03 Maret 2019

Kelihatannya Logis Padahal Tidak

oleh Andy Rustam

Dalam pekerjaanku sebagai konsultan untuk broadcasting, sering saya menemukan pendapat yang terlihat logis dan kadang lucu juga. Saya sharing saja sebahagian disini yaa.

Pendapat 1:

Ada seorang Bapak pemilik stasiun radio, yang menjalankan stasiun radio-nya karena hobby saja. Intinya, karena dianya sendiri memang suka ngobrol2 dan suka dengan lagu-lagu yaa jadilah ia seorang penyiar. Maka radio tersebut dikelola dengan acuan apa yang disukai dirinya saja. Pendengarnya pun ada dan otomatis pendengar yang terbentuk pun memiliki karakter demografisnya yang mirip seperti si Bapak tadi.

Pada suatu hari ia memanggil saya dan bertanya, “bagaimana ya bung Andy, supaya pemasang iklan mau pasang iklan di radio saya?”. Nah saya juga bingung menjawabnya. Karena sejak awal berdirinya, pemikiran / niat si Bapak adalah hanya hobby. Tapi sekarang dia ingin komersiel. Bukankah ini suatu yang agak kontradiktif? Saran saya kepada si Bapak, tentu bisa / boleh saja menjalankan bisnis sesuai kesenangan dirinya, tetapi tetaplah harus ditentukan yang mana yang harus diutamakan? Dan yang mana pun pilihan itu, pastilah akan memiliki konsekuensi2 juga. Jadi harus ditentukan, mau ke mana radio ini? Sebagai hobby? Sebagai bisnis? Sebagai pelayanan komunitas? Karena berbeda sekali cara mengelola dan menanganinya. Sebagaimana layaknya sebuah usaha, tujuan, dan perencanaan haruslah dibuat sejak awal.

Pendapat 2:

Ada lagi seorang Pengusaha yang memiliki bisnis yang sukses di bidang makanan, tapi belakangan kemudian ia memiliki sebuah stasiun radio. Rumus suksesnya selama ini adalah, buatlah berbagai macam makanan yang enak yaitu harus memenuhi selera lidah orang banyak. Kalau itu terjadi dengan demikian nanti orang2 akan mau keluar uang (membayar) untuk membeli makanan2 tersebut. Maka iapun memakai rumus sukses ini juga untuk di radio-nya. Instruksinya, bikin acara apa saja yang enak2, pasang lagu2 apa saja yang enak. Tentulah ia menggunakan juga sampling test, sama seperti yang ia lakukan di bisnis makanannya.. Hasilnya diudarakanlah lagu-lagu yang sudah terseleksi dan juga berbagai acara A, B, C, D yang enak-enak yang sudah dirancang sesuai hasil sampling test. Hasilnya radionya berhasil menggaet pendengar yang lumayan banyak, walau masih kalah jauh dengan jumlah pendengar dari radio yang sudah mapan di kota itu. Herannya, tetap saja iklan pun tak kunjung datang, kecuali dari usaha makanannya sendiri.

Saya katakan kepada si Pengusaha, bahwa ada yang dia lupakan. Ketika menjual makanan, walaupun para penyuka makanan itu belum terlalu banyak, tetapi mereka itulah yang sudah keluar uang untuk membayar makanan yang sudah dinikmatinya tersebut. Dengan demikian, secara cash-flow, aliran uang masuk sudah mulai ada walau yang menyukai makanannya masih sedikit.

Kalau di bisnis radio, yang menikmati acara-acara enak dan lagu-lagu enak yang diudarakan adalah para pendengar, tetapi para pendengar itu sama sekali tidak keluar uang, bukan? Yang diharapkan akan keluar uang adalah pihak lain yang mungkin malah bukan penikmat radio tersebut. Mereka itu adalah para calon pemasang iklan. Perlu diingat bahwa alasan para pemasang iklan mau beriklan di radio, sangat berbeda dengan alasan para pendengar mau mendengarkan siaran radio tersebut. Artinya rumus suksesnya di makanan tidak bisa begitu saja berlaku di radio.

Pendapat 3:

Seorang mantan manajer sebuah bank, sekarang menjadi seorang CEO dari sebuah stasiun radio. Berdasarkan pengalamannya di dunia perbankan, bahwa semua bank ya sama saja. Produk apa yang laku di suatu bank, pasti bisa ditiru pula oleh bank lain.

Oleh karena itu di radio ia melakukan rumus yang sama. Ia memonitor secara ketat stasiun radio XZ yang selama ini sudah mapan dan paling banyak pendengarnya. Kemudian dengan berbekal prinsip Amati; Tiru; Modifikasi, ia pun menjiplak habis siaran radio XZ tersebut, baik acara-acara maupun lagu-lagunya. Hasilnya, radio baru ini selintas terdengar sudah sama persis dengan siaran Radio XZ. Setelah 1 tahun ia menerapkan strategi ATM ini, ternyata jumlah pendengar radionya kok tidak meningkat. Padahal logikanya, minimal jumlah pendengar radionya harus hampir sama banyak dengan pendengar radio XZ, bukan?

Saya kasih saran dengan memberi contoh. Di Jakarta ini ada banyak resto dan warung bakmi yang enak-enak, misal: Ada bakmi GM, ada bakmi Boy, ada bakmi Gondangdia dsb... semuanya laku karena masing2 memiliki rasa yang khas. Saya sendiri pindah-pindah makannya. Kadang bakmi GM, kadang bakmi Gondangdia, kadang bakmi Boy. Malah yang justru gak laku tuh, ada bakmi dekat rumah saya, di papan namanya tertulis bakmi SS (rasa GM).

Dari contoh itu jelas bahwa rumus suksesnya yang tepat, walau sama2 bakmi dan tetap bakmi (bukan bihun), tetapi masing2 memiliki rasa yang unik yang khas yang membuatnya berbeda. Justru kalau dibuat dengan rasa yang sama seperti yang sudah top-pun malah tidak akan laku (bakmi SS rasa GM). Jadi sebenarnya strategi dengan meniru stasiun yang sudah mapan, tidak akan serta merta membuat radio milik si orang bank ini juga pasti sukses. Radio haruslah radio, tetapi memiliki kekhasan yang berbeda dari radio lain.

Pendapat 4:

Ada mantan seorang Direktur TV, untuk pertama kalinya dia membangun dan menjadi pimpinan di sebuah stasiun radio. Kalau saya lihat daftar acara siaran radionya persis seperti melihat daftar acara siaran sebuah stasiun TV. Pagi hari ada acara berita dan talk show (biasanya menghadirkan artis atau tokoh penting), lalu agak siang ada acara memasak diisi oleh seseorang Chef tentu saja diselingi lagu2. Lalu ada acara Bicara Bisnis. Setelah itu ada acara rangkaian musik / lagu pengantar makan siang dst. Di sore hari ada Obrolan tentang Kesehatan.

Kemudian setiap acara inilah yang ditawarkan oleh bagian sales kepada pemasang iklan atau sponsor. Misal, acara Kesehatan ditawarkan kepada Produk Obat-obatan untuk siaran sore hari. Acara memasak ditawarkan kepada Produk Bumbu Masak untuk siaran pagi hari saja. Radio ini walau sudah berjalan 2 tahun tetapi gagal total. Jumlah pendengar tidak bertambah, dan pemasang iklan / sponsor tidak ada satupun yang mau mensponsori acara-acara “istimewa” tersebut, padahal host-nya sudah orang2 yang terkenal. Akhirnya saya dipanggil, tetapi diminta untuk memperbaiki satu per satu acara. Misalnya, bagaimana caranya supaya acara Obrolan Kesehatan bisa menarik, atau bagaimana supaya acara kuliner / masak-memasak bisa lebih menarik.

Saya terpaksa tersenyum terenyuh. Ini pasti hasil analisa si boss. Karena menurut analisa si boss, katanya, yang membuat radio ini tidak banyak pendengarnya, dan susah mendapatkan sponsor dikarenakan acara-acaranya kurang menarik. Ini persis seperti cara berpikir orang televisi. Kalau di TV, sebuah acara rating-nya rendah maka acaranya harus diganti atau hostnya diganti atau ada tambahan sisipan hadiah atau sesuatu agar jumlah pemirsa meningkat.

Saran saya kepada si mantan Direktur TV, agar melepaskan dulu cara berpikir ala media TV. Cara termudah untuk menaikkan jumlah pendengar di radio ini adalah dengan merubah / menghapus susunan rangkaian acara-acara yang beraneka ragam itu, menggantinya dengan format program yang berkesinambungan dan konsisten. Bukan satu persatu acara. Silahkan perhatikan sendiri bagaimana seseorang mendengarkan radio? Dia akan manteng terus di saluran / frekuensi / channel tersebut, dikarenakan format ( baik musik ataupun informasi) sesuai selera / kebutuhannya. Ia tidak terlalu ambul pusing dengan acaranya apa. Berbeda dengan penonton TV yang menonton satu acara tersebut sampai selesai, dan ketika sudah selesai ia akan mengganti saluran / channel / frekuensi untuk menonton acara yang lain lagi, mungkin di stasiun TV yang berbeda. (arm)

Tidak ada komentar: