Oleh Andy Rustam
Pada suatu hari saya menumpang mobil teman yang kebetulan satu arah, minta diturnkan di sebuah Mall. Setelah turun dan mau masuk ke dalam Mall, baru saya sadar bahwa handphone (hp) saya tertinggal di mobil teman saya tadi (si A). Lalu bagaimana memberitahu si A bahwa handphone saya ketinggalan di mobilnya? Saya pun tidak hafal nomer hp-nya. Beruntung saya berpapasan dengan seorang teman lain (si B) yang kebetulan juga teman dari si A. Ketika itu ia sedang akan memasuki Taxi. Saya minta tolong si B untuk menelpon si A dan tolong katakan bahwa hp saya ketinggalan di mobilnya dan tolong disimpankan. Tidak ada yang salah, bukan? Tetapi sungguh mengagetkan sekali, ketika beberapa hari kemudian saya mendatangi rumah si A untuk mengambil hp saya, eh si A terlihat agak marah kepada saya. Ia berkata: “Nih hp loe… emangnya loe pikir mau gue ambil, terus gue jual apa?”
Cerita di atas adalah ilustrasi bagaimana sebuah pesan bisa ditafsirkan secara salah oleh si Komunikan. Mungkin juga penyebab kesalahan itu terjadi karena cara si Komunikator dalam menyampaikan (faktor ini biasanya yang paling besar sekitar 60%), dalam hal ini mungkin pilihan kalimat yang diucapkan si B kurang pas. Faktor lain kemungkinan kesalahan terjadi pada saluran medianya (faktor ini bisa berpengaruh sekitar 30%). Barangkali saja si B tidak menelpon si A langsung, melainkan mengirimkan sms saja kepada si A. Seandainya melalui telpon, mungkin kesalahan itu bisa dicegah, mengingat percakapan bolak-balik dapat segera dilakukan koreksi kalau ada kalimat-kalimat yang ditafsirkan secara salah. Faktor lain yang juga bisa menimbulkan kesalah-pahaman adalah pada sisi Komunikannya. Bisa saja ketika itu konsentrasinya sedang terpecah atau ia sedang banyak persoalan pribadi sehingga kalimat yang baik pun bisa ditafsirkan dengan asumsi yang salah. Atau bisa juga karena pendidikannya tidak cukup tinggi sehingga nalar mereka tidak cukup tinggi dalam memahami dan menanggapi sebuah informasi yan diterimanya. Faktor diri si Komunikan berperan sekitar 10%.
Faktor Komunikator
Dengan demikian sekarang kita tahu bahwa, apabila terjadi salah paham (akibat salah tafsir), potensi terbesar penyebab terjadinya kesalahan tersebut ada pada si Komunikator. Oleh karena itu, kita yang bekerja sebagai penyiar radio, penyiar televisi, reporter dll. harus selalu sadar untuk menggunakan kalimat-kalimat yang akurat agar jangan sampai terjadi salah menangkap pesan yang dimaksud. Dulu guru saya mengatakan bahwa seorang penyiar radio / TV harus memiliki “radar”. Karena ketika sedang berbicara, pada saat yang sama ia harus bisa memperkirakan apa reaksi orang di rumah yang sedang mendengarkan siarannya. Sehingga ketika kalimat-kalimat dari si penyiar selesai nanti, penyiar sudah yakin bahwa apa yang ditangkap dan dipahami oleh orang di rumah, sama persis seperti apa yang penyiar maksudkan. “Radar” seperti ini memang sangat dibutuhkan, mengingat media radio / TV bukanlah percakapan dua arah seperti sebuah telpon, bukan?
Faktor Saluran MEDIA
Sering sekali kita melupakan faktor media ketika sedang berbicara. Kita selalu menggunakan kalimat yang sama pada media apapun. Yang paling sering terjadi adalah kita tidak merubah gaya susunan kalimat kita, baik untuk berbicara (komunikasi lisan) maupun untuk mengirim sms / bbm / wa. Padahal sesuatu kalimat yang terdengar wajar ketika diucapkan dan di dengar, akan berbeda ketika ditulis dan dibaca. Misal tertulis sbb: “Emang enak dibecandain”. Ketika membaca kalimat ini, beberapa orang akan mengartikan bahwa saling bercanda itu menyenangkan. Tetapi ada juga yang mengartikan bahwa menjadi objek bercandaan itu sangat tidak enak. Sebetulnya kalau kita perhatikan, dalam percakapan lisan sehari-sehari, makna dari kalimat ini justru dapat diketahui dari bagaimana tekanan suku kata dalam mengucapkan kata / kalimat tersebut.
Begitu juga perbedaannya ketika berbicara melalui telpon dengan berbicara temu-muka. Ketika temu muka, makna dari kalimat-kalimat yang diucapkan juga ditentukan dari bagaimana sikap tubuhnya ketika mengucapkan kalimat tersebut. Keuntungan berbicara langsung temu muka, selain adanya sejumlah komunikasi non verbal, juga karena komunikasinya dua arah, sehingga kalau ada salah tafsir, dapat dilakukan koreksi pada saat itu juga. Faktor saluran media, adalah faktor terbesar kedua yang harus diperhatikan, dalam hal mengantisipasi terjadinya kesalahan memahami maksud oleh si komunikan.
Faktor Komunikan
Dalam pelatihan-pelatihan saya selalu mengajarkan bahwa kalau kita akan berbicara di depan umum, maka fokus pertama pikiran kita adalah, siapa komunikan kita? Namun di lain pihak kalau kita berbicara di depan umum (dimana publiknya sangat heterogen), kita harus selalu menyadari, bahwa walau sebaik apapun kita menata cara berbicara kita, sebaik apapun kita menjelaskan, atau sebaik apapun gerak dan peragaan kita dalam menyampaikan sesuatu pesan, tetap saja akan ada beberapa orang yang akan salah memahami apa makna dari kalimat-kalimat yang sudah kita ucapkan. Tentulah kita harus berusaha menggunakan kata dan susunan kalimat serta gaya bahasa yang paling mudah dimengerti, namun pasti ada saja yang akan menyalah-artikan apa yang kita ucapkan. Ini disebabkan karena adanya fakto-faktor latar belakang pendidikan, latar belakang budaya, latar belakang lingkungan dan pergaulan dimana mereka tumbuh menjadi dewasa. Namun yang terlebih lagi perlu diwaspadai adalah adanya sekelompok orng yang sengaja memelintir kalimat-kalimat yang kita ucapkan sehingga terdengar berbeda dan maknanya jauh menyimpang dan bahkan sama sekali diluar konteks.
Kembali kepada cerita saya diawal tulisan, rupanya teman saya, si B, yang menyampaikan pesan saya kepada si A, bukannya menulis seperti pesan asli saya: “HP saya ketinggalan di mobil dan tolong disimpankan”, melainkan sbb: “Katanya: hpnya dia sepertinya ketinggalan di mobil loe. Tolong cariin dong, semoga ketemu... tapi kalo gak ketemu yaa apes deh “.
Barangkali seandainya kalimat ini diucapkan langsung melalui percakapan telpon, mungkin tidak akan terjadi salah paham. Karena memang si B berasumsi bisa saja saya yang lupa (HP tersebut bukan tertinggal di mobil si A), sehingga, kalau si A tidak menemukan hp itu di mobilnya yaa... tidak apa-apa si A tidak perlu khawatir. Tetapi, karena pesan tersebut hanya dikirimkan melalui sms, si A memaknai kalimat ini: “… semoga ketemu... tapi kalo gak ketemu yaa apes deh”, sebagai kalimat yang menuduh dirinya. Si A memaknai secara salah kalimat tersebut, bahwa sebenarnya HP tersebut sudah ketemu (ada di mobilnya), tetapi kalau si A mau mengambil dengan tidak mengakui keberadaan HP itu di mobilnya,..ya sudah lah..anggap aja sial.
Beda sekali maknanya, bukan? Tetapi begitulah yang sangat mungkin terjadi, kalau kita kurang waspada dalam melakukan komunikasi. (arm)
Pada suatu hari saya menumpang mobil teman yang kebetulan satu arah, minta diturnkan di sebuah Mall. Setelah turun dan mau masuk ke dalam Mall, baru saya sadar bahwa handphone (hp) saya tertinggal di mobil teman saya tadi (si A). Lalu bagaimana memberitahu si A bahwa handphone saya ketinggalan di mobilnya? Saya pun tidak hafal nomer hp-nya. Beruntung saya berpapasan dengan seorang teman lain (si B) yang kebetulan juga teman dari si A. Ketika itu ia sedang akan memasuki Taxi. Saya minta tolong si B untuk menelpon si A dan tolong katakan bahwa hp saya ketinggalan di mobilnya dan tolong disimpankan. Tidak ada yang salah, bukan? Tetapi sungguh mengagetkan sekali, ketika beberapa hari kemudian saya mendatangi rumah si A untuk mengambil hp saya, eh si A terlihat agak marah kepada saya. Ia berkata: “Nih hp loe… emangnya loe pikir mau gue ambil, terus gue jual apa?”
Cerita di atas adalah ilustrasi bagaimana sebuah pesan bisa ditafsirkan secara salah oleh si Komunikan. Mungkin juga penyebab kesalahan itu terjadi karena cara si Komunikator dalam menyampaikan (faktor ini biasanya yang paling besar sekitar 60%), dalam hal ini mungkin pilihan kalimat yang diucapkan si B kurang pas. Faktor lain kemungkinan kesalahan terjadi pada saluran medianya (faktor ini bisa berpengaruh sekitar 30%). Barangkali saja si B tidak menelpon si A langsung, melainkan mengirimkan sms saja kepada si A. Seandainya melalui telpon, mungkin kesalahan itu bisa dicegah, mengingat percakapan bolak-balik dapat segera dilakukan koreksi kalau ada kalimat-kalimat yang ditafsirkan secara salah. Faktor lain yang juga bisa menimbulkan kesalah-pahaman adalah pada sisi Komunikannya. Bisa saja ketika itu konsentrasinya sedang terpecah atau ia sedang banyak persoalan pribadi sehingga kalimat yang baik pun bisa ditafsirkan dengan asumsi yang salah. Atau bisa juga karena pendidikannya tidak cukup tinggi sehingga nalar mereka tidak cukup tinggi dalam memahami dan menanggapi sebuah informasi yan diterimanya. Faktor diri si Komunikan berperan sekitar 10%.
Faktor Komunikator
Dengan demikian sekarang kita tahu bahwa, apabila terjadi salah paham (akibat salah tafsir), potensi terbesar penyebab terjadinya kesalahan tersebut ada pada si Komunikator. Oleh karena itu, kita yang bekerja sebagai penyiar radio, penyiar televisi, reporter dll. harus selalu sadar untuk menggunakan kalimat-kalimat yang akurat agar jangan sampai terjadi salah menangkap pesan yang dimaksud. Dulu guru saya mengatakan bahwa seorang penyiar radio / TV harus memiliki “radar”. Karena ketika sedang berbicara, pada saat yang sama ia harus bisa memperkirakan apa reaksi orang di rumah yang sedang mendengarkan siarannya. Sehingga ketika kalimat-kalimat dari si penyiar selesai nanti, penyiar sudah yakin bahwa apa yang ditangkap dan dipahami oleh orang di rumah, sama persis seperti apa yang penyiar maksudkan. “Radar” seperti ini memang sangat dibutuhkan, mengingat media radio / TV bukanlah percakapan dua arah seperti sebuah telpon, bukan?
Faktor Saluran MEDIA
Sering sekali kita melupakan faktor media ketika sedang berbicara. Kita selalu menggunakan kalimat yang sama pada media apapun. Yang paling sering terjadi adalah kita tidak merubah gaya susunan kalimat kita, baik untuk berbicara (komunikasi lisan) maupun untuk mengirim sms / bbm / wa. Padahal sesuatu kalimat yang terdengar wajar ketika diucapkan dan di dengar, akan berbeda ketika ditulis dan dibaca. Misal tertulis sbb: “Emang enak dibecandain”. Ketika membaca kalimat ini, beberapa orang akan mengartikan bahwa saling bercanda itu menyenangkan. Tetapi ada juga yang mengartikan bahwa menjadi objek bercandaan itu sangat tidak enak. Sebetulnya kalau kita perhatikan, dalam percakapan lisan sehari-sehari, makna dari kalimat ini justru dapat diketahui dari bagaimana tekanan suku kata dalam mengucapkan kata / kalimat tersebut.
Begitu juga perbedaannya ketika berbicara melalui telpon dengan berbicara temu-muka. Ketika temu muka, makna dari kalimat-kalimat yang diucapkan juga ditentukan dari bagaimana sikap tubuhnya ketika mengucapkan kalimat tersebut. Keuntungan berbicara langsung temu muka, selain adanya sejumlah komunikasi non verbal, juga karena komunikasinya dua arah, sehingga kalau ada salah tafsir, dapat dilakukan koreksi pada saat itu juga. Faktor saluran media, adalah faktor terbesar kedua yang harus diperhatikan, dalam hal mengantisipasi terjadinya kesalahan memahami maksud oleh si komunikan.
Faktor Komunikan
Dalam pelatihan-pelatihan saya selalu mengajarkan bahwa kalau kita akan berbicara di depan umum, maka fokus pertama pikiran kita adalah, siapa komunikan kita? Namun di lain pihak kalau kita berbicara di depan umum (dimana publiknya sangat heterogen), kita harus selalu menyadari, bahwa walau sebaik apapun kita menata cara berbicara kita, sebaik apapun kita menjelaskan, atau sebaik apapun gerak dan peragaan kita dalam menyampaikan sesuatu pesan, tetap saja akan ada beberapa orang yang akan salah memahami apa makna dari kalimat-kalimat yang sudah kita ucapkan. Tentulah kita harus berusaha menggunakan kata dan susunan kalimat serta gaya bahasa yang paling mudah dimengerti, namun pasti ada saja yang akan menyalah-artikan apa yang kita ucapkan. Ini disebabkan karena adanya fakto-faktor latar belakang pendidikan, latar belakang budaya, latar belakang lingkungan dan pergaulan dimana mereka tumbuh menjadi dewasa. Namun yang terlebih lagi perlu diwaspadai adalah adanya sekelompok orng yang sengaja memelintir kalimat-kalimat yang kita ucapkan sehingga terdengar berbeda dan maknanya jauh menyimpang dan bahkan sama sekali diluar konteks.
Kembali kepada cerita saya diawal tulisan, rupanya teman saya, si B, yang menyampaikan pesan saya kepada si A, bukannya menulis seperti pesan asli saya: “HP saya ketinggalan di mobil dan tolong disimpankan”, melainkan sbb: “Katanya: hpnya dia sepertinya ketinggalan di mobil loe. Tolong cariin dong, semoga ketemu... tapi kalo gak ketemu yaa apes deh “.
Barangkali seandainya kalimat ini diucapkan langsung melalui percakapan telpon, mungkin tidak akan terjadi salah paham. Karena memang si B berasumsi bisa saja saya yang lupa (HP tersebut bukan tertinggal di mobil si A), sehingga, kalau si A tidak menemukan hp itu di mobilnya yaa... tidak apa-apa si A tidak perlu khawatir. Tetapi, karena pesan tersebut hanya dikirimkan melalui sms, si A memaknai kalimat ini: “… semoga ketemu... tapi kalo gak ketemu yaa apes deh”, sebagai kalimat yang menuduh dirinya. Si A memaknai secara salah kalimat tersebut, bahwa sebenarnya HP tersebut sudah ketemu (ada di mobilnya), tetapi kalau si A mau mengambil dengan tidak mengakui keberadaan HP itu di mobilnya,..ya sudah lah..anggap aja sial.
Beda sekali maknanya, bukan? Tetapi begitulah yang sangat mungkin terjadi, kalau kita kurang waspada dalam melakukan komunikasi. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar