07 Februari 2019

Bagaimana Masa Depan Radio Terestrial (AM / FM)?

oleh Andy Rustam

“Apakah nantinya di masa depan semua orang akan beralih ke radio internet?” Pertanyaan ini sepertinya pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh teman-teman dari radio broadcasting (terestrial). Saat ini ada 2 kelompok yang memiliki pendapatnya masing-masing, tentunya dengan alasan yang berbeda-beda pula. Kelompok Pertama berpendapat, dikarenakan sekarang ini dan di masa depan hampir semua orang mempunyai smartphone (dan tidak semua orang memiliki pesawat radio), maka ketika mereka membutuhkan hiburan musik dan berita / informasi, maka yang akan digunakan pastilah smartphone mereka (dan bukannya mencari dan menyalakan pesawat radio mereka). Oleh karena itulah maka kalau mereka ingin mendengar musik, yang di “on”-kan pasti music streaming atau radio internet yang bisa diakses melalui smartphone mereka.

Kelompok Kedua berpendapat, tidak mungkinlah mereka mendengar radio berjam-jam via internet, karena pasti akan menghabiskan pulsa (paket data) mereka. Mending mendengarkan radio terestrial biasa, bebas biaya alias gratis 24 jam setiap hari.

Perkembangan Pesat Radio Online

Kenyataannya di era sekarang ini, memang smartphone itu medium yang selalu ada dan melekat pada diri setiap individu. Penetrasi smartphone masih terus berkembang ke berbagai lapisan masyarakat, dengan fitur-fiturnya yang semakin canggih. Artinya yang menyimpulkan bahwa potensi radio internet untuk terus berkembang semakin meluas, bukanlah kesimpulan yang tak berdasar. Tetapi kalau untuk mendengarkan radio internet itu, pendengar “harus membayar”, maka itu merupakan kendala yang besar yang harus diatasi oleh para penyelenggara siaran radio internet.

Sebaliknya, radio terrestrial yang bisa didengarkan tanpa membayar, kendala terbesarnya adalah makin menyusutnya penjualan dan kepemiilikan pesawat penerima siaran radio. Bahkan radio set (pesawat penerima siaran radio terestrial) yang dulu selalu ada terpasang di setiap mobil, sekarang sudah mulai digantikan dengan perangkat audio digital yang bisa terkoneksi dengan smartphone (bahkan melalui bluetooth).

Memang data Nielssen 2017 mengatakan bahwa di Amerika Serikat jumlah pendengar radio terestrial tetap meningkat, bahkan 94% populasi berusia 12 tahun ke atas, mendengarkan radio terestrial setiap hari. Sementara di sisi lain, angka pertumbuhan pendengar radio-online mencapai hampir 2 x lipat dalam waktu 10 tahun. Jumlah pelanggan Pandora saat ini 2,4 juta orang, Spotify 904.000 orang, dan IHeart hanya 346.000 orang. Tentunya jumlah pendengar segitu, tidak ada artinya dibandingkan jumlah pendengar Radio Terestrial. Tetapi perlu diketahui, jumlah pertumbuhan pendengar radio-internet di kalangan orang-orang berusia remaja, sangatlah pesat. Jadi bisa diperkirakan, kecenderungan pada masa yang akan datang, sudah tidak akan ada lagi orang yang mendengarkan radio terestrial.

Pandangan Saya

Tetapi seperti yang sudah saya katakan tadi, bahwa pandangan-pandangan tersebut hanyalah berdasarkan perkiraan masing-masing orang. Saya sendiri memiliki pandangan berbeda. Menurut saya, dalam membuat prediksi itu tidak cukup kalau hanya berdasarkan hal-hal yang terlihat jelas. Khususnya untuk menganalisa sesuatu yang sifatnya terkait rasa / emosi, tidak akan akurat kalau hanya melihat angka-angka yang terlihat saja. Tidak bisa kita katakan bahwa karena trend pengguna radio internet itu meningkat tajam, lalu dikatakan bahwa radio terrestrial akan mati di masa depan. Atau karena radio internet harus berbayar (dan menghabiskan paket pulsa), sedangkan radio terestrial itu gratis, maka radio internet tidak akan sesukses radio terestrial dalam meraih pendengar.

Saya selalu melihatnya bahwa keberadaan media baru, hanyalah penambah keberagaman media saja. Artinya, dikarenakan kebutuhan manusia itu juga beraneka-ragam, seleranya pun bermacam-macam, maka selalu saja ada suatu kebutuhan tertentu, dimana dibutuhkan media yang pas untuk memenuhi kebutuhan itu.

Sebagai contoh, pada tahun-tahun 80/90-an yang ketika itu sedang “in” adalah, kalau ingin menonton film terbaru, cukup mendatangi video-rental lalu dengan beberapa ribu rupiah saja kita sudah bisa membawa pulang video berisi film-film mutakhir. Artinya kita bisa menonton ramai-ramai bersama teman-teman di rumah dengan suasana yang santai. Ketika itu orang-orang membuat prediksi bahwa sebentar lagi bioskop akan mati. Nyatanya, sampai sekarang, bahkan sudah jamannya Netflix-pun, dimana film-film kesukaan kita maupun film-film terbaru pun tersedia di rumah kita, tetapi tetap saja bioskop-bioskop ramai penontonnya. Kalau kita tanya mengapa masih mau datang ke bioskop untuk nonton film dan harus bayar pula, sementara bisa enak nonton dirumah gak usah repot, cukup dengan menyewa video saja? Jawabannya bisa sangat terkait rasa, misal: Sensasinya beda, Sound System-nya mantap, lebih fokus dan lebih nikmat dll.

Tentu saja syaratnya, bioskopnya harus bersih nyaman, sound-systemnya mantap, pelayanannya baik dan mudah, dan terutama filmnya bagus (sesuai selera penonton). Tanpa pengelolaan yang baik yang berorientasi pada kualitas pelayanan, sudah pasti bioskop akan semakin sepi. Kesimpulannya, bukan karena adanya penyewaan video / vcd, dan layanan film online (seperti Netflix), yang menyebabkan orang tidak mau datang menonton film di bioskop, melainkan tentu saja dikarenakan filmnya jelek atau bioskopnya tak terurus atau pelayanannya buruk.

Nah begitu pula dengan radio terrestrial, kalau tidak mau ditinggalkan oleh para pendengarnya, walaupun sudah bermunculan radio internet, ya radio haruslah berbenah diri meningkatkan kualitas layanan kepada pendengarnya. Buatlah pendengar radio merasa perlu dan merasa senang mendengarkan radio terestrial. Radio harus memiliki sesuatu yang memang dibutuhkan / diinginkan oleh pendengar radio (terestrial).

Sekarang ini sudah banyak pemilik handphone (smartphone) yang men-download aplikasi radio AM / FM Terrestrial (silahkan cari di Google Playstore). Kabel earphone-nya, berfungsi sebagai antena penerima siaran.

Dengan demikian siaran radio terestrial sudah bisa didengarkan melalui smartphone (hp) oleh setiap orang tanpa menghabiskan pulsa, alias gratis. Aplikasi ini akan semakin memudahkan akses para pendengar (yaitu para pemilik handphone) yang ingin mendengarkan siaran radio terrestrial, bukan?

Jadi, pendapat yang mengatakan sekarang sudah jarang orang yang memiliki pesawat penerima radio untuk mendengarkan siaran radio (terestrial), sebenarnya kurang tepat. Sebab, pesawat penerima siaran radio-nya sudah tersedia pada handphone setiap orang, tinggal download gratis!

Dengan demikian saya jadi semakin yakin bahwa radio terrestrial AM / FM tidak akan mati, tetap hidup berdampingan dengan media-media lain, termasuk media-media online. Syaratnya, Radio harus terus meningkatkan layanannya dengan tetap mengoptimalkan karakteristik media radio. Lakukan aktifitas tersebut dalam berbagai platform, yaitu: secara on-air, off-air maupun secara online. (arm)

Tidak ada komentar: