27 September 2016

Informasi & Propaganda

oleh Andy Rustam

Menurut tulisan Guru Besar Emeritus ITB Satryo Sumantri Brojonegoro, yang juga mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (1999-2007), di harian Kompas tgl. 20 September 2016, sbb: Berdasarkan hasil test PIAAC (Programme for The International Assessment of Adult Competencies), Indonesia terpuruk di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan seorang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat. Kompetensi yang dimaksud adalah: (1) Kemampuan Literasi (terkait huruf, menulis dan membaca); (2) Kemampuan Numerasi (terkait dengan angka, berhitung dan mathematika); (3) Kemampuan Problem Solving (Memecahkan masalah, termasuk menganalisa). Jadi, dengan kondisi seperti begini, tidak heran kalau masyarakat kita itu sangat rawan emosi. Segala sesuatu informasi pun mudah diplintir dan dibuat menjadi bahan Propaganda, untuk membakar emosi, yang akhirnya tentu membuat masyarakat mengambil keputusan ke arah yang direncanakan oleh pihak si perencana propaganda (si Propagandist)

Beda Informasi & Propaganda

Apa bedanya antara Informasi & Propaganda? Informasi adalah sesuatu kabar yang memberitahukan tentang sesuatu apa adanya. Sedangkan Propaganda adalah informasi yang diolah dan dimanfaatkan, untuk membuat masyarakat (atau sekelompok orang) agar memiliki pikiran dan pendapat tertentu sesuai keinginan si Propagandist.

Teknik cara membuat bahan propaganda yang paling umum adalah, si Propagandist akan menunggu / mencari kemunculan sebahagian kecil saja fakta (cuplikan fakta) yang mengandung unsur sentimental, dan yang memiliki sifat sarat akan makna emosional. Maksudnya, agar masyarakat nantinya dapat tergiring melakukan hanya sekilas saja evaluasi, namun justru mampu membuat masyarakat mengambil keputusan yang emosional ketimbang sebuah keputusan yang rasional, terkait dengan subjek yang dimuat dalam Propaganda. Tentu saja si Propagandist sudah memperhitungkan bahwa keputusan emosional yang akan diambil oleh masyarakat korban propaganda itu nantinya akan sesuai dengan keinginan si Propagandist.

Kalau sudah dapat bahan ini, maka kemudian di-elaborasi, dibumbui dengan interpretasi sendiri dan kemudian baru di-sebarluaskan kepada masyarakat.

Trik-trik Manipulatif Propaganda

Mengacu ke awal tulisan, memang situasi tingkat edukasi masyarakat kita masih memprihatinkan, sehingga mudah sekali termakan oleh propaganda. Padahal yang masyarakat butuhkan adalah Informasi dan bukan Propaganda. Untuk itu kita harus bisa mengenali trik-trik yang dipakai oleh si Propagandist, sehingga kita bisa mengetahui, yang mana yang Propaganda dan yang mana yang Informasi. Dalam ilmu komunikasi, ada banyak sekali trik-trik yang dipakai dalam propaganda, tetapi akan saya muat yang paling sering digunakan di Indonesia saja, khususnya menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 nanti.
  1. Ad Hominem: Menyerang orang-nya secara pribadi (termasuk SARA), dan bukan menyerang gagasannya, atau prinsip-prinsipnya dan sistim kerja-nya.
  2. Ad Nauseam: Mengulang-ulang satu kalimat/jargon terus menerus tentang dirinya atau lawannya, dengan demikian masyarakat terbiasa dan timbullah asosiasi tertentu (positif terhadap dirinya, dan negatif terhadap lawannya).
  3. Appeal to Fear: Mengeksploitasi kekhawatiran dan ketakutan masyarakat, sehingga akhirnya sependapat dengan diri si propagandist.
  4. Appeal to Prejudice: Mengeksploitasi hasrat/keinginan masyarakat akan terwujudnya nilai-nilai kebajikan dan moral, dimana hal itu dikesankan tidak dimiliki sama sekali oleh lawan-nya si propagandist.
  5. Bandwagon: Mengeksploitasi keinginan masyarakat agar menyetujui si propagandist, dengan cara membangkitkan rasa ketaatan / kepatuhan pada sesuatu, yang dipersepsikan seolah-olah secara massal sudah disetujui oleh semua orang, atau minimal oleh sebahagian besar kelompok masyarakat.
  6. Black or White Fallacy: Menampilkan presentasi sebuah situasi, dimana seolah-olah hanya ada 2 pilihan saja (hitam atau putih) sebagai alternatif yang ada. Salah satu dari dua pilihan itu pastilah sesuatu yang tidak diinginkan (atau yang buruk bagi masyarakat).
  7. Demonizing the Enemy: Menggambarkan bahwa si Lawan bukan Manusia atau seorang Setan Jahat, dengan cara merendahkannya (menghinanya), dapat pula dengan memunculkan pada lawannya sesuatu yang dapat dimaknai negatif oleh masyarakat. Sehingga diharapkan posisi Lawan dapat segera menjadi goyah.
  8. Disinformation: Menciptakan akun atau data/dokumen palsu, atau mengubah / mengganti / menghilangkan /meng-edit data & gambar yang ada, agar timbul dukungan kepada pihak si propagandist atau sebaliknya.
  9. Cognitive Dissonance: Menggunakan sesuatu stimulus yang kuat agar masyarakat menerima/mendukung (misal: material: uang & hadiah atau non-material: potongan ayat suci), atau stimulus agar tidak mendukung si Lawan.
  10. Euphoria & Flag Waving: Memanfaatkan kebahagiaan masyarakat pada hari-hari besar dan perayaan2 Nasional dengan pengibaran bendera, untuk membangkitkan pesan semangat moral/kebajikan serta patriotisme, yang dirancang sedemikian rupa agar terasosiasi hanya kepada si propagandist, sedang Lawan-nya justru sebaliknya.
  11. Foot at the Door: Tindakan manipulatif dengan seolah-olah memberikan bantuan atau hadiah kepada orang miskin atau korban bencana, dimana hadiah/bantuan tersebut sebenarnya hanya sedikit diberikan kepada beberapa orang saja, namun dampaknya dapat menciptakan simpati dan ikatan batin dengan masyarakat. Ikatan batin ini dapat dieksploitasi nanti sebagai kepatuhan kepada si propagandist ketika diperlukan (Misal: ketika pencoblosan)
  12. Half Truth: Menampilkan data / informasi yang setengah benar, karena memang sengaja tidak ditampilkan secara utuh. Data ini sebenarnya sangat menipu, namun makna yang muncul dapat membuat masyarakat percsya.
  13. Labelling: Menggunakan panggilan atau istilah yang berkonotasi baik atau berkonotasi buruk, agar muncul persepsi berbeda pada orang tersebut atau pada gagasan dan pekerjaannya.
  14. Uncertainty and Doubt: Menyebarkan dan membawa-bawa informasi palsu atau informasi yang dipelintir, agar menimbulkan keraguan dan ketidakpastian, untuk merusak kepercayaan lama agar percaya kepada si propagandist.
  15. Appeal to Authority: Memanfaatkan tokoh-tokoh masyarakat, ustad / pendeta, pejabat, artis-artis dan figur-figur berpengaruh lainnya, agar terkesan pihak propagandist mendapat dukungan luas.
Sebenarnya masih banyak sekali trik-trik lainnya, tetapi saya kira 15 trik yang saya tampilkan disini, sudah cukup menjadi bahan bagi masyarakat mengenali, apakah info-info yang diterimanya dari media dan medsos, murni informasi atau hanyalah propaganda yang bertujuan mengendalikan diri kita. (arm)

Tidak ada komentar: