oleh Andy Rustam
Bulan Juli yang lalu, saya menghadiri acara halal bi halal di sebuah kantor bersama seorang teman yang dulu cukup akrab, namun sudah lama sekali tidak pernah jumpa. Dalam acara tersebut ada mata acara tauziah pendek yang disampaikan oleh seorang uztad. Ketika tauziah sudah selesai, dan dilanjutkan dengan acara ramah-tamah, makan-minum, tiba—tiba teman saya itu berbisik kepada saya sbb. “Tadi loe dengerin khotbahnya si uztad, khan?”. Saya jawab, “Iya dong. Kenapa?”. Dia melanjutkan lagi, “Darimana loe tau bahwa si uztad tadi bohong atau ngga? Darimana loe tau dia bener atau salah?”. Saya tersenyum mendengar pertanyaan yang agak tidak biasa itu, tapi cukup membuat saya terdiam.
Menerima Sebuah Informasi
Secara tak sadar sebenarnya yang diajukan teman saya itu, sebuah pertanyaan yang sangat “cerdas”, yang seharusnya dilontarkan oleh semua orang ketika ia menerima sebuah pesan, atau sebuah informasi. Maknanya, kita harus selalu memverifikasinya terlebih dahulu dan tidak menerima mentah-mentah saja apabila ada informasi yang datang. Juga jangan percaya saja dengan iklan penawaran investasi atau pembelian produk-produk diiming-imingi sesuatu yang “terlalu bagus untuk sebuah kebenaran (too good to be true)”. Misal, “Obat kanker yang dapat menyembuhkan kanker parah hanya dalam 8 minggu saja !!!”. Lalu diperlihatkan gambar, foto, atau video untuk meyakinkan atau testimoni dari orang-orang yang katanya berhasil.
Saya jadi hafal banget, bahwa umumnya berita / informasi yang berisi kebohongan itu selalu memiliki ciri-ciri salah satu atau semuanya dari 5: (1) Yang dijanjikan: Too good to be true (2) Isi berita-nya biasa mengusik sisi emosi (3) Pembuktian benar atau salah-nya butuh waktu (4) Menyertakan gambar-gambar / video (biasanya juga hasil editan), untuk lebih meyakinkan (5) Menampilkan sumber pihak ketiga / keempat sebagai testimoni untuk meyakinkan (6) Kalau sebuah iklan biasanya ada keterangan tertulis kecil: “Hasil berbeda untuk setiap orang”. Jadi kalau Anda menerima informasi yang memiliki salah satu saja (apalagi semuanya) dari ciri-ciri ini, Anda sebaiknya waspada, dan mulai mencari verifikasi (= tabayyun. Jadi ikutan deh... Maklum sekarang lagi musim memakai istilah arab... hehehe). Tentu saja kalau mau mencari verifikasi tentunya jangan dong mengambil data / keterangan yang bersumber dari dia juga atau dari kelompoknya, tetapi harus dari sumber diluar pihak-pihak yang terkait.
Saya sendiri dalam menerima informasi di jaman sekarang, harus dengan sikap mental yang telah dipersiapkan, bahwa setiap informasi yang datang kepada saya, selalu tidak saya percayai terlebih dahulu. Walaupun media yang memberitakannya adalah media yang cukup baik kredibilitas-nya, tetap saja saya bersikap untuk tidak percaya terlebih dahulu (skeptic). Apalagi kalau medianya sudah tidak kredibel dalam pandangan saya. Mengapa? Karena dibalik media duduklah para pemilik dan manajemen yang masing-masing adalah juga manusia-manusia biasa yang mempunyai keinginan dan agenda-agenda tersendiri, yang tentunya harus menguntungkan diri mereka, bukan?
Situs Berita Internet
Untuk diiketahui, jumlah situs berita yang menyiarkan berita-berita yang tak dapat dipercaya (seperti: berita bohong / hoax, berita setengah bohong, berita plintiran, berita mengambang dsb.) jauh lebih banyak daripada situs-situs berita yang kredibel (salah satu cirinya: berita selalu ter-update, memiliki alamat kantor yang jelas, memiliki susunan redaksi yang dapat mempertanggung-jawabkan isinya). Oleh karena itulah sikap mental dengan tidak langsung mempercayai berita yang masuk tanpa memverifikasi-nya, bahkan semakin penting bila kita menerima informasi / berita melalui situs-situs berita online. Anda meliihat berita muncul di internet, bukan berarti berita itu bisa dipercaya. Dengan semakin banyak tersedianya aplikasi untuk membuat situs berita di internet, maka artinya, siapa saja (termasuk para teroris dan musuh-musuh bangsa) dengan mudah dan dalam waktu singkat dapat membuat sebuah situs berita. Lalu supaya ada kredibilitas, situs abal-abal itu diberi nama yang mirip-mirip nama / brand media nasional yang sudah memiliki kredibilitas baik. Misalnya: Harian Kompas, maka nanti mereka buat dgn nama Kompas Berita; Liputan 6, nanti mereka buat dengan nama misalnya, Info Online Liputan 6. Jadi sebenarnya dari nama situsnya saja kita sudah harus teliti dan waspada. Oleh karena itu janganlah kita malas melakukan verifikasi. Ciri-ciri situs abal-abal itu antara lain: (1) Nama address situsnya panjang (2) Seringkali itu bukan sebuah situs (bukan, .com / .co .id) melainkan sebuah blog... tertulisnya... blogspot.com. Sebuah blog sifatnya milik pribadi yang ingin mengekspresikan diri / pikirannya (3) Periksa isinya. Biasanya jarang ter-update. Artinya tanggal-tanggal dan jam pemuatan berita / info tidak rutin / tidak kontinyu. (4) Tim & alamat redaksi tidak jelas (5) Narasumber yang dipakai tidak kompeten pada bidangnya atau juga smalah tidak ada narasumber tapi dikarang saja oleh si penulis. (6) Gaya penulisan berita menggugah emosi, tendensius dan tidak seimbang.
Mau Percaya Siapa?
Kalau kita perhatikan dan mau berpikir, sebenarnya di dunia ini, sesuatu yang betul-betul benar itu tidak ada. Semuanya serba relative. Yang ada adalah hanyalah sesuatu yang kita “anggap benar” dan akhirnya kita yakini benar buat diri kita sendiri. Sebuah pendapat ilmiah yang jaman old dianggap benar, di jaman now, dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, pendapat itu dianggap salah. Dulu alam semesta dianggap statis, ilmu pengetahuan yang lebih baru mengatakan bahwa alam semesta bergerak cepat saling menjauhi. Sudah pasti benarkah ini? Belum tentu. Mungkin beberapa puluh tahun ke depan sudah adalagi teori yang lebih baru.
Begitulah juga seharusnya ketika kita mendengar sebuah informasi. Apapun yang kita baca, kita dengar dan kita lihat, masuk ke dalam otak kita lalu diproses dengan memperbandingkan dengan data-data yang ada di dalam berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, kemudian otak kita menyimpulkan bahwa: “maksud dari informasi itu adalah Anu”. Pasti benarkah? Belum tentu. Karena itu hanyalah hasil proses otak kita, dimana sebetulnya pengetahuan dan pengalaman otak kita pun terbatas. Artinya, bila informasi itu dibaca dan dipahami oleh oleh orang dengan pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, kesimpulannya juga akan berbeda. Belum lagi pengaruh dari faktor-faktor lain seperti situasi lingkungan, budaya, keadaan kejiwaan dan faktor-faktor emosi lainnya. Bahkan pesan dalam ayat-ayat kitab suci yang samapun bisa ditafsirkan berbeda-beda, sehingga itulah yang menjadi sebab timbulnya mazhab-mazhab. Mana yang pasti benar? Tidak satupun. Kita hanya menganggapnya ini yang benar. Dengan kesadaran bahwa sebenarnnya, tidak ada satupun yang pasti benar, maka sikap kita dalam menerima sebuah informasi janganlah reaktif dan emosional. Apalagi dengan turut menyebar-luaskannya. Keep it to yourself first. Karena akibatnya bisa menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat dan pastinya secara tidak langsung akan merugikan diri kita sendiri pula. Kembali ke sikap mental dalam menerima informasi, secara berurutan, ini yang selalu saya lakukan: (1) Menganggap semua informasi yang saya terima, baik yang saya sukai atau tidak sukai, sebagai tidak bisa dipercaya! (2) Simpan dulu pesan yang baru datang itu untuk dicerna. (3) Kalau informasinya penting akan saya carikan verifikasinya dulu, termasuk memakai logika dan nalar. Kalau infonya tidak penting ya dilupakan saja. (4) Mengambil kesimpulan dan memaknai pesan, setelah diverifikasi (5) Mempertimbangkan apakah makna pesan itu memiliki banyak manfaat bagi masyarakat atau lebih banyak merugikan kehidupannya? Hanya informasi yang akan membawa manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan, yang akan saya teruskan ke orang-orang lain atau akan saya ingat-ingat terus sebagai referensi dalam sebuah percakapan nanti. Kalau diperlukan, menjadikan informasi ini sebagai dasar untuk melakukan suatu action. (arm)
Bulan Juli yang lalu, saya menghadiri acara halal bi halal di sebuah kantor bersama seorang teman yang dulu cukup akrab, namun sudah lama sekali tidak pernah jumpa. Dalam acara tersebut ada mata acara tauziah pendek yang disampaikan oleh seorang uztad. Ketika tauziah sudah selesai, dan dilanjutkan dengan acara ramah-tamah, makan-minum, tiba—tiba teman saya itu berbisik kepada saya sbb. “Tadi loe dengerin khotbahnya si uztad, khan?”. Saya jawab, “Iya dong. Kenapa?”. Dia melanjutkan lagi, “Darimana loe tau bahwa si uztad tadi bohong atau ngga? Darimana loe tau dia bener atau salah?”. Saya tersenyum mendengar pertanyaan yang agak tidak biasa itu, tapi cukup membuat saya terdiam.
Menerima Sebuah Informasi
Secara tak sadar sebenarnya yang diajukan teman saya itu, sebuah pertanyaan yang sangat “cerdas”, yang seharusnya dilontarkan oleh semua orang ketika ia menerima sebuah pesan, atau sebuah informasi. Maknanya, kita harus selalu memverifikasinya terlebih dahulu dan tidak menerima mentah-mentah saja apabila ada informasi yang datang. Juga jangan percaya saja dengan iklan penawaran investasi atau pembelian produk-produk diiming-imingi sesuatu yang “terlalu bagus untuk sebuah kebenaran (too good to be true)”. Misal, “Obat kanker yang dapat menyembuhkan kanker parah hanya dalam 8 minggu saja !!!”. Lalu diperlihatkan gambar, foto, atau video untuk meyakinkan atau testimoni dari orang-orang yang katanya berhasil.
Saya jadi hafal banget, bahwa umumnya berita / informasi yang berisi kebohongan itu selalu memiliki ciri-ciri salah satu atau semuanya dari 5: (1) Yang dijanjikan: Too good to be true (2) Isi berita-nya biasa mengusik sisi emosi (3) Pembuktian benar atau salah-nya butuh waktu (4) Menyertakan gambar-gambar / video (biasanya juga hasil editan), untuk lebih meyakinkan (5) Menampilkan sumber pihak ketiga / keempat sebagai testimoni untuk meyakinkan (6) Kalau sebuah iklan biasanya ada keterangan tertulis kecil: “Hasil berbeda untuk setiap orang”. Jadi kalau Anda menerima informasi yang memiliki salah satu saja (apalagi semuanya) dari ciri-ciri ini, Anda sebaiknya waspada, dan mulai mencari verifikasi (= tabayyun. Jadi ikutan deh... Maklum sekarang lagi musim memakai istilah arab... hehehe). Tentu saja kalau mau mencari verifikasi tentunya jangan dong mengambil data / keterangan yang bersumber dari dia juga atau dari kelompoknya, tetapi harus dari sumber diluar pihak-pihak yang terkait.
Saya sendiri dalam menerima informasi di jaman sekarang, harus dengan sikap mental yang telah dipersiapkan, bahwa setiap informasi yang datang kepada saya, selalu tidak saya percayai terlebih dahulu. Walaupun media yang memberitakannya adalah media yang cukup baik kredibilitas-nya, tetap saja saya bersikap untuk tidak percaya terlebih dahulu (skeptic). Apalagi kalau medianya sudah tidak kredibel dalam pandangan saya. Mengapa? Karena dibalik media duduklah para pemilik dan manajemen yang masing-masing adalah juga manusia-manusia biasa yang mempunyai keinginan dan agenda-agenda tersendiri, yang tentunya harus menguntungkan diri mereka, bukan?
Situs Berita Internet
Untuk diiketahui, jumlah situs berita yang menyiarkan berita-berita yang tak dapat dipercaya (seperti: berita bohong / hoax, berita setengah bohong, berita plintiran, berita mengambang dsb.) jauh lebih banyak daripada situs-situs berita yang kredibel (salah satu cirinya: berita selalu ter-update, memiliki alamat kantor yang jelas, memiliki susunan redaksi yang dapat mempertanggung-jawabkan isinya). Oleh karena itulah sikap mental dengan tidak langsung mempercayai berita yang masuk tanpa memverifikasi-nya, bahkan semakin penting bila kita menerima informasi / berita melalui situs-situs berita online. Anda meliihat berita muncul di internet, bukan berarti berita itu bisa dipercaya. Dengan semakin banyak tersedianya aplikasi untuk membuat situs berita di internet, maka artinya, siapa saja (termasuk para teroris dan musuh-musuh bangsa) dengan mudah dan dalam waktu singkat dapat membuat sebuah situs berita. Lalu supaya ada kredibilitas, situs abal-abal itu diberi nama yang mirip-mirip nama / brand media nasional yang sudah memiliki kredibilitas baik. Misalnya: Harian Kompas, maka nanti mereka buat dgn nama Kompas Berita; Liputan 6, nanti mereka buat dengan nama misalnya, Info Online Liputan 6. Jadi sebenarnya dari nama situsnya saja kita sudah harus teliti dan waspada. Oleh karena itu janganlah kita malas melakukan verifikasi. Ciri-ciri situs abal-abal itu antara lain: (1) Nama address situsnya panjang (2) Seringkali itu bukan sebuah situs (bukan, .com / .co .id) melainkan sebuah blog... tertulisnya... blogspot.com. Sebuah blog sifatnya milik pribadi yang ingin mengekspresikan diri / pikirannya (3) Periksa isinya. Biasanya jarang ter-update. Artinya tanggal-tanggal dan jam pemuatan berita / info tidak rutin / tidak kontinyu. (4) Tim & alamat redaksi tidak jelas (5) Narasumber yang dipakai tidak kompeten pada bidangnya atau juga smalah tidak ada narasumber tapi dikarang saja oleh si penulis. (6) Gaya penulisan berita menggugah emosi, tendensius dan tidak seimbang.
Mau Percaya Siapa?
Kalau kita perhatikan dan mau berpikir, sebenarnya di dunia ini, sesuatu yang betul-betul benar itu tidak ada. Semuanya serba relative. Yang ada adalah hanyalah sesuatu yang kita “anggap benar” dan akhirnya kita yakini benar buat diri kita sendiri. Sebuah pendapat ilmiah yang jaman old dianggap benar, di jaman now, dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, pendapat itu dianggap salah. Dulu alam semesta dianggap statis, ilmu pengetahuan yang lebih baru mengatakan bahwa alam semesta bergerak cepat saling menjauhi. Sudah pasti benarkah ini? Belum tentu. Mungkin beberapa puluh tahun ke depan sudah adalagi teori yang lebih baru.
Begitulah juga seharusnya ketika kita mendengar sebuah informasi. Apapun yang kita baca, kita dengar dan kita lihat, masuk ke dalam otak kita lalu diproses dengan memperbandingkan dengan data-data yang ada di dalam berdasarkan pengetahuan dan pengalaman, kemudian otak kita menyimpulkan bahwa: “maksud dari informasi itu adalah Anu”. Pasti benarkah? Belum tentu. Karena itu hanyalah hasil proses otak kita, dimana sebetulnya pengetahuan dan pengalaman otak kita pun terbatas. Artinya, bila informasi itu dibaca dan dipahami oleh oleh orang dengan pengetahuan dan pengalaman yang berbeda, kesimpulannya juga akan berbeda. Belum lagi pengaruh dari faktor-faktor lain seperti situasi lingkungan, budaya, keadaan kejiwaan dan faktor-faktor emosi lainnya. Bahkan pesan dalam ayat-ayat kitab suci yang samapun bisa ditafsirkan berbeda-beda, sehingga itulah yang menjadi sebab timbulnya mazhab-mazhab. Mana yang pasti benar? Tidak satupun. Kita hanya menganggapnya ini yang benar. Dengan kesadaran bahwa sebenarnnya, tidak ada satupun yang pasti benar, maka sikap kita dalam menerima sebuah informasi janganlah reaktif dan emosional. Apalagi dengan turut menyebar-luaskannya. Keep it to yourself first. Karena akibatnya bisa menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat dan pastinya secara tidak langsung akan merugikan diri kita sendiri pula. Kembali ke sikap mental dalam menerima informasi, secara berurutan, ini yang selalu saya lakukan: (1) Menganggap semua informasi yang saya terima, baik yang saya sukai atau tidak sukai, sebagai tidak bisa dipercaya! (2) Simpan dulu pesan yang baru datang itu untuk dicerna. (3) Kalau informasinya penting akan saya carikan verifikasinya dulu, termasuk memakai logika dan nalar. Kalau infonya tidak penting ya dilupakan saja. (4) Mengambil kesimpulan dan memaknai pesan, setelah diverifikasi (5) Mempertimbangkan apakah makna pesan itu memiliki banyak manfaat bagi masyarakat atau lebih banyak merugikan kehidupannya? Hanya informasi yang akan membawa manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan, yang akan saya teruskan ke orang-orang lain atau akan saya ingat-ingat terus sebagai referensi dalam sebuah percakapan nanti. Kalau diperlukan, menjadikan informasi ini sebagai dasar untuk melakukan suatu action. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar