oleh Andy Rustam
Bekerja sebagai seorang penyiar yang harus berada di studio setiap hari pada jam yang sama pula, dan melakukan hal yang sama, seringkali lama kelamaan akan menimbulkan rasa bosan. Sebenarnya hampir sama saja di semua bidang, munculnya rasa bosan yang disebabkan rutinitas sering menjadi faktor penghambat untuk kita berprestasi. Padahal pada waktu awal-awal masa kita kerja, rasa exciting (semangat bergairah) itu tinggi. Lalu mengapa sekarang gairah itu menghilang?
Saya bukan seorang ilmuwan yang mempelajari masalah kebosanan, tetapi saya hanya mau sharing pengalaman saya saja mengatasi rasa bosan itu.
Visi Pribadi
Banyak dari kita, dalam menentukan jurusan kuliah (sekolah) yang kita ambil, bukanlah dikarenakan oleh keinginan kita, tetapi karena keinginan orang-tua. Lalu kita mengikuti test dan diterima pada fakultas / jurusan tersebut. Biasanya yang akan terjadi kemudian adalah munculnya rasa bosan ketika menjalani perkuliahan nanti. Begitu pula ketika kita melamar pekerjaan. Seringkali kita melamar pekerjaan, dikarenakan kita butuh bekerja untuk mendapatkan uang. Akibatnya ketika kita sudah bekerja dan mendapatkan gaji, perlahan-lahan rasa bosan itu mulai muncul. Dari kedua contoh tersebut, sebenarnya dapat kita lihat bahwa kunci-nya terletak pada ketiadaan “passion / gairah”, ketika kita melakukannya. Sesuatu yang kita lakukan tanpa passion akan menjadi tempat persemaian terbaik bagi tumbuhnya rasa bosan. Api gairah ini sendiri harus menyala terus dalam waktu yang lama. Oleh karena itu bahan bakar bagi api gairah ini harus tersedia terus dalam jangka waktu yang panjang. Apakah bahan bakarnya itu? Bahan bakar agar api gairah bisa menyala dan terus menyala terletak pada Visi Pribadi, yaitu “cita-cita ideal yang memiliki nilai-nilai filosofis” bagi diri kita sendiri. Ini merupakan sesuatu tujuan jangka panjang. Berbeda dengan Tujuan (dan Target) yang sifatnya lebih kongkrit dan jangka pendek. Misalnya: Anda melamar bekerja sebagai penyiar dengan tujuan agar memiliki pekerjaan-tetap dan income / pendapatan / gaji bulanan. Nah kalau hanya ini tujuan Anda, maka setelah Anda diterima bekerja sebagai penyiar, maka Anda sekarang sudah memiliki pekerjaan dan gaji, bukan? Artinya, otomatis apa yang menjadi tujuan anda sudah tercapai. Kalau sudah begini, ngga heran dalam waktu hanya hitungan bulan, bibit rasa bosan akan mulai muncul. Berbeda kalau anda memiliki Visi Pribadi, bahwa saya memilih pekerjaan sebagai penyiar karena saya ingin, melalui pekerjaan saya ini, akan dapat menebar kebaikan, mencerdaskan dan membantu masyarakat, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Atau bisa juga, saya ingin menjadi penyiar karena jadi presenter yang diakui dunia. Visi-Visi seperti ini akan menjadi bahan bakar yang baik bagi menyalanya api-gairah (passion).
PASSION
Passion muncul karena kita merasa suka akan sesuatu atau karena sesuatu itu mendatangkan kepuasan lahir-batin. Coba lihat sejarah karier para pemain sepak-bola kelas dunia seperti Ronaldo & Messi. Sejak kecil mereka sudah suka akan sepakbola. Bahkan tidak terpikirkan sama sekali tentang berapa jumlah uang yang akan mereka peroleh. Kesukaan mereka inilah yang membuat mereka memilih sepakbola sebagai jalan hidup. Visi mereka adalah menjadi jago sepak bola dan ingin mengabdikan hidup mereka untuk sepakbola. Jadi analoginya, ketika memilih pekerjaan sebagai penyiar (atau pekerjaan lainnya), itu harusnya memang didasarkan atas kesukaan kamu pada bidang itu (broadcasting atau ketertarikan pada bidang Jurnalistik). Kalau kita melakuan kegiatan atau pekerjaan yang kita suka, maka dengan sendirinya rasa bosan akan sulit muncul. Kalaupun muncul rasa bosan, itu disebabkan oleh kelelahan fisik / mental sebagai akibat rutinitas, dan bukan dikarenakan oleh pekerjaan / aktivitas itu sendiri.
KEBOSANAN AKIBAT RUTINITAS
Jelas dong, kalau melakukan sesuatu yang rutin akibatnya yaa.. bosan. Oleh karena itu dalam bekerja sebagai penyiar, rutinitas inilah yang seharusnya tidak boleh terjadi. Selalu berpikir untuk melakukan hal yang sama dengan cara berbeda. Berbeda sedikit saja efeknya akan mengusir kebosanan. Kenapa? Karena hanya dari mulai berpikir untuk mengerjakan sesuatu yang baru (yang tidak biasa), sudah akan memunculkan rasa excitement pada diri kita. Jadi Lakukan saja perbedaan kecil. Misalnya pada kalimat pembuka siaran anda. Setiap pagi ketika anda baru mulai siaran dan menyapa pendengar, selalu dibuka dengan kalimat: “Selamat Pagi, senang sekali jumpa dengan anda di pagi hari ini,.. dan saya Amik akan menemani anda hingga pukul 10 nanti“. Nah bayangkan setiap hari anda siaran melakukan pembukaan acara dengan kalimat yang sama terus? Tentu saja akan membosankan, baik buat penyiarnya sendiri dan pasti juga pendengarnya. Cobalah anda berpikir, bagaimana apabila setiap kali anda siaran menggunakan kalimat pembuka yang berbeda. Misalnya kalimat pembuka diatas diganti dengan: “Hai teman, apa kabar? Saya Amik.. tidak pernah bosan-bosannya menemui kamu / anda, dari jam 6 sampai jam 10 setiap paginya”
Jadi kuncinya, Anda sendiri harus memetakan, apa-apa saja yang selama ini rutin anda lakukan,.. lalu cobalah melakukannya dengan cara berbeda. Misalnya lagi yang sering terjadi, ketika penyiar berkesempatan mewawancarai seorang artis (atau tamu / tokoh), pasti pertanyaan terakhirnya (sebelum mengakhiri wawancara): “Apa kesan2 atau apa pesan2 terakhir yang mau disampaikan kepada pendengar?“ Bukankah banyak hal lain untuk mengakhiri wawancara? Misalnya dengan meminta si tamu melakukan sesuatu yang terkait dengan profesinya. Kalau dia penyanyi, minta dia menyanyikan sepotong lagu-nya. Kalau dia artis film, minta dia mengucapkan satu kalimat inti dari suatu dialog yang diperankan dalam film-nya.
Perhatikan hal2 lain lagi yang sudah menjadi suatu rutinitas, yang anda sebagai penyiar seringkali tidak menyadarinya. Misalnya, anda selalu menyebutkan judul lagu dan nama pembawanya, sebelum lagu itu dipasang. Barangkali anda bisa merubahnya, dengan melakukannya secara variatif. Ketika lagu pertama dan kedua , anda menyebutkannya didepan sebelum lagu tersebut diudarakan. Tetapi pada lagu ketiga, anda menyebutkan nama lagu dan pembawanya, ketika lagu tersebut berakhir. Sedangkan pada lagu kelima, keenam dan ketujuh, anda menyebutkannya ketiga-tiganya sekaligus di depan.
Rutinitas sebagai penyebab kebosanan, itulah yang akan dan harus kita atasi, bukan? Sekarang coba anda lihat studio anda tempat anda siaran setiap hari. Sudah berapa lama poster di dinding itu tergantung disana? Nah, cobalah menggantinya dengan sesuatu yang berbeda. Jadi bukan hanya apa yang kita kerjakan saja yang dapat menjadi pemicu kebosanan, tetapi suasana ruang kerja juga sangat berpengaruh dengan tingkat kebosanan anda dalam bekerja. Perubahan juga bisa dilakukan pada posisi kursi duduk anda sehingga arahnya berubah daripada biasanya. Perubahan-perubahan kecil setiap hari yang anda lakukan adalah resep ampuh untuk mengatasi kebosanan anda dalam siaran.
Ingatlah bahwa kebosanan karena rutinitas bisa anda atasi dengan perubahan2. Perubahan2 membutuhkan kreatifitas. Namun kreatifitas sendiri jangan lah diartikan dengan membuat sesuatu yang baru, yang belum pernah ada. Menurut seorang psikolog terkemuka almarhum Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso, kreatif adalah melakukan / membuat sesuatu yang sudah ada, tetapi dengan cara yang berbeda, yang membuat hasilnya menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat. (arm)
Bekerja sebagai seorang penyiar yang harus berada di studio setiap hari pada jam yang sama pula, dan melakukan hal yang sama, seringkali lama kelamaan akan menimbulkan rasa bosan. Sebenarnya hampir sama saja di semua bidang, munculnya rasa bosan yang disebabkan rutinitas sering menjadi faktor penghambat untuk kita berprestasi. Padahal pada waktu awal-awal masa kita kerja, rasa exciting (semangat bergairah) itu tinggi. Lalu mengapa sekarang gairah itu menghilang?
Saya bukan seorang ilmuwan yang mempelajari masalah kebosanan, tetapi saya hanya mau sharing pengalaman saya saja mengatasi rasa bosan itu.
Visi Pribadi
Banyak dari kita, dalam menentukan jurusan kuliah (sekolah) yang kita ambil, bukanlah dikarenakan oleh keinginan kita, tetapi karena keinginan orang-tua. Lalu kita mengikuti test dan diterima pada fakultas / jurusan tersebut. Biasanya yang akan terjadi kemudian adalah munculnya rasa bosan ketika menjalani perkuliahan nanti. Begitu pula ketika kita melamar pekerjaan. Seringkali kita melamar pekerjaan, dikarenakan kita butuh bekerja untuk mendapatkan uang. Akibatnya ketika kita sudah bekerja dan mendapatkan gaji, perlahan-lahan rasa bosan itu mulai muncul. Dari kedua contoh tersebut, sebenarnya dapat kita lihat bahwa kunci-nya terletak pada ketiadaan “passion / gairah”, ketika kita melakukannya. Sesuatu yang kita lakukan tanpa passion akan menjadi tempat persemaian terbaik bagi tumbuhnya rasa bosan. Api gairah ini sendiri harus menyala terus dalam waktu yang lama. Oleh karena itu bahan bakar bagi api gairah ini harus tersedia terus dalam jangka waktu yang panjang. Apakah bahan bakarnya itu? Bahan bakar agar api gairah bisa menyala dan terus menyala terletak pada Visi Pribadi, yaitu “cita-cita ideal yang memiliki nilai-nilai filosofis” bagi diri kita sendiri. Ini merupakan sesuatu tujuan jangka panjang. Berbeda dengan Tujuan (dan Target) yang sifatnya lebih kongkrit dan jangka pendek. Misalnya: Anda melamar bekerja sebagai penyiar dengan tujuan agar memiliki pekerjaan-tetap dan income / pendapatan / gaji bulanan. Nah kalau hanya ini tujuan Anda, maka setelah Anda diterima bekerja sebagai penyiar, maka Anda sekarang sudah memiliki pekerjaan dan gaji, bukan? Artinya, otomatis apa yang menjadi tujuan anda sudah tercapai. Kalau sudah begini, ngga heran dalam waktu hanya hitungan bulan, bibit rasa bosan akan mulai muncul. Berbeda kalau anda memiliki Visi Pribadi, bahwa saya memilih pekerjaan sebagai penyiar karena saya ingin, melalui pekerjaan saya ini, akan dapat menebar kebaikan, mencerdaskan dan membantu masyarakat, agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Atau bisa juga, saya ingin menjadi penyiar karena jadi presenter yang diakui dunia. Visi-Visi seperti ini akan menjadi bahan bakar yang baik bagi menyalanya api-gairah (passion).
PASSION
Passion muncul karena kita merasa suka akan sesuatu atau karena sesuatu itu mendatangkan kepuasan lahir-batin. Coba lihat sejarah karier para pemain sepak-bola kelas dunia seperti Ronaldo & Messi. Sejak kecil mereka sudah suka akan sepakbola. Bahkan tidak terpikirkan sama sekali tentang berapa jumlah uang yang akan mereka peroleh. Kesukaan mereka inilah yang membuat mereka memilih sepakbola sebagai jalan hidup. Visi mereka adalah menjadi jago sepak bola dan ingin mengabdikan hidup mereka untuk sepakbola. Jadi analoginya, ketika memilih pekerjaan sebagai penyiar (atau pekerjaan lainnya), itu harusnya memang didasarkan atas kesukaan kamu pada bidang itu (broadcasting atau ketertarikan pada bidang Jurnalistik). Kalau kita melakuan kegiatan atau pekerjaan yang kita suka, maka dengan sendirinya rasa bosan akan sulit muncul. Kalaupun muncul rasa bosan, itu disebabkan oleh kelelahan fisik / mental sebagai akibat rutinitas, dan bukan dikarenakan oleh pekerjaan / aktivitas itu sendiri.
KEBOSANAN AKIBAT RUTINITAS
Jelas dong, kalau melakukan sesuatu yang rutin akibatnya yaa.. bosan. Oleh karena itu dalam bekerja sebagai penyiar, rutinitas inilah yang seharusnya tidak boleh terjadi. Selalu berpikir untuk melakukan hal yang sama dengan cara berbeda. Berbeda sedikit saja efeknya akan mengusir kebosanan. Kenapa? Karena hanya dari mulai berpikir untuk mengerjakan sesuatu yang baru (yang tidak biasa), sudah akan memunculkan rasa excitement pada diri kita. Jadi Lakukan saja perbedaan kecil. Misalnya pada kalimat pembuka siaran anda. Setiap pagi ketika anda baru mulai siaran dan menyapa pendengar, selalu dibuka dengan kalimat: “Selamat Pagi, senang sekali jumpa dengan anda di pagi hari ini,.. dan saya Amik akan menemani anda hingga pukul 10 nanti“. Nah bayangkan setiap hari anda siaran melakukan pembukaan acara dengan kalimat yang sama terus? Tentu saja akan membosankan, baik buat penyiarnya sendiri dan pasti juga pendengarnya. Cobalah anda berpikir, bagaimana apabila setiap kali anda siaran menggunakan kalimat pembuka yang berbeda. Misalnya kalimat pembuka diatas diganti dengan: “Hai teman, apa kabar? Saya Amik.. tidak pernah bosan-bosannya menemui kamu / anda, dari jam 6 sampai jam 10 setiap paginya”
Jadi kuncinya, Anda sendiri harus memetakan, apa-apa saja yang selama ini rutin anda lakukan,.. lalu cobalah melakukannya dengan cara berbeda. Misalnya lagi yang sering terjadi, ketika penyiar berkesempatan mewawancarai seorang artis (atau tamu / tokoh), pasti pertanyaan terakhirnya (sebelum mengakhiri wawancara): “Apa kesan2 atau apa pesan2 terakhir yang mau disampaikan kepada pendengar?“ Bukankah banyak hal lain untuk mengakhiri wawancara? Misalnya dengan meminta si tamu melakukan sesuatu yang terkait dengan profesinya. Kalau dia penyanyi, minta dia menyanyikan sepotong lagu-nya. Kalau dia artis film, minta dia mengucapkan satu kalimat inti dari suatu dialog yang diperankan dalam film-nya.
Perhatikan hal2 lain lagi yang sudah menjadi suatu rutinitas, yang anda sebagai penyiar seringkali tidak menyadarinya. Misalnya, anda selalu menyebutkan judul lagu dan nama pembawanya, sebelum lagu itu dipasang. Barangkali anda bisa merubahnya, dengan melakukannya secara variatif. Ketika lagu pertama dan kedua , anda menyebutkannya didepan sebelum lagu tersebut diudarakan. Tetapi pada lagu ketiga, anda menyebutkan nama lagu dan pembawanya, ketika lagu tersebut berakhir. Sedangkan pada lagu kelima, keenam dan ketujuh, anda menyebutkannya ketiga-tiganya sekaligus di depan.
Rutinitas sebagai penyebab kebosanan, itulah yang akan dan harus kita atasi, bukan? Sekarang coba anda lihat studio anda tempat anda siaran setiap hari. Sudah berapa lama poster di dinding itu tergantung disana? Nah, cobalah menggantinya dengan sesuatu yang berbeda. Jadi bukan hanya apa yang kita kerjakan saja yang dapat menjadi pemicu kebosanan, tetapi suasana ruang kerja juga sangat berpengaruh dengan tingkat kebosanan anda dalam bekerja. Perubahan juga bisa dilakukan pada posisi kursi duduk anda sehingga arahnya berubah daripada biasanya. Perubahan-perubahan kecil setiap hari yang anda lakukan adalah resep ampuh untuk mengatasi kebosanan anda dalam siaran.
Ingatlah bahwa kebosanan karena rutinitas bisa anda atasi dengan perubahan2. Perubahan2 membutuhkan kreatifitas. Namun kreatifitas sendiri jangan lah diartikan dengan membuat sesuatu yang baru, yang belum pernah ada. Menurut seorang psikolog terkemuka almarhum Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso, kreatif adalah melakukan / membuat sesuatu yang sudah ada, tetapi dengan cara yang berbeda, yang membuat hasilnya menjadi sesuatu yang lebih baik dan lebih bermanfaat. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar