oleh Andy Rustam
Pak Konglo, seorang konglomerat, mulai terjun ke bidang media dengan mengoper kepemilikan saham sebuah stasiun radio (namakan saja “Radio Baru”)... Lalu dengan kemampuan keuangannya dia “membajak” personel dari radio-radio lain yang sudah sukses, baik itu pimpinannya, para penyiarnya, tim produksi, dan pemberitaan serta tim penjualannya. Jalan pikirannya bahwa dengan dana yang cukup besar, tinggal bikin promosi maka dalam waktu 1- 2 tahun radio ini sudah akan popular baik di masyarakat maupun di kalangan pemasang iklan. Tetapi apa yang terjadi, jauh dari harapan. Pada suatu hari pak Konglo dan saya sempat ketemuan ngopi-ngopi. Dari pembicaraan ini, saya mengambil kesimpulan, bahwa baik pak Konglo maupun timnya ternyata masih kurang dalam pengetahuannya tentang media radio. Bisa dimaklumi sih... Karena radio itu media yang tidak ada gambarnya, tidak ada tulisannya, cuma suara saja. Radio menjadi sesuatu yang kurang menarik dibandingkan media-media lain. Makanya tidak banyak yang mempelajari radio sebagai media. Bahkan yang sering terjadi adalah penggunaan indikator / sudut pandang bisnis lain atau media lain tapi ditempelkan kepada radio. Salah kaprahlah yang terjadi.
Acara bukanlah Produk
Pak Konglo mengatakan kepada saya bahwa mereka telah mencoba membuat acara-acara yang menarik (bahkan dengan memanggil konsultan untuk melakukan survey pendengar terlebih dahulu). Tetapi kok tidak bisa “dijual” kepada pemasang iklan ya?
Menurut saya, banyak pengusaha yang berpikir seperti ini. Mungkin karena terbiasa dengan bisnis menjual produk kasat mata, maka dikiranya bahwa produk dari radio itu adalah “acara-acara”nya. Kalau kita mau sejenak saja memperhatikan, sebenarnya, bagi pemasang iklan, itu tidak pernah mereka bermaksud membeli sebuah acara. Bukankah mereka mau membayar dengan mensponsori atau memasang iklan di sebuah acara itu dikarenakan acara itu memiliki sejumlah Pendengar yang dinilainya tepat dengan sasaran pasar mereka? Jadi produk yang seharusnya ditawarkan (untuk dijual) adalah pendengar radio-nya, sedangkan acara adalah sarana untuk membentuk kelompok pendengar radio sebanyak-banyaknya.
Kebanyakan pengusaha yang terjun ke bidang radio sering melontarkan idee: “Ayo bikin talk show bidang kesehatan dong, biar bisa kita tawarkan ke Pabrik-Pabrik obat. Atau ayo kita bikin acara tentang otomotif, supaya dapat dijual kepada pengiklan produk mobil, atau oli mesin”.
Utamakan Suara yang Terdengar
Dalam rangka promosi agar banyak pendengarnya, si Radio Baru membayar artis / model cantik terkenal JX untuk menjadi penyiar. Tentu saja dengan adanya artis tersebut sebagai penyiar, dari segi publisitas, dalam waktu singkat banyak orang yang jadi tahu bahwa artis JX itu sekarang muncul setiap pagi dalam acara Pagi Ceria, Radio Baru. Namun, menurut pak Konglo, setelah beberapa waktu, pendengar acara Pagi Ceria tidak berkembang lagi bahkan semakin menurun. Kenapa begitu?
Ingatlah bahwa media radio hanyalah soal suara / bunyi. Berbeda dengan media audio visual. Saya tidak katakan bahwa wanita cantik tak cocok siaran di radio, karena yang terpenting bukan kecantikannya. Yang terpenting apakah kalau si wanita cantik ini bicara, omongan dia, suara dia, apa yang diomongin, itu semua enak atau tidak untuk didengar? Betah ngga kita para pendengar ngedengerinnya? Bagaimanapun cantiknya atau gantengnya atau terkenalnya orang bersiaran dibalik acara Pagi Ceria itu, tapi kalau setiap pagi suara dan omongan yang kita dengar sangat mengganggu, ngga enak di telinga yaa... barangkali sekali-sekali sajalah dengernya.
Mendampingi dalam Beraktivitas
Argumen yang sering dipakai belakangan ini, apalagi, kalau bukan sosmed: “Tapi Pak, siaran kita ini khan juga bisa diikuti di Instagram Live, Pak? Jadi penyiarnya harus cantik, Pak“. Nah, pertanyaannya khan, apakah pagi-pagi di hari kerja dalam acara Pagi Ceria sasaran pendengar Radio Baru ini semua lagi bersantai-ria, sehingga punya waktu untuk nonton Instagram Live? Bukankah mereka semua sedang bergegas untuk beraktivitas? Hanya media yang Sound Only, yang bisa selalu mendampingi orang yang beraktivitas. Jadi artinya, tetap utamakanlah urusan content, voice dan sound-nya terlebih dahulu, bahwasanya penyiarnya itu artis, seleb, model cantik / ganteng, itu ibaratnya hanya bonus saja bagi pendengar, sebagai daya tarik tambahan kalau mereka berkesempatan bertemu muka via off-air atau via online.
Kesimpulan Hasil Survey
Pak Konglo ini kalau berbicara selalu memunculkan data, hasil survey random sampling atau pun Focus Group Discussion (FGD). Sepertinya generasi sekarang ini selalu acuannya data. Hal ini semakin mudah di era internet. Hal ini tentu saja baik, karena survey bisa menjadi guidelines bagi kita untuk melakukan sesuatu. Persoalan salah kaprahnya seringkali justru bukan pada survey-nya, tetapi pada cara bertanyanya kepada responden, dan yang juga sering terjadi pada pengambilan kesimpulan atas hasil survey. 15 th yl saya pernah mengawasi pelaksanaan survey kepada anak-anak SD di sebuah desa terpencil di Bali. Ketika ditanya apa cita-citanya kalau sudah besar nanti? Maka hampir semua anak menjawab, ingin menjadi petani atau ingin menjadi polisi. Tidak ada satupun yang bercita-cita menjadi insinyur mesin atau jadi mekanik mobil / motor. Penyebabnya, ternyata memang hanya 2 profesi itu yang sering mereka lihat dan temui di desanya.
Radio Baru ini ketika melakukan survey mungkin bertanya kepada responden tentang apa yang disukainya? Ketika jawabannya adalah acara yang konyol / lucu, maka lalu dibuatlah hampir semua siaran di radionya bersifat konyol dan lucu-lucuan. Salah kaprah seperti ini yang termasuk sering dilakukan oleh orang-orang radio. Padahal masyarakat menjawab itu dikarenakan memang hal itulah yang sering dia lihat dan tonton setiap hari di televisi (bukan karena itu yang mereka sukai). Mereka tidak pernah disuguhkan acara TV jenis lain atau belum tahu tentang banyak acara lain yang sangat menarik, hanya saja belum pernah disiarkan oleh TV... Sesungguhnya makna hasil survey bahwa masyarakat menyukai acara yang konyol dan lucu, adalah masyarakat menyukai acara yang ceria dan tidak membosankan.
Masih banyak lagi hal-hal salah kaprah yang sudah begitu sering dilakukan sehingga dianggap sebagai sesuatu yang benar. Sayang sekali. Media yang memiliki kekuatan dan keunikan yang tidak dimiliki media lain ini, di Indonesia semakin kehilangan eksistensinya. Sementara tidak demikian di negara lain, lihat:
http://www.insideradio.com/free/listening-keeps-rising-on-am-fm-radio/article_67017d0c-4f09-11e6-a834-6bc548f2a5f0.html;
https://www.newshub.co.nz/home/entertainment/2018/07/nz-s-radio-listenership-continues-to-grow-exponentially.html
(arm)
Pak Konglo, seorang konglomerat, mulai terjun ke bidang media dengan mengoper kepemilikan saham sebuah stasiun radio (namakan saja “Radio Baru”)... Lalu dengan kemampuan keuangannya dia “membajak” personel dari radio-radio lain yang sudah sukses, baik itu pimpinannya, para penyiarnya, tim produksi, dan pemberitaan serta tim penjualannya. Jalan pikirannya bahwa dengan dana yang cukup besar, tinggal bikin promosi maka dalam waktu 1- 2 tahun radio ini sudah akan popular baik di masyarakat maupun di kalangan pemasang iklan. Tetapi apa yang terjadi, jauh dari harapan. Pada suatu hari pak Konglo dan saya sempat ketemuan ngopi-ngopi. Dari pembicaraan ini, saya mengambil kesimpulan, bahwa baik pak Konglo maupun timnya ternyata masih kurang dalam pengetahuannya tentang media radio. Bisa dimaklumi sih... Karena radio itu media yang tidak ada gambarnya, tidak ada tulisannya, cuma suara saja. Radio menjadi sesuatu yang kurang menarik dibandingkan media-media lain. Makanya tidak banyak yang mempelajari radio sebagai media. Bahkan yang sering terjadi adalah penggunaan indikator / sudut pandang bisnis lain atau media lain tapi ditempelkan kepada radio. Salah kaprahlah yang terjadi.
Acara bukanlah Produk
Pak Konglo mengatakan kepada saya bahwa mereka telah mencoba membuat acara-acara yang menarik (bahkan dengan memanggil konsultan untuk melakukan survey pendengar terlebih dahulu). Tetapi kok tidak bisa “dijual” kepada pemasang iklan ya?
Menurut saya, banyak pengusaha yang berpikir seperti ini. Mungkin karena terbiasa dengan bisnis menjual produk kasat mata, maka dikiranya bahwa produk dari radio itu adalah “acara-acara”nya. Kalau kita mau sejenak saja memperhatikan, sebenarnya, bagi pemasang iklan, itu tidak pernah mereka bermaksud membeli sebuah acara. Bukankah mereka mau membayar dengan mensponsori atau memasang iklan di sebuah acara itu dikarenakan acara itu memiliki sejumlah Pendengar yang dinilainya tepat dengan sasaran pasar mereka? Jadi produk yang seharusnya ditawarkan (untuk dijual) adalah pendengar radio-nya, sedangkan acara adalah sarana untuk membentuk kelompok pendengar radio sebanyak-banyaknya.
Kebanyakan pengusaha yang terjun ke bidang radio sering melontarkan idee: “Ayo bikin talk show bidang kesehatan dong, biar bisa kita tawarkan ke Pabrik-Pabrik obat. Atau ayo kita bikin acara tentang otomotif, supaya dapat dijual kepada pengiklan produk mobil, atau oli mesin”.
Utamakan Suara yang Terdengar
Dalam rangka promosi agar banyak pendengarnya, si Radio Baru membayar artis / model cantik terkenal JX untuk menjadi penyiar. Tentu saja dengan adanya artis tersebut sebagai penyiar, dari segi publisitas, dalam waktu singkat banyak orang yang jadi tahu bahwa artis JX itu sekarang muncul setiap pagi dalam acara Pagi Ceria, Radio Baru. Namun, menurut pak Konglo, setelah beberapa waktu, pendengar acara Pagi Ceria tidak berkembang lagi bahkan semakin menurun. Kenapa begitu?
Ingatlah bahwa media radio hanyalah soal suara / bunyi. Berbeda dengan media audio visual. Saya tidak katakan bahwa wanita cantik tak cocok siaran di radio, karena yang terpenting bukan kecantikannya. Yang terpenting apakah kalau si wanita cantik ini bicara, omongan dia, suara dia, apa yang diomongin, itu semua enak atau tidak untuk didengar? Betah ngga kita para pendengar ngedengerinnya? Bagaimanapun cantiknya atau gantengnya atau terkenalnya orang bersiaran dibalik acara Pagi Ceria itu, tapi kalau setiap pagi suara dan omongan yang kita dengar sangat mengganggu, ngga enak di telinga yaa... barangkali sekali-sekali sajalah dengernya.
Mendampingi dalam Beraktivitas
Argumen yang sering dipakai belakangan ini, apalagi, kalau bukan sosmed: “Tapi Pak, siaran kita ini khan juga bisa diikuti di Instagram Live, Pak? Jadi penyiarnya harus cantik, Pak“. Nah, pertanyaannya khan, apakah pagi-pagi di hari kerja dalam acara Pagi Ceria sasaran pendengar Radio Baru ini semua lagi bersantai-ria, sehingga punya waktu untuk nonton Instagram Live? Bukankah mereka semua sedang bergegas untuk beraktivitas? Hanya media yang Sound Only, yang bisa selalu mendampingi orang yang beraktivitas. Jadi artinya, tetap utamakanlah urusan content, voice dan sound-nya terlebih dahulu, bahwasanya penyiarnya itu artis, seleb, model cantik / ganteng, itu ibaratnya hanya bonus saja bagi pendengar, sebagai daya tarik tambahan kalau mereka berkesempatan bertemu muka via off-air atau via online.
Kesimpulan Hasil Survey
Pak Konglo ini kalau berbicara selalu memunculkan data, hasil survey random sampling atau pun Focus Group Discussion (FGD). Sepertinya generasi sekarang ini selalu acuannya data. Hal ini semakin mudah di era internet. Hal ini tentu saja baik, karena survey bisa menjadi guidelines bagi kita untuk melakukan sesuatu. Persoalan salah kaprahnya seringkali justru bukan pada survey-nya, tetapi pada cara bertanyanya kepada responden, dan yang juga sering terjadi pada pengambilan kesimpulan atas hasil survey. 15 th yl saya pernah mengawasi pelaksanaan survey kepada anak-anak SD di sebuah desa terpencil di Bali. Ketika ditanya apa cita-citanya kalau sudah besar nanti? Maka hampir semua anak menjawab, ingin menjadi petani atau ingin menjadi polisi. Tidak ada satupun yang bercita-cita menjadi insinyur mesin atau jadi mekanik mobil / motor. Penyebabnya, ternyata memang hanya 2 profesi itu yang sering mereka lihat dan temui di desanya.
Radio Baru ini ketika melakukan survey mungkin bertanya kepada responden tentang apa yang disukainya? Ketika jawabannya adalah acara yang konyol / lucu, maka lalu dibuatlah hampir semua siaran di radionya bersifat konyol dan lucu-lucuan. Salah kaprah seperti ini yang termasuk sering dilakukan oleh orang-orang radio. Padahal masyarakat menjawab itu dikarenakan memang hal itulah yang sering dia lihat dan tonton setiap hari di televisi (bukan karena itu yang mereka sukai). Mereka tidak pernah disuguhkan acara TV jenis lain atau belum tahu tentang banyak acara lain yang sangat menarik, hanya saja belum pernah disiarkan oleh TV... Sesungguhnya makna hasil survey bahwa masyarakat menyukai acara yang konyol dan lucu, adalah masyarakat menyukai acara yang ceria dan tidak membosankan.
Masih banyak lagi hal-hal salah kaprah yang sudah begitu sering dilakukan sehingga dianggap sebagai sesuatu yang benar. Sayang sekali. Media yang memiliki kekuatan dan keunikan yang tidak dimiliki media lain ini, di Indonesia semakin kehilangan eksistensinya. Sementara tidak demikian di negara lain, lihat:
http://www.insideradio.com/free/listening-keeps-rising-on-am-fm-radio/article_67017d0c-4f09-11e6-a834-6bc548f2a5f0.html;
https://www.newshub.co.nz/home/entertainment/2018/07/nz-s-radio-listenership-continues-to-grow-exponentially.html
(arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar