12 Juni 2014

TV Show Bernama Sepak Bola (Bag. 2)

oleh Andy Rustam

Menyambung tulisan pada edisi yang lalu, kali ini saya akan lanjutkan saja topik kita, mengapa sebuah pertandingan sepak bola kelas dunia, seperti dalam World Cup 2014 di Brazil, sangat enak dinikmati. Point-point yang sama dari tayangan-tayangan pertandingan sepakbola ini, bisa kita tarik sebagai pelajaran untuk membuat sebuah TV Show yang menarik.

Sudah kita kita bahas pada tulisan sebelum ini bahwa untuk membuat sebuah TV Show yang menarik dipersyaratkan 3 hal:

  1. Penonton sudah paham: artinya penonton sudah mengenal garis besar isi / materi-nya secara umum.
  2. Penonton tahu apa tujuannya: artinya penonton sudah mengerti apa maksud / tujuan acara / show ini.
  3. Ada keterlibatan emosional antara penonton dan show tersebut.

Kita lanjutkan dengan 3 syarat tambahan selain ketiga syarat tersebut di atas agar show tersebut sempurna menarik sebagai sebuah tontonan.

Keterampilan Pemain / Pementas

Hampir semua pertandingan sepakbola dapat disebut menarik untuk ditonton apabila kedua kesebelasan yang bertanding memiliki pemain-pemain “jagoan”, yang dijadikan andalan. Manchester United akan kurang menarik utk ditonton apabila Rooney atau Van Persie tidak diturunkan, bukan? Mengapa demikian? Itu dikarenakan penonton ingin menyaksikan keterampilan individual mereka. Kesebelasan Brazil, rata-rata pemainnya memiliki keterampilan individual yang tinggi. Sehingga sekalipun mereka bukan kesebelasan yang memegang gelar Juara Dunia, tetapi hampir setiap penampilan kesebelasan Brazil memang mengasyikan untuk ditonton. Dari sini kita dapat belajar bahwa kalau acara televisi atau acara radio show kita ingin menarik banyak pemirsa atau pendengar, maka mau tidak mau para presenter / reporter atau para pemain / pementas panggung harus memiliki keterampilan ilmu yang tinggi, baik keterampilan teknis maupun non teknis. Tergantung show apa yang hendak Anda sajikan.

Contoh: Apabila Anda hendak menampilkan talk-show, maka si presenter harus memiliki keterampilan (1) Teknis, adalah seperti: Teknik Berbicara; Teknik Presentasi / Membawakan Acara. (2) Non Teknis, antara lain seperti: Cara Bertanya; Cara Berpenampilan (di depan kamera) ; Sopan-santun dan juga kreatifitas.

Apabila show yang hendak disajikan adalah acara musical-show, maka pengetahuan non teknis tentang musik-pun harus dikuasai. Kalau kebetulan Anda pula yang harus mengoperasikan mixer dan peralatan lain dalam sebuah “radio morning show”, maka kemahiran Anda menggunakan dan memainkan mixer dan peralatan lainnya akan sangat membantu membuat show anda menarik. Kalau kebetulan Anda menggunakan nara-sumber, maka nara-sumber tersebut haruslah yang kompeten, mumpuni dalam bidangnya.

Fokus dan Jaga Kualitas Selama Berlangsung

Pernahkah Anda melihat sebuah pertandingan dua tim kesebelasan sepak bola yang sama-sama hebat? Terlihat sekali bagaimana mereka saling serang dan saling bertahan dalam kondisi apapun sampai detik terakhir. Terlihat sekali walaupun para pemain sudah lelah, tapi mereka tetap menampilkan permainan terbaiknya untuk menjebol gawang lawan. Namun ketika skor akhirnya adalah 0 – 0, tentu ada sedikit kekecewaan di antara para penonton dan supporter kedua kesebelasan tersebut. Tapi cobalah Anda tanyakan kepada penonton, apakah mereka menilai pertandingan tersebut buruk atau menarik? Saya jamin, tidak seorang pun yang akan menilai pertandingan tersebut sebagai tidak menarik. Mereka semua tetap akan mengatakan pertandingan tersebut menarik. Mengapa? Karena kualitas permainan dari setiap pemain memang tidak ada yang buruk, dari awal hingga akhir, walaupun hasilnya kosong – kosong.

Untuk mudahnya mari kita perbandingkan dengan melihat sebuah pertunjukan “stand-up comedy show”, dimana setiap peserta mendapat waktu sekitar 2-3 menit untuk “melucu”. Setiap peserta kemudian mengeluarkan segala kemampuannya untuk membuat penonton tertawa, bukan? Sering sekali terlihat ada beberapa peserta yang sudah kehabisan bahan untuk melucu ketika masih setengah jalan, tetapi karena masih banyak waktu yang tersisa, sehingga akhirnya terpaksa ia harus memanjang-manjangkan dengan menambah-nambah keluar dari materi lucu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Akibatnya justru lawakannya menjadi tidak lucu, yang menyebabkan si peserta malah gagal di akhir, padahal di awalnya cukup berhasil mengundang tawa. Kesalahan seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, untuk sebuah show, persiapkanlah bahan / materinya dengan cukup, dan jaga stamina diri agar kualitas show terus terjaga dari awal hingga akhir.

Klimax (Puncak Pertunjukan)

Dalam World Cup 2014 di Brazil, pelatih kesebelasan Portugal, Felipe Scolari masih agak cemas, karena kondisi Cristiano Ronaldo dikabarkan masih belum pulih 100% dari cedera yang dideritanya. Pelatih kesebelasan Argentina, Alejandro Sabella juga sedang meragukan kondisi fisik dan mental Lionel Messi, apakah benar-benar siap untuk tampil maksimal dalam turnamen yang panjang dan berat ini?!

Tetapi saya yakin, para pelatih kelas dunia pasti akan memainkan para bintang lapangan mereka. Masalahnya tinggal kapan. Umumnya langkah yang akan diambil adalah “memasang” para bintang lapangan yang belum fit ini pada bagian akhir. Misalnya pada 15 menit terakhir babak II. Atau mungkin tidak menurunkannya sama sekali pada pertandingan-pertandingan pertama karena dianggap kurang penting. Misal, bisa saja nanti Messi tidak diturunkan pada pertandingan pertama antara Argentina vs. Trinidad.

Artinya, para pelatih kelas dunia itu umumnya pandai memperhitungkan, dengan memberikan yang terbaik pada kondisi yang penting, dalam hal ini umumnya di bahagian akhir. Penonton pun menunggu-nunggu dengan harap-harap cemas apakah sang jagoan akan dimainkan? Perhatian dan ketegangan emosi pun meningkat dalam mengikuti dan menyaksikan pertandingan tersebut. Akhirnya ketika sang jagoan dimainkan oleh pelatih, maka penonton pun bersorak gembira sebagai sebuah klimax.

Oleh karena itu, apabila kita hendak membuat sebuah show, kita harus selalu mempunyai terlebih dulu sebuah bahan / materi yang nanti akan menjadi kunci klimax (puncak) dari sebuah pertunjukan. Kunci klimax inilah yang akan dipasang di dekat-dekat akhir dari sebuah show. Kunci klimax ini nanti yang akan menjadi semacam oleh-oleh untuk dibawa pulang oleh penonton.

Kalau kita kembalikan ke contoh kita sebuah stand-up comedy show, maka mungkin materi yang paling lucu harus diletakkan pada bahagian akhir dari show tersebut. Klimax sebelum mengakhir sebuah show sudah harus direncanakan untuk ditampilkan pada bahagian akhir acara. Contoh yang paling sering saya saksikan, (karena adikku sendiri sih) yaitu pada Konser Musik Fariz RM. Menjelang show akan berakhir, barulah lagu-lagu hits legendarisnya dimunculkan, seperti: Barcelona dan Sakura. Para penonton pun puas setelah memperoleh “hadiah” untuk dibawa pulang... pertunjukkan pun berakhir. (arm)

Tidak ada komentar: