oleh Andy Rustam
Inggris
Inggris adalah satu-satunya negara yang sudah menetapkan sistim untuk pesawat penerima radio digital, yaitu DAB (Digital Audio Broadcasting) dan DAB+. Indeed, the UK government's guidance, minimum specifications for DAB and DAB+ personal and domestic digital radio receivers, published in February 2013, says: "Receivers shall be capable of receiving DAB and DAB+ Digital Radio broadcasts in the frequency range 174 to 240MHz". Walau begitu sampai saat ini penggunanya (orang yang mendengarkan radio melalui pesawat penerima radio digital) masih sedikit. Pemerintah Inggris baru akan melarang siaran radio AM/FM terrestrial analog, apabila sudah 50% pendengar radio AM/FM yang jumlahnya sekitar 25 juta orang, telah memiliki pesawat digital radio receiver (pesawat penerima siaran radio digital DAB, DAB+). Jadi, di Inggris sekarang ini telah mulai dijual pesawat penerima siaran radio, dengan tombol pilihan: SW/AM/FM/DAB/DAB+. Ini yang membuat masa depan siaran radio terrestrial analog yang harus berubah menjadi sistim digital, menjadi lebih terang. Perubahan terjadi dengan bertahap secara natural, dimulai dengan tahapan adanya kedua platform berlaku bersamaan, dikarenakan sudah ditetapkannya sistim digital yang akan digunakan bagi siaran radio.
Amerika
Sekarang mari kita lihat di Amerika. Di Amerika ada sebuah perusahaan pemilik berbagai Radio Stations, namanya Emmis Communications, berbasis di Indianapolis – Indiana, USA. Sebagai pendiri dan CEO dari Emmis Communications, Mr. Jeff H Smulyan memiliki banyak stasiun radio siaran terrestrial antara lain, radio raksasa seperti POWER 106 Los Angeles dan HOT 97 di New York. Ketika ia ditanya apakah radio siaran terrestrial akan survive di era digital, dimana podcast, dan internet music service merajalela seperti Pandora dan Spotify, ia menjawab, “Problemnya dari industri radio siaran terrestrial di Amerika ini, karena kita tidak memiliki cachet”. Maksudnya, masih belum jelas arahnya sistim apa yang akan dipakai, sehingga pabrik yang membuat pesawat penerima radiopun masih ragu-ragu untuk memproduksi besar-besaran pesawat penerima siaran radio digital. Makanya tidak heran masa depan radio di Amerika saat ini masih kurang jelas. Banyak radio yang kemudian bereksperimen kemudian mencoba-coba menyalurkan siaran-nya melalui internet.
Mr. Jeff H. Smulyan selanjutnya berkata, ”Kami belum akan bersiaran melalui internet, karena kami memiliki alasan. Sebagai contoh, radio POWER 106 Los Angeles memiliki biaya terbesar yaitu Listrik USD 36.000 (kira-kira Rp 500 juta) per tahun untuk dapat menjangkau 15 juta pendengar di California Selatan, dimana 3 juta diantaranya sekarang adalah pendengar POWER 106. Kalau pendengar bertambah, biaya operasi stasiun radio tidak bertambah sama sekali.
Keuntungan Perusahaan dari Iklan yang diperoleh dalam setahun, jauh lebih besar dari apa yang diperoleh oleh radio music service via internet PANDORA selama ia berdiri sejak dari lahirnya. Dan... pendengar saya dapat menikmatinya siaran kami secara gratis. Sedangkan kalau melalui internet, biaya server yang besar dan bandwith bagi 3 juta pendengar saya mungkin bisa mencapai USD 1 juta (Rp 14 Milyar) yang harus perusahaan keluarkan rutin pertahun (note: kalau bandwith dan server kecil maka akan sedikit sekali jumlah pendengar yang bisa mendengar siaran sekaligus pada waktu yang sama, dengan nyaman). Kalau jumlah pendengar meningkat biaya kita juga meningkat. Besar sekali bukan? Internet memang hanya murah untuk orang ke orang. Itu baru biaya dari sisi pihak kami penyelenggara siaran, malah perhitungan akan bertambah lagi dari sisi pendengar yang akan men-download atau mendengarkan siaran streaming-pun harus mengeluarkan biaya berlangganan paket data, yang jumlahnya kalau digabung dari setiap pendengar POWER 106 dalam 1 tahun bisa lebih besar dari USD 1 juta. Fantastis bukan? Sayangnya, banyak orang pengguna internet / smartphone tidak menyadari bahwa sesungguhnya setiap hal yang mereka baca, lihat dan dengar untuk setiap detiknya harus bayar”.
Indonesia
Menurut saya, pemerintah Indonesia seharusnya bisa belajar dari kasus yang dihadapi oleh kedua negara ini. Pemerintah Inggris sepertinya pantas ditiru. Perpindahan ke sistim siaran digital tidak terlalu macam-macam, sampai membuat Undang-Undang yang tidak realistis. Prosesnya sama saja seperti yang dulu-dulu. ada siaran SW/MW, maka receiver yang diproduksi dan dijual adalah radio receiver SW/MW. Stasiun Radiopun menyesuaikan teknologinya. Lalu ketika lahir teknologi siaran dengan platform FM, para produsen radio receiver kemudian membuat dan menjual receiver SW/AM & FM. Sekarang Pemerintah Inggris (th 2013) cukup menetapkan sebuah sistim, maka lahirlah produsen radio receiver yang memiliki kapabilitas menangkap siaran AM/FM & DBS / DBS+.
Tetapi kalau pemerintah Indonesia masih tidak jelas dan berpegang pada UU yang tidak realistis, lalu situasinya jadi mengambang seperti di Amerika, tentu saja sedikit demi sedikit pasti akan semakin banyak radio siaran Terrestrial yang menghentikan siarannya.
Di Indonesia yang terjadi sekarang malah salah persepsi, bahwa radio siaran digital itu adalah siaran Radio FM analog tapi di-streaming-kan via internet. Bahkan banyak juga yang membikin siaran radio internet yang intinya yaaa siaran seperti radio biasa hanya saja langsung via laptop dimasukkan ke internet. Harapannya tentu calon pendengar akan bisa mendengar via smartphone-nya. Waduh... tentu saja itu bukanlah pemikiran bisnis yang benar, melainkan iseng-iseng berhadiah, makanya yang mendengar yaa paling-paling komunitasnya sendiri.
Apakah tidak sadar bahwa para pemegang smartphone itu pulsa-nya bayar. Nonton youtube aja, langsung habis deh pulsanya. Oleh karena itu setiap pemegang smartphone tidak akan mau menghabiskan pulsanya begitu saja. Mereka betul-betul hanya akan memilih materi dan mendengarnya (atau menontonnya) beberapa menit apabila materi itu memilki isi yang sangat disukainya. Berbeda dengan mendengarkan siaran radio, dimana dia tune-in sepanjang hari (gratis via radio receiver) lalu mendengarkan materi siaran yang telah dipilihkan oleh penyiar / stasiun radio. (arm)
Sumber Referensi:
http://www.slate.com/articles/arts/ten_years_in_your_ears/2014/12/the_future_of_terrestrial_radio_in_the_age_of_podcasts.html
http://www.theguardian.com/technology/askjack/2014/apr/25/what-are-the-options-for-radio-in-a-digital-age
Inggris
Inggris adalah satu-satunya negara yang sudah menetapkan sistim untuk pesawat penerima radio digital, yaitu DAB (Digital Audio Broadcasting) dan DAB+. Indeed, the UK government's guidance, minimum specifications for DAB and DAB+ personal and domestic digital radio receivers, published in February 2013, says: "Receivers shall be capable of receiving DAB and DAB+ Digital Radio broadcasts in the frequency range 174 to 240MHz". Walau begitu sampai saat ini penggunanya (orang yang mendengarkan radio melalui pesawat penerima radio digital) masih sedikit. Pemerintah Inggris baru akan melarang siaran radio AM/FM terrestrial analog, apabila sudah 50% pendengar radio AM/FM yang jumlahnya sekitar 25 juta orang, telah memiliki pesawat digital radio receiver (pesawat penerima siaran radio digital DAB, DAB+). Jadi, di Inggris sekarang ini telah mulai dijual pesawat penerima siaran radio, dengan tombol pilihan: SW/AM/FM/DAB/DAB+. Ini yang membuat masa depan siaran radio terrestrial analog yang harus berubah menjadi sistim digital, menjadi lebih terang. Perubahan terjadi dengan bertahap secara natural, dimulai dengan tahapan adanya kedua platform berlaku bersamaan, dikarenakan sudah ditetapkannya sistim digital yang akan digunakan bagi siaran radio.
Amerika
Sekarang mari kita lihat di Amerika. Di Amerika ada sebuah perusahaan pemilik berbagai Radio Stations, namanya Emmis Communications, berbasis di Indianapolis – Indiana, USA. Sebagai pendiri dan CEO dari Emmis Communications, Mr. Jeff H Smulyan memiliki banyak stasiun radio siaran terrestrial antara lain, radio raksasa seperti POWER 106 Los Angeles dan HOT 97 di New York. Ketika ia ditanya apakah radio siaran terrestrial akan survive di era digital, dimana podcast, dan internet music service merajalela seperti Pandora dan Spotify, ia menjawab, “Problemnya dari industri radio siaran terrestrial di Amerika ini, karena kita tidak memiliki cachet”. Maksudnya, masih belum jelas arahnya sistim apa yang akan dipakai, sehingga pabrik yang membuat pesawat penerima radiopun masih ragu-ragu untuk memproduksi besar-besaran pesawat penerima siaran radio digital. Makanya tidak heran masa depan radio di Amerika saat ini masih kurang jelas. Banyak radio yang kemudian bereksperimen kemudian mencoba-coba menyalurkan siaran-nya melalui internet.
Mr. Jeff H. Smulyan selanjutnya berkata, ”Kami belum akan bersiaran melalui internet, karena kami memiliki alasan. Sebagai contoh, radio POWER 106 Los Angeles memiliki biaya terbesar yaitu Listrik USD 36.000 (kira-kira Rp 500 juta) per tahun untuk dapat menjangkau 15 juta pendengar di California Selatan, dimana 3 juta diantaranya sekarang adalah pendengar POWER 106. Kalau pendengar bertambah, biaya operasi stasiun radio tidak bertambah sama sekali.
Keuntungan Perusahaan dari Iklan yang diperoleh dalam setahun, jauh lebih besar dari apa yang diperoleh oleh radio music service via internet PANDORA selama ia berdiri sejak dari lahirnya. Dan... pendengar saya dapat menikmatinya siaran kami secara gratis. Sedangkan kalau melalui internet, biaya server yang besar dan bandwith bagi 3 juta pendengar saya mungkin bisa mencapai USD 1 juta (Rp 14 Milyar) yang harus perusahaan keluarkan rutin pertahun (note: kalau bandwith dan server kecil maka akan sedikit sekali jumlah pendengar yang bisa mendengar siaran sekaligus pada waktu yang sama, dengan nyaman). Kalau jumlah pendengar meningkat biaya kita juga meningkat. Besar sekali bukan? Internet memang hanya murah untuk orang ke orang. Itu baru biaya dari sisi pihak kami penyelenggara siaran, malah perhitungan akan bertambah lagi dari sisi pendengar yang akan men-download atau mendengarkan siaran streaming-pun harus mengeluarkan biaya berlangganan paket data, yang jumlahnya kalau digabung dari setiap pendengar POWER 106 dalam 1 tahun bisa lebih besar dari USD 1 juta. Fantastis bukan? Sayangnya, banyak orang pengguna internet / smartphone tidak menyadari bahwa sesungguhnya setiap hal yang mereka baca, lihat dan dengar untuk setiap detiknya harus bayar”.
Indonesia
Menurut saya, pemerintah Indonesia seharusnya bisa belajar dari kasus yang dihadapi oleh kedua negara ini. Pemerintah Inggris sepertinya pantas ditiru. Perpindahan ke sistim siaran digital tidak terlalu macam-macam, sampai membuat Undang-Undang yang tidak realistis. Prosesnya sama saja seperti yang dulu-dulu. ada siaran SW/MW, maka receiver yang diproduksi dan dijual adalah radio receiver SW/MW. Stasiun Radiopun menyesuaikan teknologinya. Lalu ketika lahir teknologi siaran dengan platform FM, para produsen radio receiver kemudian membuat dan menjual receiver SW/AM & FM. Sekarang Pemerintah Inggris (th 2013) cukup menetapkan sebuah sistim, maka lahirlah produsen radio receiver yang memiliki kapabilitas menangkap siaran AM/FM & DBS / DBS+.
Tetapi kalau pemerintah Indonesia masih tidak jelas dan berpegang pada UU yang tidak realistis, lalu situasinya jadi mengambang seperti di Amerika, tentu saja sedikit demi sedikit pasti akan semakin banyak radio siaran Terrestrial yang menghentikan siarannya.
Di Indonesia yang terjadi sekarang malah salah persepsi, bahwa radio siaran digital itu adalah siaran Radio FM analog tapi di-streaming-kan via internet. Bahkan banyak juga yang membikin siaran radio internet yang intinya yaaa siaran seperti radio biasa hanya saja langsung via laptop dimasukkan ke internet. Harapannya tentu calon pendengar akan bisa mendengar via smartphone-nya. Waduh... tentu saja itu bukanlah pemikiran bisnis yang benar, melainkan iseng-iseng berhadiah, makanya yang mendengar yaa paling-paling komunitasnya sendiri.
Apakah tidak sadar bahwa para pemegang smartphone itu pulsa-nya bayar. Nonton youtube aja, langsung habis deh pulsanya. Oleh karena itu setiap pemegang smartphone tidak akan mau menghabiskan pulsanya begitu saja. Mereka betul-betul hanya akan memilih materi dan mendengarnya (atau menontonnya) beberapa menit apabila materi itu memilki isi yang sangat disukainya. Berbeda dengan mendengarkan siaran radio, dimana dia tune-in sepanjang hari (gratis via radio receiver) lalu mendengarkan materi siaran yang telah dipilihkan oleh penyiar / stasiun radio. (arm)
Sumber Referensi:
http://www.slate.com/articles/arts/ten_years_in_your_ears/2014/12/the_future_of_terrestrial_radio_in_the_age_of_podcasts.html
http://www.theguardian.com/technology/askjack/2014/apr/25/what-are-the-options-for-radio-in-a-digital-age
Tidak ada komentar:
Posting Komentar