oleh Andy Rustam
Beberapa kali kekesalan pemirsa TV terlontar melalui medsos, melihat bagaimana seorang reporter bertanya kepada seorang ibu yang bayinya meninggal akibat bencana tanah longsor. Si reporter TV bertanya, “Bagaimana perasaan ibu ketika mengetahui bayi ibu meninggal?”… Sungguh pertanyaan yang sangat dungu. Karena para pemirsa pun sudah tahu jawaban pertanyaan itu dan alasan mengapa pertanyaan itu dilontarkan pun sangat tidak jelas (maksudnya supaya apa sih?) Kelihatannya masih banyak para pekerja broadcasting yang tidak tahu tentang “bertanya”, sehingga melihat sebuah acara yang berisi tanya-jawab, baik di radio maupun di televisi seringkali menjadi tidak menarik. Bahkan kadang malah membuat kesal gara-gara pertanyaan bodoh dan itu belum lagi kalau bicara soal etika dan kesantunan.
Pewawancara di Radio / TV Mewakili Publik
Yang paling utama, terlebih dahulu harus disadari sejak awal bahwa sebagai pewawancara dalam sebuah siaran televisi / radio, sebetulnya kalau kita melontarkan pertanyaan itu adalah “atas nama” pemirsa / pendengar. Jadi harus ada kesamaan antara si pewawancara dengan pendengar / pemirsa di rumah. Artinya, apa pertanyaan yang dilontarkan si pewawancara haruslah merupakan sesuatu yang ingin ditanyakan pula oleh pemirsa / pendengar. Di sinilah kepekaan yang harus dimiliki para pewawancara, karena kalau tidak maka bisa saja Anda akan terkesan sok pintar (karena publiknya tidak bisa mengikuti karena tidak mengerti) atau Anda akan terkesan bodoh karena melontarkan pertanyaan yang publik Anda sudah mengetahui jawabannya sebelum Anda bertanya. Maka, seorang pewawancara di Radio / TV haruslah mengetahui dan mengenal betul tentang publiknya.
Alasan Bertanya
Banyak sekali pewawancara yang melontarkan pertanyaan tanpa dipikir terlebih dahulu. Mereka hanya khawatir terjadi “sepi” sehingga otak belum kerja mulut langsung bunyi untuk bertanya. Mereka bertanya karena harus bertanya. Ini salah satu sebab yang umum terjadi, yang menyebabkan pertanyaan jadi tidak bermutu. Sebuah pertanyaan, apalagi dalam sebuah acara tanya-jawab atau diskusi, maka tujuan dari acara ini haruslah betul-betul dipahami. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun adalah dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Seandainya, Anda mengundang seorang Kepala Polisi Lalu Lintas untuk diwawancarai terkait dengan sebuah kecelakaan lalu lintas, maka Anda harus memiliki tujuan akhir dari tanya-jawab dengan Kapolantas tersebut. Misal tujuannya, pada akhir wawancara nanti, masyarakat, khususnya para pengemudi mobil, harus bersikap extra hati-hati kalau melewati daerah-daerah rawan kecelakaan. Ini menjadi acuan Anda sebagai pewawancara dalam melontarkan rangkaian pertanyaan kepada narasumber.
Seorang pewawancara yang berkualitas selalu menyadari alasan kenapa mereka melontarkan pertanyaan tersebut, yaitu:
Beberapa kali kekesalan pemirsa TV terlontar melalui medsos, melihat bagaimana seorang reporter bertanya kepada seorang ibu yang bayinya meninggal akibat bencana tanah longsor. Si reporter TV bertanya, “Bagaimana perasaan ibu ketika mengetahui bayi ibu meninggal?”… Sungguh pertanyaan yang sangat dungu. Karena para pemirsa pun sudah tahu jawaban pertanyaan itu dan alasan mengapa pertanyaan itu dilontarkan pun sangat tidak jelas (maksudnya supaya apa sih?) Kelihatannya masih banyak para pekerja broadcasting yang tidak tahu tentang “bertanya”, sehingga melihat sebuah acara yang berisi tanya-jawab, baik di radio maupun di televisi seringkali menjadi tidak menarik. Bahkan kadang malah membuat kesal gara-gara pertanyaan bodoh dan itu belum lagi kalau bicara soal etika dan kesantunan.
Pewawancara di Radio / TV Mewakili Publik
Yang paling utama, terlebih dahulu harus disadari sejak awal bahwa sebagai pewawancara dalam sebuah siaran televisi / radio, sebetulnya kalau kita melontarkan pertanyaan itu adalah “atas nama” pemirsa / pendengar. Jadi harus ada kesamaan antara si pewawancara dengan pendengar / pemirsa di rumah. Artinya, apa pertanyaan yang dilontarkan si pewawancara haruslah merupakan sesuatu yang ingin ditanyakan pula oleh pemirsa / pendengar. Di sinilah kepekaan yang harus dimiliki para pewawancara, karena kalau tidak maka bisa saja Anda akan terkesan sok pintar (karena publiknya tidak bisa mengikuti karena tidak mengerti) atau Anda akan terkesan bodoh karena melontarkan pertanyaan yang publik Anda sudah mengetahui jawabannya sebelum Anda bertanya. Maka, seorang pewawancara di Radio / TV haruslah mengetahui dan mengenal betul tentang publiknya.
Alasan Bertanya
Banyak sekali pewawancara yang melontarkan pertanyaan tanpa dipikir terlebih dahulu. Mereka hanya khawatir terjadi “sepi” sehingga otak belum kerja mulut langsung bunyi untuk bertanya. Mereka bertanya karena harus bertanya. Ini salah satu sebab yang umum terjadi, yang menyebabkan pertanyaan jadi tidak bermutu. Sebuah pertanyaan, apalagi dalam sebuah acara tanya-jawab atau diskusi, maka tujuan dari acara ini haruslah betul-betul dipahami. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun adalah dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Seandainya, Anda mengundang seorang Kepala Polisi Lalu Lintas untuk diwawancarai terkait dengan sebuah kecelakaan lalu lintas, maka Anda harus memiliki tujuan akhir dari tanya-jawab dengan Kapolantas tersebut. Misal tujuannya, pada akhir wawancara nanti, masyarakat, khususnya para pengemudi mobil, harus bersikap extra hati-hati kalau melewati daerah-daerah rawan kecelakaan. Ini menjadi acuan Anda sebagai pewawancara dalam melontarkan rangkaian pertanyaan kepada narasumber.
Seorang pewawancara yang berkualitas selalu menyadari alasan kenapa mereka melontarkan pertanyaan tersebut, yaitu:
- Untuk mendapatkan informasi baru ataupun penjelasan tentang sesuatu. Keinginan ini biasanya muncul dikarenakan adanya sebab / alasan lain lagi yang melatar-belakangi. Hal ini harus disadari pula oleh si pewawancara. Lalu dilontarkanlah rangkaian pertanyaan dalam tahapan menuju tujuan akhir..
- Untuk menjaga alur percakapan atau menjaga alur penjelasan yang tengah diberikan. Misal, terkadang narasumber dalam memberikan penjelasan sering tidak runtut sehingga ada kerancuan dalam pengertiannya. Setelah penjelasan selesai, pewawancara sebaiknya bertanya sebagai konfirmasi maksud atas penjelasan yang diberikan. Begitu pula apabila narasumber seorang dokter, sehingga ia sering menggunakan istilah-istilah kedokteran yang tidak dipahami oleh orang awam. Disini si pewawancara sebaiknya bertanya akan arti istilah tersebut.
- Untuk mengganti fokus pembicaraan. Misal, pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya terfokus pada si pelaku kejahatan, lalu pewawancara merasa perlu merubah sudut pandang pembicaraan dari aspek lain karena kalau tidak maka tujuan dari tanya-jawab ini tidak akan tercapai. Misal dari fokusnya tadi pada si pelaku kejahatan, sekarang Anda ingin merubah sudut pandang dari sisi si korban kejahatan. Maka perubahan sudut pandang ini dapat dilakukan dengan melontarkan pertanyaan.
- Untuk memahami situasi yang terjadi atau untuk memahami jalan pikiran atau kepribadian seseorang, maupun latar belakang dari sesuatu peristiwa. Seringkali penyebab sesuatu peristiwa yang terjadi, bukanlah sesuatu yang dapat dilihat secara nyata dari peristiwa itu sendiri, melainkan ada hal-hal lain yang tidak terlihat yang kemungkinan berperan besar dalam peristiwa tersebut. Misal, sudah berkali-kali penyebab kecelakaan bis-bis malam adalah supir mengantuk atau rem blong. Pewawancara yang baik seharusnya merasa tidak cukup dengan penjelasan tersebut, karena penyebab seperti ini sudah puluhan kali terjadi berulang terus. Berarti tentu ada sesuatu yang salah, bukan? Misal, penyebab si bis malam remnya-blong itu karena kanvas rem-nya memakai kanvas rem yang sudah bekas. Lalu dari 10 bis malam yang ada di perusahaan tersebut, mungkin saja 8 diantaranya semua memakai kanvas rem bekas. Mengapa demikian? Inilah yang harus menjadi pekerjaan wartawan / pewawancara untuk menggali-nya. Karena jangan-jangan ini merupakan policy perusahaan guna menghemat biaya operasional dan perawatan kendaraan.
- Untuk memastikan kompetensi si narasumber. Cukup sering kita lihat di televisi bagaimana seorang politisi untuk mencari pembenaran atas argumennya kemudian mengutip sesuatu pendapat ilmiah dari seorang ilmuwan. Padahal karena memang bukan bidangnya, pemahaman ilmiahnya bukanlah seperti itu. Namun karena dia adalah seorang politisi terkemuka maka masyarakat awam menyangka bahwa kutipan ilmiah tersebut memang memiliki makna seperti itu. Akibatnya tentulah meluasnya sebuah kesalahan. Dari kesalahan yang bersumber atas kebodohan seseorang kemudian berubah menjadi kesalahan massal yang merupakan pembodohan masyarakat. Karena itulah seorang pewawancara terkadang harus melakukan semacam “test” atas kompetensi narasumber ketika dia berbicara agak keluar dari bidangnya. Misal, seorang politisi berlatarbelakang pendidikan Ilmu Pengetahuan Budaya, kemudian mengutip persamaan-persamaan mathematika dari Stephen Hawkings. Maka, si pewawancara sebaiknya bertanya ketika si politisi selesai berbicara, sbb: "Apakah bapak dahulu pernah mengambil pendidikan Mathematika atau Fisika ?”. Ini akan menjadi semacam catatan bagi pendengar / pemirsa sebelum ikut-ikutan untuk menyetujui pendapat si narasumber.
- Untuk memancing publik agar berpikir lebih jauh. Biasanya pertanyaan seperti ini dimunculkan di bahagian akhir dari rangkaian pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Mengapa demikian? Karena setiap persoalan sebenarnya tidak ada yang pernah berdiri sendiri, dan selalu mempunyai kaitan dengan hal lain atau sektor lain. Namun konteks acara tanya-jawab kali ini memang dibatasi pembicaraannya pada aspek tertentu. Lalu, agar pemirsa / pendengar mengetahui bahwa masalah yang dibicarakan ini tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi ini saja, maka ada baiknya pewawancara melontarkan pertanyaan yang dapat memicu pemikiran lanjutan di pihak masyarakat. Misal, dalam hal pembahasan tentang musibah, kecelakaan dan bencana alam, mungkin sebelum penutup acara si pewawancara bisa bertanya, “Mengapa masyarakat sepertinya tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa serupa yang pernah terjadi sebelumnya? Akibatnya sering sekali di Indonesia ini, bencana atau musibah itu bisa terjadi berulang-ulang di tempat yang sama dengan memakan korban yang banyak pula?“ (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar