19 Juni 2016

Pengertian: Berbicara di Depan Umum (Pidato / Public Speaking)

oleh Andy Rustam

Banyak orang yang menganggap bahwa berbicara di depan umum itu yaa.. seperti ngomong-ngomong biasa saja di antara teman-teman. Banyak pula yang menganggap bahwa berbicara di depan umum itu harus seperti seorang orator, dengan berapi-api ala Bung Karno. Atau malah seperti Pak Harto yang kalau berpidato sambil membaca teks dengan nada suara yang datar-datar saja sangat membosankan. Beberapa seminar tentang Berbicara di Depan Umum (Public Speaking) yang juga menampilkan para pembicara, umumnya para penyiar radio atau penyiar TV, tidak juga cukup untuk memberi pemahaman yang jelas. Sehingga bayangan orang-orang jaman sekarang, kalau ingin jadi Pembawa Acara / MC, atau Penyiar atau Presenter TV, mereka mendaftar kursus Public Speaking yang banyak tersebar di mana-mana. Tapi setelah selesai apakah ada jaminan bisa diterima bekerja jadi penyiar atau presenter TV? Kebanyakan terpaksa harus kecewa deh.

Apa itu Berbicara di Depan Umum?

Definisi Berbicara di Depan Umum adalah sebuah proses atau seni menampilkan komunikasi lisan langsung, di hadapan publik / sekelompok orang, dalam bentuk presentasi atau orasi / pidato. Dari definisi ini tersirat bahwa ini adalah sebuah “seni”. Artinya ini bukanlah ilmu pasti. Keberhasilannya lebih banyak didorong oleh “rasa” dan semakin sering dilatih akan semakin baik. Juga tersirat dari definisi ada kata “Komunikasi-Lisan”, yang artinya ini bukan tentang sekedar ngomong-ngomong saja, melainkan sebuah komunikasi-lisan, dimana tentunya segala hukum komunikasi berlaku ketika berbicara dihadapan umum.

Lalu ada kata “langsung di hadapan publik”. Ini artinya jelas, bahwa seorang penyiar radio atau penyiar berita TV ketika membacakan berita tidaklah termasuk dalam katagori bidang Public Speaking, karena tidak langsung berhadapan dengan publik, bukan? Apabila “Berbicara di Depan Umum” dilakukan melalui radio atau televisi atau internet / satelit dsb., maka secara keilmuan itu sudah masuk dalam kategori “Komunikasi Media Massa”. Jenis komunikasi ini memang hampir mirip dengan Public Speaking namun tetap memiliki perbedaan, mengingat jumlah / ukuran khalayaknya jauh lebih besar dan lebih heterogen dibandingkan dengan Public Speaking (Berbicara di hadapan Umum / Berpidato).

Komunikasi-Lisan

Hasil akhir dari semua komunikasi adalah terjadinya modifikasi pada komunikan (orang-orang yang menerima pesan komunikasi), setelah mendengar / membaca / melihat pesan-pesan yang disampaikan oleh Komunikator. Maka jelas sekali bahwa faktor terpenting untuk keberhasilan komunikasi (termasuk komunikasi-lisan) adalah mengenali khalayak komunikannya, mengetahui apa kebutuhannya, apa harapan-harapannya dan apa aspirasinya. Semakin kita mengenalnya dengan baik, maka semakin mudah bagi kita (komunikator) untuk berkomunikasi memodifikasi si komunikan.

Berbicara / Berpidato di Hadapan Umum (Public Speaking) adalah salah satu bentuk Komunikasi-Lisan yang paling efektif, justru karena khalayaknya lebih homogen dan berhadapan muka langsung (face to face).

Contoh: Misalnya saya seorang Politisi, ingin menggerakkan buruh agar bangkit melawan Pemerintah. Maka saya harus berpidato langsung di depan Buruh-Buruh Pabrik. Tentulah issue yang paling pas yang sudah sama-sama kita ketahui adalah dengan memunculkan soal Kenaikan Upah, soal Ketidak-adilan (karena ini merupakan aspirasi mereka). Pastilah buruh-buruh yang selama ini tenang-tenang saja akan ter-modifikasi menjadi bergejolak dan bergeraklah mereka untuk demo.

Jenis-Jenis Berbicara di Depan Umum

(1) Berpidato untuk meng-Informasi-kan:

Ketika anda berbicara dihadapan sekelompok orang untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu topik atau issue khusus, maka ini dinamakan jenis Pidato Informatif. Contoh, a.l: Presentasi Bisnis, Memberi Seminar / Kuliah, Pemaparan Gagasan. Pidato Informatif sering disebut juga Pidato Inspiratif.

Seseorang yang mau melakukan jenis Pidato Informatif harus memiliki dasar-dasar fakta dan data yang kredibel untuk mendukung. Durasinya tidak boleh terlalu panjang tapi harus cukup berbobot. Keberhasilan Pidato Informatif, terukur dari berapa banyak orang yang bisa mengerti dan paham dengan maksud dan apa yang tadi dipidatokan.

(2) Berpidato untuk mem-Pengaruhi:

Bayangkan anda sedang jadi juru-kampanye si Yusril. Anda berpidato dari satu kecamatan ke kecamatan lain dihadapan warga. Anda mengatakan bahwa Yusril adalah pilihan terbaik warga DKI Jakarta. Dia jauh lebih baik dari Basuki Tjahja Purnama, untuk menduduki jabatan Gubernur DKI Jakarta. Maka pidato seperti ini termasuk jenis Pidato Influensif / Persuasif, karena memiliki tujuan untuk merubah opini dan meyakinkan hadirin. Tentu ini pekerjaan yang agak berat karena bisa saja sebahagian hadirin justru memiliki opini dan gagasan yang bertentangan dengan anda.

Kuncinya anda harus berpidato dengan menunjukkan antusiasme dan kegembiraan. Ini akan menjadi lebih susah apabila anda melakukannya bukan terdorong dari lubuk hati nurani anda. Dilain pihak andapun harus sadar bahwa anda bukan bermaksud berdebat atau berargumentasi apalgi berantem. Oleh karena itu, pilihan kata-katanyapun dijaga jangan sampai menyinggung perasaan orang lain. Pidato jenis Persuasif / Influensif ini sering dipakai oleh Salesman, Pemimpin Politik dan Pimpinan Aliran Agama.

(3) Berpidato untuk me-Motivasi agar melakukan sesuatu:

Ini adalah suatu bentuk Public Speaking yang tingkatnya lebih tinggi dari pidato persuasif yang bertujuan mempengaruhi. Tujuannya kali ini untuk memotivasi orang sedemikian rupa agar melangkah berbuat sesuatu → Action. Pidato jenis ini sering dipakai pada situasi konflik / perang, agar rakyat semua bergerak melawan musuh. Ini dipakai juga untuk membakar emosi sehingga para calon teroris dan calon pembom bunuh diri agar mau melaksanakan tindakan yang irasional sama sekali. Kalimat-kalimat yang digunakan biasanya terdiri dari kata-kata bernada keras, atau yang bobot emosinya besar. Si komunikator menggunakan cara memainkan emosi para komunikan untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang dianutnya, alasan-alasannya, dan biasanya menyebutkan bahwa ini menjadi beban dan tanggung jawab semua orang, agar mau bergabung dan bertindak sesuai keinginan si komunikator. Apabila ditelusuri, pidatonya akan terdengar se-olah-olah masuk akal, namun sesungguhnya tidak, namun karena tertutup oleh kata-kata yang membakar emosi, menyebabkan tidak ada kesempatan banyak bagi para pendengar untuk mencerna susunan-susunan kalimat yang tidak masuk akal tersebut. Pidato ini termasuk jenis pidato Actuational / Motivational Speech (Pidato Aktuasi/Motivasi)

(4) Berpidato untuk menghibur / mengajak atau menyenangkan hati orang lain:

Pidato-pidato dalam kegiatan sosial, termasuk: upacara pernikahan, sambutan-sambutan bagi kelulusan, ulang tahun, pemakaman, halal-bihalal dsb, adalah golongan jenis Pidato-Pidato Sosial / Seremonial. Biasanya si Komunikator berpidato dihadapan orang-orang yang sudah dikenalnya atau sudah memiliki hubungan yang relatif dekat. Oleh karena itu sebaiknya isinya menyentuh juga peristiwa-peristiwa atau hal-hal yang istimewa yang terkait dengan acara atau seseorang yang dikenal oleh para hadirin. Sifat pidato biasanya agak segar dan menyentuh hati sesuai dengan kondisi dan suasananya. Yang perlu sekali diingat, adalah agar berhati-hati jangan sampai ada kata-kata / kalimat yang salah sebut atau yang dapat menyinggung perasaan, karena akan justru merusak suasana event yang sedang diselenggarakan.

Bagi seorang yang sudah ahli dalam berpidato, tentu saja mereka tidak terlalu ambil pusing dengan 4 jenis pengelompokan pidato tersebut di atas. Biasanya justru keempat jenis itu dikombinasikan. Dalam sebuah pidato yang cukup panjang mereka menggabungkan semua, sehingga pidatonya terdengar sangat informatif / inspiratif, tetapi juga segar dan menghibur serta membuat wawasan kita pun semakin lebar, dan dengan sendirinya kita pun menjadi termotivasi untuk melakukan atau mencoba seperti apa yang dikatakannya. (arm)

2 komentar:

MPC PP Sidrap mengatakan...

Inspiratif...

MPC PP Sidrap mengatakan...

Inspiratif