oleh Andy Rustam
Ketika saya menyukai satu acara, apakah di televisi ataupun radio, tentu kemudian secara rutin saya selalu mengikuti acara tersebut. Namun setelah beberapa lama mengikutinya, perlahan-lahan mulai timbul rasa bosan. Memang kebosanan merupakan salah satu tantangan bagi para produser acara. Rasa bosan dari para pemirsa TV / pendengar radio wajar muncul sebagai akibat aktivitas rutin mengikuti acara tersebut. Tetapi mengapa ada acara-acara tertentu yang sampai waktu yang lama diikuti secara rutin masih tetap saja tidak membosankan. Apa sebabnya?
Perbandingan Relatif secara Otomatis
Otak kita ibarat sebuah Hard Disk besar yang menyimpan banyak sekali file dan data di dalamnya. Ketika panca-indera menangkap sesuatu, otomatis otak kita melakukan seleksi dan melakukan penyimpanan. Dalam proses berpikir untuk mencerna sesuatu informasi baru (analisa dan kesimpulan) maka data-data yang ada secara otomatis kemudian dikeluarkan dan dipakai sebagai acuan untuk diperbandingkan dengan data yang baru. Jadi, ketika mata anda melihat seorang gadis dan kemudian berkesimpulan bahwa gadis itu adalah gadis yang cantik, ini artinya gadis itu cantik dibandingkan dengan seseorang atau sesuatu yang “file cantiknya” sudah tersimpan lebih dahulu di dalam otak kita sebelumnya. Begitu pula, bila kita suka akan suatu acara siaran karena acara tersebut bagus, maka artinya bagus itu maksudnya karena diperbandingkan dengan “file bagus” yang sudah ada terlebih dahulu dalam otak kita. Itu sebabnya terjadi relatifitas atas maksud “bagusnya sebuah acara”. Menurut si A acara siaran tersebut jelek (dibandingkan dengan file bagus yang ada dalam otaknya A sebagai acuan), sedangkan menurut si B acara tersebut bagus (dibandingkan dengan file bagus yang ada dalam otaknya si B sebagai acuan).
Ketika file-lama yang sudah tersimpan di dalam otak menyatakan bahwa (misal) acaranya Tukul itu lucu, maka otak kita juga akan menyimpam ingatan, bahwa lucu seperti itu rupanya mendatangkan rasa yang menyenangkan. Ini semua tersimpan dalam memori. Rasa senang ini muncul akibat otak mengeluarkan hormon endorphine yang terpicu oleh kelucuan-nya si Tukul. (Catatan: Lucu merupakan salah satu pemicu yang dapat membuat excitement / semangat gairah). Seperti narkoba, hormon inilah yang menyebabkan kita jadi “ketagihan”, lalu membuat kita untuk mencari dan mengikuti terus acara lucu tersebut.
Mengapa Kita Kemudian Jadi Bosan?
Seperti sudah diuraikan di atas, sesuatu yang dapat membuat seseorang exciting (spt: Lucu, Tegang, Penasaran, Surprise / Tak Terduga, Hal Baru dsb.) akan memicu otak mengeluarkan hormon endorphine yang membuat kita merasa senang. Sebuah pengalaman baru biasanya memiliki kualitas exciting yang tinggi. Tetapi makin sering kita mengalami hal yang sama maka tingkat excitement-nya pun semakin berkurang, yang berarti otak pun tidak lagi mengeluarkan hormon endorphine seperti ketika masih baru pertama kali dulu. Akibatnya, rasa senang yang kita alami pun tidak seperti waktu pertama kali. Lama-kelamaan acara (misalnya: acara Tukul) yang dulu kita rasakan sebagai acara yang lucu dan menyenangkan, akhirnya menjadi acara yang biasa-biasa saja dan kemudian kita merasakannya sebagai acara yang membosankan.
Bagaimana Caranya agar Acara Siaran Kita Tidak Membosankan?
Jelas sekali bahwa datangnya kebosanan itu diakibatkan oleh hilangnya excitement / gairah. Itu berarti bahwa, apabila kita sebagai produser atau penyiar tidak mampu menjaga tingkat excitement dalam acaranya maka acara itu pasti akan membosankan. Lalu bagaimana caranya mencipptakan dan menjaga excitement itu sendiri? Sesuatu hal baru biasanya mudah menciptakan excitement. Oleh karena itu maka sebuah acara harus tidak boleh tampil selalu sama terus alias selalu ada pembaharuan / inovasi-nya ataupun memperbanyak variasinya. Memang dalam suatu acara yang tetap, sudah ada design format acaranya, lalu ada ciri-ciri khas acara sengaja ditampilkan sama terus setiap kali muncul dengan tujuan agar menjadi sebuah identitas yang mudah dikenali oleh pendengar / pemirsa. Namun harus diingat bahwa kalau tidak mengalami perubahan sama sekali maka kebosanan lama-kelamaan akan muncul juga. Kebosanan akan menyebabkan hilangnya perhatian. Di sini diperlukan kreatifitas agar dapat selalu menampilkan hal baru tanpa menghilangkan ciri-ciri identitasnya. Cobalah Anda perhatikan setiap kali kita membuka Google search. Sering sekali logo Google itu berubah-ubah. Tapi tetap Google bukan?
Sekarang perhatikan bagaimana kalimat Anda membuka acara siaran Anda setiap kali? Bisakah diperbaharui tanpa menghilangkan cirinya. Misalnya setiap kali anda buka acara selalu dengan kalimat seperti ini, “Hallo, Selamat malam pemirsa / pendengar (atau lainnya). Senang sekali saya berjumpa dengan Anda kembali dalam acara Bicara Musik... kali ini dengan bintang tamu Raisa.” Sekarang coba anda ganti dengan kalimat lain, misalnya “Sejak berangkat dari rumah tadi pagi hati saya kok gembira sekali rasanya yaa? Wow... rupanya hari ini saya akan bertemu dengan bintang cantik favorit saya... Selamat Malam Pemirsa / Pendengar, inilah acara BICARA MUSIK dengan bintang tamu... Raisa”. Begitulah misalnya variasi baru yang bisa Anda lakukan pada kalimat pembukaan (dan juga bisa penutupan).
Variasi juga bisa Anda lakukan pada format acaranya. Misalnya, dalam acara Bicara Musik ada segmen yang menampilkan quiz yang biasa diletakkan di bahagian akhir, cobalah dipindah ke bahagian tengah-tengah. Semua ini dilakukan untuk menjaga excitement dari para pendengar / pemirsa yang mengikuti acara ini. Excitement juga bisa tercipta bukan hanya dari pembaharuan saja, tetapi bisa juga dicapai melalui Surprises (kejutan yang menyenangkan). Misalnya, dalam acara Bicara Musik, biasanya yang ditampilkan hanya si artis saja. Tapi kali ini produser menyiapkan sesuatu yang istimewa sebagai kejutan buat si artis. Misal si artis bercerita, “Saya pertama kali belajar musik / piano, ketika baru berusia 5 tahun. dari seorang guru musik bernama Ibu Marni. Itu selama 3 tahun. Sekarang sudah hampir 20 tahun berlalu tapi tidak pernah satu kali-pun bertemu”. Kemudian tiba-tiba dihadirkanlah Ibu Marni sebagai surprise / kejutan buat si artis sekaligus juga buat pemirsa / pendengar (karena biasanya tidak seperti itu).
Excitement juga bisa diraih dengan melakukan suatu kegiatan bersama atau pun melalui sesuatu atau cerita yang belum diketahui sebelumnya (misal, apakah kalau si artis sedang bersedih itu sampai menangis meraung-raung banjir airmata?) Jadi kata kunci agar sebuah acara tidak membosankan: Ciptakan dan jaga tingkat excitement dari para pendengar / pemirsa. Caranya dengan melakukan inovasi dan variasi, pada setiap elemen acara, tanpa merubah identitas acara.
Ilmu ini bisa juga dipakai ke kehidupan pribadi kita juga sih. Pertama kalinya dulu selagi naksir sama seseorang, mau bertemu aja rasanya exciting sekali. Terus sewaktu udah jadi pacar dan sering bertemu, excitement-nya menurun. Lama-lama... biasa-biasa aja, akhirnya... bosan. Solusinya selalu buatlah inovasi / variasi dalam relasi berdua tanpa merubah identitas kepribadian kita masing-masing. Tapi jangan cari excitement buat diri sendiri doang... dengan punya pacar baru. Hadeuuh... (arm)
Ketika saya menyukai satu acara, apakah di televisi ataupun radio, tentu kemudian secara rutin saya selalu mengikuti acara tersebut. Namun setelah beberapa lama mengikutinya, perlahan-lahan mulai timbul rasa bosan. Memang kebosanan merupakan salah satu tantangan bagi para produser acara. Rasa bosan dari para pemirsa TV / pendengar radio wajar muncul sebagai akibat aktivitas rutin mengikuti acara tersebut. Tetapi mengapa ada acara-acara tertentu yang sampai waktu yang lama diikuti secara rutin masih tetap saja tidak membosankan. Apa sebabnya?
Perbandingan Relatif secara Otomatis
Otak kita ibarat sebuah Hard Disk besar yang menyimpan banyak sekali file dan data di dalamnya. Ketika panca-indera menangkap sesuatu, otomatis otak kita melakukan seleksi dan melakukan penyimpanan. Dalam proses berpikir untuk mencerna sesuatu informasi baru (analisa dan kesimpulan) maka data-data yang ada secara otomatis kemudian dikeluarkan dan dipakai sebagai acuan untuk diperbandingkan dengan data yang baru. Jadi, ketika mata anda melihat seorang gadis dan kemudian berkesimpulan bahwa gadis itu adalah gadis yang cantik, ini artinya gadis itu cantik dibandingkan dengan seseorang atau sesuatu yang “file cantiknya” sudah tersimpan lebih dahulu di dalam otak kita sebelumnya. Begitu pula, bila kita suka akan suatu acara siaran karena acara tersebut bagus, maka artinya bagus itu maksudnya karena diperbandingkan dengan “file bagus” yang sudah ada terlebih dahulu dalam otak kita. Itu sebabnya terjadi relatifitas atas maksud “bagusnya sebuah acara”. Menurut si A acara siaran tersebut jelek (dibandingkan dengan file bagus yang ada dalam otaknya A sebagai acuan), sedangkan menurut si B acara tersebut bagus (dibandingkan dengan file bagus yang ada dalam otaknya si B sebagai acuan).
Ketika file-lama yang sudah tersimpan di dalam otak menyatakan bahwa (misal) acaranya Tukul itu lucu, maka otak kita juga akan menyimpam ingatan, bahwa lucu seperti itu rupanya mendatangkan rasa yang menyenangkan. Ini semua tersimpan dalam memori. Rasa senang ini muncul akibat otak mengeluarkan hormon endorphine yang terpicu oleh kelucuan-nya si Tukul. (Catatan: Lucu merupakan salah satu pemicu yang dapat membuat excitement / semangat gairah). Seperti narkoba, hormon inilah yang menyebabkan kita jadi “ketagihan”, lalu membuat kita untuk mencari dan mengikuti terus acara lucu tersebut.
Mengapa Kita Kemudian Jadi Bosan?
Seperti sudah diuraikan di atas, sesuatu yang dapat membuat seseorang exciting (spt: Lucu, Tegang, Penasaran, Surprise / Tak Terduga, Hal Baru dsb.) akan memicu otak mengeluarkan hormon endorphine yang membuat kita merasa senang. Sebuah pengalaman baru biasanya memiliki kualitas exciting yang tinggi. Tetapi makin sering kita mengalami hal yang sama maka tingkat excitement-nya pun semakin berkurang, yang berarti otak pun tidak lagi mengeluarkan hormon endorphine seperti ketika masih baru pertama kali dulu. Akibatnya, rasa senang yang kita alami pun tidak seperti waktu pertama kali. Lama-kelamaan acara (misalnya: acara Tukul) yang dulu kita rasakan sebagai acara yang lucu dan menyenangkan, akhirnya menjadi acara yang biasa-biasa saja dan kemudian kita merasakannya sebagai acara yang membosankan.
Bagaimana Caranya agar Acara Siaran Kita Tidak Membosankan?
Jelas sekali bahwa datangnya kebosanan itu diakibatkan oleh hilangnya excitement / gairah. Itu berarti bahwa, apabila kita sebagai produser atau penyiar tidak mampu menjaga tingkat excitement dalam acaranya maka acara itu pasti akan membosankan. Lalu bagaimana caranya mencipptakan dan menjaga excitement itu sendiri? Sesuatu hal baru biasanya mudah menciptakan excitement. Oleh karena itu maka sebuah acara harus tidak boleh tampil selalu sama terus alias selalu ada pembaharuan / inovasi-nya ataupun memperbanyak variasinya. Memang dalam suatu acara yang tetap, sudah ada design format acaranya, lalu ada ciri-ciri khas acara sengaja ditampilkan sama terus setiap kali muncul dengan tujuan agar menjadi sebuah identitas yang mudah dikenali oleh pendengar / pemirsa. Namun harus diingat bahwa kalau tidak mengalami perubahan sama sekali maka kebosanan lama-kelamaan akan muncul juga. Kebosanan akan menyebabkan hilangnya perhatian. Di sini diperlukan kreatifitas agar dapat selalu menampilkan hal baru tanpa menghilangkan ciri-ciri identitasnya. Cobalah Anda perhatikan setiap kali kita membuka Google search. Sering sekali logo Google itu berubah-ubah. Tapi tetap Google bukan?
Sekarang perhatikan bagaimana kalimat Anda membuka acara siaran Anda setiap kali? Bisakah diperbaharui tanpa menghilangkan cirinya. Misalnya setiap kali anda buka acara selalu dengan kalimat seperti ini, “Hallo, Selamat malam pemirsa / pendengar (atau lainnya). Senang sekali saya berjumpa dengan Anda kembali dalam acara Bicara Musik... kali ini dengan bintang tamu Raisa.” Sekarang coba anda ganti dengan kalimat lain, misalnya “Sejak berangkat dari rumah tadi pagi hati saya kok gembira sekali rasanya yaa? Wow... rupanya hari ini saya akan bertemu dengan bintang cantik favorit saya... Selamat Malam Pemirsa / Pendengar, inilah acara BICARA MUSIK dengan bintang tamu... Raisa”. Begitulah misalnya variasi baru yang bisa Anda lakukan pada kalimat pembukaan (dan juga bisa penutupan).
Variasi juga bisa Anda lakukan pada format acaranya. Misalnya, dalam acara Bicara Musik ada segmen yang menampilkan quiz yang biasa diletakkan di bahagian akhir, cobalah dipindah ke bahagian tengah-tengah. Semua ini dilakukan untuk menjaga excitement dari para pendengar / pemirsa yang mengikuti acara ini. Excitement juga bisa tercipta bukan hanya dari pembaharuan saja, tetapi bisa juga dicapai melalui Surprises (kejutan yang menyenangkan). Misalnya, dalam acara Bicara Musik, biasanya yang ditampilkan hanya si artis saja. Tapi kali ini produser menyiapkan sesuatu yang istimewa sebagai kejutan buat si artis. Misal si artis bercerita, “Saya pertama kali belajar musik / piano, ketika baru berusia 5 tahun. dari seorang guru musik bernama Ibu Marni. Itu selama 3 tahun. Sekarang sudah hampir 20 tahun berlalu tapi tidak pernah satu kali-pun bertemu”. Kemudian tiba-tiba dihadirkanlah Ibu Marni sebagai surprise / kejutan buat si artis sekaligus juga buat pemirsa / pendengar (karena biasanya tidak seperti itu).
Excitement juga bisa diraih dengan melakukan suatu kegiatan bersama atau pun melalui sesuatu atau cerita yang belum diketahui sebelumnya (misal, apakah kalau si artis sedang bersedih itu sampai menangis meraung-raung banjir airmata?) Jadi kata kunci agar sebuah acara tidak membosankan: Ciptakan dan jaga tingkat excitement dari para pendengar / pemirsa. Caranya dengan melakukan inovasi dan variasi, pada setiap elemen acara, tanpa merubah identitas acara.
Ilmu ini bisa juga dipakai ke kehidupan pribadi kita juga sih. Pertama kalinya dulu selagi naksir sama seseorang, mau bertemu aja rasanya exciting sekali. Terus sewaktu udah jadi pacar dan sering bertemu, excitement-nya menurun. Lama-lama... biasa-biasa aja, akhirnya... bosan. Solusinya selalu buatlah inovasi / variasi dalam relasi berdua tanpa merubah identitas kepribadian kita masing-masing. Tapi jangan cari excitement buat diri sendiri doang... dengan punya pacar baru. Hadeuuh... (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar