14 Juli 2017

Mendengarkan Radio Kembali

oleh Andy Rustam

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat ngobrol-ngobrol santai dengan beberapa teman yang menekuni bidang radio broadcasting. Intinya sih mereka curhat karena agak galau dengan masa depan radio broadcasting (terrestrial). Menurut mereka, jumlah pendengar radio menurun belakangan ini (begitu juga di TV broadcasting). Sekarang semakin banyak orang yang lebih suka menggunakan internet untuk mendengarkan musik (misal: melalui Spotify, ataupun YouTube untuk melihat music videoclip-nya). Jadi harus bagaimana? Sebenarnya sudah cukup banyak tulisan saya tentang masalah media-media tradisional di era internet. Sebelum kita bahas lagi lebih lanjut, pertanyaannya apakah penurunan ini juga dialami oleh radio-radio terrestrial di Amerika Serikat? Ternyata, ada beberapa kota dimana terjadi penurunan pendengar radio tapi ada juga kota yang pendengar radionya jumlahnya tetap dan bahkan ada yang meningkat. Namun secara keseluruhan jumlah pendengar radio di sana tidak berkurang, walaupun media-media pesaing radio terrestrial, spt: tv dan internet disana kualitasnya lebih bagus dari kita di Indonesia. (http://www.nielsen.com/us/en/insights/reports/2016/audio-today-radio-2016-appealing-far-and-wide.html) Jadi, menurut saya, pastinya ada yang salah dengan kita disini, bukan?

Analisa

Sebetulnya dalam bisnis apapun, kalau sampai calon konsumen tidak mau mengambil produk kita, itu artinya pastilah si konsumen merasa bahwa memang ia tidak butuh akan produk tersebut atau walau ia butuh tetapi produk kita tersebut tidak memenuhi kriterianya (sehingga akhirnya ia mengambil produk merk lain, yang dirasakan cocok dengan kriterianya). Sehingga tugas kita sebagai pembuat produk seharusnyalah membuat produk kita itu punya keunggulan khas (uniqueness) dalam memberikan manfaat yang disukai dan memenuhi kebutuhan pasar. Maka untuk radio, tentunya para penyelenggara siaran harus mampu membuat siaran yang memiliki keunggulan khas dalam hal penyajian materi siaran sesuai dengan keinginan dan memenuhi pula kebutuhan pendengar. Seringkali yang kita lakukan adalah, bahwa untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan pendengar kita melakukan survey dulu. Hal itu tentunya benar sekali. Namun yang lebih penting dari itu adalah menganalisa data / jawaban yang masuk. Misal, ketika ditanya kepada sekelompok anak muda: “apa alasan mendengar radio? dan jawabannya bahwa mereka mendengar radio karena ingin mendengar musik, maka apakah itu artinya siaran radio kita tidak memerlukan lagi penyiar, hanya pasang lagu terus??? Pernahkah ditanyakan pertanyaan lanjutan, bukankah di internet sekarang ini banyak music streaming nonstop, dan Anda bisa mendengarkannya melalui smartphone Anda. Lebih praktis, bukan? Jadii kenapa harus mendengar radio?? Kalau kemarin-kemarin kita mendengarkan acara pagi hari di radio-radio di Jakarta, umumnya berisi siaran morning show yang diisi oleh para host yang terdiri dari 2-3 orang penyiar, lalu kita dengar bicara-bicara heboh di antara mereka sendiri sambil ketawa-ketawa, belakangan ini mulai banyak radio yang mengurangi porsi bicaranya digantikan dengan lebih banyak musik. Mengapa terjadi perubahan ini? Mungkin diakibatkan hasil survey yang mengatakan bahwa pendengar lebih menyukai musik, apalagi bisa mengurangi ongkos (tidak perlu menggaji penyiar). Tak pernah terpikirkan oleh para pimpinan stasiun radio itu bahwa survey bilang pendengar lebih menyukai musik, mungkin itu dikarenakan alasan, karena selama ini penyiar yang bertiga ngobrol ngalor ngidul itulah yang sesungguhnya mengganggu kenikmatan si pendengar dalam mendengarkan siaran radio. Jadi daripada mendengar penyiar yang berisik dan ketawa-ketiwi tidak jelas, maka pendengar lebih senang kalau mendengarkan musik saja deh. Jadi BUKAN karena mereka (pendengar) hanya ingin mendengar musik saja melalui radio.

Back to Basic

Kalau sempat cobalah mendengarkan siaran radio-radio yang ada di London (Inggris) atau yang ada di San Francisco (Amerika). Terasa sekali bagusnya siaran mereka, nikmat rasanya telinga ini dimanjakan oleh seleksi lagu-lagunya, dan cara penyiarnya berbicara dengan nada yang nyaman, menyapa, membuat kita terpesona dan kadang tersenyum dengan humor segar dan info-info yang disampaikan oleh mereka. Radio-radio di sana tidak mau macam-macam, tidak mau sok heboh, ataupun berusaha lucu. Radio is a Radio. Semua berjalan terkesan seperti natural saja walaupun sangat entertaining. Siaran radio yang seperti ini tidak pernah saya temukan di Jakarta sekarang ini. Di Jakarta, ada radio yang bagus pilihan musiknya, tapi waktu penyiarnya bicara... rasanya pingin ganti gelombang aja deh.

Melanjutkan obrolan dengan teman saya tadi, saya menyarankan bahwa kalau radio tidak mau terus kehilangan pendengarnya, maka radio (terrestrial) harus kembali berfungsi sebagai radio lagi. Janganlah radio berusaha menjadi televisi. Janganlah radio berusaha untuk menjadi seperti Spotify atau radio internet. Karena setiap medium memiliki keunggulannya dan kekurangannya masing-masing. Kalau Anda menjalankan bisnis radio broadcasting (terrestrial) maka optimalkanlah karakter radio broadcasting terrestrial (seperti: Personal; Imaginative; Non-Detail; For Ear Only). Kalau anda mau menjalankan bisnis radio internet bekerjalah dengan mengoptimalkan keunggulan medium internet. Keunggulan internet adalah pull medium (langsung / instant / interaktif / singkat / any time), maka siaran radio terrestrial yang di-streaming-kan 24 jam sebenarnya bukanlah siaran radio yang berkarakter medium internet. Yang lebih pas untuk internet adalah model siaran podcasting (atau seperti youtube) namun dalam banyak ragam. Acara pagi radio seperti yang jadi model sekarang ini, dimana 1-3 penyiar ngomong rame-rame, seru sendiri, ketawa-ketawa sendiri di antara mereka saja, itu juga contoh sebuah acara radio yang tidak sesuai dengan karakteristik media radio. Acara seperti ini cocoknya di televisi, dimana pemirsa bisa melihat tingkah laku para host dan tamunya via layar kaca.

Apa yang Dicari Orang melalui Medium Radio?

Apa sih yang sesungguhnya dicari orang, sehingga ia mau-mauan scanning berbagai gelombang radio di mobilnya untuk mencari sebuah siaran radio yang paling pas untuk dirinya? Ketika berada di mobil (misalnya)? Tanpa harus survey (karena ini memang salah satu karakter keunggulan radio), langsung saja saya jawab: “Mereka butuh ada yang menemani secara nyaman dalam beraktivitas (a comfort accompaniment)“ Oleh karena itulah, apapun yang disiarkan oleh radio (musik ataupun kalimat-kalimat dan suara penyiar) selama itu menjadi sebuah comfort accompaniment bagi si pendengar pastilah ia akan betah mendengarkannya. Kata kuncinya adalah comfortability (kenikmatan / kenyamanan). Misalnya: Janganlah memasang lagu bagus tapi kebetulan tidak cocok dengan suasana umum hatinya pada waktu itu. Janganlah memasang lagu yang hampir mirip berturut-turut karena akan menimbulkan kebosanan. Begitu pula dengan topik-topik yang dibicarakan dan cara membawakannya. Jangan sampai mengganggu comfortability (kenikmatan / kenyamanan). Misal: jangan bicarakan topik yang pendengar sudah lebih tahu. Jangan menggunakan tinggi nada bicara yang melelahkan untuk didengar agak lama. Jangan menggunakan nada berbicara yang monotone, termasuk pada awal dan akhir kalimat. (arm)

1 komentar:

Bright Thinking mengatakan...

Good bang Andi ... radio teresterial harus perkuat diri sesuai karakter biar didengar khalayak lagi.