13 Agustus 2014

Kehilangan Minat Mengikuti Pembicaraan

oleh Andy Rustam

Sering saya mengikuti sebuah talk-show, wawancara, pidato, penjelasan, yang dibawakan oleh seseorang (penyiar / presenter / narasumber / tokoh / politisi dsb.), namun jarang sekali saya bisa bertahan mengikuti sampai akhir. Kita mendengar suara mereka, kita melihat gaya dan tingkah-polah mereka dengan jelas, tetapi tidak terjadi perubahan positif apapun pada diri kita. Padahal menurut para pakar (Watzlawick; Barnlund; Wilmot), komunikasi dapat dianggap berhasil apabila terjadi “modifikasi” pada sisi komunikan sesuai dengan maksud si komunikator. Tentulah maksud siaran tersebut dibuat agar publik mau menontonnya selama mungkin, bukan? Jujur saja, biasanya ketika terjadi break / jeda iklan yang pertama, saya sudah berpindah saluran TV.

Mengapa saya menjadi kehilangan minat untuk menonton siaran informasi maupun berita tersebut? Berikut ini beberapa faktor yang menjadi penyebab, sbb:

1. NARASUMBER YANG “SOK TAHU”

Seorang anggota Komisi I DPR-RI dengan sangat percaya diri menjawab (ketika ditanya oleh wartawan televisi) sbb: ”....kalau yang diakui hanya negara Palestina yang berdiri di atas tanah Israel saja, tanpa mengakui negara Israel, maka perang pasti akan berlangsung terus”. Saya pikir, kok begini kualitas anggota DPR kita? Sementara kita yang sedang menonton televisi tahu benar, sejarah mencatat bahwa konflik tersebut timbul justru dikarenakan Israel yang menduduki alias menjajah tanah bangsa Palestina. Sama persis seperti Indonesia yang dijajah Belanda (dan juga Jepang) dalam sejarah bangsa Indonesia.

Seorang pembicara tidak boleh kurang tahu dibandingkan pendengarnya. Kesalahan adalah hal yang wajar terjadi, tetapi seorang pembicara tidak bisa membuat kesalahan tentang satu hal, yang secara umum publik mengetahuinya dengan pasti, sementara si pembicara malah tidak tahu. Parahnya lagi, si pembicara gayanya seperti yang paling tahu, padahal salah. Parah! Ini akan menyebabkan penonton kehilangan minat untuk mengikuti pembicaraan tersebut.

2. BANYAK MENGGUNAKAN ISTILAH / KATA YANG TIDAK UMUM

Ini sering terjadi kalau kita menonton atau mendengar seorang dokter / profesor atau ahli ekonomi / komputer / hukum yang memberi penjelasan. Mereka sering menggunakan istilah yang mungkin biasa bagi kalangan akademis atau kalangan tertentu,  tapi bagi orang awam masih dibutuhkan penjelasan (paling tidak buat saya). Juga yang sering terjadi adalah penggunaan kata-kata baru dalam bahasa Indonesia. Contoh yang sering terdengar tapi artinya kurang dipahami oleh awam adalah: mitigasi, daring, derivatif, lesap dan banyak lagi. Kalau menggunakan kata sulit, sebaiknya di awal ada sedikit penjelasan. Namun bisa dimaklumi apabila pengucapan kata-kata sulit ini terjadi dalam siaran-siaran yang kurang penting (misal: infotainment). Bahkan seandainya salah pun dampaknya tidak besar-besar amat. Mungkin kita masih ingat bagaimana Vicky Prasetio menggunakan kata-kata yang tidak kita mengerti seperti: konspirasi hati, kudeta kemakmuran. Itu malah lucu, khan?

3. KECEPATAN BICARA

Sangat melelahkan mendengar seorang penyiar atau presenter yang berbicara dengan kecepatan tinggi. Mungkin maksudnya biar terkesan lancar, tidak tersendat. Entah mungkin juga dikarenakan sudah terdesak waktu karena sudah harus menyiarkan iklan, sering penyiar berita membacakan kalimat-kalimat berita dengan sangat cepat. Mereka lupa bahwa agar komunikasi pesan bisa berjalan dengan baik, syarat utamanya adalah pesan tersebut harus dapat ditangkap dan dipahami oleh yang mendengarkan. Tidak akan ada gunanya berusaha menyelesaikan sebuah kalimat dengan secepat-cepatnya, tapi publik tidak mengerti apa yang diucapkannya. Ini juga akan menghilangkan minat publik untuk mendengarkan siaran berita / pesan tersebut.

Sebaliknya, kata atau kalimat yang diucapkan dengan speed yang terlalu lambat juga akan menghilangkan minat mendengar seseorang, karena penyampaian yang terlalu lambat terkesan seperti kehilangan antusiasme. Publik tidak menyukai seorang pembicara yang tidak antuasias. Kecepatan bicara yang baik adalah sekitar 200 suku-kata sampai dengan 273 suku-kata per menit.

4. KEHILANGAN KONTROL EMOSI

Banyak acara di televisi yang sengaja mengeksploitasi emosi. Misal, pada acara talk-show / features yang menampilkan kesulitan hidup seorang anak manusia. Juga ada acara debat, dimana masing-masing pihak beradu argumen. Memang, adanya emosi dalam berbicara (dalam berkomunikasi) adalah salah satu daya tarik, dan memang emosi merupakan bumbu dari sebuah pesan yang disampaikan. Namun kalau pembicara sudah kehilangan kontrol emosi, sehingga hampir semua kalimat diucapkan secara emosional, akibat marah-marah atau akibat tangisan kesedihan yang amat sangat, biasanya struktur kalimat menjadi kacau, sehingga isi pesan yang disampaikannya menjadi sulit dipahami oleh penonton / pendengar. Selain itu, hal ini akan menghilangkan wibawanya sebagai pembicara akibat emosi yang berlebihan. Padahal sebuah pesan hanya bisa dipercaya apabila si pembicara itu memiliki kredibilitas (termasuk pembawaan diri yang matang). Penting bagi siapapun yang berbicara kepada publik, untuk selalu mengontrol emosinya. Sehingga emosi yang ada jangan sampai mengganggu ke-efektifan sebuah komunikasi pesan.

5. SUDAH BERPRASANGKA KETIKA BERTANYA

Semua jurnalis tahu benar bahwa ia harus netral, tidak boleh berpihak. Namun sepertinya etika begini hanya ada dalam peraturan dan pelajaran di sekolah saja. Dalam prakteknya hampir semua media sering menunjukkan keberpihakan. Kadang keberpihakan itu datang akibat tekanan dari otoritas (termasuk pemilik media), tetapi juga bisa karena tekanan masyarakat. Misal, dalam konflik Israel vs Hamas di Gaza, sangat sulit bagi media di Indonesia untuk menampilkan sisi bagaimana pandangan pihak Israel atas serangannya ke Gaza? Media takut nanti di-cap pro Israel, karena masyarakat di Indonesia sangat anti terhadap Israel. Sementara azas jurnalisme, yaitu “cover both side”, mengharuskan bahwa selain menampilkan pendapat dari sisi pihak Palestina, juga harus menampilkan dari sisi Israel.

Dalam masa pemilihan umum seperti sekarang ini, sering sekali kita melihat bagaimana pembawa acara TVOne ketika mewawancarai pihak Kubu Jokowi-JK, selalu bertanya dengan cara yang menyudutkan atau menampilkan narasumber yang tidak netral, begitu pula ketika penyiar Metro-TV mewawancarai pihak Kubu Prabowo-Hatta.

Walau bagaimanapun, dengan keberpihakan media / penyiar, sebenarnya yang paling dirugikan adalah publik. Karena publik tidak pernah bisa memperoleh gambaran yang sebenarnya. Sebuah pertanyaan yang “menyerang” sudah pasti akan mendapat jawaban yang sifatnya “bertahan”. Akibatnya duduk persoalan yang sesungguhnya menjadi bias. Publik tidak akan memperoleh jawaban yang sesungguhnya.

Contoh lain lagi, sehubungan dengan kriminalitas di kalangan anak sekolah, seorang penyiar televisi bertanya kepada narasumber: “Apa yang salah dengan sekolah-sekolah kita, Pak?”. Ini bentuk cara bertanya yang salah, karena pewawancara sudah berprasangka terlebih dahulu bahwa penyebab kenaikan angka kriminalitas anak-anak adalah kesalahan sekolah. Seharusnya cara ia bertanya, sbb: “Apa yang salah Pak? Mengapa kok angka kriminalitas di kalangan anak-anak semakin meningkat?”. Nah dengan cara bertanya seperti ini, maka jawaban yang keluar bisa jadi akan membahas aspek yang lebih luas. Sehingga dapat ditemukan solusi atas masalah tersebut. Sebuah artikel yang membahas kriminalitas anak-anak di Amerika, ternyata, penyebab kenaikan angka kriminalitas anak-anak adalah pada pendidikan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sosial dimana si anak tersebut hidup sehari-hari. Sedangkan pendidikan di sekolah adalah faktor ketiga.

Seorang pewawancara bukanlah seorang interogator yang melatar-belakangi diri dengan prasangka, dan berupaya agar yang diwawancarai menjawab sesuai keinginannya. Seorang penyiar harus mempunyai kepandaian untuk bertanya, sebuah seni bertanya secara tepat, tidak mengarahkan, sehingga akan mendapat jawaban yang benar, yang dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat. (arm)

Tidak ada komentar: