24 Januari 2017

Peran Seorang Presenter

oleh Andy Rustam

Kemarin saya bertemu dengan 3 orang calon murid saya dan mewawancarai mereka untuk mengetahui apa keinginan mereka dan apa kesulitan mereka. Profesi mereka (2 wanita dan 1 pria) semuanya foto model dan pemain sinetron. Merekapun masing-masing telah mempunyai prestasi di bidangnya dengan memenangi trophy sebagai model terbaik dalam berbagai ajang di Indonesia dan Asia. Saya sendiri juga heran, prestasinya sudah bagus terus mau belajar apa lagi? Ternyata, mereka ingin bisa belajar berbicara dengan baik di depan umum, baik secara langsung berhadapan dengan hadirin atau melalui media atau membawakan suatu acara.

Berbicara Bukanlah Sekedar Ngomong

Terus terang saya salut dengan ketiga anak muda ini. Karena mereka, walaupun sudah cukup dikenal, tetapi menyadari kekurangannya. Sementara banyak orang lain, bahkan yang sudah menjadi pembawa acara di televisi pun, ataupun para penyiar radio sekarang ini teknik berbicaranya masih salah namun merasa baik-baik saja. Lalu kalau Anda mencoba meng-koreksi-nya, bisa-bisa anda yang dicemberutin...

Orang-orang yang ingin berbicara di depan umum, biasanya sering mendapat nasihat dari orang-orang yang menjadi pembimbingnya, sebagai berikut: “berbicaralah dengan wajar“. Ini adalah sebuah nasihat yang salah. Karena ketika Anda berbicara di depan umum, Anda harus terus menerus menjaga perhatian para hadirin untuk bertahan sampai Anda selesai berbicara. Artinya Anda harus mampu agar jangan sampai orang merasa bosan dan akhirnya meninggalkan Anda sendirian. Hal ini tidak akan mungkin tercapai apabila cara Anda berbicara persis seperti anda lagi ngobrol-ngobrol bersama teman. Oleh karena itu seharusnyalah teknik dan patokan ketrampilan berbicara di depan umum digunakan dengan baik, sehingga terdengar wajar. Hal ini yang akan mampu menjaga minat hadirin.

Hal-hal Umum yang Perlu Diperbaiki

Ada seorang penyiar yang menjadi narator sebuah acara televisi di pagi hari. Ketika membacakan teks sebagai pengantar atas video yang dipasang, ia membacakan dengan sangat cepat dan dengan nada yang tinggi sehingga terkesan setengah berteriak. Ketika pada suatu hari saya bertemu dengannya, tentulah saya tanya mengapa membacanya seperti itu? Ia menjawab: “Ïtu diharuskan oleh produsernya. Alasannya, itu adalah acara pagi hari yang nuansanya haruslah mengajak orang untuk segera bangun dan bergegas. Terus terang saya tertawa dalam hati, sebab mana mungkin orang memasang dan menonton televisi kalau belum bangun tidur? Hadeuuuh... Ada dua kesalahan disini. Pertama, nada suara yang terus menerus tinggi akan membuat cepat menimbulkan kelelahan dan kebosanan. Kedua, kecepatan membaca yang terlalu cepat menyebabkan orang sulit menangkap maksud kalimat-kalimatnya, karena kata per kata tak diucapkan dengan jelas.

Anggapan umum bahwa dalam sebuah talk-show kalau topiknya bagus pastilah orang akan mau menonton. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Karena walau topiknya bagus dan bintang tamunya bagus, tetapi kalau host / pembawa acaranya tidak memiliki kemampuan bagaimana memandu sebuah acara dengan baik, maka sudah pasti orang malas menontonnya terus (ditinggalkan di tengah jalan). Kesalahan yang paling sering dilakukan oleh talk-show host di televisi Indonesia adalah kegemarannya memotong penjelasan narasumber. Sementara kita (penonton) sedang menyimak penjelasan tersebut namun tidak bisa tuntas dikarenakan dipotong oleh si host. Saya sendiri tidak bisa mengerti kenapa si host melakukan hal tersebut? Belajar dimana sih dulu?!? Kalau memang sudah tidak cukup waktu, ada cara untuk meminta narasumber mempersingkat penjelasan... dan bukan dengan cara memotong pembicaraan. Memotong pembicaraan menyebabkan penonton / pendengar terganggu, sehingga akan mengundang kekesalan dan menyebabkan kehilangan minat mengikuti acara sampai selesai. Belajarlah bagaimana host TV luar negeri memandu talk-show!

Ketika sebuah acara dipandu oleh dua host, sering terjadi kekacauan malah. Karena ada host yang doyan ngomong sehingga memonopoli pembicaraan sehingga host yang kedua tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara, atau justru kedua-dua host tersebut seperti tidak tahu harus ngomong apa sehingga akhirnya mereka berdua ngobrol sendiri, ngelantur ngalor ngidul.

Peran Seorang HOST

Kalau pernah mengikuti seminar saya tentang Public Speaking atau tentang Announcing, pasti pernah mendengar jawaban saya atas pertanyaan ini: “Apa sih sesungguhnya peran seorang presenter / host / penyiar / pembawa acara?”.

Peran Host / Pembawa Acara / Penyiar selalu untuk menyampaikan informasi terkait acara yang dibawakannya dan juga menghibur serta membuat nyaman para hadirin, dengan cara penyajian yang mudah diikuti dan atraktif (lebih dari sekedar menarik).

Soal “menyampaikan informasi”, tentunya informasi terkait acara, namun isinya tentang sesuatu yang belum banyak diketahui oleh hadirin. Misalnya Anda akan memainkan sebuah lagu dari Fariz RM, “Sakura”, maka informasinya mungkin tentang bagaimana proses terciptanya lagu ini dari nol.

Tentang “menghibur serta membuat nyaman”, artinya menghindari munculnya kebosanan dan / atau kelelahan mendengar (ear-fatigue). Disini sangat terkait dengan bagaimana seorang penyiar/presenter memiliki kekayaan kosa-kata serta ketrampilan dalam memainkan nada suaranya.

Yang dimaksud dengan “penyajian yang mudah diikuti”, artinya kata-kata dalam kalimat-kalimat yang disampaikan, harus diucapkan secara jelas dan alur ceritanyapun tidak melompat-lompat. Karena telinga manusia dalam menangkap bunyi, langsung tanpa jeda dikirim ke otak untuk diproses. Berbeda dengan mata dimana lensa mata melakukan scanning terlebih dahulu atas sesuatu yang dilihatnya, baru kemudian dikirim ke otak. Artinya, apabila terjadi kesalahan pada suara / bunyi maka reaksi hadirin akan lebih cepat dan lebih spontan. Oleh karena itulah berkata-kata harus selalu benar tekniknya sejak awal, termasuk alurnya yang mengalir.

Tentang “atraktif”, tentu maksudnya agar setiap presenter dalam menyampaikan sesuatu haruslah memiliki kehangatan atau berhasil membangkitkan hubungan rasa antara presenter dan hadirin. Jangan membuat hadirin kesal. Oleh karena itu gaya bicara dan gesture (sikap tubuh) seorang presenter sangat menentukan. Jangan memberi kesan sombong (merendahkan siapapun), jangan memberi kesan sok tau... Namun sebaliknya juga, berpenampilan terlalu biasa tidak akan membangkitkan ke-aktratif-an, ataupun berbicara tapi memberi kesan bodoh akan menghilangkan minat hadirin. (arm)

Tidak ada komentar: