oleh Andy Rustam
Sudah setahun saya tidak menulis artikel di sini dikarenakan kesehatan saya yang tak memungkinkan. Alhamdulillah sekarang sudah mampu mulai menulis lagi. Oleh karena itu minggu lalu saya mendatangi Mas Agus dari BroadcastMag di kantornya, untuk menanyakan hal-hal terbaru yang menjadi permasalahan di dunia Radio Broadcasting. Ternyata menurut mas Agus tidak ada yang baru. Paling-paling situasi ketidakpastian akan masa depan radio di era digital.
Baiklah. Tentunya saya sendiri juga tidak bisa meramal apa-apa tentang masa depan. Tetapi berikut ini keyakinan saya yang didasarkan atas ilmu dan pengalaman yang saya miliki.
Perubahan Adalah Keniscayaan
Selama karier saya di dunia broadcasting, telah terjadi banyak sekali perubahan-perubahan besar yang memaksa kita, orang-orang radio, berputar otak melakukan innovasi. Secara ringkas saya sebutkan saja disini:
(1) Di tahun 50 – 60-an, generasi saya di Indonesia dibesarkan oleh siaran radio hanya dari RRI yang memiliki format siaran seperti majalah. Kemudian ketika lahir pemerintah orde baru, yang membolehkan keberadaan Radio Swasta, maka banyak radio swasta bersiaran mengikuti format majalah juga, yaitu: format dimana siaran sebuah radio memiliki berbagai macam mata acara yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, selama jam siaran. Sasaran pendengar radio ditujukan untuk semua kalangan. Tapi ketika semua radio swasta sudah bersiaran seperti itu, maka persaingan memperebutkan kue iklan semakin ketat. Masih untung ketika itu TVRI tidak boleh beriklan.
(2) Radio Swasta kemudian menata diri dan melakukan perubahan strategi dengan melakukan segmentasi pendengar, begitupula format siarannyapun menjadi tetap sepanjang siaran. Setiap radio memiliki kelompok pendengarnya sendiri.
(3) Ketika model seperti itu mulai berhasil, tiba-tiba lahirlah peraturan yang membolehkannya penggunaan frekuensi FM untuk siaran radio komersiel. Maka terjadi kebingungan lagi. Apakah kita semua harus pindah ke FM atau tetap bertahan di AM. Kalau pindah ke FM haruskan kita merubah lagi format siaran dan style siarannya? Akhirnya sebahagian besar Radio pindah ke FM, sedangkan beberapa yang bertahan di AM dan masih tetap memiliki pendengar juga.
(4) Ketika semua stasiun radio sudah asik dengan tenang siaran di FM, dengan program format yang jelas untuk setiap stasiun, pendapatan dari iklan pun meningkat, tiba-tiba pemerintah membolehkan adanya siaran komersiel televisi swasta. Bukan hanya lokal tetapi juga nasional. Langsung radio gonjang-ganjing lagi, mencari jalan bagaimana “berperang” dengan media televisi. Karena sudah pasti kue iklan akan lari ke televisi karena bukankah selain suara, televisi itu ada gambarnya. Pada masa itu saya sering keliling dari kota ke kota di Indonesia untuk memberikan pencerahan dan menghilangkan kekhawatiran teman-teman radio.
(5) Sekarang di era reformasi muncul berbagai macam media-media terbarukan seperti internet, facebook, twitter dsb. yang dapat diakses melalui smartphone, yang kini sudah berada di saku hampir setiap individu (terutama di kota-kota besar). Segala hal terkait informasi, musik, film dlsb. secara instant, real-time dapat diakses oleh mereka setiap saat. Mereka seolah-olah tidak lagi memerlukan radio atau televisi atau koran dan majalah. Terbukti ada majalah, suratkabar yang sudah tutup. Mungkin akan disusul pula oleh televisi lokal, stasiun radio dsb.
Kalau kita observasi, dalam setiap perubahan pastilah timbul kekhawatiran, dan memang kenyataannya ada yang sukses melewati masa transisi dan masuk ke era yang baru dengan selamat untuk seterusnya berkembang, tapi ada juga yang tidak berhasil alias gagal.
Mengapa Gagal & Mengapa Sukses?
Umumnya penyebab kegagalan itu sendiri karena pikiran pasti kalah alias pasti gagalnya sudah lebih menguasai diri, sehingga inisiatif apapun yang akan dilakukan tidak bisa optimal. Mereka yang sukses umumnya, mulai dari pemilik, manajemen, penyiar dll. tetap yakin bahwa mereka akan mampu memasuki era baru dengan konstalasi media yang berbeda. Dulu ketika televisi swasta lahir, memang kemudian terlihat beberapa radio station gulung tikar. Tapi ternyata kok cuma radio radio itu saja yang gulung tikar. Banyak radio lain tetap tegak berdiri, bahkan ada radio kalau orang mau pasang iklan ke situ harus antri.
Ketika saya mengajar, sering saya utarakan, bahwa kalau radio ingin selamat dan sukses melewati setiap perubahan, radio itu sendiri harus menjadi radio yang sesungguhnya. Artinya siaranlah dan buatlah program yang memang cocok dan khas untuk radio. Hanya dengan cara itu radio akan selalu berhasil membuat pendengarnya betah. Jangan coba-coba menjadi media lain. Misal: acara Fesbuker laris di televisi prime-time, kemudian radio membuat acara yang sama lalu disiarkan dalam waktu prime-time juga (pagi atau sore). Saya jamin inilah cara yang paling bagus untuk membuat pendengar anda lari alias tidak mau mendengarkan radio anda. Karena karakter media radio berbeda dengan karakter televisi.
Radio adalah media dimana pendengar itu, apabila mendengarkan radio, merasa ada seseorang yang mendampingi. Seseorang ini sudah tahu (tanpa harus diberi tahu) apa yang ingin pendengar dengar untuk dibicarakan. Seseorang ini tahu lagu apa yang ingin pendengar dengar saat ini. Berbeda sekali dengan televisi yang menghadirkan Panggung / Pentas ke rumah kita. Kita menjadi penonton yang duduk melihat apa yang terjadi di panggung.
Sering saya katakan, mangga yang memiliki rasa jeruk atau jeruk yang memiliki rasa mangga, pastilah tidak akan laku. Mangga haruslah menjadi Mangga yang baik dan Jeruk haruslah menjadi jeruk yang baik, agar dua-duanya bisa dibeli dan dinikmati orang.
Rumus untuk sukses dalam setiap perubahan adalah, ikuti perubahan dengan melakukan penyesuaian secara kreatif, tanpa harus merubah inti karakter media radio. Dengan demikian media radio justru akan semakin kuat dengan adanya perubahan tersebut.
Era Digital
Begitu pula di era digital. Cara bersiaran radionya sendiri tidak harus berubah. Tetapi cara bersiaran anda tentunya harus yang bagus, baik dan benar. Secara technologi memang berubah dari analog ke digital, artinya banyak peralatan yang harus di-convert ke digital.
Tetapi selain itu, ingat, masyarakat kini memiliki alternatif baru yang lebih luas dan lebih banyak pilihan melalui smartphone-nya dalam memenuhi keinginan akan musik / lagu, video, informasi dan berita, juga kebutuhannya untuk bersosialisasi. Semuanya tinggal klik melalui smartphone / notebook / Ipad.
Lalu apakah orang yang memiliki smartphone itu mempunyai keinginan untuk mendengarkan radio? Khususnya siaran radio kita? (melalui smartphone-nya).
Nah, artinya, tantangan utamanya yang sesungguhnya bagi orang radio, adalah menciptakan “sesuatu” yang menyebabkan para pemegang smartphone menjadi ingin terus tune-in ke radio anda melalui smartphone mereka, seperti apa yang mereka lakukan dengan facebook atau twitter. (arm)
Sudah setahun saya tidak menulis artikel di sini dikarenakan kesehatan saya yang tak memungkinkan. Alhamdulillah sekarang sudah mampu mulai menulis lagi. Oleh karena itu minggu lalu saya mendatangi Mas Agus dari BroadcastMag di kantornya, untuk menanyakan hal-hal terbaru yang menjadi permasalahan di dunia Radio Broadcasting. Ternyata menurut mas Agus tidak ada yang baru. Paling-paling situasi ketidakpastian akan masa depan radio di era digital.
Baiklah. Tentunya saya sendiri juga tidak bisa meramal apa-apa tentang masa depan. Tetapi berikut ini keyakinan saya yang didasarkan atas ilmu dan pengalaman yang saya miliki.
Perubahan Adalah Keniscayaan
Selama karier saya di dunia broadcasting, telah terjadi banyak sekali perubahan-perubahan besar yang memaksa kita, orang-orang radio, berputar otak melakukan innovasi. Secara ringkas saya sebutkan saja disini:
(1) Di tahun 50 – 60-an, generasi saya di Indonesia dibesarkan oleh siaran radio hanya dari RRI yang memiliki format siaran seperti majalah. Kemudian ketika lahir pemerintah orde baru, yang membolehkan keberadaan Radio Swasta, maka banyak radio swasta bersiaran mengikuti format majalah juga, yaitu: format dimana siaran sebuah radio memiliki berbagai macam mata acara yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, selama jam siaran. Sasaran pendengar radio ditujukan untuk semua kalangan. Tapi ketika semua radio swasta sudah bersiaran seperti itu, maka persaingan memperebutkan kue iklan semakin ketat. Masih untung ketika itu TVRI tidak boleh beriklan.
(2) Radio Swasta kemudian menata diri dan melakukan perubahan strategi dengan melakukan segmentasi pendengar, begitupula format siarannyapun menjadi tetap sepanjang siaran. Setiap radio memiliki kelompok pendengarnya sendiri.
(3) Ketika model seperti itu mulai berhasil, tiba-tiba lahirlah peraturan yang membolehkannya penggunaan frekuensi FM untuk siaran radio komersiel. Maka terjadi kebingungan lagi. Apakah kita semua harus pindah ke FM atau tetap bertahan di AM. Kalau pindah ke FM haruskan kita merubah lagi format siaran dan style siarannya? Akhirnya sebahagian besar Radio pindah ke FM, sedangkan beberapa yang bertahan di AM dan masih tetap memiliki pendengar juga.
(4) Ketika semua stasiun radio sudah asik dengan tenang siaran di FM, dengan program format yang jelas untuk setiap stasiun, pendapatan dari iklan pun meningkat, tiba-tiba pemerintah membolehkan adanya siaran komersiel televisi swasta. Bukan hanya lokal tetapi juga nasional. Langsung radio gonjang-ganjing lagi, mencari jalan bagaimana “berperang” dengan media televisi. Karena sudah pasti kue iklan akan lari ke televisi karena bukankah selain suara, televisi itu ada gambarnya. Pada masa itu saya sering keliling dari kota ke kota di Indonesia untuk memberikan pencerahan dan menghilangkan kekhawatiran teman-teman radio.
(5) Sekarang di era reformasi muncul berbagai macam media-media terbarukan seperti internet, facebook, twitter dsb. yang dapat diakses melalui smartphone, yang kini sudah berada di saku hampir setiap individu (terutama di kota-kota besar). Segala hal terkait informasi, musik, film dlsb. secara instant, real-time dapat diakses oleh mereka setiap saat. Mereka seolah-olah tidak lagi memerlukan radio atau televisi atau koran dan majalah. Terbukti ada majalah, suratkabar yang sudah tutup. Mungkin akan disusul pula oleh televisi lokal, stasiun radio dsb.
Kalau kita observasi, dalam setiap perubahan pastilah timbul kekhawatiran, dan memang kenyataannya ada yang sukses melewati masa transisi dan masuk ke era yang baru dengan selamat untuk seterusnya berkembang, tapi ada juga yang tidak berhasil alias gagal.
Mengapa Gagal & Mengapa Sukses?
Umumnya penyebab kegagalan itu sendiri karena pikiran pasti kalah alias pasti gagalnya sudah lebih menguasai diri, sehingga inisiatif apapun yang akan dilakukan tidak bisa optimal. Mereka yang sukses umumnya, mulai dari pemilik, manajemen, penyiar dll. tetap yakin bahwa mereka akan mampu memasuki era baru dengan konstalasi media yang berbeda. Dulu ketika televisi swasta lahir, memang kemudian terlihat beberapa radio station gulung tikar. Tapi ternyata kok cuma radio radio itu saja yang gulung tikar. Banyak radio lain tetap tegak berdiri, bahkan ada radio kalau orang mau pasang iklan ke situ harus antri.
Ketika saya mengajar, sering saya utarakan, bahwa kalau radio ingin selamat dan sukses melewati setiap perubahan, radio itu sendiri harus menjadi radio yang sesungguhnya. Artinya siaranlah dan buatlah program yang memang cocok dan khas untuk radio. Hanya dengan cara itu radio akan selalu berhasil membuat pendengarnya betah. Jangan coba-coba menjadi media lain. Misal: acara Fesbuker laris di televisi prime-time, kemudian radio membuat acara yang sama lalu disiarkan dalam waktu prime-time juga (pagi atau sore). Saya jamin inilah cara yang paling bagus untuk membuat pendengar anda lari alias tidak mau mendengarkan radio anda. Karena karakter media radio berbeda dengan karakter televisi.
Radio adalah media dimana pendengar itu, apabila mendengarkan radio, merasa ada seseorang yang mendampingi. Seseorang ini sudah tahu (tanpa harus diberi tahu) apa yang ingin pendengar dengar untuk dibicarakan. Seseorang ini tahu lagu apa yang ingin pendengar dengar saat ini. Berbeda sekali dengan televisi yang menghadirkan Panggung / Pentas ke rumah kita. Kita menjadi penonton yang duduk melihat apa yang terjadi di panggung.
Sering saya katakan, mangga yang memiliki rasa jeruk atau jeruk yang memiliki rasa mangga, pastilah tidak akan laku. Mangga haruslah menjadi Mangga yang baik dan Jeruk haruslah menjadi jeruk yang baik, agar dua-duanya bisa dibeli dan dinikmati orang.
Rumus untuk sukses dalam setiap perubahan adalah, ikuti perubahan dengan melakukan penyesuaian secara kreatif, tanpa harus merubah inti karakter media radio. Dengan demikian media radio justru akan semakin kuat dengan adanya perubahan tersebut.
Era Digital
Begitu pula di era digital. Cara bersiaran radionya sendiri tidak harus berubah. Tetapi cara bersiaran anda tentunya harus yang bagus, baik dan benar. Secara technologi memang berubah dari analog ke digital, artinya banyak peralatan yang harus di-convert ke digital.
Tetapi selain itu, ingat, masyarakat kini memiliki alternatif baru yang lebih luas dan lebih banyak pilihan melalui smartphone-nya dalam memenuhi keinginan akan musik / lagu, video, informasi dan berita, juga kebutuhannya untuk bersosialisasi. Semuanya tinggal klik melalui smartphone / notebook / Ipad.
Lalu apakah orang yang memiliki smartphone itu mempunyai keinginan untuk mendengarkan radio? Khususnya siaran radio kita? (melalui smartphone-nya).
Nah, artinya, tantangan utamanya yang sesungguhnya bagi orang radio, adalah menciptakan “sesuatu” yang menyebabkan para pemegang smartphone menjadi ingin terus tune-in ke radio anda melalui smartphone mereka, seperti apa yang mereka lakukan dengan facebook atau twitter. (arm)
1 komentar:
Izin share di Website Mercurius ( http://mercuriusfm.dimakassar.com ) yah kanda
Posting Komentar