran radio terrestrial secara teknis mempunyai jangkauan yang terbatas, sebatas efektifitas daya pemancar dan antenanya, rata-rata kurang lebih radius 40 km. Itu sebabnya kekuatan isi siaran radio terrestrial sangat lokal. Sedangkan kalau internet, justru jangkauannya menjadi sangat luas, melintasi batas-batas wilayah bahkan negara. Konsekuensi-nya, isi siaran radio yang tadinya sangat lokal itu menjadi tidak relevan ketika disiarkan melalui internet, bukan?
Signal carrier gelombang radio terrestrial hanya mampu membawa suara saja. Sedangkan melalui internet, proses digital menyebabkan signal mampu membawa berbagai macam data (photo, graphis, gambar bergerak, link, interaktivitas, dsb.) dan bukan hanya suara saja.
Masa Transisi
Dari uraian tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya dengan adanya perbedaan karakter media (yang konvensional “push media”, sedangkan internet “pull media”) ditambah dengan jangkauan yang menjadi tak terbatas dan kemampuan signal yang dapat membawa berbagai data, maka sebenarnya apabila sebuah stasiun terrestrial hanya mengandalkan “live streaming” di internet, artinya cuma memindahkan apa yang selama ini disalurkan melalui udara, hanya saja sekarang disalurkan melalui internet tanpa melakukan penyesuaian dengan karakter medianya, sesungguhnya itu belum cukup atau kurang sempurna alias tidak optimal.
Sekarang ini masih cukup banyak masyarakat yang memiliki radio receiver, baik di rumah maupun di mobilnya. Apalagi kita di Indonesia masih belum memiliki prasarana dan sarana connecting internet yang nyaman lancar tanpa banyak gangguan. Sehingga barangkali perhatian ke siaran radio melalui internet belum menjadi fokus utama. Namun hal ini harus diwaspadai untuk diantisipasi oleh para radio broadcasters, ajar jangan sampai baru tersadarnya setelah terlambat.
Siaran Radio melalui Internet
Selain bentuk siaran live streaming (simulcasting) yang selama ini kita kenal, dan memang paling mudah karena tidak merepotkan dan tidak memerlukan biaya yang besar, ada beberapa bentuk lain siaran radio melalui internet, sbb:
Tentu saja keempat contoh bentuk siaran radio melalui internet yang baru saya sebutkan tadi membutuhkan penanganan yang lebih khusus, bahkan mungkin harus disediakan team khusus dan peralatan khusus pula.
Artinya bagi stasiun radio terrestrial tersebut akan mempunyai extra-cost lagi, sementara peningkatan pendapatannya dari iklan masih belum bisa dipastikan.
Hal inilah yang sering menjadi sebab keengganan para pemilik stasiun radio untuk melakukan metamorfosa secara serius, menggarap siaran radio terrestrial-nya yang sudah mapan selama ini, menjadi sebuah siaran radio melalui internet secara sempurna. Pada tahap ini, pemilik stasiun radio XYZ harus mengoperasikan: (1) Siaran Radio XYZ Terrestrial melalui udara apa adanya, (2) Membuat baru Siaran Radio XYZ khusus Internet dengan materi yang dirancang khusus untuk radio internet.
Analoginya persis seperti surat kabar Kompas (versi cetak) dan Kompas E-paper (versi media digital). E-paper Kompas isinya ada kesamaannya dengan Kompas-cetak, tapi banyak pula perbedaannya. (arm)
Salah satu kebingungan yang dihadapi oleh rekan-rekan para radio broadcasters, terutama kita yang berada di Indonesia, adalah apa yang sebaiknya dilakukan sekarang ini dalam menyongsong era internet yang pemanfaatannya sebagai sarana komunikasi akan semakin merata di seluruh dunia. Dalam perkembangan penjualan alat penerima siaran radio (radio receiver AM / FM), kini sudah semakin jarang kita melihat ada orang yang menawarkan atau membelinya. Yang semakin meningkat penjualannya adalah perangkat digital termasuk penjualan smartphone, dimana di dalamnya terdapat aplikasi untuk mendengarkan siaran radio via internet. Jadi kenyataannya, semakin lama akan semakin sedikit orang yang memiliki akses untuk mendengarkan siaran radio terrestrial (melalui udara).
Lalu apakah itu berarti semua siaran radio terrestrial sekarang ini, harus disalurkan melalui internet sebagai siaran “live streaming”?
Pergeseran Cara
Sebenarnya selama ini, di antara tahun 80 – 90 an, apa sih yang mendorong orang ingin mendengar siaran radio (terrestrial)? Nah masalahnya, segala alasan / motivasi / penyebab seseorang pada dekade-dekade yang lalu ingin mendengarkan siaran radio, untuk era sekarang ini semakin lama semakin dapat digantikan oleh internet. Orang dengan mudah bisa mencari dan mendapatkan musik yang disukai, suara yang ingin didengar atau informasi yang dibutuhkan, dimana saja dan kapan saja via internet.
Kalau dulu orang memasang radionya tune-in di satu frekuensi mengharap-harap lagu-lagu yang disukainya akan diudarakan oleh si penyiar, anak-anak muda jaman sekarang cukup googling melalui smartphone-nya, klik... lagu tersebut langsung muncul tanpa perlu menanti dalam ketidakpastian.
Dari contoh ini, bisa kita lihat jelas sekali adanya perbedaan, bahwa kegiatan ingin mendengar lagu via siaran radio terrestrial adalah kegiatan pasif, sedangkan dengan tersedianya akses via internet, menjadi kegiatan aktif bagi orang tersebut untuk memenuhi keinginannya. Istilah yang sering terdengar bahwa, media-media konvensional bersifat “push (materi disorongkan kepada publik)”, sedangkan internet bersifat “pull (publik mencari materi yang diperlukannya)“. Namun tetap harus diakui bahwa, sebuah siaran radio baik terrestrial maupun melalui live streaming di internet, masih memiliki fungsi yang yang tak tergantikan yaitu, fungsi menemani seseorang dalam melakukan aktivitas tanpa terganggu kegiatannya.
Perbedaan Nyata
Siaran radio terrestrial secara teknis mempunyai jangkauan yang terbatas, sebatas efektifitas daya pemancar dan antenanya, rata-rata kurang lebih radius 40 km. Itu sebabnya kekuatan isi siaran radio terrestrial sangat lokal. Sedangkan kalau internet, justru jangkauannya menjadi sangat luas, melintasi batas-batas wilayah bahkan negara. Konsekuensi-nya, isi siaran radio yang tadinya sangat lokal itu menjadi tidak relevan ketika disiarkan melalui internet, bukan?
Signal carrier gelombang radio terrestrial hanya mampu membawa suara saja. Sedangkan melalui internet, proses digital menyebabkan signal mampu membawa berbagai macam data (photo, graphis, gambar bergerak, link, interaktivitas, dsb.) dan bukan hanya suara saja.
Masa Transisi
Dari uraian tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa sebenarnya dengan adanya perbedaan karakter media (yang konvensional “push media”, sedangkan internet “pull media”) ditambah dengan jangkauan yang menjadi tak terbatas dan kemampuan signal yang dapat membawa berbagai data, maka sebenarnya apabila sebuah stasiun terrestrial hanya mengandalkan “live streaming” di internet, artinya cuma memindahkan apa yang selama ini disalurkan melalui udara, hanya saja sekarang disalurkan melalui internet tanpa melakukan penyesuaian dengan karakter medianya, sesungguhnya itu belum cukup atau kurang sempurna alias tidak optimal.
Sekarang ini masih cukup banyak masyarakat yang memiliki radio receiver, baik di rumah maupun di mobilnya. Apalagi kita di Indonesia masih belum memiliki prasarana dan sarana connecting internet yang nyaman lancar tanpa banyak gangguan. Sehingga barangkali perhatian ke siaran radio melalui internet belum menjadi fokus utama. Namun hal ini harus diwaspadai untuk diantisipasi oleh para radio broadcasters, ajar jangan sampai baru tersadarnya setelah terlambat.
Siaran Radio melalui Internet
Selain bentuk siaran live streaming (simulcasting) yang selama ini kita kenal, dan memang paling mudah karena tidak merepotkan dan tidak memerlukan biaya yang besar, ada beberapa bentuk lain siaran radio melalui internet, sbb:
- Live streaming seperti apa adanya, ditambah dengan layanan tersedianya arsip siaran untuk pendengar dapat mendengar ulang siaran yang sudah lewat dan atau men-download materi yang sudah disiarkan.
- Menyiarkan materi-materi khusus dalam bentuk file acara-acara yang sudah dirancang dan diproduksi sebelumnya berdasarkan minat dari komunitas yang menjadi sasaran. Misal: Musik Pengantar Latihan Yoga. Pendengar kemudian dapat mendengar dan men-download file tersebut sesuai minatnya pada waktu yang ia tentukan sendiri pula (podcasting)
- Siaran streaming lagu-lagu jenis tertentu pilihan tertentu yang sudah terprogram berdasarkan pilihan atau selera pendengar sebelumnya.
- Siaran program interaktivitas dimana pendengar dapat ikut terlibat dalam merancang program yang akan dia dengarkan.
Tentu saja keempat contoh bentuk siaran radio melalui internet yang baru saya sebutkan tadi membutuhkan penanganan yang lebih khusus, bahkan mungkin harus disediakan team khusus dan peralatan khusus pula.
Artinya bagi stasiun radio terrestrial tersebut akan mempunyai extra-cost lagi, sementara peningkatan pendapatannya dari iklan masih belum bisa dipastikan.
Hal inilah yang sering menjadi sebab keengganan para pemilik stasiun radio untuk melakukan metamorfosa secara serius, menggarap siaran radio terrestrial-nya yang sudah mapan selama ini, menjadi sebuah siaran radio melalui internet secara sempurna. Pada tahap ini, pemilik stasiun radio XYZ harus mengoperasikan: (1) Siaran Radio XYZ Terrestrial melalui udara apa adanya, (2) Membuat baru Siaran Radio XYZ khusus Internet dengan materi yang dirancang khusus untuk radio internet.
Analoginya persis seperti surat kabar Kompas (versi cetak) dan Kompas E-paper (versi media digital). E-paper Kompas isinya ada kesamaannya dengan Kompas-cetak, tapi banyak pula perbedaannya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar