Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Ia beberapa kali menelpon dan berbicara dengan anda, dan akhirnya dibuatlah janji untuk bertemu di Pondok Indah Mall (PIM) pada hari Senin, pukul 14.30. Pada hari yang dijanjikan andapun berangkat ke PIM, dan anda tiba lebih dahulu. Sekitar pukul 14.15 anda sudah tiba dan menunggu di salah satu cafe tempat bertemu yang disepakati. Ketika jarum jam menunjukkan angka 14.30, anda mulai melongok-longokan kepala, melihat mungkin saja orang tersebut sedang mencari-cari anda dengan pandangan matanya. Ternyata tidak ada. Anda bersabar lagi sambil menikmati kopi yang telah dipesan. Tetapi ketika 30 menit berlalu, jam menunjukkan pk.15.00, dan orang tersebut tidak juga muncul, tanpa kabar sama sekali, andapun mulai marah. Dengan gusar, andapun bangkit dan bersiap-siap untuk meninggalkan tempat.
Sebuah Pelajaran
Cerita tersebut diatas hanyalah sebuah illustrasi saja, bagaimana anda yang sudah menyediakan waktu atas permintaan dia, untuk bertemu dan pergi ke tempat yang disepakati, berharap bahwa orang yang ditunggu akan datang tepat waktu, ternyata tidak muncul dan tanpa info apapun. Wajar sekali kalau anda kemudian gusar. Sebenarnya apa yang membuat anda gusar? Tentu anda gusar karena dia tidak menepati janji. Namun alasan sebenarnya anda gusar karena anda kecewa. Mengapa bisa kecewa? Karena anda sudah mengharap sebelumnya bahwa orang tersebut pasti akan datang “on time”. Anda kecewa karena merasa bahwa orang tersebut tidak menghargai anda yang telah bersedia datang untuk bertemu. Anda kecewa karena orang itu tidak memikirkan diri anda yang sudah lama menunggu bahkan mungkin dengan mengorbankan beberapa hal lain yang juga penting, demi janji dengan orang tersebut.
Padahal, seandainya orang tersebut melakukan komunikasi kecil dengan anda sebelumnya, bahwa dia akan terlambat, maka mungkin kekecewaan itu bisa dicegah. Minimal tidak menjadi terlalu parah. Atau lebih bagus lagi, komunikasi itu sudah dilakukan ketika sedang membuat janji, dengan berkata, "Situasi lalu-lintas di Jakarta sekarang ini parah banget. Dimana-mana macet. Jadi mungkin saja nanti ada keterlambatan sekitar 35 menitan. Tapi tentu diusahakan untuk tidak terlambat”.
Berpikir Dua Sisi
Dalam beberapa seminar tentang komunikasi yang efektif, saya selalu menekankan pentingnya untuk berpikir lebih dahulu sebelum berbicara. Karena setiap kata / kalimat yang sudah terlontar tidak dapat ditarik kembali. Paling-paling kita hanya mampu membuat kalimat baru untuk mengkoreksi atau melengkapi kalimat yang sudah terlanjur salah tersebut.
Jangan pula kita berpikir bahwa kalau kita sudah berpikir dan kemudian melontarkan kalimat, itu pasti sudah benar. Belum tentu juga! Karena setiap pendengar yang menangkap pesan itupun memiliki latar belakang intelektual, budaya, bahasa dan pengalaman hidup yang berbeda pula, sehingga kalimat yang sama bisa dimaknai berbeda-beda (arbitrary).
Contoh:
Seorang boss minta tolong ke anak buahnya untuk melakukan sesuatu yang bukan tugas pokoknya. Si Boss berkata kepada seorang salesman-nya yang akan berangkat bertugas: “Nanti kalau anda sempat tolong antarkan bingkisan ini ke rumah saya, yaa?” Ketika sore hari si Salesman kembali ke kantor, si Boss marah-marah karena isterinya menelpon dan telah menunggu lama tetapi bingkisan tersebut tidak juga tiba. Si Salesman merasa heran: “Bukankah tadi Boss bilang kalau sempat?!? Padahal hari ini lalu lintasnya macet sekali, dan arah ke rumah boss berbeda sekali dengan rute perjalanan saya.” Sedang maksud si Boss menggunakan kata “kalau sempat" karena ia menyadari bahwa itu bukanlah tugas pokok si Salesman, sehingga ia tidak menggunakan kalimat instruksi.
Sebetulnya kesalah-pahaman ini bisa dicegah apabila si Boss berpikir, sebagai berikut sebelum berbicara, sebagai berikut:
(1) Bukankah ia ingin bingkisan itu diantarkan oleh si Salesman ke rumahnya? Bagi si Boss hal itu penting karena sedang ditunggu istrinya.
(2) Bukankah ia tahu bahwa si Salesman memiliki tugas pokok, sedangkan urusan mengantarkan bingkisan ke rumah si boss bukanlah termasuk tugas pokoknya. Artinya bagi si Salesman hal tersebut tidak penting.
Seorang komunikator yang baik harus selalu berpikir dari dua sisi, yaitu: (1) Dari sisi komunikator, apa sih inti pesan yang ingin dikomunikasikannya ; dan (2) dari sisi Komunikan, bagaimana kira-kira komunikan saya nanti akan menangkap makna pesan tersebut. Sebuah komunikasi yang antisipatif yaitu komunikasi yang sudah berisi kalimat-kalimat atau pesan yang mampu mengatasi kerawanan yang ada sehingga mampu menghindari terjadinya konflik.
Berkomunikasi Antisipatif
Kembali kepada contoh tersebut diatas, maka beginilah komunikasi yang sebaiknya dilakukan oleh si Boss, sbb.
Boss kepada Salesman : "Hari ini rute perjalanan kamu ke wilayah mana?”
Salesman: “Saya hari ke wilayah timur, pak."
Boss: "Rumah saya itu khan di wilayah barat? Saya mau minta tolong antarkan bingkisan ini ke rumah saya. Jadi, setelah kamu selesai bertugas di wilayah timur, langsung saja antarkan bingkisan ini ke rumah saya, dan kamu tidak usah kembali ke kantor. Laporan sales hari ini bisa kamu sampaikan besok pagi saja, yaa?
Salesman: “Ok boss!"
Terus terang di negeri ini, jarang sekali ada pimpinan-pimpinan, baik pimpinan perusahaan, pimpinan organisasi, pimpinan lembaga dan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang antisipatif. Itu sebabnya saya merasa kok negara kita (yang sekarang menjamin kebebasan berbicara setiap warga) malah terasa semakin hiruk-pikuk sekali. Banyak waktu produktif terbuang karena ketidak-mampuan berkomunikasi. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar