15 Agustus 2016

Keterampilan Komunikasi

oleh Andy Rustam

Sewaktu anak saya masih remaja di pertengahan tahun 1990-an (sekarang usianya sudah 36 th), setiap kali memasuki masa liburan sekolah, ia sering ikut-ikut-an jadi reporter (magang) dalam acara “Planet Remaja” di Anteve. Planet Remaja adalah acara televisi berformat majalah berita, yang fokusnya terkait dengan remaja. Sebagai reporter remaja, dia bangga sekali berkesempatan mewawancarai Bp. Tri Sutrisno (ketika itu Wapres RI 1993-1998), juga Bp. Theo Sambuaga (ketika itu wasekjen DPP Golkar). Tapi yang paling menyenangkan baginya ketika berkesempatan mewawancarai “Sheila On 7“ grup musik anak-anak muda yang baru saja datang dari Jogja untuk mengembangkan diri berkiprah di Jakarta (1996/97), juga group musik Jazz asal Bandung “The Groove” (1996/97). Anakku dengan gembira memperlihatkan rekaman video-nya kepada saya, dan saya pun berkesempatan memberikan saran-saran untuk mempertajam keterampilan komunikasinya.

Di SMA, anak saya mengambil jurusan PasPal, namun sejak awal ia selalu tertarik dengan bidang “Komunikasi”. Sebagai orang-tua, saya berprinsip bahwa biarkanlah anak memilih bidang yang disukainya. Karena kalau seseorang sudah menyukai sesuatu, maka itu akan menjadi motivasi bagi dirinya untuk menjadi yang terbaik. Maka akhirnya ia pun lulus “dengan pujian” dari universitas sebagai Sarjana Komunikasi.

Keterampilan Komunikasi

Kalau kita perhatikan di era keterbukaan sekarang ini, “keterampilan” komunikasi, sungguh-sungguh sangat dibutuhkan. Apapun profesinya pastilah keterampilan komunikasi menjadi sangat perlu. Seorang dokter yang tidak terampil berkomunikasi pastilah kurang disukai oleh pasien-nya. Seorang boss yang tidak pandai berkomunikasi dengan bawahannya ataupun sebaliknya pastilah akan membuat suasana kerja menjadi tidak harmonis. Seorang guru yang tidak pandai berkomunikasi dengan muridnya, pastilah akan membuat para murid kehilangan minat berlajar di kelas. Orang-tua yang tidak bisa berkomunikasi dengan anaknya akan menyebabkan pertumbuhan kedewasaan jiwa si anakpun terganggu.

Dari sisi negatif, orang yang bermaksud jahat terhadap rakyat pun, lalu hanya dikarenakan pandai berkomunikasi, bisa jadi akan dipilih oleh rakyat untuk menjadi pemimpin.

Memiliki keterampilan komunikasi, ibarat memiliki senjata api yang bisa digunakan untuk kejahatan maupun untuk kebaikan, sama-sama effektifnya.

Berkomunikasi artinya bukanlah hanya sekedar menyampaikan pesan atau sekedar sudah memberikan penjelasan, melainkan memperhatikan hingga munculnya respon agar sesuai harapan.

Mari kita perhatikan bagaimana cara Pak Basuki Cahaya Purnama (Gub. DKI Jakarta) berbicara memberikan jawaban pertanyaan atau pun sedang berpidato... Beliau berbicara dengan sangat jelas, dan penjelasannya masuk akal, tetapiii..... tetep saja si Komunikan-nya sebel, yang mendengarnya sebel.... Jadi, berkomunikasi itu bukanlah hanya menyangkut “apa isi-nya”, tetapi juga penting untuk memperhatikan “bagaimana cara menyampaikan-nya”.

Hal lain lagi yang sering saya lihat adalah tayangan liputan berita di TV misalnya terjadi kecelakaan dimana sebuah bis luar kota terguling masuk ke jurang, Maka repoter dan kamerawan pasti akan mengambil gambar bis yang ringsek, korban2 yang luka dan yang tidak cedera diwawancarai. Juga selalu ada wawancara dengan petugas kepolisian setempat. Pertanyaan dari si reporter selalu: “bagaimana kejadian-nya pak?”. Lalu kalau kepada korban, bunyi pertanyaannya sbb: “bapak atau ibu tadi mau kemana? bersama siapa? Apakah supir bisnya tadi terlalu ngebut sehingga kecelakaan?”

Sekarang, mari kita sebagai masyarakat umum bertanya kepada diri sendiri; ketika kita mendengar berita kecelakaan bis terguling masuk ke jurang dan sudah berulangkali peristiwa seperti itu terjadi, apa sebenarnya yang menjadi keinginan kita?
Apa benar kita ingin melihat gambar bis yang ringsek? Apa benar kita ingin melihat gambar korban-korban kecelakaan? Apa benar kita ingin mengetahui apakah supir bis-nya ugal-ugalan atau tidak?

Sebenarnya, bukan itu semua yang menjadi keinginan akhir kita. Karena yang kita inginkan sebenarnya adalah, apa yang dapat, sedang dan harus dilakukan oleh pemerintah / kepolisian, agar kecelakaan-kecelakaan seperti ini tidak terjadi lagi di waktu yad“. Keingin-tahuan masyarakat bukanlah sekedar tentang peristiwa itu an-sich, melainkan ada kebutuhan-jiwa yang melatar-belakangi keingin-tahuan terkait peristiwa tersebuit.

Tapi sayangnya, justru kebutuhan / keinginan masyarakat ini tidak tersentuh dan tidak diangkat sama sekali oleh tayangan berita dikarenakan lemahnya communication skill para reporter ataupun newswriter dan editor. Mungkin ini menjadi salah sebab mengapa menonton tayangan siaran berita di televisi kita menjadi membosankan, walaupun peristiwanya suatu peristiwa yang besar.

Lebih dari Sekedar Memberitahukan

Seseorang dengan keterampilan komunikasi yang mumpuni, ketika berbicara selalu akan membuat para komunikannya “betah” untuk mendengarkan apa yang disampaikannya dan dengan sendirinya maksud / tujuan si pembicara akan mudah tercapai. Dalam beberapa pelatihan, sering saya bertanya kepada reporter, "Apa maksud anda menyiarkan dan membuat reportage peristiwa ini?”. Mereka sering mereka tidak bisa memberikan jawaban yang tepat. Umumnya hanya menjawab, "Agar pemirsa tahu, pak.”. Biasanya saya lanjutkan lagi dengan pertanyaan, "Kalau mereka sudah anda beritahu lalu sudah selesaikah tugas anda? Bagaimana kalau pemirsa kemudian memindahkan channel ke TV lain setelah mendengar siaran berita anda?”. Dari sini baru terlihat bahwa para reporter berita tersebut kebanyakan berpikir bahwa tugas mereka hanyalah memberitahukan adanya suatu peristiwa kepada pendengar / pemirsa. Padahal tugas mereka yang sebenarnya adalah mengkomunikasikan adanya suatu peristiwa kepada pendengar / pemirsa. Mengkomunikasikan artinya, melalui pesan yang disampaikannya kepada pendengar / pemirsa, ada kebutuhan (fisik atau jiwa) dari pendengar / pemirsa yang terpuaskan, sehingga terjadi modifikasi pada diri mereka.

Contoh: Sebuah taksi mengalami kecelakaan di jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Kondisinya terbalik dan mengalami ringsek berat. Dari informasi yang dihimpun, taksi berwarna biru itu menabrak pembatas jalan dan terbalik. Menurut TMC Polda Metro Jaya peristiwa itu terjadi pada pk.06.19 wib, dan belum diketahui sebab-sebab terjadinya kecelakaan maupun jumlah korban. Akibat kecelakaan ini, terjadi kemacetan lalu lintas luar biasa di jalan Margonda Raya.

Kalau kita mendengar berita seperti tersebut diatas, rasanya seperti tidak ada yang kurang. Padahal sebenarnya berita ini sifat-nya baru sampai pada tingkat memberitahukan kepada pendengar / pemirsa bahwa ada sebuah peristiwa. Kalau saja isi berita ini ditambahkan dengan kalimat sebagai berikut: “Bagi anda dengan kendaraan yang akan menuju arah Depok dari Jakarta, disarankan untuk mengambil route, jalan XYZ yang agak lebih jauh jaraknya, namun anda akan dapat terhindar dari kemacetan yang parah". Jelas bukan bedanya sekarang? (arm)

1 komentar:

MPC PP Sidrap mengatakan...

Aktual. Sippp....