oleh Andy Rustam
Pernahkah kita mendengar seseorang berceramah atau berpidato, tetapi baru saja beberapa menit berlalu, kita sebagai pendengar sudah merasa bosan? Padahal sebetulnya topik yang dibicarakannya cukup ringan dan menarik, tetapi tetap saja kita dengan cepat kehilangan minat mendengar. Sementara pada lain kesempatan, ada lagi seorang pembicara dalam sebuah seminar membawakan topik yang agak berat, tetapi cara membawakannya membuat kita begitu menikmati ceramahnya. Sudah 45 menit berlalu, tidak muncul rasa bosan sama sekali. Apakah yang menjadi penyebab hilangnya minat untuk terus mendengarkan? Faktor apa saja yang dapat membuat orang betah mendengarkan kita sebagai pembicara?
Topik yang Relevan
Kalau Anda penyiar radio yang harus setiap hari siaran pada jam / waktu yang sama, tentulah cukup pusing karena harus memilih topik yang berbeda-beda setiap hari untuk jadi bahan pembicaraan. Penyiar yang baik tentu akan memilih topik yang relevan dengan apa yang yang menjadi minat kelompok pendengarnya. Begitu pula kalau Anda harus berpidato atau memberikan sambutan, pilihlah topik yang punya kaitan erat (relevan) dengan “keadaan dan suasana hati” para hadirin. Misalnya, pada perayaan Hari kemerdekaan tentu sangat relevan kalau kita misalnya mengangkat topik terkait dengan perayaan-perayaan yang menumbuhkan rasa kebangsaan. Lalui apabila hadirinnya adalah para wanita atau ibu-ibu, maka topik kebangsaan itu bisa dikerucutkan lagi menjadi topik tentang sesuatu yang menjadi minat mereka. Misal tentang, busana nasional yang beraneka-ragam dari setiap daerah di Indonesia.
Gaya Bicara
Gaya Bicara termasuk pemilihan kata yang diuntai menjadi kalimat-kalimat adalah salah satu hal yang paling penting agar hadirin tetap terjaga minatnya. Gaya Bicara terlalu formal membuat suasana kaku, tetapi kalau terlalu sok bergaya anak muda dengan bahasa gaul juga terkesan tidak serius dan garing. Memang pemilihan gaya-bicara yang paling pas adalah harus bermain terus diantara keduanya. Kadang formal, kadang santai, tapi yang terpenting semuanya itu harus terlihat wajar (tidak dibuat-buat).
Pemilihan kata-kata yang variatif (untuk maksud yang sama), juga akan membuat pidato atau ceramah anda terdengar segar.
Contoh:
Ketika masih kecil saya tinggal di Sragen. Ketika ayah saya mendapat kerja di Jogja, kamipun sekeluarga pindah kesana. Tapi ketika sudah remaja, saya malah harus kembali tinggal di Sragen.
Coba bandingkan apabila kata “ketika” kita ganti dengan kata lain, sbb:
Pada waktu masih kecil saya tinggal di Sragen. Ketika ayah saya mendapat kerja di Jogja, kamipun sekeluarga pindah kesana. Tapi sewaktu saya sudah remaja, saya malah harus kembali tinggal di Sragen.
Nada Bicara
Kalau kita bernyanyi ada nada-nada yang kita naikkan dan turunkan, sehingga terbentuk melodi indah dari sebuah lagu. Dalam berbicara juga ada nada-nada yang apabila kita tidak perhatikan naik-turunnya, sehingga nada bicara kita yang terdengar seperti berkisar pada 1 nada saja, ini akan membangkitkan kebosanan pada para hadirin yang mendengarkan. Menurut Prof. Mehrabian dari UCLA (University of California, Los Angeles), nada bicara mempunyai pengaruh yang besar dalam komunikasi. Pengaruh nada bicara terhadap “makna” yang dikeluarkan oleh pembicara dan kemudian ditangkap oleh para hadirin dalam sebuah komunikasi mencapai 38%. Kata-kata yang menarik yang diucapkan dengan nada yang monotone, jelas menjadi tidak menarik untuk didengar.
Bahasa Tubuh (Gesture)
Bahasa tubuh juga mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk “makna” sebuah pesan yang akan ditangkap hadirin. Bahkan pengaruhnya lebih besar lagi dari nada bicara dan kata-kata. Bahasa tubuh berpengaruh hingga 55% dalam sebuah komunikasi. Tetapi bukan artinya setiap pembicara yang ingin agar publik tidak bosan, lalu kemudian selalu menggerak-gerakan tubuhnya. Bahasa tubuh dari seorang pembicara justru harus terlihat wajar dan merupakan ekspresi yang menguatkan makna dari kata-kata yang diucapkan. Jadi seorang pembicara yang tidak memiliki dukungan bahasa tubuh sama-sekali atau tidak memiliki dukungan bahasa tubuh yang benar, dalam menyampaikan kalimat-kalimatnya, akan menyebabkan hadirin kurang optimal dalam menangkap makna-nya. Hal inilah yang dibawah sadar akan menimbulkan kelelahan untuk berkomunikasi, dan akhirnya bisa kehilangan minat untuk mendengar.
Kurang Memperhatikan Hadirin
Kita semua pasti pernah mengalami, hadir dalam sebuah event dimana seorang pembicara, memberikan pidato / sambutannya dengan membaca naskah yang sudah dibuatkan. Tidak mengapa berpidato dengan membaca naskah. Namun cara membacanya tidak boleh seperti membaca bablas begitu saja, tanpa memperdulikan apakah hadirin menangkap makna dari kalimat-kalimatnya. Sebuah kesalahan apabila kita berpendapat bahwa yang penting saya sudah bacakan pidato ini. Kalau cara membacanya seperti begini, maka inilah contoh bagaimana hadirin seperti tidak diperhatikan, seperti tidak dipedulikan, seperti tidak diajak bicara. Kalau Anda merasa tidak diajak bicara, apalagi topiknya tidak relevan dengan kebutuhan Anda, maka sudah pastilah Anda akan merasa bosan, bukan?
Merendahkan Hadirin (Walau tak sengaja)
Menjelang Pilpres di Amerika Serikat, kita sering mendengar bagaimana Donald Trump (capres dari Partai Republik) berpidato yang isinya sering merendahkan kelompok-kelompok masyarakat warga Amerika Serikat sendiri (seperti a.l: masyarakat kulit hitam, masyarakat muslim, masyarakat latin). Akibatnya diantara anggota Partai Republik sendiri, yang mungkin saja dia ataupun keluarganya merasa terhina, justru sekarang menentang Donald Trump.
Oleh karena itu, pada dasarnya ketika kita berbicara di depan publik, kita harus selalu bersikap santun. Sekalipun kita ingin “menyerang” lakukanlah dengan gaya bicara yang elegant. Sikap santun pasti akan mengundang simpati, baik kepada kawan maupun lawan kita. Sikap yang membangkitkan simpati justru akan membuat orang “betah” mendengar pidato kita.
Durasi Bicara Terlalu Lama
Yang dimaksud dengan terlalu lama bukanlah soal berapa menit atau berapa jam seseorang berpidato atau berceramah, melainkan berapa banyak porsi waktu yang diambil dari para hadirin untuk mendengarkan pidatonya. Artinya, haruslah dilihat terlebih dahulu “apa eventnya? atau dalam acara apa?”. Karena hadirin pun sudah memiliki jadwal kegiatannya sendiri. Hal ini yang sering kurang dipahami oleh si pembicara dan terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Misalnya, pada khotbah Idul Fitri, seringkali khotbahnya terlalu panjang, sementara ibu-ibu masih harus mempersiapkan hidangan di rumah untuk menyambut tamu yang akan berlebaran. Maka sudah barang tentu, buat ibu-ibu khotbah tersebut membosankan, terlalu lama. Maka tidak usah heran kalau ibu-ibu terburu-buru angkat kaki, walau khotbah belum selesai. (arm)
Pernahkah kita mendengar seseorang berceramah atau berpidato, tetapi baru saja beberapa menit berlalu, kita sebagai pendengar sudah merasa bosan? Padahal sebetulnya topik yang dibicarakannya cukup ringan dan menarik, tetapi tetap saja kita dengan cepat kehilangan minat mendengar. Sementara pada lain kesempatan, ada lagi seorang pembicara dalam sebuah seminar membawakan topik yang agak berat, tetapi cara membawakannya membuat kita begitu menikmati ceramahnya. Sudah 45 menit berlalu, tidak muncul rasa bosan sama sekali. Apakah yang menjadi penyebab hilangnya minat untuk terus mendengarkan? Faktor apa saja yang dapat membuat orang betah mendengarkan kita sebagai pembicara?
Topik yang Relevan
Kalau Anda penyiar radio yang harus setiap hari siaran pada jam / waktu yang sama, tentulah cukup pusing karena harus memilih topik yang berbeda-beda setiap hari untuk jadi bahan pembicaraan. Penyiar yang baik tentu akan memilih topik yang relevan dengan apa yang yang menjadi minat kelompok pendengarnya. Begitu pula kalau Anda harus berpidato atau memberikan sambutan, pilihlah topik yang punya kaitan erat (relevan) dengan “keadaan dan suasana hati” para hadirin. Misalnya, pada perayaan Hari kemerdekaan tentu sangat relevan kalau kita misalnya mengangkat topik terkait dengan perayaan-perayaan yang menumbuhkan rasa kebangsaan. Lalui apabila hadirinnya adalah para wanita atau ibu-ibu, maka topik kebangsaan itu bisa dikerucutkan lagi menjadi topik tentang sesuatu yang menjadi minat mereka. Misal tentang, busana nasional yang beraneka-ragam dari setiap daerah di Indonesia.
Gaya Bicara
Gaya Bicara termasuk pemilihan kata yang diuntai menjadi kalimat-kalimat adalah salah satu hal yang paling penting agar hadirin tetap terjaga minatnya. Gaya Bicara terlalu formal membuat suasana kaku, tetapi kalau terlalu sok bergaya anak muda dengan bahasa gaul juga terkesan tidak serius dan garing. Memang pemilihan gaya-bicara yang paling pas adalah harus bermain terus diantara keduanya. Kadang formal, kadang santai, tapi yang terpenting semuanya itu harus terlihat wajar (tidak dibuat-buat).
Pemilihan kata-kata yang variatif (untuk maksud yang sama), juga akan membuat pidato atau ceramah anda terdengar segar.
Contoh:
Ketika masih kecil saya tinggal di Sragen. Ketika ayah saya mendapat kerja di Jogja, kamipun sekeluarga pindah kesana. Tapi ketika sudah remaja, saya malah harus kembali tinggal di Sragen.
Coba bandingkan apabila kata “ketika” kita ganti dengan kata lain, sbb:
Pada waktu masih kecil saya tinggal di Sragen. Ketika ayah saya mendapat kerja di Jogja, kamipun sekeluarga pindah kesana. Tapi sewaktu saya sudah remaja, saya malah harus kembali tinggal di Sragen.
Nada Bicara
Kalau kita bernyanyi ada nada-nada yang kita naikkan dan turunkan, sehingga terbentuk melodi indah dari sebuah lagu. Dalam berbicara juga ada nada-nada yang apabila kita tidak perhatikan naik-turunnya, sehingga nada bicara kita yang terdengar seperti berkisar pada 1 nada saja, ini akan membangkitkan kebosanan pada para hadirin yang mendengarkan. Menurut Prof. Mehrabian dari UCLA (University of California, Los Angeles), nada bicara mempunyai pengaruh yang besar dalam komunikasi. Pengaruh nada bicara terhadap “makna” yang dikeluarkan oleh pembicara dan kemudian ditangkap oleh para hadirin dalam sebuah komunikasi mencapai 38%. Kata-kata yang menarik yang diucapkan dengan nada yang monotone, jelas menjadi tidak menarik untuk didengar.
Bahasa Tubuh (Gesture)
Bahasa tubuh juga mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk “makna” sebuah pesan yang akan ditangkap hadirin. Bahkan pengaruhnya lebih besar lagi dari nada bicara dan kata-kata. Bahasa tubuh berpengaruh hingga 55% dalam sebuah komunikasi. Tetapi bukan artinya setiap pembicara yang ingin agar publik tidak bosan, lalu kemudian selalu menggerak-gerakan tubuhnya. Bahasa tubuh dari seorang pembicara justru harus terlihat wajar dan merupakan ekspresi yang menguatkan makna dari kata-kata yang diucapkan. Jadi seorang pembicara yang tidak memiliki dukungan bahasa tubuh sama-sekali atau tidak memiliki dukungan bahasa tubuh yang benar, dalam menyampaikan kalimat-kalimatnya, akan menyebabkan hadirin kurang optimal dalam menangkap makna-nya. Hal inilah yang dibawah sadar akan menimbulkan kelelahan untuk berkomunikasi, dan akhirnya bisa kehilangan minat untuk mendengar.
Kurang Memperhatikan Hadirin
Kita semua pasti pernah mengalami, hadir dalam sebuah event dimana seorang pembicara, memberikan pidato / sambutannya dengan membaca naskah yang sudah dibuatkan. Tidak mengapa berpidato dengan membaca naskah. Namun cara membacanya tidak boleh seperti membaca bablas begitu saja, tanpa memperdulikan apakah hadirin menangkap makna dari kalimat-kalimatnya. Sebuah kesalahan apabila kita berpendapat bahwa yang penting saya sudah bacakan pidato ini. Kalau cara membacanya seperti begini, maka inilah contoh bagaimana hadirin seperti tidak diperhatikan, seperti tidak dipedulikan, seperti tidak diajak bicara. Kalau Anda merasa tidak diajak bicara, apalagi topiknya tidak relevan dengan kebutuhan Anda, maka sudah pastilah Anda akan merasa bosan, bukan?
Merendahkan Hadirin (Walau tak sengaja)
Menjelang Pilpres di Amerika Serikat, kita sering mendengar bagaimana Donald Trump (capres dari Partai Republik) berpidato yang isinya sering merendahkan kelompok-kelompok masyarakat warga Amerika Serikat sendiri (seperti a.l: masyarakat kulit hitam, masyarakat muslim, masyarakat latin). Akibatnya diantara anggota Partai Republik sendiri, yang mungkin saja dia ataupun keluarganya merasa terhina, justru sekarang menentang Donald Trump.
Oleh karena itu, pada dasarnya ketika kita berbicara di depan publik, kita harus selalu bersikap santun. Sekalipun kita ingin “menyerang” lakukanlah dengan gaya bicara yang elegant. Sikap santun pasti akan mengundang simpati, baik kepada kawan maupun lawan kita. Sikap yang membangkitkan simpati justru akan membuat orang “betah” mendengar pidato kita.
Durasi Bicara Terlalu Lama
Yang dimaksud dengan terlalu lama bukanlah soal berapa menit atau berapa jam seseorang berpidato atau berceramah, melainkan berapa banyak porsi waktu yang diambil dari para hadirin untuk mendengarkan pidatonya. Artinya, haruslah dilihat terlebih dahulu “apa eventnya? atau dalam acara apa?”. Karena hadirin pun sudah memiliki jadwal kegiatannya sendiri. Hal ini yang sering kurang dipahami oleh si pembicara dan terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Misalnya, pada khotbah Idul Fitri, seringkali khotbahnya terlalu panjang, sementara ibu-ibu masih harus mempersiapkan hidangan di rumah untuk menyambut tamu yang akan berlebaran. Maka sudah barang tentu, buat ibu-ibu khotbah tersebut membosankan, terlalu lama. Maka tidak usah heran kalau ibu-ibu terburu-buru angkat kaki, walau khotbah belum selesai. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar