20 Maret 2014

Juru Kampanye (Jurkam) "Komunikasi untuk Persuasi"

oleh Andy Rustam

Rasanya sangat relevan kalau kita tampilkan topik ini, mengingat kita sedang berada di tahun pemilu (Pemilihan Umum) dalam rangka memilih wakil-wakil rakyat untuk duduk di DPR dan DPRD (April 2014), belum lagi nanti Pemilihan Presiden (Juni 2014). Bisa kita saksikan sudah sejak tanggal 16 Maret yang lalu kampanye resmi sudah mulai bergulir dan masing-masing parpol (partai politik peserta pemilu) mulai meluncurkan berbagai pesan / informasi kepada masyarakat luas, yaitu rakyat yang akan memberikan suaranya. Setiap parpol menunjuk para jurkam yang biasanya terdiri dari orang-orang yang terkenal, mulai dari artis, walikota, gubernur, juga para Ketua Umum parpol itu sendiri. Tugas para Jurkam ini cukup berat, karena melalui orasi-orasi-nya harus dapat membuat masyarakat calon pemilih menjadi tertarik. Tentu saja harapannya, para jurkam tadi akan dapat mempengaruhi masyarakat pemilih dan meningkatkan perolehan suara si parpol dalam pemilu nanti.

Aristotle’s Rhetoric

Ada pepatah yang mengatakan: “Jangan dengarkan siapa yang mengatakan, tetapi dengarkan apa yang dikatakannya”. Pepatah ini mirip maknanya dengan: “Don’t judge the book by its cover (jangan menilai buku dari sampulnya)”. Inti maknanya adalah, yang penting itu isi-nya! Saya sendiri secara pribadi sangat tidak setuju dengan pepatah ini. Karena buat saya, justru yang paling penting adalah “siapa yang mengatakan”. Bukankah iblis pun dapat berkata yang isinya baik-baik semua agar kita terpengaruh?! Padahal kalau kita percaya saja dengan apa yang dikatakan iblis, justru kita bisa terjerumus ke dalam neraka, bukan?? Begitulah ceritanya.

Pada sekitar tahun 367 SM – 322 SM seorang filsuf dan ilmuwan Yunani bernama, Aristoteles (Aristotle), telah menulis buku yang menjadi titik tolak atau menjadi pondasi dari ilmu seni berpidato, judulnya “Rhetoric”. Ternyata apa yang saya katakan tersebut diatas, sudah ditulis oleh Aristoteles dalam buku tersebut.

Rhetoric (= Retorika) mempunyai arti sebagai  “risalah tentang seni membujuk / persuasi”. Memang benar sekali, karena pada hakekatnya sebuah pidato itu adalah sebuah bujukan atau ajakan atau arahan untuk suatu maksud / tujuan. Oleh karena itu, seyogyanya kalau parpol-parpol ingin supaya para jurkam-nya sukses, maka harusnya para jurkam tahu jugalah intisari buku ini. Di sini Aristoteles menyebutkan 3 syarat agar sebuah pidato (baca: bujukan melalui pidato) tersebut bisa berhasil mempengaruhi publik, yaitu:

1. Ethos
“Siapa” yang mengatakan, akan sangat menentukan bagaimana nantinya respon publik / masyarakat atas “apa” yang dikatakan. Prinsipnya, kalau masyarakat percaya pada diri pribadi orang yang berpidato, maka masyarakat akan percaya juga dengan apa yang dikatakan dalam pidatonya. Kualitas karakter pribadi yang harus dimiliki oleh orang yang akan berpidato, antara lain: “kredibel / terpercaya, reputasi yang baik dan bersih, ramah dan tercermin selalu ingin menolong, berani, terbuka, konsekuen“. Sebuah karakter pribadi yang ber-etika. Banyak ahli pidato sudah membangun reputasi dan mempunyai hubungan sejak lama dengan publiknya. Sehingga publik sudah kenal betul orang seperti apakah mereka, dan apakah memang orangnya beretika atau tidak?!

Sebagai contoh:
Misalkan sebuah kalimat slogan/pesan yang bagus: “Kami akan bekerja untuk mensejahterakan rakyat“. Mana yang lebih Anda percayai, apabila kalimat ini diucapkan oleh Jurkam yang bernama: Prabowo; Aburizal; Rhoma Irama; Joko Widodo; Anis Matta; Surya Paloh atau SBY. Tentulah respon kepercayaan masyarakat akan berbeda-beda walau isi kalimatnya sama. Inilah faktor “ethos” yang dimaksud.

2. Pathos
Ketika menyampaikan pidatonya, seorang yang berpidato (apalagi Jurkam) harus memiliki aura semangat atau gairah (passion) tentang apa yang sedang disampaikannya. Kita sering mengalami, dulu ketika masih jadi mahasiswa, bagaimana seorang Dosen yang akan memberi kuliah terlihat sudah terlalu lelah ketika memasuki ruangan. Sehingga ketika memberikan kuliahnya, kelihatan sekali si Dosen sudah tidak bergairah. Tidak heran banyak mahasiswa yang tertidur. Sulit mengharapkan publik bersemangat untuk mendengarkan kita, sementara kita sendiri tidak bersemangat dalam menyampaikan pidato tersebut. Tentulah yang dimaksudkan oleh Aristoteles bukan berarti kalau berpidato itu harus selalu berteriak atau membentak-bentak seperti orang marah-marah. Yang dimaksud bergairah itu adalah jangan sampai membosankan. Artinya pandai bermain dengan intensitas emosi publik yang lagi mendengarkan.

Contoh untuk perbandingan saja, coba dengarkan pidato, yang disampaikan oleh alm. Pak Harto, bandingkan dengan Barack Obama (bisa dicari di youtube). Nah pasti akan terlihat, siapa yang lebih memiliki “pathos” dalam menyampaikan pidatonya (walaupun berbeda bahasa).

3. Logos
Isi sebuah pidato haruslah tidak bertentangan dengan akal. Ketika orang yang berpidato (jurkam) menyampaikan suatu pesan, maka otomatis publik / masyarakat yang mendengarkan pidato tersebut, akan membandingkannya dengan pengalaman, pengetahuan, dan fakta yang selama ini sudah tertanam di benaknya. Persepsi yang sudah ada sebelumnya sulit berubah kalau isi pidato bertentangan dengan akal ataupun karena tidak didukung data dan fakta yang meyakinkan. Terbukti misalnya, elektabilitas Partai Demokrat cenderung menurun karena banyak kadernya terkait kasus korupsi. Padahal pidato para kader Partai Demokrat selama ini dan bahkan Ketua Umum-nya berulang-ulang mengatakan: “Tidak terhadap Korupsi”.

Contoh lain lagi. Masyarakat luas sudah tahu bahwa pemilik TVOne adalah juga Ketum Partai Golkar, pemilik Metro TV adalah juga Ketum Partai Nasdem, dan RCTI juga dimiliki oleh Waketum Partai Hanura. Maka kalau pemberitaan stasiun-stasiun TV itu isinya kemudian cenderung mendiskreditkan partai lain dan memuji-muji partainya sendiri, dengan harapan agar masyarakat percaya dengan berita itu, maka hal tersebut sulit terjadi.

Karena logikanya, masyarakat memang wajar untuk tidak percaya. Bukankah tidak akan ada siaran stasiun TV yang menjelekkan sang pemilik dan memuji-muji lawan politik sang pemilik???

Dalam aspek “Logos” ini, strategi kampanye dari parpol-parpol menurut saya sangat buruk. Hampir semua jurkam hanya bercuap-cuap membagus-baguskan diri sendiri, mirip tukang obat di pasar yang berteriak-teriak obatnya paling manjur.

Nah sekarang, setelah membaca tulisan ini, mari kita tonton kampanye parpol-parpol, lalu kita amati dengan menggunakan ketiga butir patokan dari Aristoteles tersebut di atas. Anggap saja ini sebagai tambahan ilmu dan latihan. Siapa tahu, pada suatu saat nanti Anda akan jadi jurkam atau harus berpidato, minimal sekarang  ini kita sudah tahu, apa itu: Ethos, Pathos, Logos. (arm)

Tidak ada komentar: